Friday, April 15, 2016

Peternak dan Feedloter Tolak Kebijakan Impor Daging

Populasi sapi di Lampung memang relatif besar. Provinsi paling selatan dari Sumatera ini adalah sentra sapi potong Indonesia di samping Jawa Barat, Jawa Timur dan NTT. Di Lampung, selain peternak lokal juga banyak perusahaan besar sapi potong yang melakukan penggemukan sapi dengan metode feedlot (karena itu perusahaannya biasa disebut feedloter).
Didiek Purwanto, Direktur Feedloter PT KASA
PT Great Giant Livestock Co (GGLC), salah satu feedlot besar di Lampung bisa memelihara sampai 30.000 ekor sapi potong dalam satu periode. Perusahaan lainnya –ada belasan feedloters di Lampung—berkisar antara 2.500  sampai belasan ribu ekor. Antara lain Santori (10.000), Juang Jaya (20.000), Elders Indonesia (8.000), Andini (4.000) Indo Prima Beef (2.500), dan PT KASA (3.000).
Diperkirakan populasi sapi di Lampung tidak kurang dari 400 ribu ekor. Jika dikonversi menjadi daging, bisa menghasilkan sekitar 150 ribu ton daging. Sekitar 25 persen dari kebutuhan daging nasional yang mencapai 675 ribu ton daging sapi per tahun.
Lampung potensial menjadi sentra sapi potong karena berbagai kelebihan. Mulai dari keberadaan lahan yang masih luas, ketersediaan pakan (limbah industri kelapa sawit dan singkong yang banyak di Lampung), hingga lokasi strategis yang relatif dekat dengan Jabodetabek. Seperti diketahui 60 persen konsumsi daging nasional ada di Jabodetabek.
Itulah alasan mengapa banyak feedlot di Lampung. Itu juga alasannya, mengapa banyak warga setempat beternak sapi potong pula. Di pihak lain, para pengusaha di bidang ternak sapi juga tetap memiliki semangat untuk mengembangkan usahanya. Meski para feedloter itu sempat disorot karena dianggap melakukan “penimbunan” sapi serta dibingungkan dengan kebijakan pemerintah soal sapi potong dan juga daging sapi, mereka siap maju terus, dengan segala kendala yang ada. 
“Kalau mau enak ya memang main impor daging. Risiko lebih kecil dan margin bisa lebih besar. Tapi, bagi saya pribadi berat rasanya. Tidak ada nilai tambah. Dengan  feedlot, meski sapinya juga impor tapi kita bisa ikut memberi nilai tambah,” kata Didiek Purwanto, Direktur PT KASA saat ditemui Infovet pertengahan Februari lalu.
Nilai tambah yang dimaksud adalah bisa membuka lapangan pekerjaan di feedlot. Juga menggerakkan usaha lain mulai dari sektor angkutan sapi hidup, usaha penyediaan pakan, hingga ke rumah pemotongan hewan. “Lagi pula, dengan ketersediaan lahan dan pakan berlimpah seperti ini masak kita milih cuma impor daging,” kata Didiek lagi.
Ditempat terpisah Haji Mat Aji perwakilan peternak sapi potong lokal juga ikut gagal paham dengan pilihan kebijakan impor daging yang terus diutamakan. Kebijakan yang malah membuat peternak lokal “menangis” karena daging produksi mereka dikalahkan daging impor.
Kebijakan itu juga memunculkan pertanyaan: daripada impor daging dari Australia, India dan rencananya Meksiko, mengapa negara tidak hadir untuk mendukung para peternak lokal? Daripada mencurigai para feedloter, mengapa negara malah tidak memberi insentif agar mereka meningkatkan kapasitas produksinya?
Semoga, impor daging jadi pilihan yang terakhir. Benar-benar terakhir untuk segera diakhiri. Sehingga tidak lagi menimbulkan kekecewaan dari para pengusaha sapi nasional maupun peternak lokal. (wan)  

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template