Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini Search Posts | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

SWOLLEN HEAD SYNDROME (SHS)

SWOLLEN HEAD SYNDROME (SHS)
SALAH SATU PENYAKIT IMMUNOSUPRESI
PEMICU TIMBULNYA GANGGUAN PERNAFASAN KOMPLEKS
PADA AYAM


Kejadian penyakit pernafasan, baik bersifat ringan atau cukup berat hampir selalu terjadi pada setiap periode pemeliharaan ayam. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, dan dari banyak faktor yang ada tersebut, kebanyakan disebabkan oleh masih lemahnya paraktek manajemen dan upaya pengamanan biologis ditingkat peternak. Daya dukung lingkungan peternakan yang kurang memadai, menjadi salah satu faktor pendukung mudahnya ayam terinfeksi agen penyakit pernafasan tertentu yang bersifat immunosupresi, dimana penyakit pernafasan yang bersifat immunosupresi tersebut dapat memicu timbulnya infeksi penyakit pernafasan lain, sehingga gangguan pernafasan pada ayam yang terinfeksi cenderung menjadi lebih kompleks.
Salah satu penyakit dengan gejala kebengkaan pada kepala ayam, yang sering diistilahkan dengan “Swollen Head syndrome”, merupakan salah satu penyakit pernafasan yang disebabkan oleh virus jenis “Avian pneumovirus”. Pada dasarnya infeksi dari virus itu sendiri tidak menimbulkan adanya gejala kebengkaan pada daerah kepala dari ayam yang terinfeksi, akan tetapi adanya kebengkaan pada daerah kepala ayam yang terinfeksi, disebabkan oleh adanya infeksi sekunder dari kuman lain, seperti; Pasteurella, E.coli, Mycoplasma atau Haemophillus. Penyakit SHS sendiri digolongkan kedalam salah satu penyakit penyebab immunosupresi (lokal immunosupresi).
Pola kejadian penyakit SHS di lapangan kebanyakan bersifat musiman dan selalu muncul pada lokasi peternakan ayam dengan kondisi manajemen dan sistem pemeliharaanya yang kurang memadai. Belakangan ini kejadian penyakit SHS di lapangan, baik pada peternakan komersial broiler maupun layer serta pada beberapa breeding farm, mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Data mengenai kecenderungan meningkatnya kejadian SHS belakangan ini di lapangan, dapat penulis peroleh dari banyaknya laporan para “technical service” (TS), disamping juga pengamatan langsung di lapangan, serta didukung dengan data hasil pemeriksaan serologis terhadap SHS pada kelompok ayam dari lokasi peternakan yang tidak pernah divaksinasi terhadap SHS sebelumnya. Dimana hampir pada sebagian besar peternakan ayam yang diperiksakan titer antibodinya, sering mengeluhkan adanya gangguan penyakit pernafasan dan adanya sejumlah kegagalan vaksinasi terhadap Coryza yang sudah diberikan pada ayamnya (pada layer maupun beberapa pada breeder).
Meningkatnya kejadian SHS di lapangan, tidak terlepas dari masih lemahnya praktek manajemen, pengamanan biologis yang dijalankan peternak dan pola pemeliharaan ayam dengan banyak variasi umur dalam satu lokasi peternakan, serta kebanyakan peternak belum merasa perlu untuk melakukan vaksinasi terhadap SHS pada ayam yang dipeliharanya. Berkaitan dengan tidak diprogramkannya vaksinasi SHS oleh sebagian besar peternak, disebabkan masih adanya anggapan dari sebagian besar peternak, bahwa penyakit SHS tersebut merupakan penyakit yang bersifat musiman, tidak terlalu ganas dan tidak menimbulkan kematian yang tinggi, serta kurangnya pemahaman peternak, bahwa penyakit SHS dapat menjadi pemicu infeksi agen penyakit pernafasan lainnya.

Gejala klinis dan lesi-lesi dari ayam yang terserang SHS

Pada ayam broiler penyakit ini umumnya menyerang dan sering ditemukan pada umur antara 2 – 6 minggu. Faktor yang dapat menjadi pemicu terjadinya SHS lebih banyak disebabkan oleh daya dukung lingkungan peternakan yang kurang memadai, seperti sirkulasi udara yang kurang baik, kepadatan ayam cukup tinggi dan kandang yang pengap, serta tingginya kadar ammonia dalam kandang.
Gejala awal dari ayam yang terserang penyakit pernafasan secara umum hampir sama, yakni mulai dari adanya kelesuan, menurunnya tingkat konsumsi pakan, serta adanya gejala bersin-bersin dan mata berair. Namun ada gejala yang bersifat khas untuk ayam yang terserang SHS yakni adanya kebengkaan kelenjar air mata dan bila disertai adanya infeksi sekunder oleh kuman E.coli atau kuman lainnya dapat menyebabkan terjadinya “oedema subcutan” pada daerah kepala bagian atas sampai pada daerah 1/3 leher bagian atas. Kebengkakan biasanya mulai dari daerah sekitar kelopak mata bagian atas, kepala bagian atas, kemudian berlanjut ke jaringan “intermandibular” dan pial. Mata dari ayam yang menunjukkan kebengkaan di daerah fascialnya hampir tertutup, dengan pupil nampak mengalami dilatasi, sehingga nampak seperti melotot. Terkadang disertai adanya leleran pada mata dan hidung, bila diikuti oleh infeksi sekunder dari kuman penyebab penyakit Coryza atau CRD.
Pada ayam yang kepalanya bengkak tersebut, sering nampak lesu dengan meletakan kepalanya di lantai kandang, sehingga akan memperparah keadaanya. Pada ayam broiler, bila murni terinfeksi virus penyebab SHS kematiannya tergolong rendah berkisar antara 1 - 5%, kematian yang lebih tinggi dapat terjadi bila diikuti infeksi sekunder oleh kuman seperti E. coli atau Mycoplasma serta kuman atau virus yang bersifat ganas lainnya.
Pada ayam broiler yang terserang SHS, dapat menyebabkan terjadinya stagnasi dari penambahan bobot badannya. Bahkan pada kondisi yang sangat parah dapat menyebabkan terjadinya penyusutan bobot badan dibandingkan dengan berat badan sebelum terjadinya serangan. Pada ayam petelur, kebanyakan menyerang pada ayam pullet menjelang produksi atau ayam masa puncak produksi. Kematian dari ayam yang terserang SHS pada ayam tipe petelur sangat rendah, berkisar 0,1% - 0,5%, namun kerugian ekonomis yang cukup tinggi disebabkan oleh adanya gangguan produksi telur antara 5 – 30%, tergantung ada atau tidaknya infeksi sekunder serta daya dukung lingkungan peternakan.
Sesuai dengan target infeksi dari virus penyebab SHS, sangat terbatas jaringan atau organ tubuh ayam yang dapat diamati mengalami perubahan atau lesi-lesi. Bagian yang mengalami lesi sebagian terbesar ditemukan pada sistem pernafasan bagian atas dan daerah sekitar kepala bagian atas. Pada daerah kepala yang mengalami kebengkaan, ditemukan adanya “oedema” dan peradangan pada jaringan “subcutan” serta adanya timbunan eksudat mukus sampai mukopurulen, tergantung jenis kuman yang menjadi agen infeksi sekundernya. Pada bawah kulit kepala bagian belakang atau disekitar “kranium”, sering ditemukan adanya peradangan dan timbunan eksudat mukopurulen.

SHS salah satu pemicu timbulnya gangguan penyakit pernafasan

Swollen Head Syndrome sebagai salah satu penyakit pernafasan yang bersifat infeksius, dapat memicu timbulnya infeksi sekunder dari agen penyakit pernafasan lain, sehingga gangguan pernafasan yang timbul pada ayam yang terinfeksi SHS tersebut menjadi lebih kompleks. Hal ini dapat terjadi didasarkan atas sifat immunosupresi dan stress yang ditimbulkan oleh infeksi virus penyebab SHS tersebut. Penyakit SHS dinyatakan bersifat immunosupresi, karena infeksi yang ditimbulkan pada saluran pernafasan bagian atas, menyebabkan juga terjadinya kerusakan pada sistem dan kelenjar pertahanan lokal yang ada dalam saluran pernafasan bagian atas tersebut. Sehingga dengan adanya kelainan pada sistem pertahanan lokalnya tersebut, pada saat yang bersamaan akan memicu kuman lain yang ada dalam tubuh ayam mudah menjadi ganas dan menimbulkan infeksi serta kerusakan jaringan yang lebih luas dan parah. Dengan adanya infeksi sekunder pada ayam yang terinfeksi virus penyebab SHS tersebut dapat terlihat adanya gejala gangguan pernafasan yang lebih kompleks serta seringkali dibarengi dengan adanya gejala kebengkaan pada kepalanya.
Kelompok ayam yang sebelumnya tidak pernah diberikan vaksinasi terhadap SHS, dimana dari hasil pemeriksaan secara serologis terdeteksi adanya titer antibodi terhadap SHS serta didukung dengan adanya gejala klinis yang dapat diamati, seringkali pada kelompok ayam yang terinfeksi virus SHS tersebut, diikuti oleh adanya infeksi penyakit pernafasan lain, seperti CRD, Kolibasilosis atau Coryza.
Adanya infeksi sekunder menyebabkan ayam mengalami gangguan pernafasan yang lebih kompleks. Sehingga seringkali upaya pengobatan yang dilakukan di lapangan tidak membuahkan hasil memuaskan. Sebagai contoh yang sering dialami oleh peternak, bila ayamnya terserang SHS dimana terkomplikasi dengan Kolibasilosis, setelah dilakukan pengobatan ayam tersebut nampak sembuh, namun selang beberapa lama gejala yang sama kambuh kembali. Hal ini dapat terjadi, karena obat atau antibiotika yang diberikan sebagai pengobatannya, hanya menyembuhkan terhadap infeksi kuman penyebab Kolibasilosisnya saja, bukan terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus penyebab SHS-nya. Sehinga seringkali kesan yang timbul pada para peternak, menyatakan obat yang digunakan untuk pengobatan terhadap SHS kualitasnya kurang baik.
Dari ayam yang terinfeksi virus SHS, problem gangguan pernafasannya menjadi lebih kompleks dan cenderung jadi lebih parah serta sulit diatasi, bila pada saat bersamaan kondisi lingkungan peternakannya kurang mendukung, seperti kepadatan ayam dalam kandang cukup tinggi, kandang yang lembab dan pengap, atau sangat berdebu, sirkulasi udara yang kurang baik serta tingginya kadar ammonia dalam kandang.
Pada beberapa lokasi sentra peternakan ayam petelur, cukup banyak peternak melaporkan dan mengeluhkan terjadinya kebocoran vaksinasi terhadap Coryza yang telah dilakukannya. Dimana kebanyakan dari mereka menduga vaksin Coryza yang diberikan pada ayamnya sudah tidak protektif lagi. Sehingga kebanyakan dari mereka mencoba beralih menggunakan vaksin Coryza merk lain dari yang biasanya mereka sering pakai, bahkan mereka juga mencoba menggunakan vaksin Coryza dengan kandungan antigen-nya lebih lengkap, yakni mengandung 3 jenis antigen (serotipe A, B dan C), namun kenyataan yang dialaminya masih saja ditemukan adanya kebocoran terhadap Coryza dari vaksinasi yang telah dilakukannya tersebut.
Kasus SHS yang terjadi pada peternakan ayam petelur tersebut disinyalir sebagai pemicu terjadinya kegagalan vaksinasi terhadap Coryza yang telah dilakukan oleh peternak. Hal ini didukung dengan data hasil pemeriksaan kasus di lapangan dan hasil pemeriksaan serologis terhadap kelompok ayam yang mengalami kebocoran dari vaksinasi terhadap Coryza. Dimana kelompok ayam yang mengalami kegagalan vaksinasi terhadap Coryza tersebut, sebelumnya tidak pernah dilakukan vaksinasi terhadap SHS, akan tetapi dari hasil pemeriksaan serologisnya terkandung titer antibodi terhadap SHS pada serum darahnya.

Penanggulangan SHS di Lapangan.

