Thursday, May 29, 2014

Faktor kompleks dilapangan seputar CRD dan CRD kompleks

Langsung dari peliputan lapangan di peternakan yang bermasalah dengan penyakit CRD dan CRD Kompleks serta faktor pendukungnya, Infovet melaporkan bahwa keberadaan penyakit ini cukup kompleks untuk mempengaruhi panen akhir peternak.
Peternakan ayam pedaging di Gresik ini dikepung tambak
Peternakan kemitraan Subur di Desa Kampung Baru Kecamatan Duduk Sampean Kabupaten Gresik Jawa Timur menjadi saksi perjalanan Infovet melacak keberadaan penyakit CRD. Adalah Wahib penanggungjawab peternakan ayam pedaging berpopulasi 16.000 ekor yang dikepung tambak ikan, yang menerima Infovet dan berbicara panjang lebar tentang penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum.

Kepada Infovet, ia menuturkan gejala penyakit ini sangat jelas, yaitu ngorok. Untuk membedakan ngorok karena CRD dengan ngorok karena Coryza, keterangan Wahib dilengkapi oleh keterangan Drh Yuan Listyo Technical Service Representative PT Caprifarmindo Laboratoris Wilayah Surabaya yang ditemui Infovet di tempat terpisah di Surabaya.

Menurut Drh Yuan, kalau positif CRD ngoroknya pada malam hari. ND ngoroknya jarang-jarang dan kecekik panjang. Kolibasilosis ada ngorok beda dengan Koriza. Ngoroknya Koriza siang lebih ramai dan lebih banyak. Jadi, “Secara patologis ngoroknya beda dengan Koriza dan seterusnya,” ungkapnya.

Wahib yang berpengalaman selama dua (2) tahun menangani peternakan-peternakan AS, Maria secara berpindah-pindah, mengaku begitu mendengar ayam bersuara “Crik Crik” (cekrek) alias ngorok, dia tahu bahwa ada serangan CRD. Selain itu ayam juga pilek. Sedangkan kalau sudah terserang Kolibasilosis kepala ayam bengkak dan tidurnya berdiri! Dan itulah penyakit yang paling banyak dijumpai di peternakan yang di dikepung tambak ini: CRD dan Koli. Berarti juga ada CRD Kompleks.

Infovet pun melihat-lihat kondisi peternakan. Apakah benar hanya karena dikepung tambak? Pengaruhnya memang karena air tambak. Sebab dalam pengakuan Wahib dengan air tambak inilah ayam diberi minum. Dan air jelas merupakan faktor penting yang berpengaruh pada sakit atau tidaknya ayam. Air yang kandungan kuman Kolinya tinggi jelas akan berdampak munculnya serangan Kolibasilosis bila kondisi ayam lemah. Tentu saja dengan berbagai faktor pendukung atau faktor pemicu.

Faktor pemicu juga terkait dengan udara dan pakan. Sangat jelas pada ingatan Infovet penekanan berulang kali oleh pakar penyakit unggas Prof Drh Charles Ranggatabbu Msc PhD, bahwa UAP (Udara, Air dan Pakan) merupakan tiga faktor utama untuk kesehatan ayam. Bagaimana dengan Udara?

Infovet pun mengamati dengan seksama kondisi kandang. Ternyata ada yang menarik perhatian, yaitu sawang atau rumah laba-laba yang bergelantungan di langit-langit kandang. Tampaknya luput dari perhatian peternak dan menjadi tempat menumpuknya debu. Dalam udara yang bersih ketika angin bertiup tampak jelas debu beterbangan. Maka jelas, itulah alasan mengapa muncul penyakit pernapasan CRD. Karena faktor udara ditambah faktor air tadi yang mengundang colibasilosis.

Bagaimana dengan pakan? Dalam kehadiran Infovet siang hari itu belum termonitor masalahnya. Tampaknya baik-baik saja. Siang itu saat Wahib ditemani istrinya Ani asal Kediri dan anak mereka menjaga kandang, kiriman pakan dari Malindo Feedmill datang. Dan pakan pun menempati gudang penyimpanan di sisi kandang, juga dekat tambak. Adakah kedekatan dengan air tambak tidak berpengaruh pada kelembaban yang dapat mengganggu kondisi pakan dengan hadirnya jamur? Mungkin saja. Perlu pengamatan intensif.

Dan tampaknya menurut pengakuan Wahib lelaki asal Desa Sepat Kecamatan Sugiyo Kabupaten Lamongan ini petugas penyuluh lapangan (PPL) dari PT Subur menjalankan tugasnya dengan ketat. Setiap seminggu sekali Drh Riko datang di peternakan ini. Kecuali pada minggu sekitar umur 15 hari saat Infovet berkunjung, Drh Riko diganti PPL lain. Dengan bimbingan PPL ini Wahib mengaku dengan mudah mengetahui bilamana ayamnya terserang CRD. Dari pilek dan suara ngorok crik-crik cekrek-cekrek itu. Tindakannya sangat praktis, tahu bahwa itu tanda awal serangan. Tanpa pilih-pilih ayam, semua ayam dalam kandang yang ber-letter L diobati dengan “Ciprofloksasin dan Sulfamono,” aku Wahib.

Mengapa tidak dipilih-pilih ayamnya, menurutnya karena memilihnya sulit sebegitu banyak ayam. Lagipula kondisi ngorok itu merupakan tanda serangan awal, sehingga menurutnya pengobatan yang diberikan masih merupakan pengobatan pencegahan. Infovet menggaris bawahi, merupakan tindakan pencegahan penyakit menjadi parah.

Inilah sebuah terminologi yang salah kaprah dan tidak sesuai kaidah akademis menurut Drh Joko Legowo MKes dari Laboratorium Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Pemberian antibiotik berarti sudah pengobatan dan tidak ada yang namanya pencegahan dengan antibiotika. Berarti ayam sudah sakit dan diobati.

Selengkapnya bisa baca di Infovet edisi JUNI 2014.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template