Wednesday, February 24, 2010

Memaknai Satu Abad Dokter Hewan Indonesia

Pagi itu, segenap dokter hewan dari golongan muda hingga yang sudah sepuh berkumpul secara serentak di Balai Kartini, Sabtu 9 Januari 2010. Kehadiran mereka tak lain adalah untuk turut bersuka cita merayakan 100 Tahun Kiprah Dokter Hewan Indonesia yang ditandai dengan peluncuran buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia: Sejarah, Kiprah dan Tantangan.

Acara inipun bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) yang ke-57. Organisasi profesi dokter hewan ini telah terbentuk pada tanggal 9 Januari 1953, di Hotel Grand Lembang, Bandung.

Proses terbitnya buku ini setelah melalui serangkaian kegiatan pengumpulan data dan informasi secara intensif, penyusunan serta editing dalam waktu yang relatif singkat dari Tim Penyusun yang diketuai Drh Agus Suryanata.

Buku yang dicetak dengan penampilan bagus ini terdiri dari 462 halaman dengan foto-foto berwarna, bersampulkan hard cover dengan jaket berwarna nuansa abu-abu dan biru bertuliskan angka 100 dalam gradasi warna merah putih.

Disertakan pula dalam buku tersebut compact disc (CD) yang berisikan daftar nama dokter hewan alumni dari seluruh Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia serta alamat kelembagaan pemerintah dan organisasi terkait profesi dokter hewan.

Substansi dalam buku tersebut adalah sejarah, bidang tugas dan tantangan profesi dokter hewan dimasa mendatang, yang dituangkan dalam 7 bab, yaitu: Pendahuluan, Sejarah Dokter Hewan Indonesia, Kiprah dan Tantangan Dokter Hewan Indonesia, Profil Dokter Hewan Berprestasi, Meretas Jalan Menuju Profil Dokter Hewan Universal, Mengenggam Masa Depan, dan Penutup.

Dihadiri Mentan dan Wakil Mentan
Peluncuran buku ini terselenggara dengan semarak dan dihadiri oleh para dokter hewan dari 14 cabang PDHI dan 9 organisasi non teritorial (ONT) yang didirikan berdasarkan bidang spesialisasi dari seluruh Indonesia. Hadir pula para sesepuh (Lansia Veteriner) baik dari Jakarta dan Bogor maupun luar kota, antara lain Drh Soebagio dari Surabaya yang saat ini tinggal di Jakarta, Prof Mustahdi dari Surabaya, Drh E Nugroho dari Semarang, dll. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Dokter Hewan Indonesia.

Dalam memaknai HUT PDHI dan peluncuran buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia, Drh Wiwiek Bagja Ketua Umum PB PDHI menyampaikan terima kasih atas partisipasi seluruh pihak dan mengingatkan tantangan ke depan yang harus dihadapi oleh profesi veteriner dalam mewujudkan pengabdian yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Sambutan dan pembukaan disampaikan oleh Menteri Pertanian RI, yang dilanjutkan dengan tanggapan terhadap materi buku oleh tokoh-tokoh non dokter hewan, pembahasan buku oleh Tim Editor dan diakhiri dengan doa syukur dan pemotongan tumpeng.
Dalam menyemarakan acara telah didendangkan beberapa lagu oleh paduan suara Gita Klinika FKH IPB, Bogor. Selain itu juga ikut berpartisipasi paduan suara ibu-ibu Lansia Veteriner, Jakarta.

Tanggapan Terhadap Buku
Pada kesempatan pemberian tanggapan terhadap Buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia disampaikan oleh tokoh-tokoh non Dokter Hewan yaitu DR. Bayu Krisnamurti, Ketua Komnas Flu Burung sekaligus juga Wakil Menteri Pertanian mengungkapkan bahwa aspek sejarah dan pengabdian dokter hewan telah secara lengkap ditulis dalam buku ini.

