Thursday, August 16, 2007

Infovet 149, Desember 2006 - PINTU DUA MASA

Tiba-tiba pintu yang menjadi pemisah sekaligus penghubung antara dua tahun yang berbeda: terbuka. Bukan suatu kebetulan, namun mesti dan pasti terjadi. Sedangkan waktu telah bergulir, yang menjadikannya terasa tiba-tiba adalah kekurangsadaran bahwa masa itu akan datang. Apakah terlalu asyik bekerja, ataukah asyik menikmati hidup dan membiarkannya mengalir begitu saja.

Asyikkah kita mengejar terbang dan melayang membumbung tingginya harga jagung jauh meninggalkan ternak-ternak yang tetap tenang tinggal di kandang? Asyikkah kita mengejar meliuk-liuk naik turunnya harga-harga semua barang dagangan termasuk sarana produksi peternakan dan kebutuhan hidup yang membuat otak mesti diperas berpikir untuk menentukan prioritas utama yang mesti dibeli dan dimiliki?

Asyikkah kita terus berkutat pada perilaku teknis yang mesti terus diasah agar tak ketinggalan perpacuan bisnis, perpacuan ilmu dan teknologi bahkan parpacuan nyawa ternak sekaligus kita sebagai manusia pemelihara yang telah diberi kuasa untuk menguasai, menjaga dan mengawasi tumbuhkembangnya segala yang bernafas di bumi baik tumbuhan, maupun hewan yang telah menjadi sahabat sekaligus pemasok pangan untuk hidup?

Asyik yang mana pula? Asyik mengejar puncak-puncak peradaban, membangun, dan menata setiap batu di atas pondasi yang telah digelar dan menancap kuat pada bumi yang diciptakan Ilahi? Ataukah asyik menggali lobang demi lobang dalam segala bentuknya yang memperosokkan kita pada lembah dan jurang kebodohan yang tak terperi?

Ataukah kita merasa telah membangun peradaban namun pada kenyataannya justru menggali kubur untuk kematian diri sendiri? Seperti yang sudah nyata di mata: kekayaan minyak kita, dengan bangga dan pongah (sekaligus bodoh) kita percayakan pada investor asing dengan penguasaan mayoritas bahkan ada yang sampai 100 persen. Pun, sudahkah kita juga menyadari, aset bangsa dan negara Indonesia Raya (yang didirikan dengan tumpahan darah para syuhada yang orang tua kita sendiri) di bidang peternakan ini, siapa yang punya?

Berapa besar kontribusi penguasaan aset itu yang diberikan untuk negara dan kesejahteraan dan hajat hidup manusia-manusia keturunan para pejuang dan siapapun yang telah berdarah-darah mempertahankan setiap jengkal tanah yang menghidupi dengan air minum dan pakan yang tumbuh di atasnya?

Pun, berapa besar penguasaan negara (yang sekian persen dari yang dikuasai negara asing) yang benar-benar jatuh sampai ke tangan peternak, orang kecil, masyarakat banyak, sebagai pemilik sah negeri zamrut khatulistiwa ini? Bukan yang masuk pada penguasaan para pemilik kantong besar yang menduduki kantung-kantung strategis yang mengendalikan setiap pengambilan kebijakan dan pendistribusian aplikasinya?

Agaknya, dalam hal ini kita mesti terus diingatkan supaya tidak silau pada gemerlap-gemerlap kesuksesan materi dari bisnis-bisnis semata. Meski itu sah dan wajib hukumnya pada suatu perpacuan bisnis dan pembangunan. Kita yakin itu memang tugas untuk mengeksplorasi dan mensejahterakan hidup, namun setiap keyakinan kita mesti selalu dilandasi oleh kebijaksanaan dan hikmat menilai dan menimbang semua hal yang terjadi, telah terjadi, sedang terjadi dan bakal terjadi.

Sudahkan kita meletakkan dasar dari bisnis kita itu pada suatu karang yang kokoh yang tak bakal tersapukan oleh banjir yang bakal melanda? Banjir itu bisa berupa apa saja. Banjir bandang pertarungan bisnis, menggempur dan sanggup merobohkan pilar-pilar usaha. Banjir kritik dari dalam dan luar, akan selalu mempertanyakan posisi bisnis kita dari segi hukum, etika dan moralitas. Banjir hati nurani tak bosan-bosan berteriak atau berbisik mengingatkan apa tujuan hidup.

Mempersiapkan semua pada posisi aman, itu untuk keamanan. Menempatkan semua faktor pada ruangnya, itu suatu kebijakan. Namun kita tahu, setiap ruang dari setiap faktor, bukanlah ruang tak berpintu penghubung. Meski pintu-pintu itu kadang tertutup karena kita yang menutup dan tak mau membuka, suatu saat pintu itu pasti akan terbuka, secara alami ataupun paksa dengan berbagai cara. Sehingga, menghubungkan elemen-elemen dan faktor-faktor hidup kita.

Karena pada dasarnya semua problem, semua faktor, semua kebijakan, semua elemen dalam bisnis dan hidup, semua saling terhubung satu sama lain. Seperti juga ruang dan waktu antara tahun 2006 dan 2007, kini masuk pada pintu penghubungnya. Sehingga kita sanggup berkata: Selamat Tinggal Tahun 2006, Selamat Datang Tahun Baru 2007! Mari kita bulatkan tekad untuk membentuk, memperbaiki, memperbaharui semua elemen hidup dan bisnis kita secara lebih bertanggungjawab dan tetap sukses! Dan selalu sukses dalam setiap dan semua yang baik dan benar. (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template