Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini Search Posts | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

KOLI TAK KENAL MUSIM

Technical Service Medion cabang Riau Drh Hanggono menyatakan bahwa untuk penyakit pencernaan saat ini datangnya bukan lagi berpatokan pada musim. Beberapa penyakit pencernaan tersebut muncul di farm broiler lebih banyak disebabkan faktor manajemen pemeliharaan yang ditetapkan peternak.
Artinya, manajemen pemeliharaan yang jelek dapat sebagai faktor predisposisi berjangkitnya penyakit-penyakit pencernaan tersebut. Di antara penyakit pencernaan yang tidak mengenal musim tersebut seperti Kolibasilosis yang disebabkan oleh sejumlah serotipe Escherichia coli yang bersifat patogen.
Penyakit ini disinyalir dapat menyerang ayam dari semua kelompok umur. Manifestasi Escherichia coli ini pada ayam dapat berbentuk kematian embrio pada telur tetas, infeksi yolk sac, omfalitis (radang pusar), koliseptisemia, air sacculitis (radang kantong udara), enteritis, ooforitis, salpingitis, koligranuloma, arthritis, panoptalmitis (radang mata) dan radang bursa sternalis.
Kondisi ini berdampak ekonomi yang sangat penting pada industri perunggasan berupa gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan kualitas karkas dan telur, penurunan daya tetas telur dan kualitas anak ayam serta mendukung munculnya penyakit-penyakit kompleks pada saluran pernafasan, pencernaan dan reproduksi yang sulit ditanggulangi peternak.
Kolibasilosis merupakan penyakit umum, artinya tidak ada peternak yang tidak mengenal penyakit tersebut. Penyakit ini dicirikan dengan pada breeding farm sering ditemukan embrio mati sebelum telur menetas, hal ini biasanya terjadi pada periode akhir pengeraman.
Kemudian, kematian anak-anak ayam dapat terjadi sampai umur 3 minggu dengan gejala omfalitis, oedema, jaringan sekitar pusar menjadi lembek berkesan seperti bubur (mushy). Pada ayam pedaging periode starter kolibasilosis menyebabkan gangguan pernafasan disertai bersin, anemia dan kekurusan atau kadangkala broiler tersebut ditemukan sudah mati.
Menyikapi kasus kejadian kolibasilosis yang didaulat sebagai penyakit pencernaan yang umum menyerang ayam ini, drh Syakban Mahmud Feed Coordinator PT Charoen Pokphan home base Pekanbaru menegaskan bahwa peternak jangan sekali-kali menyalahkan pembibit.
Artinya bibit Day Old Chick (DOC) yang diterima peternak adalah bibit yang sudah lulus sensor atau bibit yang sudah disertifikasi. “Mustahil pembibit memberikan DOC jelek pada peternak”, ulang alumni FKH Unsyiah Nangroe Aceh Darussalam ini dengan mantap.
Kejadian penyakit apakah itu penyakit pencernaan, penyakit pernafasan, dan berbagai jenis penyakit ayam lainnya tetap berawal dari manajemen pemeliharaan.
Bila sistem pemeliharaan yang diterapkan peternak baik maka hasil yang didapat dari usaha peternakan sudah jelas baik dan sebaliknya bila sistem manajemen pemeliharaannya jelek maka peternak bukannya untung malahan usaha yang dilakukan sia-sia dan hasilnya adalah kerugian bahkan bisa sampai gulung tikar (red: kehabisan modal).
Namun menurut Syakban pembibit jangan pula memanfaatkan kondisi yang ada, membiarkan peternak larut dalam keterpurukkan, bukankah usaha yang dilakukan peternak adalah usaha amal, menyangkut hayat hidup orang banyak?
“Yang terpenting adalah koordinasi dan informasi tetap terjalin dan jangan sampai terputus sama sekali dengan pihak-pihak yang berkompeten dengan peternak,” imbau Syakban.
Di lain sisi, kejadian kolibasilosis di usaha peternakan sudah dianggap lumrah oleh peternak. Kadang-kadang peternak tidak lagi mengacuhkan penyakit ini. Hal ini beralasan bahwa infeksi Escherichia coli susah ditebak datangnya dan susah pula ditentukan perginya dari farm peternakan. Inilah yang membuat peternak acuh dan cuek pada serangan Escherichia coli di usaha peternakannya.
“Saya tidak mempedulikan penyakit tersebut (red: kolibasilosis), bagi saya apapun jenis bibit penyakit dapat dipangkas habis dari lokasi usaha peternakan saya bila kandang dan lingkungan kandang terjaga kebersihannya,” tutur narasumber Infovet pada kru Infovet Riau.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penjagaan kebersihan adalah mutlak diterapkan di lokasi peternakan broiler, karena tindakan ini memberikan dampak nyata bila diabaikan.
“Saya yakin bahwa nawaitu (red; niat) peternak pasti berusaha untuk meraih keuntungan, sama dengan keinginan saya. Untuk itu jangan lalai dan jangan sampai terlewatkan penjagaan kebersihan di usaha peternakan yang kita miliki”, imbau peternak yang pernah diundang ke Istana Negara Republik Indonesia ini. (Daman Suska)

DIARE PADA SAPI AKIBAT INFEKSI VIRUS DAN PROTOZOA

Setelah diare pada sapi akibat infeksi bakteri dipaparkan oleh Prof Drh wasito MSc PhD pada Infovet Mei 2007, kini giliran diare pada sapi akibat infeksi virus dan protozoa diangkat pada fokus bertopik penyakit pencernaan pada ternak, baik ternak unggas maupun ruminansia.

Mekanisme Serangan Virus

Bagaimana virus menyerang tubuh ternak sehingga ternak mengalami diare?
Virus menyerang lapisan sel usus kecil yang mengganggu proses penyerapan. Virus masuk kedalam sel dan menggunakan bahan bahan sel tersebut untuk reproduksinya. Ketika sel yang menjadi tempat berkembang biak penuh oleh virus, sel tersebut pecah dan mengeluarkan virus-virus baru untuk menyerang sel lain lebih banyak.
Infeksi yang disebabkan virus menyebabkan pedet menjadi lebih rentan terhadap serangan infeksi bakteri lain. Rotavirus dan Coronavirus memiliki cara kerja yang sama dan merupakan “tertuduh” utama pada kasus diare pada pedet. Kedua organisme tersebut banyak terdapat pada sapi dewasa dan paparan pada sapi sapi muda menjadi sangat umum.
Gejala yang ditimbulkan adalah mencret parah, hampir tidak ada demam, depresi dan dehidrasi hebat. Seringkali terjadi pengeluaran saliva (air liur) dan sering mengejan.
Biasanya terjadi sampai pada 10 - 14 hari sejak kelahiran, khususnya 10 hari pertama. Seringkali terdapat kompilikasi serangan lain dari bakteri seperti E. coli. Pada kasus ini antibiotik tidak efektif terhadap virus, tapi dapat membantu melawan infeksi bakterinya.
Rotavirus - Dapat mengakibatkan diare pada pedet dalam 24 jam setelah dilahirkan. Dapat menulari ternak berusia 30 hari atau lebih. Pengeluaran saliva, dan diare hebat. Kotoran dapat berwarna kuning sampai hijau. Kehilangan nafsu makan dan tingkat kematian dapat mencapai 50 persen, tergantung pada kehadiran infeksi lanjutan dari jenis bakteri lain.
Coronavirus - Terjadi pada pedet usia 5 hari atau lebih. Dapat menulari pedet yang berusia 6 minggu atau lebih. Tingkat depresi tidak setinggi infeksi oleh rotavirus. Pada awalnya, feses ternak akan menunjukkan bentuk dan warna yang sama dengan infeksi rotavirus. Setelah beberapa jam, feses dapat mengandung lendir bening yang menyerupai putih telur. Diare dapat terus berlangsung selama beberapa hari. Tingkat kematian akibat coronavirus berkisar antara 1 sampai 25 persen. Tanda luka seringkali tidak jelas. Biasanya usus penuh oleh feses cair. Apabila tanda luka terlihat di dalam usus, itu biasanya diakibatkan oleh infeksi bakteri lanjutan.

Diagnosa Akurat

Diagnosis yang akurat hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium.
Vaksinasi yang spesifik untuk rota dan coronavirus sudah tersedia. Dapat diberikan dengan dua cara, oral segera setelah pedet dilahirkan, atau vaksinasi terhadap induk sapi hamil.
Program vaksinasi pada induk sapi ini biasanya dilakukan beberapa kali. Pada tahun pertama program, vaksin pertama diberikan pada 6 - 12 minggu sebelum kelahiran, dan yang kedua sedekat mungkin dengan waktu kelahiran. Kemudian pada tahun selanjutnya, si induk diberikan booster vaksin sebelum melahirkan. Apabila periode melahirkan terlambat lebih dari 6 - 8 minggu, induk yang belum melahirkan di akhir minggu ke-enam diberikan booster vaksin kedua. Dengan mengikuti prosedur ini, dapat dipastikan bahwa pedet yang dilahirkan mendapat antibodi rota dan coronavirus yang tinggi dalam kolostrum.
Lebih lanjut, Bovine Virus Diarrhea (BVD) juga merupakan agen virus yang dapat menyebabkan diare. Meskipun secara umum jarang dijumpai pada pedet muda atau baru lahir. Antibodi yang berasal dari kolostrum induk yang divaksin BVF sangat membantu melindungi pedet. Pedet yang baru dilahirkan dan terkena infeksi BVD ini dapat mengalami demam tinggi, nafas yang tersengal sengal dan diare parah. BVD seringkali ditemukan bersama agen infeksius yang lain. BVD dapat dikendalikan dengan melakukan vaksinasi terhadap sapi sapi dara (heifer) 1 atau 2 bulan sebelum di kawinkan.