Namun demikian ikatan emosional ini hanya dapat dirasakan oleh kalangan internal para dokter hewan, bagi pembaca kalangan eksternal diperlukan buku yang ditulis khusus dan bersifat informatif tentang peranan profesi veteriner yaitu penanganan penyakit hewan yang telah dilaksanakan selama 100 tahun ini dan buku khusus mengenai penyakit zoonosis.

Terkait dengan struktur organisasi yang dapat memberikan ruang gerak dan kewenangan bagi profesi veteriner diperlukan wadah bersifat nasional yang idealnya sebagai Badan Otoritas Veteriner, lintas departemen dan langsung di bawah Presiden, atau setidak-tidaknya setingkat Eselon I dalam Kementerian Pertanian.

Tanggapan selanjutnya dari DR. Rachmat Pambudy, Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Indonesia (HKTI) berpendapat struktur organisasi profesi veteriner dalam Kementerian Pertanian memang seyogianya ditingkatkan setara dengan Direktorat Jenderal sehingga disamping adanya Direktorat Jenderal Peternakan juga diusulkan dibentuk Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan atau Veteriner.

Pembahasan Buku
Pembahasan buku dilakukan oleh Tim Editor yaitu DR. Soehadji, Drh. Sri Dadi Wiryosuhanto dan DR. Sofyan Sudardjat. Acara pembahasan ini dipandu oleh Moderator dr. Lula Kamal, MSc, yang secara bergantian menggali informasi dari setiap anggota Tim Editor untuk menyampaikan kesan-kesan dan pendapatnya.

DR. Soehadji mengungkapkan bahwa dalam menyusun data serta informasi ibarat “puzzle” yang berserakan menjadi gambar mozaik-mozaik dan secara keseluruhan isi buku ini dapat dilihat secara harfiah dan maknawiah.

Drh Sri Dadi menyampaikan latar belakang dalam penulisan aspek sejarah yang semula dimulai dari kurun waktu awal perkembangan kebudayaan di Nusantara diubah menjadi lebih pendek yaitu sejak diperlukannya dokter hewan pribumi bagi penanganan penyakit hewan yang bermuara pada pendirian Sekolah Dokter Hewan pertama di Indonesia bernama Indische Veeartzen School (IVS) yang berlokasi di Bogor tahun 1906.

Lahirnya sejarah dokter hewan bangsa Indonesia bermula dari kelulusan salah satu mahasiswanya adalah seorang laki-laki kelahiran Kakas, Minahasa, Sulawesi Utara, 30 Juni 1888 yaitu Drh Johannes Alexander Kaligis yang merupakan dokter hewan pertama yang lulus dari angkatan pertama Indische Veeartzen Scholl” (IVS) pada tahun 1910. Selanjutnya Drh J.A Kaligis bekerja di “Veeartsnijkundige Institute” atau Balai Penyelidikan Penyakit Hewan sampai dengan tahun 1911.

Tahun 1910 dalam sejarah Dokter Hewan Indonesia ditetapkan sebagai dimulainya kiprah dokter hewan pribumi di Indonesia sehingga buku ini diberi judul 100 Tahun Sejarah, Kiprah dan Tantangan Dokter Hewan Indonesia (1910-2010).

Dalam bidang pengabdian mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan zaman dan menghadapi tantangan yang makin kompleks. DR. Sofyan Sudardjat menekankan aspek peranan dokter hewan dalam menangkal masuknya penyakit eksotik melalui pengamanan yang maksimum terhadap pemasukan hewan dan produk hewan dari negara-negara yang belum bebas penyakit.

Drh Agus Suryanata sebagai Ketua Tim Penyusun mengungkapkan sangat terbatasnya waktu dalam penyusunan disamping itu harus pandai-pandai mengkoordinasikan para anggota Editor, walaupun masing-masing mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menulis tetapi mempunyai persepsi yang tidak sama dalam beberapa aspek. Dengan demikian terbitnya buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia yang monumental ini benar-benar perlu disyukuri.
(tjip/wan)

Selengkapnya baca artikel pada majalah Infovet edisi 187/Februari 2010 ........................................................................................untuk Informasi pemesanan dan berlangganan klik disini

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template