Monday, March 4, 2013

CATATAN KANDANG Versus PREDIKSI KASUS

Oleh:  Tony Unandar
       (Anggota Dewan Pakar ASOHI - Jakarta)

Tahun Baru Dengan Paradigma Baru. Peningkatan persentase angka penularan (morbiditas) dan kecepatan penyebaran kasus infeksius pada peternakan ayam moderen menuntut suatu paradigma baru dalam pengawasan penyakit di lapangan. Analisa rinci secara proaktif dari catatan kandang terhadap sejarah kemunculan dan jenis kasus penyakit yang pernah terjadi misalnya, tentu saja dapat meningkatkan kepekaan dalam mendeteksi kasus penyakit yang akan muncul. Dengan demikian, kontaminasi lingkungan peternakan dan kerugian secara ekonomis dapat dicegah sedini mungkin.


Dalam industri perungga­san secara global, laju perbaikan faktor efisiensi terus berlangsung sampai hari ini. Adanya dinamika perbaikan genetik ayam dan tata laksana pemeliharaan yang sangat progresif, secara tidak sengaja akan mengakibatkan kemampuan ayam untuk melawan bibit penyebab penyakit mengalami perubahan.  Tegasnya, terjadi erosi kemampuan ayam untuk melawan bibit penyakit yang ada. 

Problem penyakit infeksius yang terjadi cenderung lebih bervariasi, kompleks, serta tidak mengikuti “trend” perjalanan penyakit yang lazim merupakan suatu bukti akan hal ini.  Dalam kondisi demikian, mengandalkan diagnosa yang hanya berdasarkan gejala klinis dan bedah bangkai semata sering kali terlambat, atau bahkan keliru.  Oleh sebab itu, analisa sejarah kasus, termasuk analisa kondisi serta penampilan (performance) ayam dalam dunia peternakan ayam modern tidak bisa lagi dianggap enteng, dan harus dilakukan secara terus menerus.   
 
Serangan bibit penyebab penyakit dalam suatu peternakan ayam mo­dern biasanya melalui suatu proses yang membutuhkan waktu. Bukan suatu proses revolusi. Ada semacam tarik menarik alias adu kekuatan antara daya tahan tubuh ayam dengan daya invasi bibit penyakit yang ada. Selama masa inkubasi penyakit (masa dari masuknya bibit penyakit dalam jaringan tubuh ayam sampai kemunculan gejala klinis), beberapa gejala umum biasanya sudah muncul, namun sering kali tidak terdeteksi atau malah diabaikan.  Beberapa contoh mengenai hal ini, misalnya:
Adanya gangguan tingkat konsumsi pakan (feed intake).  Kelainan ini bisa dideteksi dengan menganalisa jumlah pakan yang dikonsumsi per-ekor ayam per-hari apakah sudah sesuai dengan standar strain yang ada atau tidak.  Selain itu, menganalisa waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan sejumlah pakan yang diberikan per-hari juga dapat digunakan sebagai indikator untuk mendeteksi gangguan tingkat konsumsi pakan. Pengamatan yang kedua ini sangat penting terutama pada ayam petelur dan ayam bibit. Berkurangnya tingkat konsumsi nutrisi yang dibutuhkan akibat adanya gangguan tingkat konsumsi pakan jelas akan memperburuk kondisi umum ayam.
Walaupun gejala klinis atau perubahan bedah bangkai belum tampak, terjadinya peningkatan kematian ayam dapat juga diartikan ada suatu problem yang akan muncul di peternakan yang bersangkutan. Evaluasi perlakuan beberapa hari sebelum terjadinya peningkatan kematian dan monitoring lanjut atas kematian yang ada sangat penting untuk medeteksi kasus yang mungkin timbul. Menghubungkan tingkat kematian dengan kondisi umum ayam yang mati kadang kala dapat mengarahkan diagnosa, problem infeksius atau bukan. Problem infeksius biasanya akan mengakibatkan kondisi umum ayam yang mati secara rata-rata menurun.
Pada ayam petelur atau ayam bibit, analisa rata-rata bobot telur per-butir pada ayam umur tertentu juga tidak bisa diabaikan begitu saja.  Pada kasus Infectious Bronchitis (IB) misalnya, bobot telur per-butir umumnya mengalami penurunan beberapa hari sebelum gejala klinis secara klasik muncul, misalnya penurunan persentasi produksi telur, ataupun perubahan ekternal maupun internal telur yang dihasilkan. Jika flok ayam yang bersangkutan pernah divaksinasi dengan vaksin IB, maka selang waktu alias tempo antara penurunan produksi telur dengan penurunan bobot telur rata-rata tersebut relatif lama dan sangat variatif, tergantung status kekebalan terakhir dan kekuatan tantangan virus lapangan.
Melakukan monitoring hasil pemeriksaan titer antibodi (mi­salnya ND) tentu saja dapat membantu menganalisa dinamika tantangan penyakit yang ada dalam suatu lokasi peternakan. Terjadinya perubahan titer dari biasanya atau adanya peningkatan keragaman titer antibodi dapat merupakan indikasi awal adanya tantangan bibit penyakit tertentu secara dini.