Untuk menghindari ancaman atau gangguan terhadap penyakit apapun, pertahanan yang paling utama adalah dengan menjalankan praktek manajemen yang baik dibarengi dengan upaya sanitasi dan desinfeksi serta pengamanan biologis lainnya secara ketat, disamping juga memberikan program kesehatan dan vaksinasi secara memadai pada ayam yang dipelihara, tentunya disesuaikan dengan tingkat tantangan kuman atau virus penyakit yang ada dimasing-masing lokasi peternakan. Sanitasi dan desinfeksi dengan GLUTAMAS atau BIODES-100 sangat penting untuk dilakukan dan sedapat mungkin dilakukan secara lebih ketat guna mengurangi atau menekan tingkat keganasan agen penyakit yang ada di lapangan.
Untuk ayam broiler yang dipelihara pada daerah resiko tinggi dan sering terjadi infeksi virus SHS perlu dipertimbangkan untuk diprogramkan vaksinasinya. Pada ayam broiler umumnya diberikan vaksin aktif dengan vaksin HIPRAVIAR-SHS pada umur antara 4 – 14 hari, tergantung situasi dan kondisi lingkungan di masing-masing peternakan. Vaksinasi pada ayam petelur dengan HIPRAVIAR-SHS diberikan pada umur 8 – 12 minggu dan diulangi pada umur 17 - 18 minggu. Untuk ayam breeder, vaksinasi dengan HIPRAVIAR-SHS pada umur 8 – 12 minggu dan diulangi dengan pemberian vaksin HIPRAVIAR-TRT4 pada umur 16 – 18 minggu atau 4 minggu sebelum periode awal produksi.
Pengobatan terhadap SHS pada ayam yang terinfeksi, lebih ditujukan untuk mencegah dan sekaligus mengobati terjadinya infeksi bakterial seperti oleh E. coli, Pasteurell, Haemophilus atau Mycoplasma. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika seperti HIPRALONA-ENRO S atau HIPRALONA-NOR S. Suportive therapy dengan pemberian multivitamin + asam amino konsentrasi tinggi seperti HIPRACHOCK-AMINO, lebih ditujukan untuk mempercepat proses kesembuhannya.
Untuk mencegah infeksi sekunder yang lebih parah oleh kuman E. coli yang sering mengikuti infeksi virus penyebab SHS, disamping pemberian antibiotika seperti HIPRALONA-FLU S atau HIPRALONA-ENRO S sebagai pengobatan saat ayam terserang SHS, faktor kualitas air juga sangat perlu untuk diperhatikan. Air merupakan media yang sangat baik untuk berkembangbiak dan sekaligus penularan kuman E. coli, oleh karena itu sangat perlu untuk diperhatikan dan dilakukan sterilisasi, salah satunya dengan cara klorinasi untuk membunuh kuman E. coli maupun agen penyakit lainnya yang ada dalam air tersebut.



Drh. Wayan Wiryawan
HIPRA – Spain
wayan@hipra.com

PENYEBAB DAN DAMPAK IMUNOSUPRESI PADA AYAM

PENYEBAB DAN DAMPAK IMUNOSUPRESI PADA AYAM

Ayam yang sehat akan menghasilkan performan produksi yang baik dan hal ini dapat dicapai apabila beberapa faktor seperti : tatalaksana peternakan, nutrisi dan program vaksinasi dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketiga faktor tersebut akan mendukung perkembangan optimal sistem kekebalan ayam. Dengan sistem kekebalan yang berkembang optimal maka kesehatan ayam akan lebih terjaga.
Secara garis besar terdapat empat hal yang dapat mempengaruhi perkembangan sistem kekebalan tubuh ayam, yaitu (1) Rusaknya organ limfoid primer ataupun sekunder karena infeksi virus dan mikotoksin dan (2) Rusaknya organ limfoid sekunder karena infeksi bakterial, (3) stress yang mempengaruhi fungsi organ limfoid primer, dan (4) Suboptimalnya nutrisi dan manajemen yang mempengaruhi perkembangan organ limfoid primer maupun sekunder. Oleh sebab itu, untuk mengoptimalkan sistem pertahanan tubuh maka organ limfoid penghasil sistem kekebalan tubuh harus dijaga.
Perkembangan organ limfoid yang subobtimal akan menyebabkan terjadinya imunosupresi. Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dalam tubuh ayam dan terjadilah infeksi. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi.
Oleh sebab itu, mengendalikan keberadaan agen penyebab imunosupresi dan memonitor perkembangan sistem kekebalan ayam merupakan usaha yang harus dilakukan agar target performan produksi ayam komersial dapat tercapai.

Mengenali Gejala Imunosupresi
Memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui dan mengenali gejala terjadinya imunosupresi akan sangat bermanfaat. Dengan mengetahui gejala-gejala imunosupresi, maka penanganan kegagalan dalam mencapai target produksi dikarenakan terjadinya imunosupresi akan menjadi efektif karena tepat pada sasaran.
Terdapat beberapa cara untuk mengevaluasi apakah sistem kekebalan ayam telah berfungsi normal. Langkah awal adalah dengan menganalisa situasi peternakan ayam. Situasi yang dimaksud adalah apakah tatalaksana sudah berjalan dengan ideal dan biosekuriti sudah dilaksanakan dengan optimal. Adanya kematian yang sangat tinggi, pencapaian berat badan dan keseragaman pertumbuhan berat badan ayam yang rendah serta konversi pakan yang tinggi merupakan gejala umum terjadinya imunosupresi.
Gejala lain kasus imunosupresi adalah meningkatnya reaksi pernafasan pasca vaksinasi yang berlangsung cukup lama dan terjadinya komplikasi dengan penyakit lain. Hal ini dapat menyebabkan hasil vaksinasi menjadi suboptimal sehingga dapat mengakibatkan terjadi outbreak penyakit pada suatu peternakan.

Organ Pertahanan Tubuh.
Organ tubuh ayam yang memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh ayam adalah bursa fabricius dan thymus. Kedua organ ini merupakan organ primer atau utama dalam sistem kekebalan. Bursa fabricius akan tumbuh cepat dalam 3 minggu pertama umur ayam. Ukuran bursa akan lebih besar dari lien kurang lebih 5 minggu pertama kehidupan ayam dengan rasio ukuran bursa sebanding dengan ukuran berat badan tubuh. Bursa akan mengalami regresi dimulai pada umur 8 minggu.
Gejala Imunosupresi dapat dilihat melalui perubahan patologi anatomi pada bursa fabricius yaitu terjadi atrofi pada bursa fabricius dan rasio perbandingan ukuran antara bursa fabricius dengan limpa. Bila ukuran bursa fabricius sama atau lebih kecil dari limpa pada 5 minggu pertama umur ayam, dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi kasus imunosupresi.
Organ lain yang berperan dalam sistem kekebalan adalah limfa, lempeng peyer pada mukosa usus, tonsil sekalis, struktur limfoid sepanjang saluran pernafasan, kelenjar harder dan konjungtiva mata.



Penyakit Penyebab Imunosupresi
Kejadian imunosupresi disebabkan oleh kerusakan dan terjadinya gangguan fungsi organ limfoid. Penyakit yang merusak struktur dan fungsi organ limfoid primer adalah gumboro, mareks, mikotoksikosis, infeksi reovirus, infeksi chicken anemia dan infeksi ALVJ. Sedangkan penyakit yang dapat merusak struktur dan fungsi organ limfoid sekunder adalah Newcastle disease, Avian Influenza, Swollen Head Syndrome, Infeksius bronchitis, Infeksius Laryngotracheitis, pox bentuk basah, aspergillosis, koksidiosis, mikoplasmosis, snot, kolibasilosis, kolera unggas, salmonellosis dan helmintiasis.

Mikotoksikosis, Penyakit Penyebab Imunosupresi
Mikotoksikosis merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh mikotoksin, dan penyakit tersebut timbul jika unggas mengkonsumsi pakan atau bahan yang mengandung mikotoksin. Mikotoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan jamur dan terdapat pada hampir semua jenis komoditi hasil pertanian di seluruh dunia. Saat ini, lebih dari 300 jenis mikotoksin telah teridentifikasi yang berasal lebih dari 100.000 spesies jamur.
Mikotoksin di sintesis dan dikeluarkan selama proses pertumbuhan jamur tertentu. Dan jika jamur mati, maka produksi mikotoksin akan berhenti, tetapi mikotoksin yang sudah terbentuk tidak akan hilang. Hal tersebut karena mikotoksin memiliki struktur kimiawi yang stabil pada berbagai kondisi lingkungan, sehingga tahan terhadap suhu panas yang ekstrim dan tahan lama pada proses penyimpanan bahan baku serta tahan terhadap berbagai proses pengolahan dalam pembuatan pakan ternak. Yang menjadikan mikotoksin menjadi ancaman yang merugikan adalah kemampuannya mengganggu dan merusak organ sistem kekebalan tubuh ayam, meskipun mikotoksin tersebut terdapat dalam jumlah yang sangat rendah (nanogram sampai mikrogram per gram bahan pakan).
Berdasarkan tempat/lokasi proses pertumbuhan, jamur yang memproduksi toksin dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu Field Fungi, yaitu jamur yang tumbuh pada masa tanam di ladang pertanian (contoh : fusarium) dan Storage Fungi ,yaitu jamur yang tumbuh pada masa penyimpanan di gudang (contoh : Aspergillus sp. dan Penicillium sp.). Bila tidak dikendalikan, kandungan mikotoksin pada bahan baku pakan akan semakin meningkat karena mikotoksin dapat dihasilkan jamur sejak dari masa tanam sampai masa penyimpanan dan didukung sifat mikotoksin yang stabil terhadap lingkungan.
Pada masa tanam, produksi mikotoksin didukung oleh berbagai faktor, antara lain : kondisi iklim (temperatur >30°, dan kelembaban relatif sekitar 80% - 85%), adanya manifestasi serangga, kualitas bibit yang bervariasi dan kepadatan tanaman yang tinggi. Proses panen dapat mempengaruhi jumlah pembentukan mikotoksin, yaitu tingkat kematangan tanaman dan kadar air biji tanaman. Kemudian, pada saat penyimpanan, produksi mikotoksin dipengaruhi oleh kandungan air biji tanaman yang disimpan, efektifitas pengendalian serangga, dan efektifitas bahan pengawet yang ditambahkan. Distribusi bahan baku pakan juga berpengaruh terhadap pembentukan mikotoksin, seperti kondisi pada saat pengapalan.
Upaya untuk penanggulangan dan pengendalian mikotoksinpun telah dilakukan berbagai pihak, baik petani jagung maupun peternak. Namun terdapat berbagai hambatan dalam proses penanggulangannya, yaitu kondisi iklim saat ini yang berfluktuatif, penanganan pasca panen yang belum optimal, penyimpanan bahan baku yang belum optimal, adanya impor bahan baku pakan sehingga fungi dan mikotoksin dapat ditransfer dari negara lain, adanya pencemaran toksin yang bersifat ganda, struktur kimia mikotoksin yang sangat stabil dan kurang memadainya fasilitas pengeringan, penyimpanan dan mesin giling. Yang paling mendukung pencemaran mikotoksin adalah mikotoksin dapat ditemukan dan tumbuh secara alami pada bahan baku biji-bijian pakan.
Menurut Hamilton (1984), tidak terdapat batas kandungan yang aman untuk mikotoksin. Asupan mikotoksin sekecil apapun, akan terakumulasi. Efek yang ditimbulkan mikotoksin akan berpengaruh secara bertahap sesuai jumlah asupan mikotoksin. Mikotoksi pertama-tama akan menyebabkan penurunan daya tanggap kekebalan tubuh atau imunosupresi, kemudian gangguan metabolisme, berlanjut menimbulkan gejala klinis dan berakhir dengan kematian.
Mekanisme kerusakan jaringan akibat mikotoksikosis belum diketahui secara pasti, akan tetapi diketahui mengganggu proses sintesa protein sehingga dapat menyebabkan gangguan metabolisme. Gejala klinis mikotoksikosis biasanya tergantung dari jenis dan kadar mikotoksin. Variasi gejala klinis tersebut dapat berupa gangguan pertumbuhan ayam, gangguan produksi telur, gangguan daya tetas telur, gangguan pencernaan, perdarahan pada kulit, kerusakan jaringan pada paruh, rongga mulut dan gangguan akibat efek imunosupresi. Konsekuensi terjadinya penurunan daya tanggap kebal atau imunosupresi akan meningkatkan resiko terjadinya penyakit, meningkatkan derajat keparahan penyakit, meningkatkan tingkat kesulitan pengobatan, respon imun yang buruk, dan mengaktivasi pembentukan tumor.
Sulit mendeteksi keberadaan mikotoksin pada bahan baku pakan karena sifat mikotoksin yang tidak terlihat, tidak berbau dan tidak berasa. Toxin seperti zearalenone, akan berikatan dengan komponen nutrisi yang berbeda-beda, seperti glycosides, glocuronides, atau fatty acid esters. Bila terjadi ikatan zearalenone-glycoside, akan sulit dideteksi dengan metode konvensional, akibatnya bahan baku atau pakan dianggap tidak terkontaminasi . Kemudian ikatan zearalenone-glycoside akan terurai setelah tercampur dengan empedu pada duodenum. Zearalenone tersebut kemudian akan menjadi toksik kembali. Proses ikatan antara toksin dan komponen nutrisi disebut masked mycotoxins. Contoh masked mycotoxins yang lain adalah deoxynivalenol-glycoside (pada bijian – Sewald 1992), Hydroxylation dan glucosylation dari Ochratoxin (pada gandum – Ruhland 1994) dan fuminosin yang berikatan sebagian dengan protein nutrisi.



