Thursday, September 11, 2014

HARUSKAH PEMBATASAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI PAKAN?

Oleh :  Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja MSc. MAppl.

Di Eropa setelah pelarangan penggunaan AGP dilakukan, malah terjadi peningkatan penggunaan antiobitika untuk pengobatan dan juga dilaporkan ada tendensi bahwa penampilan produksi menurun jika dibandingkan dengan waktu AGP masih digunakan secara bebas. Bagaimana dengan Indonesia? 

Akhir-akhir ini isu mengenai penggunaan antibiotika pada ternak menjadi topik yang hangat dibicarakan saat peraturan mengenai penggunaan antibiotika akan diubah. Isu ini menjadi penting karena tidak hanya menyangkut kepentingan pengambil kebijakan tetapi juga memberikan implikasi tidak hanya dari sisi kebijakan tetapi dari sisi produksi ternak itu sendiri, dari sisi konsumen hasil ternak dan juga berpengaruh terhadap ekonomi secara keseluruhan baik dalam importasi maupun perdagangan. Oleh karena itu, ada baiknya kita melihat secara keseluruhan mengenai isu ini agar terlepas dari kepentingan tertentu dan permasalahan yang ada di Indonesia.

Hampir semua pabrik pakan mencampurkan antibiotika ke dalam pakan yang diproduksinya agar ternak dapat tumbuh dengan optimal. Keuntungan yang diperoleh dari penampilan produksi dapat jauh lebih tinggi (bisa > 5 kali lipat) bila dibandingkan dengan biaya penggunaan antibiotika tersebut. Meskipun AGP dimasukkan ke dalam pakan, masih banyak ditemui ternak-ternak yang dipelihara mengalami sakit dan peternak mencoba mengobatinya sendiri dengan antibiotika yang dijual bebas di pasaran tanpa mendapatkan resep atau bahkan advis dari dokter hewan. Banyak peternak yang mungkin menggunakan jenis antibiotika yang tidak tepat, jumlah dan pemakaiannya yang tidak mengikuti petunjuk yang ada.
Beberapa antibiotika yang digunakan untuk pengobatan seringkali sama dengan antibiotika dan dipakai pada manusia. Yang lebih fatal lagi adalah ketika peternak mengobati ternaknya tetapi tidak sembuh kemudian peternak meningkatkan dosis pengobatannya dan ketika ternak tidak sembuh, ternak yang sakit tersebut
dijual untuk dipotong karena peternak tidak ingin mengalami kerugian.
Hal yang disebutkan diatas dapat mengakibatkan timbulnya residu obat antibiotika bagi konsumen yang memakan produk ternak tersebut sehingga secara tidak langsung, konsumen ikut mengkonsumsi antibiotika yang tidak diketahuinya. Permasalahan penggunaan antibiotika yang tidak terkontrol di lapangan dapat menjadi hal serius dibandingkan dengan penggunaan AGP dilakukan oleh pabrik pakan yang terdaftar.
Dalam hal ini pengawasan jauh lebih penting untuk dilakukan dalam melindungi konsumen dari residu antibiotika yang terdapat dalam produk ternaknya.

Paparan beliau mengenai Antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP-Antibiotic Growth Promoter), Isu pemakaian AGP (residu, resistensi terhadap obat, lingkungan), Perkembangan penggunaan AGP di negara lain dan bagaimana dengan Kondisi peternakan di Indonesia di sajikan secara lengkap oleh Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja MSc. MAppl. di Majalah Infovet edisi September 2014.

Untuk selengkapnya silahkan baca infovet edisi September 2014 dan untuk pemesanan silahkan sms ke no Hp. 0856 90 000 52 





2 komentar:

Ferry Tamalluddin on December 15, 2014 at 10:27 PM said...

perlu adanya transparansi mengenai penggunaan AGP pada pakan ternak di indonesia sehingga konsumen tidak khawatir adanya residu antibiotik pada produk peternakan. Selain itu, untuk menghindari resistensi terhadap antibiotik tertentu. www.ternakpertama.blogspot.com

Zulham Ariansyah on January 2, 2015 at 9:15 PM said...

Hampir selalu peternak yang berskala besar menggunakan antibiotik. Karena cekaman lingkungan dan kondisi DOC dan pakan yang kadang tidak sesuai dengan standard mengakibatkan penyakit lebih mudah masuk.

Apakah ada yang pake herbal di aplikasikan secara massive di populasi diatas 10 rb yang sudah berhasil?

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template