Diare Akibat Infeksi Protozoa

Di Amerika Serikat, Coccidia & Cryptosporidia banyak ditemukan di hampir semua kumpulan populasi sapi. Organisme ini masuk kedalam tubuh melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan dapat hidup dalam kondisi dormant (suri) di tanah dan kotoran ternak selama 1 tahun. Ketika sampai di dalam usus, telur (oocyst) dari protozoa ini menetas dan berkembang biak. Menempel dan masuk ke dalam jaringan sel pada lapisan usus, menghambat pencernaan dan penyerapan makanan.
Gejala infeksi subklinis kronis tidak begitu jelas, biasanya ternak menderita dan mengurangi konsumsi pakan sehingga pertumbuhan terhambat. Infeksi akut menyebabkan diare (terkadang disertai darah), depresi, kehilangan berat badan dan dehidrasi. Tapi biasanya pedet tetap makan.
Coccidia memiliki siklus hidup 21 hari. Sehingga pada pedet usia dibawah itu (18 - 19 hari) jarang yang terinfeksi. Cryptosporidia biasanya ditemukan pada pedet usia 7 - 21 hari. Secara umum menginfeksi bersama rotavirus, coronavirus dan E. coli.
Ada jenis protozoa lain yaitu Giardia yang baru sejak beberapa tahun lalu cukup banyak ditemukan infeksinya.Infeksi banyak ditemukan terutama pada pedet usia 3 sampai 5 minggu.
Setelah mengenali macam-macam diare yang sering menyerang sapi muda dan dewasa, tentu kita bisa lebih mudah menyusun program pencegahannya. Atau bila sudah terlanjur terserang Infovet berusaha menyajikan solusinya yang bisa ditemukan dalam artikel berjudul “Mencegah dan Menanggulangi Diare pada Ternak Sapi”. (wan)

Waspada Kolera Merajarela

Tahun ini, nampaknya tidak seperti tahun-tahun kemarin. Bulan Mei yang seharusnya sudah masuk musim kemarau, ternyata tahun ini masih turun hujan dengan cukup deras. Keadaan ini tentu harus di waspadai. Penyakit apa saja yang muncul? Ditemui disela kesibukannya, Drh Hadi Wibowo melaporkan saat ini masalah klasik E Coli kembali muncul. Disisi lain, dibeberapa peternakan ditemukan kasus Kolera .
Menurut Hadi, E Coli merupakan masalah klasik yang disebabkan oleh kondisi lingkungan dan manajemen yang buruk. “Bila ingin terbebas dari E Coli jagalah kebersihan (Biosekuriti dan sanitasi) dan tingkatkan kualitas manajemen,” katanya. Sedangkan untuk Kolera , Hadi menekankan, bahwa penyakit ini menyebabkan kerusakan permanen khususnya pada indung telur. “Persoalan ini tentu akan sangat merugikan khususnya bagi peternak ayam petelur,” tegasnya.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida tipe A carter atau tipe O grup 5 Namioka atau tipe 2 dan 4 Rober yang bersifat ganas dan kronis. Gejala klinis: diare berair berwarna kuning coklat kehijauan, ayam sukar bernapas, jengger kebiruan dan leher sering dimasukkan ke badan. Angka kesakitan penularan sampai 50% dan kematian sampai 20%. Penurunan produksi telur sampai 30%
Gejala yang lain, biasanya menyerang ayam umur 4 bulan keatas, bisa berlangsung secara perakut/menahun, ayam sering mati mendadak tanpa gejala yang jelas. Pada bentuk akut terjadi peradangan selaput lendir mata disertai keluarnya kotoran. Tinja sangat encer, berwarna kekuningan, pial dan tulang membesar, sendi kaki meradang dan seringkali lumpuh serta tortikolis
Gejala khusus, umumnya terdapat perdarahan titik-titik atau bercak darah pada jantung, dibawah selaput serosa, pada selaput lendir empedal atau pada lemak perut. Hati membengkak dan berwarna gelap karena bendung darah. Kantung empedu membesar
Penularan bisa terjadi melalui pencemaran pakan atau air oleh lendir hidung dari ayam yang sakit. Kandang yang penuh sesak, kedinginan, kepayahan dan sanitasi lingkungan yang jelek dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi spesifik kolera.

Pencegahan Dan Pengobatan
Kolera unggas diperkirakan telah lama ada di Indonesia. Kejadian pertama dilaporkan oleh Bubberman pada tahun 1912. Pernah dilaporkan adanya letupan penyakit ini di Bogor-Jawa Barat, pada ayam petelur dan itik. Oleh karenanya, diperlukan vaksinasi apa bila ditemukan dengan jelas kolera-nya. (konsultasikan dengan dokter hewan anda untuk meneguhkan diagnosa). Vaksinasi kolera unggas yang dianjurkan adalah umur 6 – 8 minggu dan di ulang umur 8 – 10 minggu.
Bila terjadi kasus, biasanya dokter hewan akan merekomendasikan antibiotika antara lain streptomycine, chloramphenicol, terramicyne, dan preparat-sulfa melalui air minum atau pakan

Diagnosa banding
Bila terjadi penurunan produksi telur, maka penyakit-penyakit yang harus diwaspadai adalah, penyakit infeksius yang disebabkan virus : ND, IB, AI, EDS, penyakit infeksius-bakteri: Snot, Coli, CRD Kolera,Pasteurella dan Pseudomonas. penyakit infeksius parasit: Leucocytozoonosis dan cacing serta jamur.
Pada gangguan non infeksius, disebabkan kondisi pullet yang tidak optimal, pakan kualitas rendah, air tidak memenuhi syarat dan kondisi lingkungan yang kotor. Dan suhu lingkungan yang tidak nyaman bagi ayam. (Sapto)


DIARE PADA SAPI AKIBAT INFEKSI VIRUS DAN PROTOZOA

Setelah diare pada sapi akibat infeksi bakteri dipaparkan oleh Prof Drh wasito MSc PhD pada Infovet Mei 2007, kini giliran diare pada sapi akibat infeksi virus dan protozoa diangkat pada fokus bertopik penyakit pencernaan pada ternak, baik ternak unggas maupun ruminansia.

Mekanisme Serangan Virus

Bagaimana virus menyerang tubuh ternak sehingga ternak mengalami diare?
Virus menyerang lapisan sel usus kecil yang mengganggu proses penyerapan. Virus masuk kedalam sel dan menggunakan bahan bahan sel tersebut untuk reproduksinya. Ketika sel yang menjadi tempat berkembang biak penuh oleh virus, sel tersebut pecah dan mengeluarkan virus-virus baru untuk menyerang sel lain lebih banyak.
Infeksi yang disebabkan virus menyebabkan pedet menjadi lebih rentan terhadap serangan infeksi bakteri lain. Rotavirus dan Coronavirus memiliki cara kerja yang sama dan merupakan “tertuduh” utama pada kasus diare pada pedet. Kedua organisme tersebut banyak terdapat pada sapi dewasa dan paparan pada sapi sapi muda menjadi sangat umum.
Gejala yang ditimbulkan adalah mencret parah, hampir tidak ada demam, depresi dan dehidrasi hebat. Seringkali terjadi pengeluaran saliva (air liur) dan sering mengejan.
Biasanya terjadi sampai pada 10 - 14 hari sejak kelahiran, khususnya 10 hari pertama. Seringkali terdapat kompilikasi serangan lain dari bakteri seperti E. coli. Pada kasus ini antibiotik tidak efektif terhadap virus, tapi dapat membantu melawan infeksi bakterinya.
Rotavirus - Dapat mengakibatkan diare pada pedet dalam 24 jam setelah dilahirkan. Dapat menulari ternak berusia 30 hari atau lebih. Pengeluaran saliva, dan diare hebat. Kotoran dapat berwarna kuning sampai hijau. Kehilangan nafsu makan dan tingkat kematian dapat mencapai 50 persen, tergantung pada kehadiran infeksi lanjutan dari jenis bakteri lain.
Coronavirus - Terjadi pada pedet usia 5 hari atau lebih. Dapat menulari pedet yang berusia 6 minggu atau lebih. Tingkat depresi tidak setinggi infeksi oleh rotavirus. Pada awalnya, feses ternak akan menunjukkan bentuk dan warna yang sama dengan infeksi rotavirus. Setelah beberapa jam, feses dapat mengandung lendir bening yang menyerupai putih telur. Diare dapat terus berlangsung selama beberapa hari. Tingkat kematian akibat coronavirus berkisar antara 1 sampai 25 persen. Tanda luka seringkali tidak jelas. Biasanya usus penuh oleh feses cair. Apabila tanda luka terlihat di dalam usus, itu biasanya diakibatkan oleh infeksi bakteri lanjutan.