Gambar 1. Tingkat kejadian mikotoksin pada Bahan baku pakan – data berasal dari Biomin® Mycotoxin Survey Programme pada tahun 2005 - 2006

Beberapa tindakan pencegahan telah dilakukan petani jagung agar jagung yang dihasilkan berkualitas dan tidak berjamur. Tindakan yang telah dilakukan antara lain dengan memilih biji-bijian yang tahan jamur, mengontrol jumlah serangga, manajemen residu hasil panen dan optimalisasi kepadatan tanaman jagung. Tindakan pencegahan di ladang jagung kemudian diikuti dengan tindakan pencegahan pada proses panen, seperti : memilih waktu yang tepat dan ideal, melakukan prosedur panen yang baik, memilih peralatan yang tepat guna, membuang biji jagung yang rusak dan yang memiliki kandungan air yang tinggi.
Ternyata tindakan pencegahan pada proses tanam dan proses panen tidak cukup untuk menghilangkan tumbuhnya jamur. Proses pencegahanpun berlanjut pada proses penyimpanan, seperti : Penyimpanan tepat waktu, meningkatkan kualitas tempat penyimpanan, kontrol kadar air dan kelembaban, kontrol suhu dan serangga, penggunaan bahan pengawet dan penggunaan bahan anti jamur.
Dengan penggunaan bahan anti jamur pada proses penyimpanan disertai dengan prosedur penyimpanan yang baik ternyata dapat menurunkan kandungan jamur secara signifikan. Biotronic®Cleangrain liquid mengandung asam propionat dan sodium benzoat yang efektif untuk mencegah tumbuhnya jamur pada bahan baku pakan asal biji-bijian pada proses penyimpanan. Penggunaan Biotronic®Cleangrain liquid akan menjaga kadar nutrisi bahan baku pakan dengan cara mencegah tumbuhnya jamur dan meminimalisasi potensi merugikan yang dapat ditimbulkan oleh mikotoksin. Tidak terdapat efek samping dari penggunaan Biotronic®Cleangrain liquid yang biasa digunakan dengan dosis 1.5-7.5 liter per ton bahan baku pakan.
Namun, hal tersebut belum cukup, karena kandungan mikotoksin masih tetap ada, bahkan akan semakin meningkat apabila tidak dilakukan kontrol pertumbuhan jamur. Tindakan dekontaminasi mikotoksin harus dilakukan untuk menghilangkan pengaruh mikotoksin. Ada dua jenis dekontaminasi, yaitu dengan perlakuan fisik dan perlakuan penambahan zat kimia.
Perlakuan fisik misalnya dengan pencampuran bahan baku terkontaminasi mikotoksin dengan bahan baku yang baik. Sehingga efek yang ditimbulkan diperkirakan akan berkurang. Tindakan lain dengan pencucian, penggilingan ulang, pemisahan (dengan ayakan atau kipas), pemanasan (autoclave, panggang, microwave), dan radiasi sinar UV. Kekurangan perlakuan secara fisik adalah mahal, hasil tidak pasti dan hilangnya kandungan nutrien pakan.
Perlakuan penambahan zat kimia, misalnya dengan penambahan ozon, ammonia, ammonium hydroxide, hydrogen peroxide, calcium hydroxide dan sodium bisulfite. Namun perlakuan secara kimiawi selain mahal dan memerlukan waktu yang lama, dapat merubah palatabilitas dan kandungan nutriennya, sehingga praktek ini tidak dilakukan.

Mycofix® Plus 3.0 Solusi Mikotoksikosis
Masalah mikotoksin yang mencemari pakan harus diatasi secara serius karena sangat merugikan secara ekonomi. Alasan mengapa deaktivasi mikotoksin harus dilakukan dengan suatu sistem yang terpadu adalah adanya keanekaragam struktur dan sifat kimia mikotoksin, serta adanya kerusakan metabolisme maupun jaringan tubuh akibat efek yang ditimbulkan oleh mikotoksin.
Mycofix® Plus 3.0 mengandung synergistic blend of minerals, berupa bola mikro berpori yang diproses dan diaktivasi untuk adsorpsi selektif mikotoksin. Aflatoksin yang memiliki struktur kimia berpolar akan dideaktivasi karena ikatan spesifik yang kuat dan stabil. Hal ini tidak akan terjadi apabila menggunakan adsorben biasa seperti alumunium silikat, dimana alumunium silikat akan terurai dan mengembang apabila bercampur dengar air. Sedangkan pada penggunaan zeolit, efektifitas sifat adsorbennya akan hilang pada pH 3.
Beberapa mikotoksin tidak dapat terikat kuat oleh adsorben mikotoksin, seperti zearalenone. Namun kendala tersebut dapat diatasi dengan penggunaan Mycofix®Plus 3.0, karena mengandung Biological constituent, yang berfungsi sebagai dekomposisi ensimatik. Proses ensimatik ini, mampu mendegradasikan mikotoksin asal fusarium sp. (zearalenone) dengan menghidrolisis ikatan ester 12,13-epoxy pada kelompok fusarium menjadi non toksik dan menjadi metabolit non toksik.
Mycofix® Plus 3.0 mengandung BBSH 797, yang merupakan mikroorganisme yang dikembangkan dan dipatenkan oleh Biomin® yang berproliferasi secara cepat di saluran pencernaan. Selama pertumbuhan, mikroorganisme BBSH 797 memproduksi ensim spesifikyang mampu mendeaktivasi mikotoksin asal trichothecenes (DON, T2 toxin, DAS) dengan cara biotransformasi struktur kimia menjadi metabolit non toksik.
Mycofix®Plus 3.0 mengandung phytogenic substances, yang merupakan campuran unik ekstrak tumbuhan untuk mengatasi kondisi akibat mikotoksin, hepatotoksik dan zat penyebab radang. Efek hepato-protektive terjadi karena flavolignan menempati sel reseptor pada hati sehingga menghalangi toksin memasuki membran sel hati.
Mycofix® Plus 3.0 mengandung phycophytic substances, yang dapat memperkuat respon tanggap kebal alami dan mengkompensasi efek imunosupresi dari mikotoksin. Hal ini terjadi karena terpacunya proses sintesa asam nukleat dan katabolisme asam amino yang merupakan factor penting dalam pembelahan sel.
Berdasarkan mekanisme kerja terpadu bahan yang terkandung di dalamnya, maka Mycofix® Plus 3.0 mampu mengatasi dan mendeaktivasi mikotoksin dan mampu memperkuat dan memperbaiki fungsi hati dan meningkatkan daya tahan tubuh. Maka dengan pemberian Mycofix® Plus 3.0 masalah mikotoksin dapat teratasi.
Cara pemberian Mycofix® Plus 3.0 dicampurkan langsung pada pakan ternak pada saat pencampuran. Dosis untuk unggas dan babi 0,5 kg – 1,5 kg per ton pakan, untuk sapi perah 15 – 30 gram per sapi per hari. Variasi dosis tergantung kontaminasi mikotoksin.


Lisovit, Optimalkan Fungsi Kekebalan
Kondisi imunosupresi harus dapat diatasi dengan tuntas, karena dapat mengganggu status kesehatan ayam sehingga mengganggu pencapaian sasaran performan produksi. Selain dengan menghilangkan penyebab utama dan mengurangi faktor pendukung timbulnya kasus imunosupresi, perlu suatu upaya untuk memperkuat status kekebalan ayam, atau mempercepat status perbaikan kekebalan ayam.
Penggunaan berbagai jenis vaksin sebagai pencegahan terhadap penyakit viral yang bersifat imunosupresif yang didukung biosekuriti yang ketat dan pemberian antibiotika untuk penyebab imunosupresi asal bakteri perlu didukung dengan pemakaian Lisovit® untuk memperkuat status kekebalan ayam atau mempercepat status perbaikan kekebalan ayam.
Lisovit® memiliki kandungan ensim muramidase yang memiliki dua efek yaitu efek anti bakterial dan efek anti viral. Efek anti bakterial karena ensim muramidase mampu memecah dinding sel bakteri di saluran pencernaan ayam dan efek anti viral karena ensim muramidase mampu menstimulasi kekebalan tubuh ayam dan mampu memproduksi fragmen peptidoglikan, sehingga meningkatkan aktivitas makrofag dan menstimulasi pembentukan limfosit.
Lisovit® memiliki kandungan ensim peroksidase yang memiliki efek katalisa oksidasi dari donor hidrogen untuk mendukung proses generasi molekul oksigen reaktif yang dapat menginaktivasi substansi asing.
Lisovit® mengandung ekstrak tanaman berkhasiat (Echinaecea) yang berperan menstimulir kekebalan seluler dengan meningkatkan aktifitas phagositik dari makrofag dan kecepatan pembentukan limfosit, serta meningkatkan aktifitas Sel T sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.
Lisovit® juga mengandung dua macam vitamin, yaitu : vitamin E sebagai antioksidan yang mampu mempengaruhi berbagai sel dari sistem kekebalan seperti limfosit dan makrofag untuk menghasilkan interferon yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Yang kedua, vitamin C yang berperan dalam proses reduksi oksidasi di dalam tubuh yang mentransfer hidrogen dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan berbagai keadaan stress.
Berdasarkan mekanisme kerja yang terdapat di dalamnya, maka Lisovit® mampu mengoptimalkan vaksinasi, meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap stress dan serangan penyakit, serta tidak kalah penting dapat meningkatkan daya kerja antibiotika golongan betalactam (amoxicillin, ampicillin, dll). Maka dengan pemberian Lisovit®, kasus-kasus imunosupresi dapat segera dipercepat pemulihannya dan dapat menstimulir timbulnya respon kekebalan sehingga konsep pengebalan ayam dan konsep optimalisasi kesehatan ayam dapat berjalan dengan baik.
Cara pemberian Lisovit® pada ayam pedaging, ayam petelur dan ayam bibit diberikan selama 3 hari berturut-turut dengan selang waktu 1 hari, pada saat vaksinasi atau kejadian stress. Dosis untuk ayam pedaging di minggu pertama 30 gram/1000 ekor, minggu kedua 50 gram/1000 ekor dan di minggu ketiga 100 gram/1000 ekor. Dosis untuk ayam petelur dan ayam bibit 100 gram/1000 ekor.



Drh Nurvidia Machdum
Technical Department Manager
PT. ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl DR Saharjo No 264
JAKARTA. Telp.021 8300300

Abstract Edisi 169 Agustus 2008

Abstract Edisi 169 Agustus 2008

5 Years of AI in Indonesia

The cases of AI (Avian Influenza) which was firstly reported in Indonesia since August 2003, and after that the disease quickly spread throughout and the provinces in Java and then most part of Indonesia.
After five years against this exotic disease, by vaccination program, sanitation as well as hygienic measures poultry farmers adapted to this kind of condition. Poultry industry is really prospective, since the product are needed by the people and the demand is continuously increasing.
To face the challenging situation to enable for survival, poultry farmers should be smart, creative, innovative and properly implementing technology development. We should be caution to AI and maximizing preventive measures, but we should not consider the disease as the constraint for developing poultry industry in Indonesia.
Some of farmers are aware that the prospect of poultry farming is still favourable, but they desperate with increasing production cost as the price of farming input specially feed is continuously increasing, higher than the increase of poultry product price.

Role of Poultry Market in the Spread of AI

Based on the WHO (World Health Organization) report up to may 2008, total cases up AI (Avian Influenza) in the world are 383 cases with totality 241 people. The cases of AI in Indonesia is the highest, as total cases reach 135 cases cause human victim, the death of 110 people.
Referring to the workshop on live bird market / traditional market, sponsored by FBPI (National Committee on Avian Influenza), USDA (United States Department of Agriculture) and CIVAS (Centre for Indonesian Veterinary Analytical Studies), There are four critical points in poultry distribution chain, namely poultry farming, poultry collecting places, poultry slaughter houses as well as products and live birds market.
The whole market in Asian countries is centre for social and economic activity, but the markets are also able as source of zoonotic disease spreading. The first cases of AI in Hong Kong on 1997 happened in poultry farming and poultry traditional market, it is the first reported H5N1 cases, the fatality of 6 people in 18 cases.
The condition which is found in live birds market:
- No routine animal health inspection to live birds and their products
- Poor bio security
- No program for cleaning and disinfection on transportation vehicles, equipment baskets and buildings.
- No clear border between collective places, slaughtering and selling of poultry and their product with other comodities.
- Source, origin and animal health status of poultry and their products is not clear.
- Poultry transportation vehicles (motor cycles) are not fit with animal welfare standard.
- No special door for entrance and exit of live bird.
- Collecting places and poultry slaughter houses are not fulfill hygienic standard.
- Selling of multi species of bird (native chicken, duck, commercial, chicken, etc)
- Selling of live bird, brought by consumers
- No regulation for arrangement of live bird and their product in market
- Poor personal hygiene
- Not adequate awareness of sellers and consumer to the healthy products.
If AI eradication is still to be priority, poultry market should be properly arranged to fulfill the standard through establish the models of poultry market

Chicken Egg Price

Increase of production cost, caused by higher price of feed raw materials will directly influence cost of good produced.The components to form cost of egg produced, namely: feed, operational cost, pullet depreciation, infrastructure and investment depreciation, marketing cost, medicaments and others. The problem is how poultry farmers will be able to make lower cost of egg produced in order reaching competitiveness in layer farming and to get profit.
Ideal farming in the perspective of layer farming management is “low cost – high performance”, the enterprise usually having slender organization, good team work with order job description and no interval conflict.
To reach efficiency, the ratio should be well management, namely:
- Population Ratio, comparison between productive layer and total workers, the ration should be less than 2.000 head of productive layer for each worker.
- Operational Cost Ratio, to minimize fixed cost and maximizing variable cost
- Feed Conversion Ratio, to save feed consumption without sacrificing productivity
- Layer Productivity Ratio, referring to proper and complete recording, egg production should be able to reach 20 kg/head in 76-80 weeks of age

To Minimize Meat Importation

The dependency on imported meat is a big problem in Indonesia, since local products are only able to supply 72% of the demand. According to Dr Tjeppy D Soedjana, Director General of Livestock Services (DGLS) in official opening of “Socialization on Acceleration of Meat Self Supporting Achievement” in Bandung, the desired condition in 2010 is supply of imported meat should less than 10%. The Government had allocated the fund to construct biogas, meat kiosk, integration of mixed farming, conservation of livestock farming area, conservation of river flow area, field training as well as irrigation of surface soil.
This program will be implemented in 16 districts and 2 cities in West Java province. The constraint of this program is lack of technical human resources and infrastructure in the field.

