Tuesday, January 20, 2009

Pemanasan Global dan Penyakit 2009

Pemanasan Global dan Penyakit 2009

(( Untuk tahun 2009, peternak masih tetap berhadapan dengan penyakit pernafasan dan pencernaan. ))

Yang perlu diwaspadai oleh semua pihak yang intens dengan dunia perunggasan justru efek pemanasan global. Untuk tahun 2009 efek pemanasan global masih cukup menonjol, hal ini ditandai oleh perubahan musim yang mendadak, curah hujan tak menentu, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, angin puting beliung dan banjir, ini semua dapat mempengaruhi pola tanam petani yang secara langsung dapat juga mempengaruhi pola panen.
Di samping itu, efek pemanasan global juga berhubungan erat dengan bidang peternakan. Hal ini terkait dengan beberapa produk pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak seperti jagung, kedele, gandum dan lainnya.
Perubahan cuaca yang tidak menentu ini dirasa sangat merugikan petani, misalnya pas mau panen lalu tiba-tiba hujan, hasil panen akan mudah rusak, hal ini akan menyebabkan meningkatnya kadar air produk pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak, kerusakan ini biasanya akibat pencemaran jamur yang berlanjut pada pembentukkan mikotoksin.
Ketersediaan bahan baku pakan ternak sangat fluktuatif, kadang tersedia dalam jumlah yang melimpah namun seringkali secara kuantiti keberadaan bahan baku pakan ternak tidak mencukupi, hal ini akibat beberapa negara pemasok produk pertanian untuk bahan baku pakan ternak seperti India, China dan Vietnam juga mengalami gagal panen akibat adanya bencana alam.
Di samping itu petani Amerika terutama Amerika latin, sebagian produk pertaniannya digunakan untuk proyek pengembangan biodiesel. Berdasarkan fenomena ini maka kebutuhan bahan baku pakan ternak mengalami pengurangan terutama adanya penggunaan untuk kebutuhan bahan pangan manusia dan alokasi penggunaan untuk proyek biodiesel yang ditujukan untuk menghadapi kekurangan bahan bakar minyak dunia.
“Ini jelas masalah besar yang akan dihadapi peternak dan stack holder peternakan di tahun 2009 nanti,” papar Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.
Lalu bagaimana pengaruh pemanasan global terhadap lingkungan? Menurut Pakar kesehatan unggas ini pengaruh lingkungan terutama yang berkaitan dengan kandang berdampak buruk terhadap capaian produksi baik daging maupun telur.
Dampak lingkungan dimaksud seperti periodesasi musim dan cuaca yang sukar ditentukan oleh peternak, seperti perubahan dari panas ke hujan dan atau sebaliknya. Kemudian lingkungan panas dan dingin yang terlalu ekstrim juga berpengaruh terhadap kesehatan ayam, hal ini dikaitkan dengan kejadian stress yang cukup tinggi pada ayam.
Otomatis ketahanan terhadap penyakit akan berubah begitu juga kepekaan ayam terhadap penyakit akan meningkat. “Inilah pengaruh lingkungan tersebut, kadang sangat panas dan kadang sangat dingin, yang menyebabkan berkurangnya peredaran oksigen di sekitar kandang ayam. Ini juga akan memicu munculnya penyakit-penyakit tertentu,” papar Prof Charles.