Diagnosa Akurat

Diagnosis yang akurat hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium.
Vaksinasi yang spesifik untuk rota dan coronavirus sudah tersedia. Dapat diberikan dengan dua cara, oral segera setelah pedet dilahirkan, atau vaksinasi terhadap induk sapi hamil.
Program vaksinasi pada induk sapi ini biasanya dilakukan beberapa kali. Pada tahun pertama program, vaksin pertama diberikan pada 6 - 12 minggu sebelum kelahiran, dan yang kedua sedekat mungkin dengan waktu kelahiran. Kemudian pada tahun selanjutnya, si induk diberikan booster vaksin sebelum melahirkan. Apabila periode melahirkan terlambat lebih dari 6 - 8 minggu, induk yang belum melahirkan di akhir minggu ke-enam diberikan booster vaksin kedua. Dengan mengikuti prosedur ini, dapat dipastikan bahwa pedet yang dilahirkan mendapat antibodi rota dan coronavirus yang tinggi dalam kolostrum.
Lebih lanjut, Bovine Virus Diarrhea (BVD) juga merupakan agen virus yang dapat menyebabkan diare. Meskipun secara umum jarang dijumpai pada pedet muda atau baru lahir. Antibodi yang berasal dari kolostrum induk yang divaksin BVF sangat membantu melindungi pedet. Pedet yang baru dilahirkan dan terkena infeksi BVD ini dapat mengalami demam tinggi, nafas yang tersengal sengal dan diare parah. BVD seringkali ditemukan bersama agen infeksius yang lain. BVD dapat dikendalikan dengan melakukan vaksinasi terhadap sapi sapi dara (heifer) 1 atau 2 bulan sebelum di kawinkan.

Diare Akibat Infeksi Protozoa

Di Amerika Serikat, Coccidia & Cryptosporidia banyak ditemukan di hampir semua kumpulan populasi sapi. Organisme ini masuk kedalam tubuh melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan dapat hidup dalam kondisi dormant (suri) di tanah dan kotoran ternak selama 1 tahun. Ketika sampai di dalam usus, telur (oocyst) dari protozoa ini menetas dan berkembang biak. Menempel dan masuk ke dalam jaringan sel pada lapisan usus, menghambat pencernaan dan penyerapan makanan.
Gejala infeksi subklinis kronis tidak begitu jelas, biasanya ternak menderita dan mengurangi konsumsi pakan sehingga pertumbuhan terhambat. Infeksi akut menyebabkan diare (terkadang disertai darah), depresi, kehilangan berat badan dan dehidrasi. Tapi biasanya pedet tetap makan.
Coccidia memiliki siklus hidup 21 hari. Sehingga pada pedet usia dibawah itu (18 - 19 hari) jarang yang terinfeksi. Cryptosporidia biasanya ditemukan pada pedet usia 7 - 21 hari. Secara umum menginfeksi bersama rotavirus, coronavirus dan E. coli.
Ada jenis protozoa lain yaitu Giardia yang baru sejak beberapa tahun lalu cukup banyak ditemukan infeksinya.Infeksi banyak ditemukan terutama pada pedet usia 3 sampai 5 minggu.
Setelah mengenali macam-macam diare yang sering menyerang sapi muda dan dewasa, tentu kita bisa lebih mudah menyusun program pencegahannya. Atau bila sudah terlanjur terserang Infovet berusaha menyajikan solusinya yang bisa ditemukan dalam artikel berjudul “Mencegah dan Menanggulangi Diare pada Ternak Sapi”. (wan)

JANGAN REMEHKAN KOKSI

Disamping kolibasilosis, penyakit pencernaan yang tidak kalah pentingnya adalah koksidiosis. Penyakit ini disebabkan oleh parasit dari golongan protozoa. Pada unggas dapat ditemukan sejumlah penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang bersifat parasitik dan menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi.
Menurut Drh Hanggono dari PT Medion Riau, kasus koksidiosis di Riau tetap ada, sama halnya dengan lokasi peternakan lain di bumi pertiwi ini. Untuk Riau, kasus ini sering dijumpai pada lokasi-lokasi yang kurang ketat penjagaan kebersihan kandang dan lingkungannya. Hal ini dibuktikannya saat melakukan kunjungan rutin ke farm-farm yang tersebar seantero kabupaten dan kota di Riau.
“Pada umumnya temuan kasus koksidiosis selalu pada lokasi pemeliharaan ayam yang tidak terjaga kebersihannya baik di luar kandang ataupun di dalam kandang”, tutur alumni FKH UGM Yogyakarta ini.
Berdasarkan ini, penerapan sanitasi di lokasi kandang secara umum dapat menghambat berkembangnya penyebab penyakit berak darah tersebut. Terkait penyakit ini, peternak sebenarnya tidak boleh lengah, karena efek yang ditimbulkan cukup parah bila ayam dapat bebas kembali dari terkaman Eimeria.
Maksudnya adalah ayam yang terbebas dari koksi setelah menderita sakit dapat mempengaruhi keberhasilan vaksinasi gumboro, karena sifat penyakit ini adalah immunosupresif, yang dapat menekan kekebalan hasil vaksinasi gumboro tersebut. Kasus ini biasanya terjadi pada ayam petelur, pungkasnya.
Menurut Prof drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD, penyakit asal parasit kerapkali berbeda dengan penyakit viral ataupun bakterial dalam beberapa aspek, yaitu siklus hidup yang kompleks, metode penyebaran yang beragam, sangat minim atau tidak ada uji serologik yang dapat dipakai sebagai metode diagnosis dan kadang-kadang dapat ditanggulangi dengan cara sanitasi atau desinfeksi dan isolasi yang ketat.
Koksidiosis pada ayam disebabkan oleh Eimeria yang dicirikan dengan diare dan radang usus. Protozoa yang tergolong genus Eimeria memperbanyak diri di dalam saluran pencernaan (apparatus digestivus) dan meyebabkan kerusakan pada jaringan.
Manifestasinya adalah gangguan pada proses digesti dan absorbsi zat-zat gizi, dehidrasi, kehilangan darah akibat terikutnya darah bersama feses dan meningkatnya kepekaan ayam terhadap jenis penyakit lain.
(Daman Suska)

KOLI TAK KENAL MUSIM

Technical Service Medion cabang Riau Drh Hanggono menyatakan bahwa untuk penyakit pencernaan saat ini datangnya bukan lagi berpatokan pada musim. Beberapa penyakit pencernaan tersebut muncul di farm broiler lebih banyak disebabkan faktor manajemen pemeliharaan yang ditetapkan peternak.
Artinya, manajemen pemeliharaan yang jelek dapat sebagai faktor predisposisi berjangkitnya penyakit-penyakit pencernaan tersebut. Di antara penyakit pencernaan yang tidak mengenal musim tersebut seperti Kolibasilosis yang disebabkan oleh sejumlah serotipe Escherichia coli yang bersifat patogen.
Penyakit ini disinyalir dapat menyerang ayam dari semua kelompok umur. Manifestasi Escherichia coli ini pada ayam dapat berbentuk kematian embrio pada telur tetas, infeksi yolk sac, omfalitis (radang pusar), koliseptisemia, air sacculitis (radang kantong udara), enteritis, ooforitis, salpingitis, koligranuloma, arthritis, panoptalmitis (radang mata) dan radang bursa sternalis.
Kondisi ini berdampak ekonomi yang sangat penting pada industri perunggasan berupa gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, peningkatan jumlah ayam yang diafkir, penurunan kualitas karkas dan telur, penurunan daya tetas telur dan kualitas anak ayam serta mendukung munculnya penyakit-penyakit kompleks pada saluran pernafasan, pencernaan dan reproduksi yang sulit ditanggulangi peternak.
Kolibasilosis merupakan penyakit umum, artinya tidak ada peternak yang tidak mengenal penyakit tersebut. Penyakit ini dicirikan dengan pada breeding farm sering ditemukan embrio mati sebelum telur menetas, hal ini biasanya terjadi pada periode akhir pengeraman.
Kemudian, kematian anak-anak ayam dapat terjadi sampai umur 3 minggu dengan gejala omfalitis, oedema, jaringan sekitar pusar menjadi lembek berkesan seperti bubur (mushy). Pada ayam pedaging periode starter kolibasilosis menyebabkan gangguan pernafasan disertai bersin, anemia dan kekurusan atau kadangkala broiler tersebut ditemukan sudah mati.
Menyikapi kasus kejadian kolibasilosis yang didaulat sebagai penyakit pencernaan yang umum menyerang ayam ini, drh Syakban Mahmud Feed Coordinator PT Charoen Pokphan home base Pekanbaru menegaskan bahwa peternak jangan sekali-kali menyalahkan pembibit.
Artinya bibit Day Old Chick (DOC) yang diterima peternak adalah bibit yang sudah lulus sensor atau bibit yang sudah disertifikasi. “Mustahil pembibit memberikan DOC jelek pada peternak”, ulang alumni FKH Unsyiah Nangroe Aceh Darussalam ini dengan mantap.
Kejadian penyakit apakah itu penyakit pencernaan, penyakit pernafasan, dan berbagai jenis penyakit ayam lainnya tetap berawal dari manajemen pemeliharaan.
Bila sistem pemeliharaan yang diterapkan peternak baik maka hasil yang didapat dari usaha peternakan sudah jelas baik dan sebaliknya bila sistem manajemen pemeliharaannya jelek maka peternak bukannya untung malahan usaha yang dilakukan sia-sia dan hasilnya adalah kerugian bahkan bisa sampai gulung tikar (red: kehabisan modal).
Namun menurut Syakban pembibit jangan pula memanfaatkan kondisi yang ada, membiarkan peternak larut dalam keterpurukkan, bukankah usaha yang dilakukan peternak adalah usaha amal, menyangkut hayat hidup orang banyak?
“Yang terpenting adalah koordinasi dan informasi tetap terjalin dan jangan sampai terputus sama sekali dengan pihak-pihak yang berkompeten dengan peternak,” imbau Syakban.
Di lain sisi, kejadian kolibasilosis di usaha peternakan sudah dianggap lumrah oleh peternak. Kadang-kadang peternak tidak lagi mengacuhkan penyakit ini. Hal ini beralasan bahwa infeksi Escherichia coli susah ditebak datangnya dan susah pula ditentukan perginya dari farm peternakan. Inilah yang membuat peternak acuh dan cuek pada serangan Escherichia coli di usaha peternakannya.
“Saya tidak mempedulikan penyakit tersebut (red: kolibasilosis), bagi saya apapun jenis bibit penyakit dapat dipangkas habis dari lokasi usaha peternakan saya bila kandang dan lingkungan kandang terjaga kebersihannya,” tutur narasumber Infovet pada kru Infovet Riau.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penjagaan kebersihan adalah mutlak diterapkan di lokasi peternakan broiler, karena tindakan ini memberikan dampak nyata bila diabaikan.
“Saya yakin bahwa nawaitu (red; niat) peternak pasti berusaha untuk meraih keuntungan, sama dengan keinginan saya. Untuk itu jangan lalai dan jangan sampai terlewatkan penjagaan kebersihan di usaha peternakan yang kita miliki”, imbau peternak yang pernah diundang ke Istana Negara Republik Indonesia ini. (Daman Suska)