Ihwal catatan kandang biasanya dianggap suatu pekerjaan tambahan bagi karyawan kandang. Hal-hal yang serupa seolah dicatat berulang-ulang setiap hari. Pada hal, sebenarnya, di situlah letak rahasia dinamika interaksi antara ayam dengan bibit penyakit bisa digali. Termasuk juga interaksi antara perlakuan yang diberikan dengan penampilan (performance) produksi ayam yang diperoleh. Walaupun gejala-gejala spesifik belum tampak, adanya gangguan dalam fungsi-fungsi fisiologis normal ayam jelas akan mempengaruhi tingkah laku ayam.
 
Ada cara untuk mengatasi keengganan karyawan kandang membuat catatan kandang.  Yang pen­ting adalah prosesnya harus dibuat sesederhana mungkin.  Perlu disediakan lembaran kertas dengan kolom-kolom yang dapat diisi dengan cepat dan harus ditabulasikan secara harian.
 
Ada beberapa hal penting yang harus dicatat dalam catatan kandang. Pada ayam potong, misalnya jumlah ayam, jumlah kematian ayam per-hari, pakan yang diberikan per-hari, bobot badan pada akhir setiap minggu, termasuk beberapa perlakuan penting yang diberikan (vaksinasi/medikasi, angkat pemanas, ganti sekam, buka layar, pindah kandang dsb.) harus dicacat. Catatan kandang sebaik­nya dievaluasi oleh kepala atau penyelia (supervisor) kandang setiap hari.  Dengan demikian, “keanehan” yang muncul dapat dideteksi sedini mungkin.
 
Kejujuran adalah suatu aspek penting dalam membuat catatan kandang.  Kecerobohan dalam proses pencatatan atau adanya manipulasi data yang dicatat tentu saja dapat menyesatkan para pengambil keputusan.  Secara tidak sengaja, tindakan tersebut sangat merugikan perusahaan dan memberi kesempatan pada bibit penyebab penyakit lapangan untuk beradaptasi, melakukan perbanyakan diri dan menggerogoti penampilan ayam. Kondisi ini tentu saja dapat mengakibatkan kerugian lanjut yang jauh lebih besar.
 
Kemampuan untuk menganalisa catatan kandang juga merupakan suatu aspek yang tidak boleh diabaikan.  Kematangan wawasan teknis dan pengalaman lapang yang cukup merupakan dua hal yang sama pen­ting. Karyawan kandang yang mempunyai tanggung jawab untuk me­nganalisa catatan kandang sebaiknya selalu membuka diri untuk berdiskusi dengan pihak manapun. Pengalaman di tempat lain, tentu saja sangat berharga sebagai referensi dalam menganalisa data yang ada.  Ketertutupan dalam hal ini tentu saja sangat mahal biayanya.
 
Catatan kandang bukan merupakan suatu barang “haram” untuk ditunjukkan pada orang lain sebagai partner dalam berdiskusi.  Ada suatu “stigma” yang tidak tersurat, membuka catatan kandang pada orang lain berarti membuka aib alias dapat mempengaruhi “performance” hasil karya karyawan yang bersangkutan.  Kondisi ini tentu saja dapat menyesatkan jalannya diskusi dan ujung-ujungnya adalah hasil diskusi yang tidak tuntas atau bahkan salah.
 
Pada tahap selanjutnya, hasil analisa catatan kandang perlu dikomunikasikan secara terus-menerus kepada karyawan kandang yang secara langsung berhadapan dengan ayam setiap hari. Informasi hasil analisa catatan kandang tentu saja akan memberikan motivasi lanjut pada individu yang bersangkutan untuk membuat catatan kandang dengan baik.  Dengan demikian, setiap perubahan sekecil apapun dapat dideteksi dengan baik.  Dengan kata lain, kedatangan penyakitpun dapat dicegah sedini mungkin. Adanya catatan kandang ternyata tidak membuat proses peternakan jadi mundur, bukan begitu? 
***

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template