Kekuatan Kata-kata

Kekuatan Kata-kata
Bambang Suharno

Salah satu motivator yang menurut saya sangat pintar mengolah kata-kata adalah Mario Teguh. Saya mengamatinya sejak 5 tahun lalu ketika ia menjadi narasumber talkshow di Radio Bisnis PassFM, kemudian ke Radio Ramako Jakarta dan kemudian ke bebarapa radio lain, dan berikutnya tampil di acara business art di saluran televisi O-Channel. Kalimat di bawah ini saya kutip dari salah satu artikelnya mengenai anger management (pengelolaan amarah). Perhatian baik-baik olahan kata per kata. Kita akan menikmati indahnya Mario Teguh mengolah kata menjadi sebuah kesadaran dalam diri kita.

Seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar; karena dia hanya tidak bisa marah. Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar.

Kata-kata yang sejatinya tak lebih dari rangkaian huruf, yang kemudian diolah menjadi kalimat, dapat merubah banyak hal dalam diri banyak orang. Kata-kata menjadi sedemikian tajam di tangan seorang yang pandai mengasahnya.

Orang-orang yang pandai berkomunikasi bukanlah orang yang pintar mengumbar kata-kata. Mereka adalah orang yang tekun menyimak, membaca dan mengolah menjadi kata-kata yang dapat diterima lawan bicara (istilah lawan bicara kelihatannya kurang pas, apakah lebih tepat istilah teman bicara?)

Makanya anggapan bahwa seorang penjual yang sukses harus pandai berbicara banyak, adalah sangat keliru.

Para negosiator hebat adalah mereka yang pintar memilih kata-kata yang baik. Begitupun dengan para pemimpin-pemimpin dunia. Untuk memilih kata-kata yang matang, diperlukan kepandaian mendengar dan merasakan apa yang ada di benak lawan bicara. Dr.Drh.Soehadji, mantan Dirjen Peternakan pernah memperkenalkan istilah ”ukuran keempat” untuk menggambarkan ukuran yang dimensinya berbeda dengan jenis ukuran lainnya. Ukuran pertama adalah panjang atau lebar (satu dimensi dengan ukuran meter), ukuran kedua adalah luas (dua dimensi, menggunakan meter persegi), ukuran ketiga adalah isi (3 dimensi, dengan meter kubik) dan ukuran keempat adalah perasaan (dimensi kompleks). Mereka yang hebat dalam penjualan, negosiasi ataupun dalam memimpin pandai menggunakan ukuran yang abstrak ini. Kita mengenal istilah empati, yakni bagaimana memposisikan perasaan kita pada posisi lawan bicara. Itulah ukuran keempat.

Dari sebuah artikel Erwin Arianto di sebuah mailing list, saya menemukan cerita yang menarik mengenai seorang petani terkemuka di Finlandia yang sangat pandai memilih kata-kata dalam berkomunikasi. Waktu itu garis batas antara Finlandia dan Rusia sedang ditentukan, dan petani itu harus memutuskan apakah dia ingin menjadi warga Finlandia atau Rusia. Setelah memikirkan cukup lama, dia memutuskan untuk berada di Finlandia, tetapi dia tidak ingin melukai perasaan pejabat Rusia. Pejabat Rusia itu datang kepadanya dan bertanya mengapa dia ingin berada di Finlandia.

Petani itu menjawab,"Sudah merupakan kerinduanku sejak dulu untuk tinggal ditanah tumpah darahku Rusia, tetapi pada usiaku yang sudah lanjut seperti ini, aku tidak dapat bertahan menghadapi musim dingin di Rusia."

Dengan kalimat seperti ini pejabat Rusia mendukung keinginan petani untuk bermukim di Finlandia dan tetap bersahabat dengan pejabat Rusia. Tidak terbayangkan jika petani itu mengatakan,” maaf Bapak pejabat, saya punya hak penuh untuk memilih tempat tinggal. Ini bukan urusan Anda”.

Kisah lain yang sejalan dengan topik ini adalah seorang guru yang berusaha untuk menjelaskan kepada sekelompok orang mengenai betapa besarnya reaksi orang terhadap kata-kata, menelan kata-kata, hidup dalam kata-kata.

Salah seorang dari kelompok itu berdiri dan mengajukan protes. Dia berkata, "Saya tidak setuju dengan pendapat Anda bahwa kata-kata mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri kita."

Guru itu berkata," Duduklah, anak haram!"

Muka orang itu menjadi pucat karena marah dan berkata,"Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang sudah mengalami pencerahan, seorang guru, seorang yang bijaksana, tetapi kenyataannya Anda sangat tidak sopan. Seharusnya Anda malu dengan diri Anda sendiri."

Kemudian Guru itu berkata, "Maafkan saya, saya terbawa perasaan. Saya benar-benar mohon maaf, itu benar-benar di luar kesadaran saya, saya mohon maaf." Orang itu akhirnya menjadi tenang.

Kemudian Guru berkata lagi,"hanya diperlukan beberapa kata untuk membangkitkan kemarahan dalam diri anda; dan hanya diperlukan beberapa kata untuk menenangkan
diri anda, benar bukan?"***

Email: bambangsuharno@telkom.net
Informasi Training Pengembangan SDM hubungi Gita Organizer: 021.78841279

Drh Sugeng Pujiono, Hidup Itu Harus Bekerja Keras, Cerdas dan Ikhlas

Drh Sugeng Pujiono, Hidup Itu Harus Bekerja Keras, Cerdas dan Ikhlas

Mengangkat profil seseorang selalu mengundang ketertarikan tersendiri bagi Infovet. Untuk itu pada kesempatan kali ini Infovet mengangkat profil seorang yang sukses di bisnis obat hewan. Ia mulai meniti karirnya dari bawah hingga kini menduduki posisi salah satu top manajemen di perusahaannya.
Adalah Drh Sugeng Pujiono pria kelahiran Gresik, 20 November 1963 yang kini menjabat sebagai Marketing Manager PT Sanbe Farma. Sugeng sendiri kaget kenapa harus profil dirinya yang diangkat. Namun kami (red. Infovet) berusaha memberikan penjelasan bahwa Sugeng dinilai sebagai salah satu tokoh bidang peternakan yang karirnya cukup sukses mulai dari bawah hingga posisinya saat ini.
Dibawah tangan dinginnnya, Sanbe Divisi Animal Health berhasil menjadi perusahaan nomor satu di bisnis obat hewan Indonesia dan bahkan berhasil menanamkan fondasi yang kuat di segmen pasar akuakultur.
Namun Sugeng malah menjawab, “Seharusnya yang diangkat adalah keberhasilan pimpinan saya, Drs. Jahja Santosa, Apt. yang telah berhasil membawa Sanbe hingga seperti sekarang ini. Atau juga seluruh anggota tim Sanbe yang menurut saya keberhasilan karir saya tak lepas dari kerja kolektif teman-teman di tim Sanbe,” ujar Sugeng dengan rendah hati.

Mulai Karir Dari Bawah
Dari awal karirnya Sugeng selalu menanamkan prinsip bahwa bekerja itu adalah ibadah. Jadi kalau dipercaya untuk memimpin itu sudah seperti menjalankan amanah. “Dalam hidup motto saya adalah Do the best what can we do, jadi prinsipnya ya melakukan yang terbaik apa bisa kita lakukan,” ujar pria dengan 7 putri dan 1 putra ini.
Dengan guyonannya yang santai Sugeng menuturkan bahwa dia adalah orang yang paling tidak laku di jual diperusahaan, oleh karena itu ia menjadi karyawan yang paling awet di Sanbe.
Semenjak lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga di tahun 1988 ia langsung menjejakkan kakinya di blantika bisnis obat hewan melalui PT Sanbe Farma. Dengan predikat Veterinary Representative ia “membuka hutan” (red. pasar obat hewan) di wilayah Medan mencari titik dimana lokasi peternakan berada yang kelak menjadi pelanggan setia Sanbe. Setelah dua tahun di Medan, tepatnya tahun 1990, Sugeng kembali diminta merambah hutan bisnis obat hewan oleh Sanbe, kali ini di Banjarmasin. Hingga petualangannya, sebagai Vet Rep Sanbe berlanjut ke Samarinda, Kalimantan Timur di tahun 1992.
Berikutnya di tahun 1993, baru ia dipindahtugaskan ke Jawa Timur. Disinilah karirnya mulai menanjak cepat mulai dari Vet Rep, Wakil Supervisor, Supervisor, Regional Manager, Sales Manager dan posisi terakhir sekarang Marketing Manager Sanbe (mulai tahun 2004) dan Marketing Manager PT Caprifarmindo Labs (mulai tahun 2007).
Keberhasilan karir Sugeng tak lepas dari filosofi hidupnya yang selalu dicamkannya yaitu dalam bekerja itu harus kerja keras, cerdas dan ikhlas. Selain belajar dari pengalaman, ia juga rajin mengikuti berbagai pelatihan teknik marketing dan kepemimpinan. Tak hanya menjadi peserta pelatihan ia pun juga kerap didaulat menjadi pengisi seminar dan instruktur pelatihan bidang peternakan dan kesehatan hewan. Salah satunya adalah menjadi instruktur Training “Menjadi Marketer Handal di Industri Kesehatan Hewan” yang diadakan ASOHI, April 2008 lalu di Jakarta.

Jiwa Marketing Ditempa Sejak Kuliah
Ia menyelesaikan pendidikan dokter hewannya selama 7 tahun, namun tak sekadar kuliah ia juga membangun bisnis sampingan yang kini juga telah berbuah sukses. Sembari kuliah ia membuka bimbingan belajar bagi siswa SMA. Sugeng bertugas sebagai koordinator dan pengajar, bersama teman-temannya ia mengajar lebih dari 400 murid setiap tahunnya. Berangkat dari situ ia mulai belajar ilmu marketing tentang bagaimana cara mendapatkan peserta bimbel yang banyak dan mempertahankan loyalitas mereka.
Pengalaman marketingnya juga ditempa sewaktu menjalankan ko-ass sebagai medical representative sebuah perusahaan farmasi selama satu tahun (1987-1988). Di perusahaan itu, Sanbe Farma justru menjadi pesaing utama bagi perusahaan yang Sugeng enggan menyebutkan namanya itu. Sebagai kompetitor, justru Sugeng mengagumi cara kerja Sanbe dan bagaimana citra perusahaan itu dibentuk dan dikenal baik oleh pelanggannya. Oleh karena itu, selepas keluar dari perusahaan lamanya, Sugeng langsung bergabung dengan Sanbe Farma sebagai Vet Rep.

Catatan Sugeng tentang Perunggasan
Dari pengalaman Sugeng diperunggasan selama lebih dari 20 tahun, ia mencatat yang hal yang fenomenal adalah perubahan kualitas genetik ayam ras. Selain itu wawasan peternak pun kini telah cukup baik dalam mengikuti perkembangan khususnya dari segi pemeliharaan kesehatan hewan dan manajemen pemeliharaan.
Untuk broiler kalau dulu diera tahun 80-an untuk mencapai berat badan 1 kilo selama 30 hari pemeliharaan itu sangat sulit sekali dicapai. Namun kini ayam broiler umur 30 hari dengan manajemen yang baik mampu mencapai bobot 1,6 kg.
Lebih lanjut, kalau dulu peternak agak ‘ndableg’ bila diberi masukan mengenai manajemen pemeliharaan atau pengetahuan terbaru. Mereka selalu bilang, “Ah, pakai cara yang lama saja Mas, wong gak pake begitu-begitu juga masih jalan kok.”
Sugeng melanjutkan, “Tapi kondisi itu sudah terbalik sekarang. Kini peternak lebih terbuka terhadap perkembangan iptek. Kalau saja masih ada peternak yang kolot seperti itu, saya jamin tidak lama pasti bakal tutup farmnya.”
Perubahan fenomenal lainnya adalah berubahnya skala kepemilikan peternak. Kalau dulu peternak yang memelihara 500-1000 ekor ayam itu sangat banyak sekali dan menyebar, contohnya dulu seperti peternakan di daerah Jatim, Jateng, Jabar, dan Kalimantan.
“Namun kini kondisinya telah berubah, banyak peternak memilih beternak ayam dengan skala menengah ke atas, mungkin melihat dari sisi ekonomis dan efisiensinya. Sehingga bisa dikatakan jumlah pemainnya tidak banyak,” kata Sugeng.
Hanya dari sisi volume total produksi DOC, Sugeng menilai dibandingkan 20 tahun yang lalu kenaikannya masih stagnan atau tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