DUKA LARA KOLERA AYAM

Drh Nur Fauzi Berno Ahmad Tenaga Lapangan dari PT Lestari Agri Satwa mengungkapkan bahwa salah satu indikasi adanya kolera ayam adalah tingginya angka kesakitan yang tinggi serta diikuti dengan angka kematian yang tinggi pula, dimana pada organ pencernaan terutama usus mengalami perdarahan yang ekstensif atau meluas.
Selain itu sangat sering menyerang pada ayam dara dan yang sedang berproduksi (pada ayam petelur) dari pada yang masih muda. Kisaran umur ayam adalah di atas 6 (enam) minggun.
Kekecualian terjadi pada ayam pedaging, banyak kasus lapangan yang dijumpai Fauzi Berno adalah justru di bawah 6 minggu terutama mendekati usia panen. Khusus pada ayam pedaging, menurut hasil pengamatannya yang intensif, oleh karena tingkat kepadatan kandang yang tidak terkontrol.
”Hasil pengamatan intensif saya selama ini pada ayam pedaging, umumnya karena populasi dalam kandang yang melebihi kapasitas ideal pada usia menjelang siap panen. Sehingga timbul stress yang tinggi dan akhirnya menyebabkan beberapa ayam terganggu status kesehatannya. Dan penyakit ini (kholera) masuk dengan cepat sampai kemudian cepat menyebar ke ayam yang lain,” ujar Fauzi Berno.
Terlebih dengan sifat bakteri Pasteurella sp. yang menjadi penyebab kholera ayam itu bersifat mudah menular ke yang lain melalui leleran kental dari hidungnya. Banyak kejadian di lapangan bahwa penularan terjadi tidak hanya dalam satu kandang tetapi bisa lintas kandang.
Seolah, lanjut Fauzi Berno mematahkan teori yang menyatakan penularan tidak atau sangat kecil terjadi melalui bantuan udara. ”Ini realitas yang mampu mematahkan ’teori baku’ bahwa kholera pada ayam ternyata mampu disebarkan melalui udara.
Sehingga, ingus atau leleran hidung yang sering menjadi faktor pemicu penularan jika kontak dengan ayam yang sehat, bukan mutlak. Karena ternyata kandang yang jaraknya tidak terlalu jauh bisa juga tertular, padahal sebelumnya sehat-sehat saja. Sekali lagi ini hasil pengamatan intensif saya lho,” tutur Fauzi Berno.

Stres Penyebab

Sedangkan menurut Drh Totok Emjepe Ef, bahwa faktor terbanyak penyakit itu oleh karena stres pergantian cuaca yang mendadak, temperatur yang tidak stabil maupun kelembabannya. Pada bulan Akhir Maret sampai Pertengahan Mei 2007 ini, di kawasan sebagian Jawa Tengah dan Jogjakarta cuaca memang sangat tidak bersahabat.
Siang hari hampir pasti udara sangat panas sekali dan pada sore maupun malam sering turun hujan dengan frekuensi yang masih tinggi, meski hampir memasuki musim kemarau. Kondisi alam yang demikian menjadi faktor pemicu gangguan kesehatan ayam dan khususnya saat ini yang patut diwaspadai adalah kholera ayam.
”Udara siang hari terasa sangat menyengat, diperburuk dengan tiadanya hembusan angin. Sedangkan pada sore dan malam hari masih saja terjadi hujan. Padahal menurut pegangan para peternak saat ini merupakan awal musim kemarau. Ini kan anomali iklim,” jelas Totok.
Penyebab lain yang sering menjadi pemicu munculnya penyakit ini antara lain vaksinasi yang kurang hati-hati alias kasar, kegiatan potong paruh, proses pindah kandang dari kandang postal ke batery dan juga bisa oleh karena adanya penyakit immunosupresif yag sub klinis dan penyakit kecacingan serta gonta-ganti merk pakan.
Fauzi Berno menambahkan bahwa penyakit ini juga banyak terjadi pada saat peralihan musim dan musim kemarau yang panjang. Umumnya banyak terjadi pada peralihan dari kemarau ke musim penghujan. Namun kini kenyataannya, tambah Fauzi Berno justru sebaliknya yaitu pada saat peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau.
Atas dasar hasil investigasi Tim Pemantau Penyakit Ayam Infovet (TPPA-Infovet) yang bekerja sama dengan asosiasi perunggasan di Jawa Tengah dan Jogjakarta kasus penyakit itu juga tidak sedikit merecoki beberapa kandang di kawasan sentra petenakan ayam petelur di Jogja dan Jateng. Hasil pantauan ini memang patut diperhatikan dan diwaspadai oleh peternak dan semua praktisi perunggasan.
Berbicara masalah transmisi penyakit dari ayam yang satu ke yang lain menurut Fauzi Berno maupun Totok bahwa pada umumnya ayam yang terinfeksi akan menjadi sumber penularan ke ayam-ayam yang lain. Penularan terjadi karena kontak dengan leleran dari hidung dan mulut serta kadang-kadang dari feses ayam yang sakit.

Potensi Terbesar

Namun Totok menambahkan bahwa potensi terbesar adalah melalui air minum dan pakan serta tempatnya yang tercemar.
Adapun gejala klinis kholera ayam, menurut Totok memang kurang spesifik, dan banyak peternak yang sering telambat mendeteksi. Namun sebenarnya jauh lebih banyak para peternak yang lebih berpengalaman, sehingga sangat paham sekali dengan gejala penyakit itu.
Dijelaskan oleh Totok bahwa ada pedoman yang agak mudah untuk mendeteksi kholera ayam yaitu dimana ayam diare warna hijau dengan bau yang menyengat.
Selain itu ada gejala lain yang sangat universal seperti ayam lesu, lemah, nafsu makan dan minum turun dan disertai demam. Bulu berdiri serta leleran kental dari lubang hidung dan mulut yang biasa menggantung seperti tali, sehingga pada siang hari terlihat ayam seperti kesulitan bernafas.
Pada malam hari ayam-ayam yang terinfeksi tersebut akan terdengar seperti tercekik. ”Pokoknya kalau ayam mencret warna hijau, sudah pasti benak peternak menjadi kacau. Belum lagi produksi telur yang sudah pasti akan anjlog ”.
Untuk penanganan kasus penyakit ini menurut Totok saat ini banyak peternak menjatuhkan pilihan pada preparat quinolon. Preparat Sulfa dan Antibiotika konvensional sudah kurang efektif untuk mengatasinya.
Sedangkan menurut Fauzi Berno selain itu juga dengan menggenjot pemberian multivitamin dan perbaikan kualitas pakan. (iyo)

MANAJEMEN YANG BAIK: SEPERTI APA?

Diindikasikan oleh Drh Rochmad Fadillah, Pemasaran PT Wonokoyo Jaya Corporindo adanya kasus AI di Madiun tidak berani diakui terang-terangan oleh peternak dengan alasan utama diagnosanya belum pasti. Masih menduga-duga, meski ada indikasi, indikasi ini pun belum dapat dipastikan itu pasti gejala AI.

Keengganan peternak untuk menyingkap keberadaan ini sangat beralasan. Bilamana lingkungan masyarakat sekitar tahu kondisi ini, dapat membahayakan kelanjutan usaha peternakan. Bila peternak menolak pemeliharaan ternak ayam, di sini binis akan berhenti! Ini masalah besar bagi penghidupan masyarakat peternakan.

Untuk itulah, dalam menghadapi masalah seperti itu, diperlukan sebuah manajemen publik. Jenis manajemen ini sangatlah diperlukan, sama seperti halnya dengan manajemen-manajemen lain, yang terkait dengan penenggulangan penyakit tentu saja: Pemeliharaan pemeliharaan.

Salah satu usaha untuk meningkatkan efisiensi produksi adalah dengan melakukan manajemen pemeliharaan yang baik. Di samping pakan dan pemilihan bibit yang tepat serta pengawasan terhadap kesehatan ayam. Faktor penyakit perlu dikaji lebih seksama karena memberikan dampak nyata terhadap budidaya ternak, hasil produksi, ekonomi dan politik dagang, benefit dan kenyamanan konsumen.

