Wednesday, February 24, 2010

VIRUS SEBAGAI SI CANTIK DAN SI BURUK RUPA


Dibalik keganasan virus sebagai sumber malapetaka yang mematikan, ternyata keberadannya masih bisa dijinakkan sehingga dapat bermanfaat bagi umat manusia. Ini diibaratkan sebagai ‘the beauty and the beast
(si cantik dan si buruk rupa).

Pembuka orasi ilmiah yang diawali dengan paparan kocak tersebut disampaikan oleh Profesor Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika pada acara pengukuhan Guru Besar Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, di Gedung Widya Sabha Universitas Udayana Bukit Jimbaran. Orasi berjudul Pengembangan Virologi Molekuler Sebagai Basis Pengendalian, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Virus sangat penting untuk kepentingan dunia kesehatan manusia dan hewan.

Dalam orasi ilmiahnya, disebutkan bahwa virologi sebagai ilmu yang mempelajari virus mengalami perkembangan yang pesat sejak 1980-an. Revolusi dalam biologi molekuler diaplikasikan untuk menginterprtasikan dan memahami struktur dan replikasi virus serta patogenesis dan epidemiologi penyakit virus.

Kajian virus pada tingkat molekuler meliputi analisis materi genetik (genom) virus dan produk-produknya serta interaksi dengan protein seluler induk semang (host) manusia, hewan dan tanaman melahirkan cabang ilmu baru disebut virologi molekuler. Piranti diagnostik, vaksin dan obat-obat anti virus yang saat ini dipasarkan merupakan hasil riset virologi molekuler. Produk-produk ini terus menerus diperbaiki, disempurnakan atau diganti dengan cepat.
irus merupakan makhluk sub-seluler yang memiliki materi genetik RNA atau DNA dan melakukan replikasi hanya pada sel hidup yang sesuai. Virus terkecil (Circovirus) berukuran 16 nm (nano meter: 1 mikron = 1000nm) dan terbesar virus cacar 450 nm. Ultrastruktur yang sederhana menyebabkan paling mudah dipelajari secara molekuler, sehingga sering dianggap sebagai ‘Trojan Horse’.

Tahap awal infeksi virus adalah penempelan virus pada dinding sel. Proses ini melibatkan komponen protein permukaan virus sebagai ligand dengan reseptor permukaan sel. Pada virus pseudorabies protein itu adalah gIII, rabies protein G, cacar epidermal growth factor, Rhinovirus VP1, 2 dan 3, encefalomielitis virus VP4, coronavirus HE, parainfluenza H-N, influenza HA dan HIV gp120. sedangkan reseptor pada permukaan sel dapat berupa reseptor epidermal growth factor (cacar), ICAM-1 (rhinovirus), IgG (encefalomielitis), asetil-kolinesterase (rabies), asam sialat (influenza), CD4 (HIV).

Tahap penetrasi merupakan proses pelepasan selubung virus (uncoating) di sitoplasma atau di inti sel. Tahap transkripsi untuk virus DNA dan/atau translasi serta replikasi genom virus untuk memproduksi mRNA, protein virus dan genom anakan yang melibatkan enzim dan mekanisme seluler, kecuali virus RNA yang berpolaritas negatip memiliki RNA-dependent-RNA polymerase (influenza, paramiksovirus, rabies).

Proses transkripsi, translasi dan replikasi genom masing-masing virus berbeda. Virus DNA rantai ganda (papovavirus, adenovirus, herpesvirus) menggunakan transkriptase seluler untuk menghasilkan mRNA yang selanjutnya mengalami splicing yaitu penghilangan intron sehingga mRNA dewasa ini menjadi protein. Virus yang tidak mengalami splicing adalah virus cacar dan African swine fever. Virus DNA serat negatip tunggal (parvovirus) menggunakan transkriptase seluler menghasilkan mRNA serta mengalami splicing sebelum ditranslasi menghasilkan protein. Reovirus dan birnavirus (penyebab Gumboro) mempunyai RNA genom serat ganda. Serta negatip dari genomnya digunakan oleh enzim RNA-polymerase untuk menghasilkan mRNA. Serat positip untuk membentuk serat negatip untuk menghasilkan mRNA.

Tahap terakhir adalah maturasi, perakitan dan rilis. Protein yang dihasilkan ditransportasikan ke bagian tertentu dari sel sesuai dengan transpor signal pada protein itu yang selanjutnya mengalami glikosilasi dan pemotongan. Virus yang memiliki amplop memperoleh selubung lemak pada saat rilis dari sel dan keluar dari sel dengan menyembul ke permukaan (budding).
(masdjoko/wan)

Pembahasan mengenai Virus Avian Influenza (AI/Flu Burung) menurut Prof Dr drh I Gusti Ngurah K Mahardika serta mengenai Indonesia yang saat ini memerlukan sebuah Lembaga Pengendalian Penyakit dipaparkan secara lengkap oleh Wartawan Infovet dalam sebuah artikel dalam sebuah artikel pada majalah Infovet edisi 187/Februari 2010 ........................................................................................untuk Informasi pemesanan dan berlangganan klik disini

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template