Peran Sanbe Memajukan Perunggasan
“Sanbe ada karena peternak ada, jadi kalau peternak itu tumbuh maka Sanbe juga akan tumbuh bersama peternak. Bagaimana caranya supaya sama-sama tumbuh, yaitu saling memberdayakan. Dalam hal ini peternak tidak dibiarkan jalan sendiri tapi juga dibimbing dengan bantuan dan konseling,” jelas Sugeng.
Selanjutnya, Sugeng menjelaskan, Sanbe membantu dengan dua aspek yaitu bantuan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan dukungan dana. Untuk meningkatkan kualitas SDM peternak, Sanbe biasanya melakukannya secara personal maupun massal. Secara personal dapat dilakukan dengan konsultasi teknis dengan tenaga lapangan Sanbe langsung di farm. Sementara secara massal dilakukan dengan rutin mengumpulkan peternak untuk dilakukan penyuluhan. Dan setiap tenaga lapangan Sanbe memang diwajibkan dan dituntut mampu melakukan hal ini.
Selain itu Sanbe juga rutin melakukan pelatihan yang bisa dilakukan di kantor pusat Sanbe di Bandung atau dilokasi tempat peternak berada. Pelatihan ditempat biasanya dilakukan bila lokasi farm di luar pulau jawa karena pertimbangan efisiensi waktu dan biaya.
Selanjutnya guna memberdayakan peternak Sanbe juga menyediakan fasilitas bantuan dana yang dikhususkan bagi pengembangan skala usaha peternakannya. Dengan begitu akan terjalin kerjasama yang saling sinergis dan menguntungkan. Bantuan dana ini dalam bentuk pinjaman tanpa bunga dan telah dimulai sejak era krisis moneter tahun 2007. Hal-hal tersebut itulah yang menjadi bagian pelayanan prima PT Sanbe Farma. Banyak peternak yang merasakan manfaat dari segala pelayanan prima Sanbe ini namun belum banyak terekspos.
Intinya Sanbe memberikan pencerahan dan pemberdayaan ke peternak, karena Sanbe ada karena peternak ada. Sesuai dengan visi Sanbe yaitu tumbuh dan berkembang bersama peternak. Sedangkan Sanbe mengemban misi untuk menyediakan sarana kesehatan hewan yang dibutuhkan peternak berupa obat-obatan dan vaksin yang bermutu.
“Untuk itu kini Sanbe telah memiliki pabrik vaksin termutakhir PT Caprifarmindo Labs. yang dilengkapi dengan laboratorium berstandar BSL3. PT Caprifarmindo memproduksi hampir seluruh vaksin untuk ternak mulai dari unggas, sapi, babi, kerbau, hewan kesayangan, hingga vaksin untuk udang dan ikan,” pungkas Sugeng.

HPP TELUR AYAM RAS, SEKARANG BERAPA?

Ekbis Infovet Edisi 169 Agustus 2008

HPP TELUR AYAM RAS, SEKARANG BERAPA?
Drh Djarot Winarno

Kenaikan harga bahan bakar minyak, tentu sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan baku pakan ayam. Terutama bahan baku yang berasal dari luar negeri atau impor. Lebih-lebih dengan naiknya permintaan pasar internasional dan pemakaian sebagian bahan baku pakan untuk memproduksi energi, maka harganya pun menjadi semakin mahal. Pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap biaya transport juga sangat terasa sekali, semakin mahal. Selanjutnya, akan sangat berpengaruh terhadap harga pokok produksi telur.
Harga pokok produksi (HPP) merupakan puncak dari berbagai variabel kegiatan manajemen peternakan ayam petelur. Komponen-komponen pembentuk harga pokok produksi telur : (1) pakan, (2) biaya operasional (upah, bahan bakar minyak, listrik, telepon, material-material, perawatan), (3) penyusutan pullet (ayam dara sampai dengan umur 19 minggu), (4) penyusutan investasi infrastruktur (kandang, gudang pakan dan telur, mess, kantor, listrik, jalan dll), (5) biaya penjualan (6) obat, vaksin, vitamin dan kimia, dan (7) biaya lain-lain.

Komponen Pembentuk Harga Pokok Produksi Telur
1. Pakan
Harga pakan jadi/komplit buatan pabrik di Jawa Timur yang berlaku saat tulisan ini dibuat, per 1 Juli 2008, rata-rata Rp 3.700,-/kg. Ditambah biaya kirim ke kandang dengan jarak 100 km dan upah menurunkan, lebih kurang Rp 75,-/kg. Jadi, harga pakan, sampai dimakan ayam, menjadi Rp 3.775,-/kg. Dikalikan FCR (feed conversion ratio) total populasi ayam petelur yang berproduksi, umur 20 s/d 80 minggu, rata-rata 2.35, maka biaya pakan, Rp 8.871,-/kg.
2. Biaya Operasional
Yang termasuk biaya operasional adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan peternakan ayam petelur untuk berproduksi. Meliputi listrik, telepon, air, upah/gaji tenaga kerja, perawatan, material-material, sosial, kesehatan, pengamanan dan lain-lain. Antara satu peternakan dengan peternakan yang lain tentu saja berbeda. Tergantung dari sistem kandang yang digunakan, alat dan cara pemberian pakan dan minum, apakah manual, semi-otomatis atau otomatis. Menurut pengalaman peternak di Jawa Timur, dengan cara pemberian pakan dan minum secara manual, biaya operasionalnya lebih kurang Rp 700,-/kg. Bila semi-otomatis atau otomatis, biayanya bisa lebih murah Rp 100 – 200,-/kg.
3. Penyusutan Pullet
Yang dianggap pullet di sini adalah ayam dara sampai dengan umur 133 hari (umur 19 minggu, hari ke-7). Sedangkan yang dimaksud layer adalah ayam petelur umur 134 hari (umur 20 minggu, hari ke-1) s/d 80 minggu. Dengan harga anak ayam, pakan, biaya operasional, vaksin, vitamin, kimia dan lain-lain yang berlaku saat ini, per 1 Juli 2008, harga pullet sampai dengan umur 133 hari, lebih kurang Rp 50.000,-/ekor.
Saat layer tua diafkir pada umur 80 minggu, harga di Jawa Timur rata-rata hanya Rp 10.000,-/kg. Bobot badan rata-rata 1,9 kg/ekor = Rp 19.000,-/ekor. Sedangkan sisa hidup saat diafkir pada umur 80 minggu, rata-rata 17,5%. Jadi, pendapatan dari ayam afkir Rp 19.000,- x 82,5%=Rp16.625,-/ekor. Nilai penyusutan pullet adalah harga awal masa produksi, dikurangi pendapatan afkir, sisa Rp 33.375,-/ekor, dibagi pendapatan telur dalam 1 (satu) periode s/d umur 80 minggu, rata-rata 19 kg telur/ekor = Rp 1.756,-/kg.
4. Biaya Penyusutan Investasi Kandang dan Infrastruktur
Beban biaya penyusutan investasi kandang dan infra-struktur penunjang, tidak termasuk nilai lahan. Karena lahan nilainya tidak menyusut, malah akan naik terus dari waktu ke waktu.
Kandang dan infra-struktur penunjang yang sudah ada saat ini, pada umumnya dibuat 3 – 10 tahun yang lalu dimana nilainya saat itu rata-rata Rp 40.000,-/ekor. Hampir tidak ada investasi kandang baru dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Dengan perhitungan masa pakai bisa 10 tahun (= 7 periode), maka nilai penyusutan investasi awal sama dengan Rp 40.000 : 7 periode : 19 kg telur per periode, Rp 300,-/kg.
Bagi Anda yang sering memundurkan jadwal afkir, 6 – 10 minggu tiap periode, maka pemakaian kandang tidak bisa 7 (tujuh) periode dalam 10 (sepuluh) tahun, hanya 6 (enam) periode saja. Nilai penyusutan investasinya menjadi Rp 40.000 : 6 periode : 21 kg (karena umur afkirnya dimundurkan, tapi produktifitasnya sudah jelek) = Rp 317,-/kg. Malah jadi lebih mahal.
Belum lagi tingginya rasio upah tenaga kerja akibat rendahnya produktifitas layer yang sudah tua, yang sebenarnya sudah tidak layak “pakai”. Kualitas telur jadi menurun, resikonya banyak keluhan dari pelanggan telur. Persentase telur retak dan pecah meningkat. FCR ayam tua juga sangat jelek, lebih dari 2,5. Akibatnya, pemanfaat investasi kandang dan infrastruktur menjadi kurang ekonomis. Ini sebagai bahan renungan bagi Anda, para peternak petelur.
5. Biaya Penjualan
Setelah telur diproduksi, masih ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjualnya walaupun dijual di tempat (loco) di kandang atau gudang telur. Biaya-biaya itu meliputi telepon, listrik, susut bobot, retak, pecah, upah tenaga kerja, kemasan (peti kayu, egg trey, tali, label dan lain-lain). Rata-rata biaya penjualan Rp 200,-/kg.
6. Obat-obatan, Vaksin dan Kimia (O.V.K.)
Perusahaan peternakan ayam petelur, karena mengelola makhluk hidup, maka memerlukan obat-obatan (antibiotik, anti cacing), vaksin (vaksin mati dan vaksin hidup) dan kimia (desinfektan, insektisida, vitamin) supaya ayam tetap sehat dan berproduksi secara optimal. Vaksinasi terhadap beberapa penyakit harus diulang berkala, obat cacing perlu diulang berkala, pemberantasan hama lalat dan kutu, biosekuriti dan vitamin juga harus diberikan secara berkala. Total biaya OVK bila dirata-rata tidak kurang dari Rp 250,-/kg.
7. Biaya Lain-lain
Dalam perjalanan suatu perusahaan, tidak terlepas dari hal-hal yang terjadi di luar perkiraan atau tak terduga. Biasanya menyangkut biaya sosial, kesehatan karyawan, keamanan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja. Maka, perlu dicadangkan biaya tak terduga, diperkirakan rata-ratanya perlu anggaran sebesar Rp 50,-/kg.

Catatan : dalam pembahasan ini diasumsikan semua biaya investasi dari “kantong” sendiri. Dianggap tidak pakai uang bank. Maka, tidak ada biaya bunga dan angsuran hutang ke bank. Istilahnya, pakai “uang dingin”, bukan “uang panas”.

Rangkuman biaya-biaya :
1. Pakan ………… Rp 8.871,- (74.15%)
2. B.O. ………….. Rp 700,- ( 5.77%)
3. Pullet ………… Rp 1.756,- (14.48%)
4. Investasi ….. Rp 300,- ( 2.47%)
5. Penjualan ... Rp 200,- ( 1.65%)
6. O.V.K ………… Rp 250,- ( 2.06%)
7. Lain-lain …… Rp 50,- ( 0.41%)
Total Rp 12.127,-(100 %)

Berikutnya, supaya gampang menghitung secara cepat, rasio harga pokok produksi (= R.H.P.P.), yaitu harga pokok produksi telur Rp 12.127 : harga pakan Rp 3.775,-/kg = 3,2.

RUMUS
HPP TELUR = HARGA PAKAN X 3.2

Kalau toh ada selisih hitungan secara akunting, bisa dipastikan tidak akan banyak, Rp 100 – 200,-/kg. Persoalannya, bagaimana caranya peternak petelur bisa menekan HPP supaya kompetitif (punya daya saing tinggi, tidak tergantung dari tingginya harga jual) dan bisa bertahan dikancah peternakan ayam petelur serta masih bisa mendapat untung.

Evaluasi Manajemen Peternakan
Sebelumnya, mari kita mawas diri dulu, apakah manajemen peternakan ayam petelur yang Anda kelola sudah berada di jalur yang baik dan benar, baik efisiensi mau pun performance-nya :
1. Ke-1 : High Cost – High Performance
2. Ke-2 : Low Cost – Low Performance
3. Ke-3 : High Cost – Low Performance
4. Ke-4 : Low Cost – High Performance
Sekarang coba Anda tinjau dan atau evaluasi, apakah biaya-biaya untuk menghasilkan telur di perusahaan Anda sudah efisien. Terutama biaya pakan, biaya operasional dan biaya penyusutan pullet. Karena ketiga biaya tersebut menempati porsi yang paling banyak dan menentukan, yaitu 94.5%. Dan, Anda evaluasi apakah performance-nya sudah baik dan benar.
Bila Anda berada di jalur ke-1, mungkin masih bisa untung. Karena, dengan HC-HP, ada kemungkinan bisa tercapai FCR 2.1 – 2.2 dan gambaran grafik produksinya tidak turun secara curam tetapi bisa landai.
Bila Anda berada di jalur ke-2, LC-LP, umumnya masih bisa bertahan. Asal efisiensi biaya operasional dan pakan harus cukup nyata. Biaya operasional harus bisa lebih rendah Rp 200,-/kg telur dibanding peternak layer yang lain dan harga pakan harus bisa lebih murah Rp 200 – 300,-/kg dibanding peternak layer lain. Walaupun produktifitasnya lebih rendah, tetap ada selisih lebih antara harga jual telur dengan harga pokok produksi. Saran saya, cari upaya supaya ada sedikit peningkatan produktifitas.
Bila Anda berada di jalur ke-3, HC-LP, hampir bisa dipastikan rugi. Bila Anda masih ingin mempertahankan peternakan yang sudah di jalur ini, Anda harus melakukan “reformasi” manajemen, terutama di level pimpinan.
Pada umumnya, perusahaan yang berjalan di jalur ke-3 ini, struktur organisasinya “gembung” seperti buah apel. Jadi, salah satu programnya harus dilakukan perampingan struktur organisasinya menjadi “segitiga sama kaki”, kokoh.
Kenyataan di lapangan, semakin banyak karyawan, bisa dipastikan semakin banyak masalah. Belum tentu karyawan yang direkrut mampu menyelesaikan masalah.
Cari karyawan yang memang mampu, profesional (jujur, disiplin, punya integritas pribadi yang utuh) dan berdedikasi tinggi. Ingat prinsip dasar dalam menyusun struktur organisasi, the rigth man on the right place (orang yang tepat didudukkan di posisi yang tepat). Bila sudah tidak mampu dan atau tidak mau mempertahankan lagi, saran saya, dijual saja atau di-“likuidasi”. Untuk apa “capek-capek” bekerja tetapi malah rugi.
Jalur ke-4, LC-HP, merupakan idaman semua peternak layer. Perusahaan yang berjalan di jalur ini, biasanya, struktur organisasinya ramping, masa kerja karyawannya relatif lama (rata-rata bisa >5 tahun), terbentuk teamwork yang harmonis dimana masing-masing orang jelas job description-nya dan hampir-hampir tidak ada konflik internal.

