Monday, March 7, 2016

Mengungkap Kenaikan Fantastis Harga Broiler dan Telur

Membaca situasi pasar komoditas broiler dan telur ayam ras tiga pekan terakhir di tahun 2016 ini, sepertinya tren kenaikan harga sudah pada titik puncak pencapaian harga tertinggi dan di sisi lain "kegusaran" pelaku pasar di tingkat pengecer sudah mulai mengemuka di berbagai media.
Kegusaran para pedagang ayam terlihat dari berbagai berita di media cetak maupun elektronik  yang memuat  berita tentang keluhan pedagang ayam yang mengalami sepi pembeli dengan statemen "Dijual murah rugi, dijual mahal tak ada pembeli". Kemunculan berita ini, agaknya juga mulai menjadi perhatian pemerintah, sehingga turut mengusik KPPU dan Kementerian Perdagangan RI untuk menelaah persoalan ini lebih mendalam. Apa sesungguhnya yang menjadi faktor penyebabnya harga ayam dan telur masih tinggi? Isu adanya potensi pelanggaran terhadap Undang-undang Persaingan Usaha atau UU lainnyapun sudah mulai berhembus.
Tanpa bermaksud membahas isu tersebut, tulisan ini hanya berusaha membuka cakrawala dibalik kenaikan "fenomenal" harga broiler dan telur ayam ras di tingkat peternak ini yang berujung pada kenaikan daging ayam dan telur di tingkat pengecer.
Merunut situasi  pasar broiler dan telur tiga pekan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa kenaikan harga broiler dan telur yang fantastis ini merupakan momen lanjutan dari serangkai berbagai kisah di pasar broiler dan telur semenjak jelang libur akhir tahun lalu. Dimana  menurut catatan penulis, dari sisi permintaan, menjelang libur panjang sekolah 20 Desember 2015 lalu harga broiler hidup dan telur menemukan laju kenaikan yang sangat nyata. Momen libur panjang akhir tahun lalu yang diwarnai kemacetan fatal di jalur arah keluar kota Jakarta, sepertinya mampu mendorong permintaan broiler dan telur hingga 5 kali lipat. "Permintaan sangat kuat, saya perkirakan sampai lima kali lipat dari biasanya," ungkap Muhlis pelaku pasar broiler di Yogyakarta.
Kuatnya permintaan saat liburan akhir tahun lalu terjadi karena bertemunya beberapa momen penting yakni Libur Panjang Sekolah,Hari Raya Natal dan bulan Maulid yang secara tradisi menjadi bulan yang baik bagi umat Muslim di Indonesia untuk menyelenggarakan hajatan keluarga. Maka menjadi tidak heran permintaan broiler dan telur menguat tinggi, sehingga mendorong kenaikan harga broiler dan telur masing-masing berkisar 27 persen. Hal yang sepertinya tidak terjadi saat lebaran tahun lalu.

Pasar Broiler
Hal yang tak disangka-sangka para pelaku pasar adalah pasca libur akhir tahun lalu, ternyata harga broiler hidup tidak mengalami penurunan. Justru terjadi sebaliknya, harga broiler malah terus naik. Bahkan menurut catatan penulis, harga broiler di kawasan Jabodetabek terpantau dengan harga tertinggi mencapai Rp 23.000/kg dan secara nasional harga tertinggi dicapai di daerah wilayah-wilayah Kalimantan yakni sebesar Rp 26.000/kg. Apa sesungguhnya yang terjadi?
Tinjauan dari sisi suplai ternyata menjawab pertanyaan itu. Menurut berbagai narasumber, penulis mendapati fakta yang  sama di berbagai daerah, yakni adanya penurunan suplai yang sangat nyata. Menurut Pinsar Wilayah Sumatera Selatan ada gangguan di produksi. "Berat ayam umur 2 minggu hanya 250 gram, dan 3 minggu hanya 500 gram," ungkap Ismaidi. Turunnya performa produksi broiler juga dialami peternak di Bali, Jawa Timur dan hampir semua wilayah.
Menurut Singgih Januratmoko - Ketua Pinsar Indonesi turunnya performa produksi karena kualitas pakan yang menurun. "Ini dikarenakan dampak kelangkaan jagung yang dialami pabrikan. Kalaupun ada jagung dengan kualitas rendah dan berharga mahal," jelasnya. Situasi ini diperparah dengan dampak el nino yang menyebabkan sebagian besar farm mengalami kesulitan air. Menilik situasi ini menjadi wajar, harga broiler mengalami kenaikan tertinggi akibat suplai yang tidak mencukupi. Namun demikan, saat tulisan ini dibuat, harga broiler hidup di beberapa wilayah sudah mulai menurun. Di Kalteng dan Kalsel bahkan sudah tertekan di bawah harga HPP nya yakni di harga Rp 13.500-15.000/kg. Menurut sumber penulis, penurunan disebabkan sepinya permintaan. Masa tanggung bulan diduga menyebakan daya serap pasar broiler menurun drastis.

Telur Ayam Ras
Kondisi pasar telur ayam ras sedikit berbeda dengan dengan broiler. Memasuki awal tahun 2016 ini, harga telur tercatat mulai mengalami tekanan. Penulis mencatat di pasar telur Jabodetabek, harga tertinggi ex-farm telur dicapai sebelum akhir tahun lalu yakni Rp 23.000/kg (28/12). Namun memasuki awal tahun hingga tulisan ini dibuat harga telur ex-farm sudah menurun di Rp 21.300/kg(20/1). Sementara di sentra produksi telur Blitar dan Solo tercatat Rp 19.800/kg (20/1).
Secara umum suplai telur nasional sangat cukup dan pada titik keseimbangan yang bagus dengan permintaan untuk membentuk harga yang baik bagi kelangsungan usaha peternakan. Gangguan-gangguan selama ini yang menyebabkan koreksi terhadap harga telur adalah masuknya telur breeding farm yang tidak ditetaskan masuk ke pasar komersil. Namun satu yang mendorong kuat harga telur beberapa waktu lalu merangkak tinggi adalah kelangkaan jagung yang membuat ongkos produksi telur naik 20 persen. Tak pelak, kondisi ni membuat peternak menjerit, khususnya yang melakukan self mixing. Untuk itu, peternak layer banyak berharap ke pemerintah, ke depan impor jagung yang dibatasi oleh pemerintah segera diperlonggar, sehingga jagung segera mudah didapat dan bisa menurunkan ongkos produksinya. (Samhadi) 

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template