Monday, May 19, 2014

Kompak dan Bersatulah Peternak Layer!

Munas (Musyawarah Nasional) I Pinsar Layer Nasional (13-14/3) di FaPet UGM Jogjakarta telah melahirkan satu organisasi yang dicita-citakan lebih sempurna untuk menyatukan langkah peternak layer yang selama ini dikenal susah disatukan.

Perkenalan Ketua Pinsar Petelur Nasional
Berangkat dari kegelisahan peternak layer karena terus merosotnya harga telur nasional dibawah harga pokok produksi (HPP) sejak triwulan pertama tahun 2014 dan terus berlanjut hingga saat ini.

Munas (Musyawarah Nasional) I Pinsar Layer Nasional pada (13-14/3) di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta telah melahirkan satu organisasi yang dicita-citakan lebih sempurna dan diharapkan mampu menyatukan gerak langkah peternak layer yang selama ini dikenal susah disatukan.

“Diharapkan organisasi ini dapat menjadi wadah yang lebih responsif yang didasari atas rasa saling terbuka, membangun rasa saling percaya, dan taat kepada rekomendasi hasil koordinasi antar sesama peternak baik ditingkat daerah hingga ke tingkat nasional. Untuk itu kami mohon dukungan seluruh peternak layer di Indonesia,” demikian disampaikan Yudianto Yogiarso didampingi 4 peternak seraya memperkenalkan organisasi Pinsar Layer Nasional disela pelaksanaan seminar teknis yang diselenggarakan PT Ceva Animal Health pada Rabu, 23 April 2014 di Jakarta.

Munas pembentukan Pinsar Layer Nasional ini dihadiri oleh 62 perwakilan peternak layer se-Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Munas ini menyepakati organisasi ini sebagai organisasi yang berdiri sendiri. Terpilih 5 peternak sebagai ketua (presidium) : Man Budhi (Magelang), Feri (Sukabumi), Suyadi (Blitar), Yudianto Yogiarso (Jogjakarta) dan Roby (Cianjur).

Pada kesempatan berbeda, selaku sesepuh peternak petelur nasional Paul Iskandar berharap keguyuban dan ketaatan yang dibangun dalam wadah organisasi terus dijaga, menyentuh semua lapisan peternak layer. “Jangan lagi meneruskan kebiasaan buruk, peternak baru mau berkumpul kalau harga sedang jelek,” harapnya.

Perlunya cermat dan kompak 
Kiranya semua masyarakat perunggasan sudah mafhum kalau pembentukan keseimbangan harga yang baru sedang dalam proses. Adapun penguatan harga telur dan juga broiler yang seolah terhambat. Penyebabnya bisa jadi kompleks, namun salah satunya – yang banyak diyakini oleh pelaku broiler maupun layer adalah terlalu. Lebarnya selisih harga dalam satu pulau atau wilayah yang berdekatan.

Nah, apabila ini yang dijadikan titik tolaknya, maka ke depannya nampaknya peternak harus mulai menganyam jaringan informasi yang solid sekaligus merenda kekompakan dalam memasarkan hasil unggasnya tersebut.

Ini memang tidak mudah dilakukan, tapi di era informasi yang sudah sedemikian terbuka seperti saat ini, informasi harga komoditi unggas itu sudah diupayakan oleh berbagai pihak – salah satunya oleh Pinsar Layer Nasional. Tinggal bagaimana semua pihak memanfaatkan informasi itu dengan bijak untuk kemaslahatan perunggasan di Indonesia. Hanya ada satu langkah yang harus di tempuh, yaitu “kompak”. Itu artinya, koordinasi berbagai wilayah harus dijalankan dengan lebih terorganisasi lagi, sehingga sistem pemasaran unggas yang stabil kelak bukanlah mimpi.

Bahkan seorang peternak layer yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa memang situasi seperti sekarang, menempatkan posisi tawar peternak di level yang paling bawah. Padahal tidaklah seharusnya kita seperti itu. Memang harus diakui bahwa peternakan di Indonesia didominasi oleh segelintir perusahaan besar yang notabene juga mengontrol segala hal yang berkaitan dengan dunia peternakan. Hingga pertanyaan muncul, Apakah memang kita sebagai peternak kecil akan selalu begini tanpa bisa berbuat apa-apa?/Wan

Jawaban selengkapnya, simak di Infovet edisi Mei 2014.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template