Capai Efisiensi
Supaya bisa efisien, perlu dibenahi rasio-rasionya, sebagai berikut :
1. Rasio Populasi
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah total populasi layer atau ayam petelur yang berproduksi, yaitu mulai umur 20 – 80 minggu, dibagi semua karyawan yang terlibat mengelola suatu peternakan. Mulai Manajer, Kepala Bagian, Mandor, Staf, Satpam, karyawan kandang, karyawan gudang pakan, gudang telur, perawatan, umum dan lain-lain. Untuk peternakan dengan sistem kandang terbuka dan pemberian pakan dan minumnya manual, seyogyanya, rasionya tidak kurang dari 2.000 ekor per orang. Bila rasionya kurang dari 2.000 ekor per orang, biaya upah tenaga kerjanya menjadi relatif mahal. Upah tenaga kerja memakai patokan Upah Minimum Kabupaten (UMP) setempat.
Bila pemberian air minumnya pakai neaple, rasionya bisa 2.500 ekor per orang. Bila pemberian air minum dan pakan pakai sistem semi otomatis tanpa energi listrik (hopper dorong), rasionya bisa lebih dari 3.000 ekor per orang.
Bila sistem kandang, tata letak dan tata kelolanya dirancang sejak awal, rasionya bisa >3.000 ekor per orang. Biaya upah tenaga kerja tentu saja menjadi relatif lebih murah walau pun Anda memberi upah 125 - 150 % di atas Upah Minimum Kabupaten setempat. Keuntungannya, karyawan lebih mudah diatur karena orangnya sedikit tapi dengan take home pay tinggi, produktifitasnya menjadi lebih tinggi dan “betah” bekerja di tempat Anda. Tidak terjadi “gonta-ganti” karyawan terlalu sering.
2. Rasio Biaya Operasional
Biaya operasional ada yang bersifat tetap (fixed cost), ada yang bersifat tidak tetap (vaiable cost). Logikanya, sebaiknya Anda harus bisa menekan biaya tetap. Misalnya, menggunakan karyawan tetap sedikit saja, yaitu sebatas tenaga inti atau tenaga terampil. Selebihnya, yang tidak memerlukan keterampilan tinggi, cukup menggunakan karyawan harian dan atau borongan. Di peternakan ayam pedaging, semua karyawan kandang sistem upahnya borongan.
3. Rasio Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio = FCR)
Porsi terbesar komponen pembentuk harga pokok produksi telur adalah pakan yaitu lebih kurang 75%. Maka dari itu segala daya upaya harus diusahakan bisa menghasilkan penghematan pemakaian pakan tetapi tanpa mengorbankan sisi produktifitas. Semua strain layer yang beredar di Indonesia mengaku bahwa, FCR strainnya bisa 2.1–2.2. Kenapa tidak bisa? Pengalaman banyak peternak layer di Jatim, FCR tersebut bisa dicapai dan dipertahankan selama bertahun-tahun, sejak 1995 sampai sekarang. Pemberian pakannya secara manual, tetapi pemberian air minum pada umumnya sudah pakai nipple.
Coba Anda hitung berapa rupiah yang menguap (potential loss) bila FCR 2.35 dibanding FCR 2.20. Berarti ada penghematan pemakaian pakan sebesar 0.150 kg pakan/kg telur x harga pakan Rp 3.775 = Rp 566,-/kg telur.
Anda yang punya layer 100.000 ekor, nilai penghematannya : produksi rata-rata 5.000 kg x Rp 566,- = Rp 2.830.000,-/hari x 30 hari = Rp 84.900.000,-/bulan x 12 bulan = Rp1.018.800.000,-/tahun. Sungguh fantastis.
Padahal ini hitungan dari jumlah layer 100.000 ekor saja. Bagi Anda yang punya layer banyak, >200.000 ekor, tidak akan rugi bila mengkaryakan tenaga ahli dengan gaji di atas Rp 10.000.000,-/bulan, dengan catatan performance dan efisiensi, yaitu egg mass >50 kg/1.000 ekor dan FCR maksimum 2.20.
Pemberian air minum ayam pakai nipple, jauh lebih hemat biaya listrik dan air serta hampir-hampir tidak ada limbah. Pemakaian pakannya juga bisa hemat 2 – 3 gram/ekor/hari dibanding pemberian air minum pakai talang.
Pemberian pakan ayam pakai corong (hopper) yang didorong tenaga manusia sangat menghemat pakan, bisa mencapai 2 – 3 gram/ekor/hari dibanding pemberian pakan secara manual pakai tenaga manusia. Karena pakan yang tercecer hampir tidak ada. Bila Anda mau, konstruksi kandang yang sudah ada bisa dimodifikasi supaya bisa pakai nipple dan hopper.
Kombinasi keduanya, pemberian air minum pakai nipple dan pemberian pakan pakai hopper, bisa menghemat pemakaian pakan lebih kurang 5 (lima) gram/ekor/hari. Tanpa perlu membatasi jatah pakan ayam. Pemberian pakan bisa tetap ad libitum. Artinya, biarkan ayam yang mengatur seberapa jumlah nutrisi yang dibutuh sesuai umurnya. Karena layer sangat jujur, dikasih makan sedikit, produksi telurnya sedikit dan kecil. Dikasih makan banyak, produksi telurnya banyak dan besar. Ingat, harga pakan sangatlah mahal. Tiap gram yang bisa dihemat, akan sangat bermanfaat.
4. Rasio Produktifitas Layer
Peternak layer wajib punya catatan (recording) produksi bukan yang harian (Hen Day) saja, tetapi harus lengkap sampai recording per periode (Hen House). Produktifitas layer, umur 20 – 80 minggu, usahakan bisa mencapai rata-rata minimum 50 kg telur/1.000 ekor. Sedangkan sebagai bahan evaluasi per periode hen house, produksi telur seharusnya bisa mencapai 20 kg telur/ ekor pada umur 76–80 minggu. Standard tersebut bisa dicapai bila produktifitas telur harian tinggi, >50 kg telur/1.000 ekor dan diimbangi dengan susut jumlah ayam rendah, seperiode tidak lebih dari 10% (=0.6% per bulan).
Demikian sekilas ringkas hitungan harga pokok produksi telur saat ini, dengan dasar harga pakan dan anak ayam yang berlaku per 01 Juli 2008. Bila, pada kemudian hari harga pakan, anak ayam, upah tenaga kerja, bahan bakar minyak naik lagi, berapa pun naiknya, maka cara menghitungnya mudah sekali. Demikian juga bila terjadi sebaliknya, harga-harga turun. HPP telur = harga pakan x 3,2.
Semoga bermanfaat.

South East Asia Seminar Alltech Soroti Teknologi Pakan Terbaru

Info Iptek Edisi 169 Agustus 2008

South East Asia Seminar Alltech Soroti Teknologi Pakan Terbaru

Para ahli di bidang perunggasan menggarisbawahi perlunya membuka pandangan terhadap berbagai peluang yang ada. Khususnya dalam teknologi pakan ternak dengan menggunakan teknologi-teknologi terbaru dan teknik-teknik inovatif untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi produsen ternak unggas. Salah satu upaya yang bisa dilakukan melalui pengembangan potensi genetik, menggunakan by-product alternatif dan terus meningkatkan profit.
Hal inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Alltech’s Poultry Seminar berjudul “How to achieve optimum performance naturally”. Seminar ini diselenggarakan di seluruh wilayah Asia Tenggara pada tanggal 23-27 Juli 2008.
Mr. Aziz Sacranie, Technical Poultry Director Alltech memberikan review mengenai aplikasi selenium di dalam industri perunggasan serta Mr. Cemlyn Martin, General Manager Alltech untuk Asia Tenggara, yang membuka seminar tersebut dengan memberikan gambaran mengenai industri perunggasan di wilayah Asia Tenggara.
Sacranie mengatakan, “Kondisi usaha perunggasan saat ini penuh dengan tantangan. Dimana biaya pakan dan produksi kian meningkat, di lain pihak tuntutan untuk terus memaksimalkan performa sekaligus memperoleh profit semakin menambah tekanan. Sehingga diperlukan masukan solusi terbaru untuk menyiasatinya.”
Dr Alison Leary, Key Account Technical Services Manager, Alltech bertanya kepada hadirin, “Apakah mungkin memiliki pakan yang tersedia secara ekonomis sekaligus meningkatkan performa unggas secara optimal?” Solusi yang ia tawarkan adalah menggunakan teknologi enzim kompleks Solid State Fermentation (SSF) untuk meningkatkan kecernaan dan pemanfaatan seluruh bahan baku pakan serta bahan baku mentah dari yang tersedia secara lokal misalnya singkong, dedak, PKM (palm kernel meal) dan DDGs untuk pakan ternak unggas..
Prof Peter Surai dari Scottish Agricultural College, Inggris; menjelaskan tentang bagaimana selenium organik (Sel-Plex®) memainkan peran yang penting dari banyak proses fisiologis pada unggas dan bagaimana selenium dapat membantu meningkatkan performa dan daya imun serta mengurangi stress. Beliau juga menunjukkan ilmu pengetahuan yang baru yaitu Nutrigenomics – memperlihatkan pengaruh yang kuat dari nutrisi terhadap ekspresi gen.
“Mulailah dari awal yang baik”, adalah topik presentasi dari Prof. Peter Spring. Prof. Spring yang berasal dari Swiss College of Agriculture mengilustrasikan pentingnya nutrisi awal yang diberikan kepada anak ayam dan memastikan pakan untuk pre-starter yang optimal. Termasuk didalamnya penggunaan protein yang kaya akan nukleotida (NuPro®) di dalam pakan unggas yang masih muda yang dapat meningkatkan kemampuan GIT, memungkinkan nutrisi dapat diserap lebih baik selama masa pertumbuhan unggas tersebut yang dapat membantu mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan FCR.
Drh Isra Noor, pimpinan PT Alltech Biotechnology Indonesia menjelaskan bahwa tujuan dari seminar ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan adanya teknologi baru dalam ilmu nutrisi ternak yang tersedia yang dapat membantu mewujudkan potensi genetik hewan unggas dan sekaligus meningkatkan keuntungan. (Inf/adv)

Indonesia Targetkan Tekan Impor Daging

Indonesia Targetkan Tekan Impor Daging

Indonesia hanya mampu memenuhi 72% kebutuhan daging sapi. Ketergantungan kepada pasokan impor masih cukup tinggi, yaitu sekitar 28%. Jika kondisi itu dibiarkan, diperkirakan tingkat ketergantungan akan meningkat hingga 37% pada tahun 2010.
Dirjen Peternakan dari Departemen Pertanian, Dr. Ir. Tjeppy D. Soedjana mengatakan itu dalam pembukaan “Sosialisasi Program Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) di Aula Bapeda Jabar, Jln. Ir. H. Djuanda, Kota Bandung. “Kondisi yang diinginkan pada tahun 2010, penyediaan daging dari impor maksimal 10%. Semuanya diupayakan dipenuhi oleh dalam negeri,” ucapnya.
Untuk melaksanakan program tersebut di Jabar, pemerintah pusat mengalokasikan dana senilai Rp 7,7 miliar dari APBN tahun 2008. Dana tersebut akan digunakan di antaranya untuk kegiatan pembuatan biogas, kios daging, integrasi pertanian-ternak, konservasi lahan kawasan peternakan, konservasi daerah aliran sungai (DAS), sekolah lapang, dan irigasi tanah permukaan.
Program P2SDS akan diterapkan di 16 kabupaten dan 2 kota di Jabar. Namun, hingga saat ini Jabar masih menghadapi banyak kendala. Dari sisi sumber daya manusia, Disnak kekurangan 106 tenaga inseminator berikut 138 kendaraan roda dua untuk petugas insemintor. Selain itu, masih terdapat kabupaten yang belum memiliki pos Inseminasi Buatan (IB), yaitu Kab. Karawang, Kab. Bandung, Kota Tasikmalaya, dan Kota Banjar. (inf/pr)

INDOLIVESTOCK TETAP BERJAYA

Lipsus Infovet Edisi 169 Agustus 2008

INDOLIVESTOCK TETAP BERJAYA

(( Simbol sekaligus harapan agar peternakan Indonesia selalu berjaya. ))