Program pencegahan dan pembasmian penyakit harus dengan manajemen yang baik, tepat, terencana dan efisien dari segi teknis, biaya dan teknologi. Demikian ditegaskan Ir Hj Elfawati MSi kepada kru Infovet Riau.

Menurutnya penyakit pada ayam datang berawal dari keteledoran peternak dalam mengelolah usahanya. Dalam berusaha ternak khususnya usaha peternakan broiler, hal mendasar yang perlu diperhatikan setelah penyediaan pakan yang cukup adalah penerapan manajemen pemeliharaan yang baik.

“Faktor ini dianggap penting karena dampak negatif bila peternak tidak mengindahkannya adalah kegagalan produksi akibat faktor penyakit yang datang dari manajemen yang amburadul tadi,” kata alumnus pasca sarjana Institut Pertanian Bogor ini.

Lebih lanjut dituturkan Eva, bicara penyakit pencernaan tentunya kita semua sepakat kalau hal tersebut tetap ada kaitannya dengan ransum yang dikonsumsi ayam.

Artinya, hanya pakan yang baiklah yang dapat memberikan jaminan produksi pada peternak dan sudah barang tentu pemberian pakan dengan kualitas yang baik pada ayam akan memangkas siklus hidup kuman penyakit yang dapat menyebabkan penyakit pencernaan pada ayam tersebut.

Penyakit pencernaan memang seringkali menjadi duri dalam daging bagi sebagian peternak di bumi pertiwi ini. Penyakit ini datang dan pergi begitu saja tanpa memberikan aba-aba yang pasti pada peternak.

Biasanya kejadian penyakit sering dikaitkan dengan pergantian musim, semisal ND datang pada saat peralihan dari musim panas ke hujan, demikian juga halnya dengan penyakit-penyakit pernafasan, sedang pada kasus penyakit pencernaan saat ini lebih banyak disebabkan oleh faktor manajemen ketimbang faktor musim.


Eliminir Faktor Stres

Stres atau cekaman merupakan keadaan ketika ayam mengalami ketegangan karena kondisi lingkungan yang tidak nyaman. Ketika broiler mengalami stres panas, mereka akan meningkatkan konsumsi air sebagai usaha untuk menyegarkan tubuhnya.

Sebagian besar air akan dibuang melalui feses, sehingga feses menjadi becek dan lembek. Pada layer berakibat mudah terserang penyakit, pertumbuhan terganggu, serta produksi telur menurun dan bahkan dapat berhenti sama sekali.

Di samping itu, stres panas dapat diikuti dengan perubahan fisik pada saluran pencernaan yang dapat dideteksi dengan ilmu histologi dalam 48 jam dan dapat diamati paling sedikit selama 3 hari. Perubahan yang terjadi meliputi penurunan panjang dan luas permukaan vili usus.

Menurut drh Jully Handoko juga dari fakultas yang sama, stres pada ayam umumnya disebabkan oleh perubahan iklim atau cuaca secara mendadak misalnya kejadian hujan lebat secara tiba-tiba, angin deras, udara panas dan atau udara dingin. Faktor lain sebagai pemicu stres adalah kebisingan suara, kejutan, perlakuan potong paruh, pindah kandang, makanan dan kepadatan kandang.

Agar ayam yang dipelihara terbebas dari stres, peternak secara berkala harus memberikan antistres pada ayam seperti vitamin dan produk sejenis lainnya. Di samping itu, menjauhi ayam dari pemicu faktor stres merupakan langkah bijak dalam raihan pulus yang membludak, pungkas Jully.


Air dan Penyakit Pencernaan

Drh Rochmad Fadillah, Pemasaran PT Wonokoyo Jaya Corporindo wilayah Madiun menyatakan bahwa di Madiun Jawa Timur, soal penyakit tidak begitu bermasalah. “Penyakit pencernaan tidak begitu menjadi problem karena air di Madiun tidak bermasalah. Yang bermasalah malah musim yang tidak menentu,” katanya.

Peternak memang acap mengaikan air dengan penyakit pencernaan seperti
Kolibasilosis. “Banyak orang beranggapan penyebabnya terkait dengan air saja, sedangkan pakan dan feses tidak berpengaruh. Padahal sesungguhnya kotoran ini merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri Koli penyebab kolibasilosis yang sesungguhnya sifatnya ada yang patogen dan tidak patogen,” kata Dr Drh Soeripto MSV peneliti dari Bbalitvet Bogor.

“Kalau dalam jumlah banyak dapat mengganggu keseimbangan mikro,” tutur Dr Soeripto.

Terkait dengan air yang melimpah saat musim penghujan, Drh Elfan Briska Darmawan seorang dokter hewan praktek dan juga sebagai peternak ayam petelur di Jabotabek mengungkap, “Menurut pengamatan yang saya ketahui, katanya, “Kolera biasa kalau musim hujan. Untuk mengatasinya, cukup sedia multivitamin dan asam amino, tapi kalau wabah cukup dengan antibiotik.” (Daman Suska/ YR).

PAKAN DAN PENYAKIT PENCERNAAN

Menurut Zaenal Amin PT Cargill Indonesia Area Marketing Kerawang-Cirebon-Brebes, penyakit pencernaan yang terkait dengan pakan dipengaruhi oleh tiga hal:

1. Bahan baku pakan, terkait dengan kualitas bahan baku pakan yang dipergunakan, jika tidak memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan tentunya akan berakibat terganggunya pencernaan. Contoh: Bahan baku jagung, mensyaratkan kadar aflatoxin di bawah 50 ppb, jika di atas batas maksimal maka akan timbul penyakit pencernaan yang disebabkan aflatoxin.

2. Penyimpanan pakan. Jika gudang yang digunakan tidak memenuhi standar, misalnya suhu dan kelembaban tidak standar, atap bocor waktu hujan, maka pakan yang disimpan akan cepat rusak, ditandai dengan kondisi pakan yang menggumpal dan berjamur, dan jika dipaksakan untuk dikonsumsi oleh ternak, maka akan berakibat gangguan pencernaan.

3. Kadaluwarsa. Rata-rata pakan jadi, bisa disimpan dan baik digunakan untuk ternak selama 3 minggu sejak diproduksi, jika lebih dari 3 minggu ada kemungkinan terjadi kerusakan/kadaluwarsa. ini terkait juga dengan kondisi kemasan yang sudah mengalami bongkar muat sejak dari feedmill, delivery ke gudang peternak, kemudian ke kandang/farm. Ditandai dengan kondisi pakan yang sudah bau apek dan ada kutunya. Jika kondisi pakan sudah kadaluwarsa diberikan ke ayam, maka akan berakibat gangguan pencernaan.


Manajemen Kesehatan dan Pakan

Manajemen kesehatan juga harus bisa menyikapi problem-problem pakan. Demikian Dr Drh Soeripto MSV dari Bbalitvet Bogor, seraya memberi contoh misalnya konsumsi nutrisi lemak pada suhu tinggi mengandung linoleic acid dengan konsentrasi melebihi ambang normal dapat menyebabkan perlemakan hati dan ginjal.

Akibatnya, secara fungsional bila ginjal tidak bisa menjalankan fungsi detoksikasi akan sangat merepotkan. Demikian juga fungsi ginjal untuk filterisasi dengan organ kapsul bowman dalam ginjal dapat terganggu akibat keracunan, yang secara ekonomik sangat merugikan karena ayam menjadi terganggu pertumbuhannya.

Menurut dokter hewan peneliti ini, soal pakan, rata-rata cenderung dikebelakangkan oleh umumnya dokter hewan yang lebih memperhatikan penyakit infeksi. Padahal, soal pakan ini juga sangat terkait dengan penyakit.

Oleh karena itu, kata Dr Soeripto, “Pakan sangat perlu diperhatikan. Meskipun tidak secara sekaligus dapat langsung membunuh ayam, manajemen pakan harus dikontrol.”


Cara Memahami Pakan

Untuk program pemberian pakan ini sangat diperlukan pemahaman yang benar oleh peternak. Drh Desianto Budi Utomo PhD dari PT Charoend Pokpand Indonesia dalam Seminar Nasional ASOHI Topik Mengoptimalkan Produksi Ayam untuk Menyiasati Kenaikan Harga Pakan April 2007.

Menurutnya, untuk mendapatkan pemahaman yang tepat, dapat diterapkan dengan demoplot. Caranya dengan mencari peternak yang mau berubah untuk percontohan dengan demoplot.

Misalnya untuk pemahaman terkait dengan pemberian pakan yang tepat pada ayam broiler, dengan demoplot dapat diberikan contoh perbedaan sistem pemberian pakan ganda (pada starter dan finisher) atau sistem pemberian pakan tunggal pada ayam broiler. Dengan memperhatikan langkah-langkah yang terkait dengan demoplot, perbedaan 2 sistem pemberian pakan itu akan diketahui yang mana yang paling baik.

Pada dasarnya pakan finisher energinya lebih tinggi. Dengan percobaan, dapat diketahui faktor-faktor perubahannya.

Perlu pemberian pakan sesuai pertumbuhan. Prinsipnya, guna melihat bukti untuk memperoleh sikap percaya dapat dilakukan demoplot. Tanpa itu, sulit, meski dilakukan seminar-seminar dan lain-lain wacana.

