Friday, December 4, 2015

JAPFA EKSPOR INDUK AYAM KE MYANMAR

PT Japfa Comfeed Indonesia (JCI) pada Agustus ini telah mencapai kata sepakat untuk mengekspor Parent Stock Hatching Eggs (PS HE) atau telur tetas bakal induk broiler ke Myanmar. Hal tersebut diungkapkan Executive Vice President PT JCI Harwanto kepada Infovet saat jumpa pers usai acara pelepasan perdana ekspor telur tetas (hatching eggs) ke Myanmar yang dihadiri Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno pada Selasa, 6 Oktober 2015 di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. 
Menurutnya, PT JCI telah meraih kontrak ekspor 1,9 juta butir telur tetas untuk telur tetas bakal induk broiler ke Myanmar selama 2015-2017. Perusahaan berkode saham JPFA ini menargetkan nilai ekspor telur tetas ke Myanmar pada tahun ini US$ 34.471 dari 348.905 butir telur untuk tahap pertama.  
Harwanto menerangkan keseluruh PS HE (348.905 butir) itu akan menjadi sekitar 93.500 ekor PS betina. PS inilah yang kelak akan menjadi induk penghasil Final Stock (FS), yaitu ayam broiler komersial. 
Lebih lanjut, kata Harwanto, pengiriman tahun ini akan terbagi menjadi 3 pengapalan, yaitu pertengahan September, pertengahan Oktober, dan awal Desember. Ia menyebut nilai ekspor tahap pertama ini berkisar Rp 5,5 milyar. 
Selain tahap pertama tersebut, sejumlah komitmen telah disepakati. Untuk 2016, PT JCI akan mengekspor PS HE sebanyak 704.982 butir setara jumlah PS betina 195.500 ekor. Dan 2017 akan mengekspor PS HE sebanyak 808.329 butir setara jumlah PS betina 221.000 ekor. 
Harwanto mengaku tak ada alasan khusus menjadikan Myanmar sebagai target pasar bagi Japfa. Menurutnya, “Ini hanya soal kesepakatan bisnis. Potensi pasar di Myanmar cukup menggiurkan. Myanmar memiliki jumlah penduduk sekitar 70 juta jiwa sehingga kebutuhan daging ayam cukup signifikan. Selain itu biaya transportasi dari Indonesia ke Myanmar relatif murah.”
Sebelumnya delegasi Pemerintah Myanmar pada 30 Juni  2015 telah melakukan negosiasi dan menginspeksi Japfa dan peternakan penghasil PS HE nya. “Cukup sulit memang untuk menembus pasar negara tersebut. Hambatan yang muncul terkait dengan syarat dari Myanmar bahwa impor hanya bisa dilakukan dari negara yang sudah dinyatakan bebas flu burung. Akhirnya Myanmar bersedia mengimpor telur tetas untuk induk ayam broiler dari Tanah Air dengan melihat rekam jejak Indonesia dalam mengatasi flu burung. Kasus flu unggas di dalam negeri tercatat turun dari 2.751 kasus pada 2007 menjadi 56 kasus sampai dengan Mei tahun ini.” Jelas Harwanto. 
Hal ini dibenarkan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno yang pada kesempatan tersebut ikut melepas ekspor telur PS HE perdana PT JCI. Menurut Muladno, Kementerian Pertanian menginginkan pelaku industri perunggasan terus memperluas pasar ekspornya melihat fakta bahwa pasar telur tetas cukup potensial di Asia khususnya di Asia Tenggara. 
Muladno berpendapat, seluruh negara bisa menjadi target ekpor telur tetas asal Indonesia. Ia mencontohkan Laos, Kamboja dan Vietnam bisa juga menjadi pasar potensial. Perluasan pasar ekspor mampu mengatasi persoalan kelebihan suplai di dalam negeri. “Semua tergantung komunikasi yang dijalin,” pungkasnya. (wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template