Penyelenggaraan Pameran Internasional Peternakan dan Pakan Ternak terbesar di Indonesia yang keempat, “Indo Livestock 2008 Expo & Forum” akan kembali digelar di Jakarta Convention Center, 1 Juli s/d 3 Juli 2008 mencatat prestasi tersendiri.
Sebagai Negara yang berpotensi tinggi dalam industri peternakan, maka pameran yang diagendakan setiap 2 tahun sekali ini disambut baik oleh Dirjen Peternakan Departemen Pertanian Dr Tjeppy D Soedjana yang membuka pameran pada hari pertama.
Sementara sebelumnya Herman Wiriadipoera Dirut PT Napindo Media Ashatama sebagai penyelenggara menyampaikan Penyelenggaraan Pameran Peternakan berskala Internasional yang menjadi ajang temu bisnis para pengusaha industri peternakan, kalangan ahli kesehatan hewan, peternak, pengelolaan pakan ternak, pemrosesan makanan, pemasok dan para distributor.
Memang begitu halnya, tampak dari stan-stan peserta pameran yang begitu megah dari berbagai perusahaan bidang peternakan sejumlah 300 perusahaan dari 23 negara yang memastikan diri ikut dalam ajang pameran Indolivestock 2008. Para peserta pameran ini terdiri dari perusahaan pemain lama maupun perusahaan pemain baru yang mencerminkan pergerakan dari bisnis bidang peternakan di tanah air Indonesia tercinta.
Sementara pengunjung yang senantiasa mengalir dari hari pertama sampai hari terakhir rata-rata 3000 – 4000 pengunjung setiap harinya. Pengunjung tidak hanya datang dari pulau Jawa, tetapi mereka datang dari seluruh Indonesia, mulai dari Lombok, NTT, Bali Kalimantan, Sulawesi dan daerah lain. Selama 3 hari penyelenggaraan hotel-hotel disekitar Jakarta Convention Center Jakarta selalu penuh.
Adapun seminar dan forum-forum diskusi dari berbagai institusi menyemarakkan penyelenggaraan pameran bidang industri peternakan dan pakan ternak. “Kami merasakan manfaat dari seminar-seminar itu yang menambah wawasan bidang peternakan baik dibidang kesehatan hewan maupun bidang lainnya yang terkait dengan kemajuan teknologi peternakan,” kata Fuji Kumala Dewi SPt alumni Fapet IPB yang usai pameran langsung bergabung dengan Infovet sebagai Staf Pemasaran. Infovet memang juga merasakan betapa manfaat dari pameran tersebut
Adapun menyikapi maraknya pemberitaan gizi buruk di tanah air dan masukan dari beberapa Asosiasi maupun Organisasi dibidang industri peternakan, maka dalam penyelenggaraan Indo Livestock keempat tahun ini pun diangkat kembali Kampanye Gizi melalui protein hewani, guna menyehatkan dan mencerdaskan Bangsa yang dilkaksanakan pada pembukaan serta penutupan Indolivestock 2008. Tema yang diangkat untuk kampanye ini adalah S(usu-segelas), D(aging-sepotong) dan T(elur-sebutir) disingkat menjadi SDT.
Didukung oleh Asosiasi dan Organisasi di bidang industri peternakan, Media Massa dan Pemerintah maka ditetapkan bahwa dalam penyelenggaraan Indo Livestock Expo & Forum Keempat tahun 2008, ditetapkan Program Pencanangan Program SDT Tahap Pertama yaitu Juli 2008 sampai dengan Juni 2010 menjadi “Gerakan Nasional Peningkatan Konsumsi Protein Hewani”.
Ada pula program penganugerahan “INDOLIVESTOCK AWARD” yang bertujuan memberikan apresiasi kepada perusahaan/perorangan yang berprestasi dan dapat dijadikan teladan bagi komunitas peternakan. Indolivestock Award 2008 yang dibagi 5 kategori masing-masing kepada perusahaan besar dan berskala kecil-menengah, dan 1 kategori khusus perorangan, menghasilkan peraih penghargaan:
a. Cipta Usaha Mandiri - Kabupaten Blitar, Jawa Timur
Cipta Piranti Satwa Nugraha
b. Pusat Koperasi Industri Susu Sekar Tanjung - Purwosari, Pasuruan
Adiguna Satwa Nugraha
c. Pusat Koperasi Unit Desa - Nusa Tenggara Timur
Praja Mukti Satwa Nugraha
d. Kampoeng Ternak - Ciputat
Widya Karta Satwa Nugraha
e. Letnan Jendral (Purn) Bustanil Arifin, SH
Adikarsa Nugraha
f. Ir. Erwin Soetirto
Adikarsa Nugraha
g. Oetari Soehardjono
Adikarsa Nugraha
h. Perdana Putra Chicken - Bogor
Nastiti Budidaya Satwa Nugraha
i. Gema Putra - Bandung
Nastiti Budidaya Satwa Nugraha

Semua kesuksesan tersebut diraih penyelenggara PT Napindo Media Ashatama bekerja sama dengan Allied Media Worldwide, sebuah perusahaan penyelenggara pameran yang berkedudukan di Singapura dan mempunyai jaringan bisnis di Malaysia, China, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, India dan Eropa.
Kesuksesan juga diraih PT Napindo Media Ashatama yang pada pameran itu bekerja sama dengan berbagai asosiasi dan organisasi profesi seperti Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak Indonesia (GPMT), Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional (PINSAR UN), Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (GAPPI), Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Asosiasi Pengusaha Perunggasan Asean (FAPP), Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI), Stakeholders, Masyarakat, LSM memberikan dukungan yang positif kepada pameran ini.
Dukungan juga diperoleh dari media publikasi terkemuka seperti Asian Poultry, Infovet, Trobos, Poultry Indonesia, eFeedlink, International Hatchery Practice, Agrina, dan lain lain.
Selamat berjaya Indolivestock. Selamat berjaya peternakan Indonesia! (Wan/ YR)

FOKUS 2007

[Edisi 150 Januari]
KEPASTIAN KEMENANGAN PERUNGGASAN 2007 VS PENYAKITNYA
Kilas Balik Perunggasan 2006 dan Prakiraan Situasi 2007
Krisis Pakan Diramalkan Hanya Sesaat
Perunggasan 2007 di Mata Peternak “Meski Suram tetap Ada Harapan”
Pesimis Perunggasan 2007 Tetapi Harus Tetap Optimis

[Edisi 151 Pebruari]
HUJAN, MIKOTOKSIN DAN FLU BURUNG
WASPADAI PENYAKIT PENCERNAAN DAN PERNAFASAN
ADAKAH PERAN KUCING DAN BABI PADA PENYEBARAN AI?
DOKTER HEWAN FLU BURUNG TIDAK DIPERHATIKAN KESELAMATAN HIDUPNYA
LEBIH KENAL H5N1 DAN PENULARANNYA
Hujan, Jamur, Amoniak dan Pakan Ternak
Jamur dan Flu Burung
Jamur Muncul Kapan Saja
KEMBALI KETATKAN 9 STRATEGI PENGENDALIAN AI
Penyakit Jamur Terkait Pakan Ternak
Penyimpanan Pakan
Saatnya Untuk Restrukturisasi dan Kompartementalisasi
SEJARAH DAN SIKAP MENGHADAPI PEMBIAKAN KASUS AI DI INDONESIA
Robohnya Peternakan Kami
GAGAH HADAPI AI JUGA DENGAN VAKSINASI

[Edisi 152 Maret]
YANG IMPOR PUN HARUS DIKONTROL
Antibiotik Growth Promotor VS Alternatif Growth Promotor
MEMACU PERTUMBUHAN TERNAK SECARA ANGGUN DAN BERMARTABAT
PEMANFAATAN ALTERNATIF GROWTH PROMOTOR
KLAIM PEMAKAIAN PROBIOTIK
MEMBEDAH PARA PEMACU PERTUMBUHAN
PRINSIP KEHATI-HATIAN PRA PRODUKSI PRODUK TERNAK YANG AMAN PERAN OBAT HEWAN DALAM KEAMANAN PRODUK TERNAK
Alternatif Pengganti Antibiotik Growth Promotant
MINYAK ATSIRI SEBAGAI SUPLEMEN DAN ALTERNATIF ANTIBIOTIK
SEMUA TENTANG HORMON

[Edisi 153 April]
PETERNAK, PENYAKIT BAKTERI DAN ANTIBIOTIK
OBAT HEWAN: SUDAH TEPATKAH PENGGUNAANNYA
MENYOAL ANTIBIOTIKA UNTUK TERNAK
DOSIS PENCEGAHAN TIDAK ADA?
PROGRAM YANG AMAN, BERMUTU DAN MANJUR
TENTUKAN SPEKTRUM ANTIBIOTIK SECARA TEPAT
PILIH SIDAL ATAU STATIK PAHAMI CARA KERJA ANTIBIOTIK
JANGAN SAMPAI TERJADI SUPER INFEKSI
Siaga Satu Serangan Coryza, Kolera dan Kolibasilosis
ZAT AKTIF, GENERIK, PATEN, OBAT HEWAN DAN MANUSIA

[Edisi 154 Mei]
AI TERBARU TERUS MEMBURU DAN DIBURU
KOLI SERANG MANUSIA DAN TERNAK
KEMBALI KE... BIOSECURITY!
BIOSECURITY, INVESTASI, ASURANSI DAN DESINFEKSI
BIOSECURITY HARUS MENYELURUH
KETIKA BIOSECURITY SELAMATKAN PETERNAKAN UNGGAS

[Edisi 155 Juni]
DARI LUMPUR LAPINDO SAMPAI PENYAKIT PENCERNAAN TERNAK
MEMILAH PENYAKIT PENCERNAAN PADA AYAM
DUKA LARA KOLERA AYAM
KOLI TAK KENAL MUSIM
JANGAN REMEHKAN KOKSI
DIARE PADA SAPI AKIBAT INFEKSI VIRUS DAN PROTOZOA
PAKAN DAN PENYAKIT PENCERNAAN
MANAJEMEN YANG BAIK: SEPERTI APA?
Waspada Kolera Merajalela

[Edisi 156 Juli]
Penyakit Pernafasan Ternak Ada Apa?
PENCEGAHAN DAN IDENTIFIKASI PENYAKIT PERNAFASAN PADA PETERNAKAN AYAM PETELUR
CRD, Kasus Penyakit Pernafasan Yang Tidak Pernah Tuntas
FAKTA LAPANGAN: AYAM POTONG PUN KINI RENTAN DENGAN AI
RESIKO MANAJEMEN PEMELIHARAAN JELEK
KEBIJAKAN vs KONDISI LAPANGAN
STATUS PALING MUTAKHIR PENYAKIT PERNAFASAN AVIAN INFLUENZA

[Edisi 157 Agustus]
BEBERAPA KAJIAN DAN AKSI (Yang Tetap) MENDESAK
MENGINGAT VIRUS INFLUENZA
FAKTA LAPANGAN: AYAM POTONG PUN KINI RENTAN DENGAN AI
SELEKSI BENIH VIRUS AI UNTUK VAKSINASI
Penyakit Viral Menapaki Jejak Ivanovsky
AI di DKI JAKARTA

[Edisi 158 September]
Lahirnya Ilmu Gangguan Kekebalan
Berputar-putar Soal Ketahanan Tubuh Ayam:Penyakit Avian Influenza Syarat Beban Kepentingan
SECUIL IHWAL GEN UNTUK KETAHANAN TERNAK BEBAS AI
GUMBORO, VAKSIN DAN KEKEBALAN
VAKSINASI, REAKSINYA DAN NUKLIR Untuk Ketahanan Tubuh Ternak
Sekali Lagi: DIAGNOSA YANG TEPAT
Ketika Ditemukan Kasus Flu Burung pada Manusia Pertama di Bali

[Edisi 159 Oktober]
Penyakit Parasit Itu Berbahaya Mengatasinya Sangatlah Mulia
SEBUAH TEROBOSAN KASUS MYASIS
PARASIT LALAT
Jurus Akademik Menguasai Ilmu Serangga dan Penyakitnya
Penyakit Protozoa Bukan Dusta
Ketika Ternak (Jangan) Diserang Cacing
Kasus Cacingan Pada Ayam
Kasus Cacingan Pada Ruminansia Sapi, Kambing, Domba dan Rusa
Bentuk Ketiga Cacing Pita Taenia Pada Babi
Berbagai Metode Pengobatan Penyakit Parasitik

[Edisi 160 November]
KIAT PETERNAK MENGGENJOT PRODUKTIVITAS YANG PAS
MEMBUAT OBAT HEWAN YANG BAIK
MENGUJI MUTU OBAT HEWAN
OBAT, VAKSIN DAN PUSLIT FLU BURUNG UNAIR
HARGA NOMOR SATU, KUALITAS NOMOR SEKIAN?
Broiler, Layer, Bisnis Obat dan OTT
OBAT HEWAN DAN KARANTINA
OBAT HEWAN DAN OTONOMI DAERAH
Pintar-Pintar Pilih Antibiotik
Flu Burung, Hewan Besar dan Obat Hewan
Obat Hewan, Otoda dan RPH Unggas
Lawan Flu Burung, Telur dan Obat Ilegal
Tingkatkan Produktivitas dengan Obat Hewan yang Tepat
Antibiotik Bukan Obat Ajaib?
Pasar Membaik, Flu Burung, Obat dan Retribusi

[Edisi 161 Desember]
Perunggasan Belum Memikat di Pasar Modal?
Deptan: Prospek dan Arah Pengembangan Perunggasan
Avian Influenza dan Naiknya Harga Pakan Warnai Perunggasan 2008
5 GENOTIPE FLU BURUNG DAN EKOSISTEM KESEHATAN
Rekomendasi Seminar Perunggasan ke-3: Perunggasan 2008, Saatnya Stakeholder Bersatu
Industri Obat Unggas 2008 Tumbuh 7,1%
Pakan Ternak Tumbuh 7% Pertahun Capai 8,13 Juta Ton
Broiler Naik 8,7 Persen dan Layer Meningkat 7,7 Persen

Mimbar Edisi 169 Agustus 2008

Penguatan Menghadapi Menguatnya Tantangan
Drh Heri Setiawan
Tantangan berat dihadapi industri dan bisnis perunggasan dalam paruh waktu kedua tahun 2008. Harga pakan broiler, bisa jadi, menembus angka psikologis : lima ribuan per kilogramnya. Bila hal itu benar-benar terjadi berarti harga pokok produksi ayam pedaging sekitar Rp. 12.250,00 setiap kilogram berat hidup. Maknanya, pembeli harus mengeluarkan uang dua puluh ribuan dari koceknya (mungkin masih ada kembaliannya, hanya beberapa ratus rupiah saja) guna mendapatkan 1 ekor karkas ayam.
Pada saat bersamaan harga bahan kebutuhan pokok lainnya juga bertengger lebih ke atas. Belum lagi pengeluaran dana besar guna memasuki tahun ajaran baru. Khususnya bagi orang tua yang putra/putrinya diterima di perguruan tinggi. Harus tersedia dana (jutaan rupiah) untuk membayar biaya yang berkaitan langsung dengan operasional perguruan tinggi tersebut. Apa saja ? Uang kuliah semester pertama, sumbangan pembangunan, biaya pengganti perlengkapan dan iuran-iuran lainnya. Selain itu, ada tren baru di kalangan mahasiswa baru. Kendaraan baru dan komputer jinjing yang gres pula. Jutaan lagi harus disediakan guna memenuhi kebutuhan itu agar tidak termasuk kasta mahasiswa jadul (jaman dulu).
Secara umum, daya beli masyarakat menurun karena tak ada lagi atau sedikit saja uang yang tersisa. Membeli daging ayam menjadi pilihan yang kesekian. Boleh jadi, nantinya, untuk menikmati masakan berbahan baku daging ayam akan berubah menjadi suatu angan-angan. Harga daging ayam tak terjangkau. Broiler siap potong, menumpuk di tempat-tempat pemotongan. Umur ayam yang dipanen makin mundur, karena pengambilan oleh pengepul/bakul berkurang. Peternak merugi. Animo beternakpun menurun. Populasi ayam melorot. Omset penjualan sapronak menyusut. Tak ayal lagi, situasi kompetisi semakin mencuat. Artinya, tantangan yang harus ditundukkan oleh para pelaku bisnis ini bertambah berat.
Dampak selanjutnya adalah, hantaman stres yang semakin bertubi-tubi menyerang mental para field force. Target penjualan yang sudah disusun dan disepakati bersama di awal tahun, tidak dengan serta merta dapat dilakukan revisi. Apalagi hanya diratapi. Diperlukan upaya-upaya khusus untuk bisa tetap eksis. Agar semangat bertempur dalam menghadapi kompetisi tidak meredup, dibutuhkan pencerahan. Supaya mental tidak lembek dan rontok didera badai stres akibat menguatnya tantangan, dibutuhkan penguatan.
Kedua hal itulah yang dilakukan divisi pemasaran perusahaan tempat saya bekerja. Saat itu dilaksanakan pertemuan rutin tengah tahunan. Dalam pertemuan yang digelar dua hari tersebut, materi yang disampaikan kepada para tenaga lapangan meliputi aspek teknis dan non teknis. Ada dua materi teknis yaitu mengenai pakan dan virus Avian Influenza (AI). Pemateri tentang pakan adalah Departemen Teknologi Pakan dan Departemen Produk dari Feedmill. Sedangkan pakar dan peneliti dari laboratorium Bio Security Level 3 Tropical Disease Center Universitas Airlangga membahas tentang virus AI.
Saya mendapat amanah untuk memberikan materi yang bersifat non teknis. Hal ini memang sudah menjadi tradisi dalam pertemuan rutin divisi pemasaran. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, biasanya dalam situasi genting tingkat kepercayaan diri menjadi sangat penting. Dalam kondisi gawat dibutuhkan rasa percaya diri (PD) yang kuat. Oleh karenanya, dalam momen pertemuan tengah tahunan yang diadakan awal bulan Juli itu saya sengaja mengambil tema ”Percaya Diri Untuk Meraih Prestasi”
Sebelum memaparkannya secara rinci, saya mengadakan uji tingkat kepercayaan diri. Kepada setiap peserta pertemuan (armada pemasaran) saya bagikan kuisener. Ada sejumlah pernyataan yang harus dijawab secara jujur berdasarkan pikiran/perasaan masing-masing saat menghadapi situasi sesuai dengan pernyataan tersebut. Dilakukan skoring terhadap seluruh jawaban masing-masing peserta. Dengan metode penilaian tertentu, didapatkan hasil bahwa sebagian besar peserta mempunyai derajad kepercayaan diri belum optimal. Konsekuensinya, harus dilakukan optimalisasi. Wajib diberikan penguatan agar tetap tegar menghadapi setiap tantangan. Dari manapun datangnya, apapun bentuknya dan dimanapun berada.
Beberapa hal krusial yang saya bahas saat itu antara lain adalah : posisi kepercayaan diri yang merupakan titik sentral dalam kepribadian seseorang; perbedaan karakteristik antara individu penuh PD dengan yang kurang PD; dan faktor-faktor yang berperan besar dalam perkembangan rasa PD sejak usia dini. Dan, yang paling penting adalah bagaimana strategi dan kiat-kiat untuk memperkuat kepercayaan diri. Peserta pertemuan sempat terkaget-kaget saat saya menampilkan cuplikan rekaman video dari beberapa tenaga pemasar yang tampil untuk berbagi pengalaman keberhasilan. (Secara diam-diam saya memang merekam momen itu). Cuplikan rekaman itulah yang saya jadikan contoh faktual. Komentar-komentar positif, konstruktif dan apresiatif sengaja saya berikan guna penguatan rasa PD bagi yang bersangkutan serta seluruh armada pemasaran yang hadir. Kesimpulannya : kepercayaan diri itu maha penting, dinamis dan membutuhkan seni tersendiri untuk mengelola serta mengoptimalkannya.

Editorial Infovet Edisi 169 Agustus 2008

DIRGAHAYU INDONESIA

Dalam bulan Agustus 2008 ini kita semua sebagai suatu bangsa bersyukur atas karunia Tuhan telah 63 tahun menghirup udara kemerdekaan. Kita juga menyadari berbagai tantangan yang masih harus dihadapi dan diatasi.
Dengan kelimpahan anugerah berupa bumi dan air yang terbentang luas ini apakah kita mampu menjaga dan mendayagunakannya bagi kesejahteraan masyarakat. Bulan Agustus ini juga di bidang peternakan dan kedokteran hewan mempunyai makna khusus, kalau menoleh kebelakang pada bulan Agustus 2003 kita kenal sebagai awal terjadinya kasus AI (Avian Influenza) di Indonesia. Dengan demikian kita telah “hidup bersama” AI selama 5 tahun. Pada waktu terjadinya wabah dengan kerugian ekonomi yang tinggi serta liputan media massa yang dengan gencarnya menyampaikan bahwa AI yang merupakan penyakit zoonosis serta kemungkinan resiko yang akan timbul bagi kesehatan masyarakat, benar-benar menimbulkan kepanikan yang berdampak pada ketakutan mengkonsumsi produk unggas yang mengakibatkan makin terpuruknya industri perunggasan. Dengan berjalannya waktu dan masyarakat juga dapat berpikir secara kritis maka kita harapkan hal-hal tersebut tidak akan terjadi lagi.
Dalam menghadapi penyakit AI ini kita harus tetap waspada dan mengutamakan tindakan preventif dengan biosecurity yang maksimal serta program vaksinasi yang optimal. Kita harus tetap optimis karena produk unggas akan terus diperlukan masyarakat dalam jumlah yang makin meningkat.
Namun demikian dengan meningkatnya harga bahan baku pakan industri perunggasan di Indonesia harus dapat beroperasi secara efisien untuk mampu bersaing dengan produk sejenis dari luar negeri yang terus berupaya menembus pasar di Indonesia. Dengan demikian kita dapat terus bertahan untuk menangkal derasnya arus produk pangan dari luar negeri. Upaya ini juga merupakan salah satu cara untuk mengisi kemerdekaan yang telah kita capai.

SURAT PEMBACA

Pembaca setia Infovet yang terbit sejak 1992 adalah masyarakat peternakan kesehatan hewan pada berbagai profesi dan pekerjaan, peternak, perusahaan sarana produksi peternakan (bibit, pakan, obat, peralatan, dan lain-lain), akademisi, peneliti, pemerintah, pengusaha, dan masih banyak lagi.

Tuliskanlah masukan dan komentar Anda dalam Rubrik Surat Pembaca ini. Tulisan Anda akan kami muat dalam Surat Pembaca Majalah Infovet edisi cetak yang terbit setiap bulan.

Kiranya bermanfaat untuk Anda!

Abstract Infovet Agustus 2007


kembali ke infovet


Latest Development of AI

Avian Influenza (AI) caused by AI virus in poultry industry considered as strategic disease. Office Internationale des Epizooties (OIE) classified this disease in List A, since AI is zoonotic and technically and economically cause high economic loss. Highly Pathogenic AI, first identified in Central Java in August 2003 and spread to many different parts of country probably through the movement of poultry.
Some 10.5 million chicken were reportedly lost in 2004 due to disease and culling. Vaccination against HPAI was done early in 2004 and continues to use vaccine in infected zones throughout the country.
To coordinate the control of AI, Campaign Management Unit (CMU) within the Ministry of Agriculture was established in 2006, as guidance in controlling the disease in the field, Standard Operation and Procedure (SOP) had been distributed. Establishment of such institutions in regional and provincial level is being prepared in the provinces, Local Disease Control Center (LDCC) is already founded as projects.
According to the data of (CMU) that last development of HPAI was detected in 122 districts of 444 districts in first quarter 2007. Incidence of HPAI varies across the country
- Endemic in Java, Sumatera and South Sulawesi
- Lower incidence in eastern provinces
- Both commercial and village poultry
- Chickens, quails and ducks affected.
The first human cases of AI was reported in June 2005, latest figure shown that 81 fatalities from 102 cases.

Problem of Pig Farming

Problem of pig farming in Indonesia is very complicated, since the difficulties caused by various factors. To study and analyze the problem, National Seminar entitled “Pig Trading, Movement, Problem and Solution”, sponsored by Indonesia Monogastric Association (AMI) in cooperation with GITA Organizer, had been conducted in Solo on June 27th, 2007. The seminar was attended by pig farmers, farm input suppliers, universities, related institutions of local and central government, and associations in Central Java.
According to Hadi Santosa, Head of Indonesia Veterinary Drug Association (ASOHI) Central Java Chapter that the main problem on pig farming is legal aspect, all stakeholders should concern to the certainty for sustainable pig farming.
Similar opinion was also informed by Kusmaningsih MP, Head of Provincial Livestock Services that constrain for development of pig farming in Central Java is social and religion aspects, since majority of population is Moslem will be resistant to the existence of pig farming.
Location of pig farming formerly remote from people housing and in line with increasing population, based on hygienic consideration the people prefer to close pig farming. The other problem was reminded by Rachmawati Siswadi, President of AMI, that serious problem is poor quality of breed, caused by inbreeding. The prospect of pig farming really promises, since Indonesia as FMD country has opportunity to export the products.

Strengthening Dairy Industry

Supply of milk from domestic product is not sufficient to meet the whole demand causing dependency on imported milk is still high. To strengthen dairy industry in Indonesia is not so difficult, since dairy production center are mainly in West Java and East Java.
Strategic effort to increase productivity of dairy cow should be through breed improvement. Max Dowell, genetician of Cornell University in Holstein Seminar in Padjajaran University, Bandung, suggested that the most suitable dairy cattle for tropical country such as Indonesia is 75% pure line Holstein blood and 25% indigenous blood.
The advantage of this hybrid cow is ability adapting to hot climate, high humidity, resistant to insect and parasites. The other superiority is capability in digesting tropical forages contains high fiber and lignin.

Advantage of Sumbawa Horse Milk

Milk of horse in Sumbawa, West Nusa Tenggara Province is characterized by the stability as not broken or in clod without preservatives. According to Dr Diana Hermawati, former Director of Livestock Product Assay Laboratory, this indicated that the milk contain substance which able to hamper development of bacteria.
In her theses entitled “Study on Activity and Characterization of Antimicrobes in Sumbawa Horse Milk”, concluded natural antimicrobe compound having the role to stability of milk.
Guidance and improvement to the local farmers had been provided more than 5 years, in the aspect of sanitation, hygiene and packaging to maintain the quality. Advantage of Sumbawa horse milk compared with dairy and goat milk is lower content of fat, protein and ash and higher content of lactose, water and the presence of Galactoferin as natural antimicrobe.

ARTIKEL TERPOPULER

ARTIKEL TERBARU

BENARKAH AYAM BROILER DISUNTIK HORMON?


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer