EDISI AGUSTUS 2018

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Pemasaran :
Andi Irhandi (0815-9186-707)

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Perlu Kiriman Artikel Via Email? Isi email Anda di bawah ini

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

“Gelatin”, Produk Peternakan yang (juga) masih Impor

On 4:02:00 PM

Indonesia memiliki potensi besar memproduksi gelatin dalam negeri.
(Sumber: Daily Health Post)
Perubahan zaman yang semakin menuju modern menjadikan perubahan lifestyle yang sangat cepat. Banyak produk makanan menggunakan gelatin sebagai bahan tambahan. Sebuah ironi dengan kebutuhan gelatin semakin hari semakin meningkat, namun pemenuhan gelatin dalam negeri masih tergantung dari impor.

Indonesia mengimpor sekitar 2.000-3.000 ton gelatin per tahun. Wajar bila kebutuhan gelatin tinggi melihat keunikan dan sifat fungsionalnya yang luas untuk aplikasi dalam berbagai industri dan juga untuk meningkatkan kandungan protein pada bahan pangan. Namun, masyarakat Indonesia tidak mengerti mengenai produk maupun manfaat gelatin. Manfaat gelatin dalam kehidupan sehari hari sangat banyak. Untuk industri pangan digunakan sebagai bahan pengikat (binder agent), penstabil (stabilizer), pembentuk gel (gelling agent), perekat (adhesive), pengikat viskositas (viskositas agent) dan pengemulsi (emulsifier).

Penduduk Indonesia mayoritas adalah muslim, sehingga masalah kehalalan gelatin menjadi utama. Pertimbangannya asal tulang atau kulit yang digunakan sebagai bahan baku gelatin sering tidak dicantumkan sumber jenis hewan ternak yang digunakan. Di luar negeri tidak dapat dipastikan bahan baku yang digunakan, gelatin dapat terbuat dari tulang dan kulit babi, serta hewan-hewan lainnya yang pemotongannya tidak menggunakan syariat islam. Tidak dapat dipungkiri bahwa pembuatan gelatin dari babi memang jauh lebih murah dibandingkan dengan gelatin yang berbahan baku kulit atau tulang ternak lainnya. Kontribusi gelatin dunia dipasok dari 44% gelatin yang berasal dari babi dan 56% berasal dari tulang dan kulit sapi. Hal inilah yang menimbulkan keraguan kehalalan pada masyarakat Indonesia bila pemenuhan gelatin masih tergantung impor. Ketergantungan akan gelatin impor harus dicarikan solusi alternatif, salah satu solusinya yaitu dengan memanfaatkan bahan baku lokal sebagai bahan baku gelatin.

Cita-cita bangsa Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang tertuang pada UUD 1945 dan UU No. 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial. Selain itu, demi mewujudkan ketahanan pangan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 68/2002 tentang Ketahanan Pangan, menyebutkan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketergantungan akan impor harus ditanggulangi agar tersedianya pangan yang cukup dan aman bagi masyarakat Indonesia.

Gelatin dari hasil ikutan pemotongan ternak
sapi dan unggas. (Foto: Antara)
Gelatin merupakan protein yang didapat dari proses pengolahan kolagen dari kulit, jaringan ikat dan tulang hasil ikutan pemotongan hewan. Sampai saat ini bahan baku yang banyak digunakan untuk produksi industri gelatin adalah tulang sapi, kulit sapi dan kulit babi. Sumber bahan baku gelatin yang saat ini telah banyak diteliti dan dilaporkan antara lain berasal dari tulang dan kulit ikan, tulang domba serta kaki (ceker) ayam. Pemotongan ternak di Indonesia cukup besar, dengan jumlah ternak yang dipotong setiap tahunnya sebesar 1.207.170 ekor sapi, 34.960 ekor kerbau, 212.589 ekor kambing dan 99.987 ekor domba (BPS, 2015).

Pemenuhan kebutuhan gelatin dalam negeri dengan melihat potensi kulit yang ada akan tercukupi. Dengan asumsi bobot potong 350 kg (sapi), 360 kg (kerbau), 30 kg (domba dan kambing). Dengan rata-rata persentase kulit yang telah diketahui pada masing-masing ternak, maka kulit yang akan dihasilkan sebesar 35.321.749,2 kg untuk sapi, 1.341.624,96 kg untuk kerbau, 398.604,37 kg untuk kambing dan 259.766,226 kg untuk domba. Karena rendemen pada setiap jenis ternak telah diketahui maka Indonesia memiliki potensi produksi gelatin sebesar 5.495.697,6 kg, bila konversi dalam rupiah akan mencapai nilai Rp 549.569.760.000, asumsi harga per kg Rp 100.000. Hanya perlu memerlukan 70% dari setiap jenis ternak yang disembelih telah memenuhi kebutuhan nasional apabila 100% produksi kulit digunakan untuk produksi gelatin. Bahan baku tersebut dapat bertambah apabila dapat memanfaatkan ternak lain beserta hasil ikutan lainnya seperti tulang.

Dengan memanfaatkan potensi hasil ikutan ternak menjadi bahan baku produksi gelatin harusnya dapat dilakukan karena pertimbangan untuk mengurangi impor yang dapat mengakibatkan ketergantungan, serta menghilangkan keraguan kehalalan di masyarakat. Di sisi lain, mayoritas jumlah ternak yang dipotong setiap tahunnya tinggi dan menghasilkan hasil ikutan pemotongan ternak yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pengolahan hasil ikutan menjadi gelatin dapat digunakan sebagai alternatif utama dalam mengoptimalkan hasil ikutan pemotongan ternak sebagai upaya memenuhi kebutuhan gelatin dalam negeri dengan melihat potensi bahan baku berupa ternak nasional. Karena itu tak heran jika Indonesia masih memiliki potensi besar untuk memproduksi gelatin dalam negeri. ***

Rifqi Dhiemas Aji, S.Pt
Konsultan Peternakan, PT Natural Nusantara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer