Tuesday, January 26, 2016

PASAR PREMIKS TERUS NAIK

Mencermati perkembangan bisnis obat hewan tahun 2015 dan dikompilasikan dengan data terakhir yang diterbitkan dalam buku Indeks Obat Hewan Indonesia (IOHI) 2015 ada hal menarik yang patut disimak. Dimana pertumbuhan obat hewan ditengah naik turunnya kondisi bisnis unggas Tanah Air tetap tumbuh
Sebagaimana pernah diberitakan Infovet edisi Desember 2015 yang mengutip pernyataan Ketua Umum ASOHI Drh Irawati Fari pada Seminar Nasional Bisnis Peternakan 2015, secara rinci ia menjelaskan perkembangan pasar obat hewan 2015. Pertumbuhan pasar untuk produk Biological & Pharmaceutical untuk unggas mencapai Rp 1.8 trilyun, Biological & Pharmaceutical untuk babi dan sapi mencapai Rp 223 milyar, serta untuk pasar Premix  tumbuh mencapai Rp. 1.8 trilyun. Sehingga jika di total seluruh pasar obat hewan pertumbuhannya di tahun 2015 mencapai Rp 3.8 trilyun.
Selain itu, selama dua tahun terakhir berdasarkan data yang dihimpun dari IOHI terbitan 2013 dan terbitan terbaru tahun 2015 terdapat penambahan produk obat hewan dari berbagai sediaan yang diregistrasi. Terdapat peningkatan sebanyak 95 merek produk dari 2.919 (2013) menjadi 3.014 (tahun 2015) atau naik sebesar 3,3 %.

 Suasana di sebuah pabrik premiks terbesar di Asia Tenggara berstandar internasional

IOHI adalah buku resmi terbitan ASOHI dan GitaPustaka yang berisi daftar uraian produk obat hewan yang teregistrasi di Kementerian Pertanian. Dari IOHI terbitan terbaru, terjadi perkembangan yang cukup signifikan di obat hewan kategori Permiks dimana terjadi kenaikan jumlah registrasi sebanyak 119  merek atau terjadi kenaikan sebesar 18% dari 658 merek (2013) menjadi 777 merek (2015). Dimana 82 produk diantaranya termasuk golongan feed additive dan 37 produk termasuk golongan feed suplement.
Berdasarkan data populasi unggas tahun 2015, pertumbuhan pasar premiks bisa dilihat dari Tabel Pasar Premiks. Secara total nilai bisnis premiks mencapai 1,8 trilyun per tahun untuk semua jenis ternak. Sebuah nilai yang fantastis yang mungkin menjadi penyebab banyak perusahaan obat hewan berbondong-bondong meregistrasikan produk feed additive dan feed suplement-nya.
Terlebih dengan sulitnya mendapatkan jagung sebagai bahan baku pakan saat ini pasca pembatasan masuknya jagung impor. Pemakaian premiks sebagai campuran untuk menyiasati penggunaan bahan paku alternatif menjadi tak terelakkan bagi industri pakan ternak. 
Dari data IOHI 2015 juga bisa dilihat untuk beberapa kategori produk terjadi penurunan jumlah produk yang diregistrasi. Kemungkinan karena ada produk teregistrasi yang tidak diperpanjang oleh perusahaan pemegang merek. 
Menurut beberapa pelaku usaha obat hewan yang dimintai pendapat oleh Infovet namun enggan diungkap identitasnya menjelaskan, jumlah obat hewan yang diregistrasi sebenarnya lebih banyak lagi. Namun akibat persyaratan yang semakin berbelit menyebabkan proses registrasi produk mengalami keterlambatan lebih dari satu tahun per produk. (bams/wan) 


0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template