Penyakit Pernafasan dan Pencernaan

Untuk tahun 2009, Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD pakar Kesehatan Unggas yang dilahirkan di Sumba pada 4 Agustus 1948 ini memprediksi bahwa peternak masih tetap berhadapan dengan penyakit pernafasan dan pencernaan.
Kedua penyakit ini bisa dikatakan menduduki posisi puncak pada lists of disease yang menyebabkan kerugian besar bagi peternak. Penyakit pernafasan dimaksud seperti Koriza dan CRD, lalu Koli masih perlu diwaspadai kehadirannya.
Sebenarnya ada apa dengan Koli? Koli merupakan penyakit rutin yang hadir hampir disepanjang tahun. Kejadian Koli di farm sering dikaitkan dengan kondisi farm dengan sumber air minum yang kurang memenuhi syarat.
Di samping itu kejadian Koli berawal dari penerapan manajemen yang tidak maksimal, sehingga agent Koli dapat leluasa setiap saat menyerang ayam. Koli merupakan penyakit kompleks, ini berdasar pada kedudukan Koli sebagai penyakit pencernaan dan dapat pula berbentuk pernafasan.
Pengaruh cuaca dan temperatur yang sangat ekstrim dapat meningkatkan kejadian stress yang ekstrim pula pada ayam. Hal ini berdampak pada ketahanan terhadap penyakit demikian juga respon pos vaksinasi pun juga tidak bagus.
Untuk tahun 2009 penyakit-penyakit besar semacam ND masih tetap dominan, susah ditangani. Kematian yang tinggi akibat ND untuk tahun 2009 jarang terjadi tapi gangguan titer anti bodi yang berkepanjangan pada ayam produksi berdampak pada menurunnya produksi telur.
Penyakit imunosupresif masih diprediksi mewarnai percaturan penyakit ayam di tahun 2009 terutama penyakit Gumboro. Penyakit ini merupakan penyakit akibat rusaknya sel B dan sel T akibat virus yang tergolong genus Birnavirus dengan famili Birnaviridae. Gumboro dan ND ibarat “sepasang kekasih” yang saling melengkapi untuk membobol benteng pertahanan ayam.
Di peternakan broiler, Gumboro selalu muncul, bila Gumboro masuk ke farm maka penyakit apa saja bisa datang seperti Koksidiosis yang dimotori oleh perubahan cuaca secara mendadak.
Yang tak kalah pentingnya adalah penyakit yang sudah menjadi endemis di seluruh wilayah Indonesia, yakni Avian Influenza (AI). Penyakit AI masih tetap muncul ditahun 2009 namun bentuknya lebih ke bentuk ringan yang dicirikan dengan tingkat kematian rendah tetapi pada ayam broiler dapat menghambat pertumbuhan, ayam peka terhadap penyakit lain karena AI juga bersifat imunosupresif bila ayamnya tidak mati, sedangkan pada ayam petelur dapat menurunkan produksi telur.
“AI bentuk ringan ini gejalanya kadang tidak teramati oleh peternak, meskipun demikian AI bentuk ringan masih tetap disebabkan oleh HPAI. Nah, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan mutasi virus AI ini yang akan terus berlangsung, karena untuk tahun 2007-2008 sudah ada indikasi terjadinya mutasi virus AI,” ujar Prof Charles.
“Bila kita tidak hati-hati dan tidak mengikuti perkembangan dinamika virus AI di lapangan, begitu juga efektivitas vaksinasi, biosekuriti dan peranan manajemen maka kita akan tetap mendapat masalah besar dari penyakit ini di tahun 2009 nanti,” papar Gubes Patologi FKH UGM Yogyakarta ini.
Kemudian, dampak pengaruh pemanasan global ini perlu disikapi dengan bijak oleh peternak, terutama dalam memilih bahan baku pakan ternak. Peternak dituntut untuk berhati-hati dalam memilih bahan baku pakan tersebut, terutama jagung dan katul. Kedua jenis bahan baku pakan ini sangat rentan dengan kontaminasi jamur yang mengawali terbentuknya mikotoksin sebagai pemicu kejadian mikotoksikosis pada unggas.
Peternak harus selektif dalam seleksi bahan baku, bagaimana cara penyimpanannya dan bagaimana cara pemberiannya pada ternak. Pada tingkat feed mill agak lebih ketat menyeleksi bahan baku pakan ternak yang diimpor, yang dibeli atau yang dikumpul dari dalam negeri.
Hal ini menuntut peternak agar dapat melakukan kegiatan-kegiatan preventif yang bertujuan agar peternak dapat menekan atau mencegah terbentuknya mikotoksin pada pakan.
Lalu bagaimana dengan anjuran untuk menggunakan toksin binder pada pakan ternak? “Penggunaan toksin binder pada pakan hanya sekedar tips untuk mengurangi kontaminan jamur. Namun untuk penggunaannya tergantung pada tingkat pencemaran jamur tersebut,” ucap Charles.
“Bila level cemarannya terlalu tinggi maka penggunaan toksin binder tidak mampu mengatasinya dan sebaliknya pada tingkat cemaran yang rendah, penggunaan toksin binder mampu mengatasi cemaran jamur tersebut bahkan bisa sampai pada level 0, ini lebih baik,” papar Prof Charles.
Terkait cemaran jamur ini, doktoral alumni Michigan State University USA ini menghimbau agar peternak dapat menekan seminimal mungkin cemaran jamur dalam pakan ternak, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko yang diakibatkan oleh jamur tersebut. (Daman Suska)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template