Bagi Prof Dr Ir Budi Tangenjaya Dewan Pakar ASOHI yang juga peneliti senior di Balai Penelitian Ternak, dalam kesempatan sama, petunjuk praktis untuk peternak memang sangat dibutuhkan. Misalnya pada peternakan ayam petelur, pakan dengan konsentrat tertentu dapat diaplikasikan dengan program excell pada komputer yang mencakup data-data yang ada.

Dalam hal aplikasi praktis ini keterbukaan harus ada. Misalnya peternak perlu tahu penggunaan konsentrat pabrikan dengan perimbangan tertentu dalam komposisinya seperti lisin, kalsium, dan lain-lain. Perubahan komposisi pun harus jelas.

Hal ini seperti halnya formulasi sederhana, jumlah biaya pun mesti kelihatan. Baik itu pada ayam petelur maupun ayam pedaging.

Praktisnya, misalnya, apa perlu mencampur jagung pada pakan itu. Apa perlu membuang koksidostat, atau perlu vitamin untuk hari terakhir pemeliharaan, pun bagaimana dengan mengencerkan jagung.

Menurut Dr Budi Tangenjaya, hal semacam itu setidaknya merupakan trik-trik untuk pemahaman formulasi pakan yang sangat bermanfaat bagi peternak.

Terkait trik ini, sesuai dalam beternak ayam petelur ini Drh Elfan Briska Darmawan seorang dokter hewan praktek dan juga sebagai peternak ayam petelur di Jabotabek mengungkapkan, “Mengenai jagung tidak ada alternatif lain. Tapi katul cukup murah. Jadi tetap dipakai sebagai konsentrat sebab harga pakan selangit.”


Ya, Semua Berawal dari Pakan

Memang, “Pakan juga dapat disinyalir sebagai faktor predisposisi munculnya penyakit pencernaan pada unggas,” kata Ir Hj Elfawati MSi dosen Nutrisi Unggas pada Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau.

Menurutnya, perubahan kandungan pakan, meliputi pH dan viskositas, kandungan energi pakan tinggi, program pakan terbatas, perubahan bentuk fisik pakan (tepung ke pelet) dan pemberian beberapa protein hewani dapat mempengaruhi mikroflora usus yang berdampak pada keradangan usus. Radang usus (enteritis) sering terjadi sebagai efek sekunder dari infeksi virus atau infeksi coccidia.

Pencegahannya, katanya, adalah dengan penggunaan growth promotor secara efektif, control infeksi coccidia, melindungi kinerja sistem kebal, biosekuriti menyeluruh dan penerapan sanitasi menyeluruh di farm peternakan.

Disamping itu, Kehadiran mikotoksin dalam pakan telah lama diketahui. Umumnya jenis mikotoksin yang sering dijumpai adalah Ochratoxin A, yang menyebabkan meningkatnya kerusakan intestinal.

Aflatoksin menyebabkan kerusakan hati, memblokir saluran pipa empedu dan penurunan kadar empedu di saluran usus lebih rendah. Akibatnya penyerapan lemak menjadi sangat kurang. Trichothecene (T-2) menyebabkan perlukaan di dalam rongga mulut, proventriculus, gizard dan usus. Sumber-sumber kontaminasi mikotoksin meliputi biji-bijian berjamur, tempat pakan yang kotor, peralatan pengangkut pakan yang tercemar.

Untuk mencegah tumbuhnya mikotoksin, sebaiknya membeli biji-bijian berkualitas dan disimpan dalam tempat yang sesuai kondisinya. Biji-bijian yang mengandung mikotoksin tinggi perlu ditambahkan agen pengikat dan dicampur dengan biji-bijian berkualitas baik untuk mengurangi efek negatif.

Kemudian menurut Eva, terkait tempat penyimpanan pakan, lokasinya harus dihindari dari terpaan sinar matahari langsung, kondisi lembab dan penumpukan yang melebihi kapasitas daya simpan gudang tersebut. Dalam pemakaian pakan, sebaiknya peternak menggunakan sistem FIFO (first in first out), dengan demikian pakan yang lawas tidak akan terkonsumsi lagi oleh ayam yang dipelihara peternak, pungkas Eva. (Daman, YR)

MEMILAH PENYAKIT PENCERNAAN PADA AYAM

Tentang penyakit pencernaan unggas, Drh Iwan Utama dari FKH Universitas Udayana Bali dalam suatu forum dokter hewan mengungkapkan, para akademisi dapat menjawab (memilah, red) seperti apa yang selama ini dihipotesiskan. Mengapa?

“Tak usah jauh-jauh,” kata Drh Iwan, “Kita lihat saja sistem peternakan yang telah ada dan jangan lupa juga mengenai sistem transportasi unggas ke tempat penjualan/ pemotongan. pernahkah ada yang mencoba mengamati, minimal mengandaikan jika diri kita diangkut seperti itu. bagaimana perasaan kita?”

“Apakah terpikirkan mengenai the 5 prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare)? Jangan menyalahkan dipeternakan saja, tetapi cara transportasi juga perlu diperhitungkan dampaknya terhadap stres dan peluang kemunculan penyakit,” jelas Drh Iwan..

Masalah gangguan pencernaan pada unggas ini, Dr Drh Soeripto MSV dari Bbalitvet Bogor mendapatkan pengalaman di lapangan ada beberapa macam sebab. Ada yang karena stres, perubahan cuaca panas ke dingin, sehingga ayam berubah kondisinya menjadi tidak baik dan pertahanan tubuhnya turun sehingga memunculkan penyakit.

Dalam hal ini, menurut Dr Soeripto, pemanasan pada ayam kecil saat minggu pertama pertumbuhan sangat memberi pengaruh terhadap kemampuan ayam untuk makan. Pergantian pakan yang tidak tepat dapat mengganggu saluran pencernaan yang akhirnya mengganggu pencernaan ayam itu.

Bila pemberian pakan bernutrisi seperti protein yang mengandung asam amino tidak sesuai harapan, dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat.

Begitupun bila uremic-nitrogen diberikan dalam konsentrasi berlebihan dapat menyebabkan deposit asam urat.

Sementara bila ayam tidak mengkonsumsi vitamin A dalam jumlah yang menyebabkan defisiensi vitamin dapat bergejala klinis gangguan di mulut, usofagus dan tembolok crop, ketidakseimbangan konsentrasi urin di ginjal dengan penimbunan urecmic acid tadi, dan mungkin banyak lagi gangguan.

“Semua ini berhubungan dengan pencernaan,” tegas Dr Soeripto.

Pemeriksaan kesehatan terhadap ayam yang terserang penyakit defisiensi vitamin A dapat dibandingkan dengan ayam yang terserang Aspergillosis akibat gangguan jamur Aspergillus pada mulut. Ciri-ciri kedua penyakit ini mirip, pada mulit terdapat bentukan putih-putih. Orang bisa keliru pendapat tentang penyakitnya, sehingga perlu kepastian dengan pemeriksaan dengan usapan, dengan pemeriksaan media laboratorium.

Parasit internal yang menyebabkan masalah pencernaan adalah koksidia. Koksidia menyebabkan koksidiosis yang menyerang pada usus halus dan kadang menimbulkan perdarahan sehingga ayam mengalami berak darah.

Dalam kondisi ayam berak darah ini kalau kekebalan tubuhnya bagus, ayam tetap dapat mengalami pertumbuhan yang terlambat.

Pada pemeriksaan Koksidiosis dalam sekum pun sebenarnya dapat ditemukan atau kelihatan cacing askaris dengan akumulasi yang banyak. Tentu saja sangat menyebabkan gangguan pencernaan.

Perlu diingat bilamana pengobatan koksi tidak baik dapat menggertak timbulnya perdarahan pada radang usus yang dikenal sebagai hemoragik enteritis. Pada banyak kasus, serangan clostridium bersifat ganas bila ketahahan tubuh turun.

Penyakit infeksius seperti ND secara internal menyebabkan banyak perdarahan, dan ayam langsung mati.

Beberapa penyakit menyebabkan gangguan bersifat ekonomi, sedang penyakit seperti ND, Gumboro dan AI rata-rata bersifat fatal, menyebabkan perdarahan dan gangguan saluran pencernaan

Tentang Kolibasilosis, banyak orang beranggapan penyebabnya terkait dengan air saja, sedangkan pakan dan feses tidak berpengaruh. Padahal sesungguhnya kotoran ini merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri Koli penyebab kolibasilosis yang sesungguhnya sifatnya ada yang patogen dan tidak patogen. “Kalau dalam jumlah banyak dapat mengganggu keseimbangan mikro,” tutur Dr Soeripto.

Yang paling kasat mata adalah infeksi ND, Gumboro dan AI. Semua dapat merupakan kesalahan pengelola, yang dapat menyebabkan nilai ekonomisnya turun, akibat pertumbuhan terganggu dan konversi pakan tidak sampai.

Adapun pada musim penghujan yang mengakibatkan tanah, sekam/ litter ayam becek dengan kelembaban yang tinggi, sangat dibutuhkan manajemen sekam dengan membolak-balik. Dalam periode ini juga perlu ditambahkan kapur, untuk mencegah gangguan Koksidiosis muncul.

Manajemen kesehatan juga harus bisa menyikapi problem-problem pakan. Demikian Dr Drh Soeripto MSV dari Bbalitvet Bogor, seraya memberi contoh selengkapnya pada artikel Pakan dan Penyakit Ayam. “Pakan sangat perlu diperhatikan. Meskipun tidak secara sekaligus dapat langsung membunuh ayam, manajemen pakan harus dikontrol,” katanya. (Infovet)

Majalah Infovet [Edisi 155 Juni] 2007

FOKUS

FOKUS 2006

BUKAN SEMATA UNTUK KEPENTINGAN MANUSIA

Salah satu alasan manusia membudidayakan ternak sebagai hewan yang didomestikasi, adalah kesadaran manusia sebagai khalifah pemegang mandat alam (dan pencipta alam), sebagai makhluk paling sempurna, menguasai, menaklukkan, mengelola alam seisinya, termasuk hewan.

Konsep ini diserang oleh Lynn White dalam artikelnya The Historical Roots of Our Ecological Crisis, pada Science, 1967, sebagai penyebab berbagai kerusakan lingkungan alam semesta, hingga memuncak pada pemanasan global yang isunya justru mengantar mantan Wakil Presiden AS Al Gore menerima Nobel Perdamaian Dunia 2007.

Lynn White menyerang terutama iman Yahudi Kristiani dalam kitab Kejadian pasal 1 tentang penciptaan dunia, yang secara langsung bertanggungjawab atas pemikiran banyak umat di dunia untuk mengeksplotasi dan merusak alam.

Dalam bidang peternakan dan kesehatan hewan kita mendapatkan banyak kasus terkait budidaya ternak yang penuh kontroversial, seperti masalah penggunaan obat tak sesuai kaidah, obat ilegal, hormon pertumbuhan, produk rekayasa genetika, bahkan bahaya penyakit sapi gila akibat menimpor MDM dan MBM dari Kanada dan AS yang merupakan negeri basis kasus Mad Cow Disease ini.

Serangan White tentang konsep penguasaan dunia dalam penciptaan pada Kitab Kejadian itu, memaksa para teolog berpikir tentang lingkungan. Setidaknya ada tiga konsep besar menyanggap serangan itu.

Sanggahan pertama menganggap tafsir White itu dianggap timpang atau kurang seimbang. Konsep ini mengatakan penciptaan harus dilihat dalam keseluruhan kontkes, adanya konsep berkat di mana manusia dan hewan tidak bunuh membunuh. Kata berkuasa dilihat sebagai untuk memelihara, mengurus, menggembala. Manusia dianggap sebagai khalifah.

Konsep kedua, muncul tafsiran yang lebih seimbang, dibanding memelihara juga menaklukkan. Konteks di Timur Tengah, manusia juga harus menaklukkan, bukan hanya memelihara, yang indah nuansa bahasanya. Di sini kekacauan harus dilawan, di mana manusia mengendalikan agar kekacauan tidak menyengsarakan. Ada sisi kerasnya, yaitu berkuasa atau menaklukkan!

Adapun Jurgen Moltmann (lahir 1926) menganggap dua konsep penyanggah Lynn White tadi masih bersifat antroposentris alias berpusat pada manusia, sehingga menimbulkan kesombongan manusia. Menurutnya puncak penciptaan alam semesta bukanlah pada manusia yang menjadi pusat dari penguasaan alam baik sebagai khalifah maupun sebagai penakluk.

Menurut Moltmann, pusat penciptaan yang dianggap Lynn White pada manusia sehingga mendorongnya menguasai dunia seisinya itu, tidaklah benar. Bagi Moltmann, Pusat penciptaan adalah pada kehadiran Sang Pencipta dalam karya-karyanya setelah semua ciptaan itu dibuat dalam bentuk yang paling indah.

Moltmann tidak menyamakan konsep ini dengan aliran Deisme yang mengatakan Sang Pencipta laksana pembuat jam yang meninggalkan jam ciptaannya begitu saja tanpa peduli lagi bagaimana jamnya berputar karena tugasnya sudah selesai dalam mencipta.

Menurut Moltmann, Sang Pencipta tetap peduli pada ciptaannya dan berkatnya bersifat universal kepada seluruh ciptaan. Sehingga, manusia perlu mengakui eksitensi dan kehadiran Sang pencipta dalam seluruh ciptaannya. Dalam konteks dunia peternakan dan kesehatan hewan, dengan kehadiran hewan dan ternak yang didomestikasi itulah manusia dapat merasakan kehadiran Sang Pencipta, selain dalam ciptaan yang lain. Berkat ada pada semua ciptaan itu, juga pada hewan dan ternak.

Namun meski pada hewan dan ternak juga ada berkat, manusia tetap jangan ditempatkan sama atau lebih rendah dibandingnya. Jangan sampai seperti ketika pergerakan dunia kesejahteraan hewan (animal welfare) makin marak mengikuti gerakan-gerakan di negara dengan berbagai rambu untuk kesejahteraan hewan, aborsi janin manusia malah dilegalkan. Jadi tumpang tindih antara kepedulian kita sebetulnya terhadap siapa, manusia ataukah hewan!

Di sini dituntut, manusia tetap mempedulikan hewan dalam tetap dalam proporsi yang tepat, di mana manusia diciptakan sebagai makhluk paling mulia dibanding makhluk lain. Namun, dalam mengelola alam semesta, memelihara hewan dan ternak, pun bukan semata bersikap sebagai khalifah maupun penguasa atau penakluk semata hanya lantaran manusia dicipta paling sempurna.

Konsep ini secara tidak langsung mengoreksi konsep dokter hewan dalam Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia yang mengusung slogan Manusya Mriga Satwa Sewaka, di mana dokter hewan menyehatkan hewan untuk kesejahteraan manusia. Moltmann mengingatkan: bukan semata untuk kesejahteraan manusia! Mengingat, kehadiran Sang Pencipta juga dalam ciptaan-ciptaan yang lain termasuk dalam hewan dan ternak ini.

Aplikasinya, dengan melakukan segala sesuatu pemeliharaan ternak dan segala bisnis terkait (bisnis sarana produksi peternakan, pakan, bibit, obat, alat-alat peternakan, bidang penelitian, dan lain-lain) serta bisnis-bisnis produk asal ternak (daging, telur, susu, kulit dan lain-lain, kita tetap harus melihat dalam suatu upaya ibadah kepada sang pencipta.

Dan, mempertanggungjawabkan semua untuk memelihara keberlanjutan hidup semua makhluk dan alam ciptaan. Bukan semata kepentingan kita, manusia, dan menganggap manusia adalah segala-galanya sehingga memenuhi nafsu berbuat apa saja. Selamat berkarya... (Yonathan Rahardjo)

SEMUA TENTANG HORMON

Hormon adalah zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang masuk ke dalam peredaran darah untuk mempengaruhi jaringan secara spesifik.
Hormon terbagi dari 6 golongan yaitu : Hormon androgen dan sintetisnya /testoteron, Hormon estrogen dan progesterone, Hormon kortikosteroid, Hormon tropik dan sintetiknya, Obat anabolic, DAN Hormon lainnya
Jaringan yang dipengaruhi (organ target) umumnya terletak jauh dari tempat hormon tersebut dihasilkan.
Misalnya hormon pemacu folikel (FSH, follicle stimulating hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar hipolisis anterior hanya merangsang jaringan tertentu di ovarium.
Tetapi dalam hal hormon pertumbuhan kekhususan organ target menjadi kabur karena sebab hormon pertumbuhan mempengaruhi berbagai jenis jaringan dalam badan.
Sumber hormon alami yang praktis biasanya dari hewan ternak misalnya sapi. Tetapi beberapa hormon karena khasnya sehingga yang berasal dari hewan tidak berfungsi untuk manusia seperti hormon pertumbuhan, FSH dan LH (luteinizing hormone).
Cara lain untuk menghasilkan hormon alami dengan rekayasa genetik. Melalui rekayasa genetik, DNA mikroba dapat diarahkan untuk memproduksi rangkaian asam amino yang urutannya sesuai dengan hormon manusia yang diinginkan.
Analog hormon adalah zat sintetis yang berkaitan dengan reseptor hormon. Analog hormon sangat mirip dengan hormon alami dan sering kali fungsi klinisnya lebih baik dari pada hormon alaminya sebab mempunyai beberapa sifat yang lebih menguntungkan.
Misalnya estradiol adalah hormon alami yang masa kerjanya sangat pendek, sedangkan etinilestradiol adalah analog hormon yang masa kerjanya lebih panjang.
Juga ada beberapa obat atau zat kimia yang menghambat sintesis, sekresi maupun kerja hormon pada reseptornya disebut antagonis hormon. Indikasi utama hormon adalah untuk terapi pengganti kekurangan hormon misalnya pada hipotiroid.
Walaupun hormon merupakan zat yang disintesis oleh badan dalam keadaan normal, tidak berarti hormon bebas dari efek toksis/racun.
Pemberian hormon eksogen/ dari luar yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan keseimbangan hormonal dengan segala akibatnya.
Terapi dengan hormon yang tepat hanya mungkin dilakukan bila dipahami segala kemungkinan kaitan aksi hormon dalam tubuh penderita.
(Farmakologi dan Terapi edisi 4)

MINYAK ATSIRI SEBAGAI SUPLEMEN DAN ALTERNATIF ANTIBIOTIK

(( Minyak esensial telah digunakan manusia sejak zaman purbakala, baik untuk meningkatkan cita rasa makanan maupun sebagai obat tradisional akibat antibakteri, antioksidatif, dan fungisida yang dihasilkannya. ))

Ditemukannya resistensi mikroba dan residu pada produk ternak akibat penggunaan antibiotik telah mengilhami pencarian produk alternatif pengganti antibiotika.
Demikian Maria Ulfah Dosen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang seraya melanjutkan, resistensi mikroba dapat ditransfer dari ternak ke tubuh manusia, melalui kontak langsung manusia dengan ternak maupun secara tidak langsung melalui konsumsi produk hewani (termasuk hewan laut) dan bahan-bahan makanan yang diawetkan dengan antibiotika.
Menurut Maria Ulfah, di dalam tubuh manusia, bakteri akan berkoloni dan dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan, bahkan dapat menimbulkan kematian.
Minyak esensial disebut juga minyak atsiri (essential oils) atau minyak yang menguap (volatile oils) yang terbentuk di dalam retikulum endoplasma sel tanaman dan diperoleh dengan penyulingan dengan uap atau ekstraksi bagian buah, bunga, kayu, akar, daun, dan biji tanaman. Umumnya minyak esensial dianalisa dengan gas-chromatography.
Dituturkan, minyak esensial merupakan campuran kompleks dari komponen aktif yang berbeda yang masing-masing mempunyai ciri khas sendiri, misalnya, rasa pedas (pungent taste) dan berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya. Spesies tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae yang pada umumnya tumbuh di daerah tropis, diketahui sebagai penghasil minyak esensial.
Minyak esensial telah digunakan manusia sejak zaman purbakala, baik untuk meningkatkan cita rasa makanan maupun sebagai obat tradisional akibat antibakteri, antioksidatif, dan fungisida yang dihasilkannya.
Saat ini minyak esensial secara luas telah digunakan di dunia kecantikan dan untuk tujuan medis. Teh hijau dapat mengurangi berat badan, mengatasi kolesterol, kanker, mutasi sel, bakteri, memperlancar peredaran darah, mengurangi kadar gula, dan memperbaiki fungsi lever.
Allicin dari bawang putih dapat menurunkan kolesterol, tekanan darah dan antitrombosit. Clary sage, Geranium, Lavender, dan bunga mawar dapat mengatasi gejala menopause. Minyak esensial dari Spike lavender (Lavandula latifolia), California lemon (Citrus limonum), Tea tree (Melaleuca alternifolia), Helichrysum (Helichrysum italicum) dan Oregano (Origanum vulgare) telah sukses digunakan dalam terapi AIDS dan HIV.

Minyak esensial sebagai "feed additive"
Sesuatu yang baik untuk manusia tidak akan berakibat buruk jika diberikan pada hewan ternak. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan minyak esensial pada hewan ternak. Pada ternak, pentingnya penggunaan komponen aktif minyak esensial, baru diketahui dan diteliti beberapa tahun terakhir ini. Terlalu banyak waktu dikonsentrasikan pada antibiotik untuk meningkatkan penampilan ternak.
Saat ini minyak esensial lebih dari hanya sekadar alternatif pengganti antibiotika. Mereka tidak hanya mempengaruhi populasi mikroba, tetapi pada saat yang sama berpengaruh positif terhadap aktivitas enzim pencernaan dan intermediate metabolisme. Produksi ternak tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan penampilan ternak, tetapi juga nutrisi dan kesehatan ternak dan manusia. Saat ini minyak esensial menjadi populer dalam dunia pertanian dan peternakan sebagai pemacu metabolisme dan pencernaan (digestion and metabolism promoters).
Minyak esensial dapat digunakan sebagai pakan tambahan (feed additive) di setiap jenis ransum ternak tanpa merubah sistem pemakanan yang digunakan pada suatu peternakan, baik peternakan tradisional maupun industri peternakan besar. Kombinasi beberapa jenis minyak esensial meningkatkan keefektifan kerja minyak tersebut (bekerja secara sinergis).
Walaupun diberikan dalam dosis rendah (g/ton pakan basal), mereka menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda, baik segi fisiologi ternak maupun sosial ekonomi.
Minyak esensial secara luas telah digunakan di negara-negara maju dan sebagian negara berkembang, terutama di negara-negara di mana terdapat undang-undang yang melarang penggunaan antibiotik tertentu, misalnya, larangan penggunaan avoparcin pertama kali di Denmark pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 di Jerman.
Kemudian pada tahun 1997, avoparcin dilarang sama sekali penggunaannya di Eropa. Antibiotik seperti streptogramin, virginiamycin, tylosin dan Zn-bacitracin juga diketahui sebagai antibiotik, yang menimbulkan masalah kesehatan manusia dan dilarang penggunaannya.

Cara kerja minyak esensial
Karena bau dan rasa yang dihasilkannya, konsumsi per oral minyak esensial yang dicampurkan dalam pakan basal ternak menstimulasi sistem saraf pusat, yang akhirnya menghasilkan peningkatan nafsu makan dan konsumsi zat-zat makanan. Keberadaan minyak esensial menstimulasi produksi cairan pencernaan yang menghasilkan pH yang sesuai untuk enzim pencernaan, seperti peptinase.
Pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan aktivitas enzim pencernaan dan pengaturan aktivitas mikroba. Kestabilan mikroflora di dalam saluran pencernaan menurunkan kasus diare dan penyakit pencernaan lain. Pengaruh nyata dari mekanisme ini adalah perbaikan konversi energi dan pencernaan zat-zat makanan dan pengaruh positif terhadap metabolisme nitrogen, asam amino, dan glukosa.
Aplikasi lapang campuran minyak esensial dari Oregano (Oreganum vulgare), Cinnanom (Cinnamon annum), Thyme (Thymus vulgaris) dan Eucalyptus pada ayam pedaging di daerah Jawa Timur, telah terbukti memperbaiki konversi pakan, meningkatkan pertambahan berat badan, menurunkan angka kematian, dan meningkatkan keuntungan usaha peternakan.
Pengaruh positif penggunaan minyak esensial juga terlihat di negara Eropa, Ameriak Serikat, dan sebagian negara Asia seperti Thailand, Israel, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan India baik pada ayam pedaging, ayam petelur, babi, maupun ternak ruminansia.
Kemampuan minyak esensial untuk menstimulasi sistem saraf pusat mengakibatkan ternak lebih toleran terhadap stres (meningkatkan kekebalan), baik stres akibat pemisahan dengan induknya (terutama pada babi) maupun stres akibat kondisi lingkungan.
Penelitian in vitro menunjukkan bahwa minyak esensial dari berbagai macam tanaman mempunyai antimicroba dan antifungisida yang dapat menghambat dan membunuh bakteri, virus, dan jamur, maupun bakteri patogen lain di dalam saluran pencernaan.
Zat aktif carvacrol dan thymol dari oregano dan thyme dapat menurunkan kejadian Proline proliferative enteropathy (PE) pada babi yang disebabkan Lawsonia intracellulari dan coccidiosis pada ayam. Kedua jenis penyakit ini dikenal di seluruh dunia sebagai penyebab kerugian ekonomi.
Ekstrak teh hijau tidak hanya dapat memperbaiki kondisi mikroflora dalam saluran pencernaan manusia, tetapi juga menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen pada sapi, babi, dan ayam. Minyak esensial dari kayu manis, cengkeh, pala, bawang putih, rosemary, teh, adas, jinten hitam, blackberry, peppermint, kemiri, bunga turi, dan daun salam juga diketahui dapat menurunkan kejadian diare pada babi dan ayam dan menurunkan angka kematian pada ayam.
Lebih lanjut oregano meningkatkan warna kulit telur ayam dan memperbaiki kondisi kotoran ayam (kotoran tidak basah). Aplikasi thymol dan carvacrol dapat menghentikan fermentasi pada kotoran ternak, menghambat pembentukan rantai pendek lemak terbang, dan menurunkan bau kotoran.
Analisa laboratorium menunjukkan, tidak ada residu yang tersisa akibat penggunaan minyak esensial dan terjadi peningkatan kualitas karkas. Dari segi ekonomi, minyak esensial dapat menurunkan biaya produksi peternakan dan diyakini dapat menstimulasi penurunan harga daging, sehingga lebih banyak masyarakat miskin di Indonesia yang mampu membeli dan dapat mengonsumsi daging. Dan tanpa adanya pengaruh politik tertentu, peningkatan konsumsi protein dapat menurunkan kasus malnutrition.
Konsep produksi ternak tanpa menggunakan antibiotik adalah hal yang baru dan dapat diterapkan di negara tropis, seperti Indonesia, meskipun pada kondisi stres lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan penyakit. Penggunaan minyak esensial di Indonesia menjadi penting artinya dalam peningkatan kualitas produk asal ternak yang semakin dituntut untuk bisa bersaing dengan produk dari luar.
Apalagi, persyaratan negara-negara pengimpor produk asal ternak semakin ketat, seperti bebas dari berbagai penyakit dan persyaratan standar residu antibiotik.
Akhirnya peneliti dari Universitas Brawijaya Malang itu mengungkapkan, hal tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya perusahaan peternakan dan juga industri pakan ternak dalam penyediaan bahan pakan yang berkualitas, aman dikonsumsi, dan tidak menimbulkan dampak negatif lain terhadap manusia.
Maka, mari terus meneliti dan membandingkan dengan bantuan ahlinya, soal minyak atsiri dan fungsi sebagai antibiotik ini. Tak ada salahnya mencoba dan berusaha.
(Kps)

ARTIKEL TERPOPULER

ARTIKEL TERBARU

BENARKAH AYAM BROILER DISUNTIK HORMON?


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer