KABAR TERBARU :ASCITES (PULMONARY HIPERTENSION SYNDROME) PADA UNGGAS

KABAR TERBARU :
ASCITES (PULMONARY HIPERTENSION SYNDROME) PADA UNGGAS

(( PHS (Pulmonary hypertension syndrome) yang kemudian diikuti dengan ascites merupakan salah satu penyebab kerugian dalam industri perunggasan terutama pada ayam broiler dan layer. ))

PHS biasanya disebut sebagai ascites, yang menyebabkan kerugian akibat kematian hingga 2% dan 0,35% yang terjadi di Kanada. Pada tahun 1994, kerugian akibat ascites diperkirakan mencapai $ US 12 juta di Kanada dan $ US 100 juta di Amerika. Perkiraan biaya kerugian di seluruh dunia untuk PHS mendekati $ US 500 juta.
Untuk Indonesia, kejadian Ascites kurang mendapat perhatian bagi kalangan pakar perunggasan, akademisi maupun peternak. Hal ini mengingat Ascites merupakan penyakit individual yang bersifat tidak menular atau non infeksius.
Padahal, secara statistic angka kejadian Ascites di negeri ini cukup tinggi terutama pada ayam broiler dan layer dengan mutu genetic yang rendah, pakan dengan nilai gizi yang kurang lengkap serta lingkungan pemeliharaan yang kurang sesuai dengan kualitas bibit ayam broiler modern saat ini.

Penyebab Utama

Mekanisme utama penyebab ascites adalah meningkatnya tekanan hidrostatis intravaskuler, kemudian terjadi gagalnya ventricular kanan. Sebagai akibat dari meningkatnya tekanan, transudate keluar dari pembuluh darah dan akan terakumulasi di dalam rongga abdominal, kondisi inilah yang disinyalir sebagai pemicu terjadinya ascites pada ayam.
Kemudian terjadinya gagal jantung pada ayam broiler muda sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk seleksi genetik untuk pertumbuhan cepat, efisiensi pakan yang tinggi dan besarnya proporsi otot dada, hal ini semuanya membutuhkan oksigen yang tinggi.
Ratio yang rendah antara volume paru-paru dan berat badan pada ayam broiler modern, hal ini menyebabkan ketidakmampuan sistem pernapasannya untuk mengangkut oksigen yang dibutuhkan, sehingga dapat menyebabkan Hipoksia dan respiratory acidosis.

Radikal Bebas

Kejadian Hipoksia dapat meningkatkan produksi radikal bebas. Hasil penelitian Ghislaine Roch, Martine Boulianne dan Laszlo De Roth dari Universitas Montreal Kanada membuktikan bahwa ada pengaruh antioksidan (vitamin E dan Selenium, baik yang organik maupun anorganik) terhadap kejadian PHS.
Jika terjadi Hipoksia, maka berbagai mekanisme dapat meningkatkan produksi radikal bebas termasuk lemak peroksida, hidrogen peroksida dan superoksida. Kerusakan jaringan sekunder hingga munculnya Hipoksia dapat menarik sel darah putih yang kemudian melepaskan radikal bebas sehingga menyebabkan kerusakan berbagai jaringan di organ dalam tubuh ayam.
Sementara itu, Maxwell dan Enkuvetchakul dkk (1993) mengamati infiltrasi sel inflammatori di berbagai jaringan pada ayam yang terkena PHS. Menurut mereka, Asidosis juga akan mempengaruhi integritas membran seluler dan mengurangi penghapusan radikal bebas, yang berarti menambah buruknya efek negatif radikal bebas. Tingginya plasma lemak peroksida terjadi pada broiler yang terkena PHS.
Hipotesa Maxwell (1986) menyebutkan bahwa tingkat antioksidan pada broiler yang terkena PHS rendah. Teori ini didukung oleh penemuan Enkuvetchakul dkk (1993), yang menunjukkan lebih rendahnya vitamin E pada paru-paru dan hati serta level glutationin pada ayam yang terkena PHS.

Antioksidan

Peran antioksidan adalah untuk mengubah bentuk radikal bebas ke dalam ikatan-ikatan yang aman, menghentikan proses lemak peroksida. Vitamin E (tokoferol) dan GSH-Px (serum glutathionine peroxidase) merupakan antioksidan yang bagus. Vitamin E menurunkan radikal peroksida menjadi lemak yang dioksidasi. Lemak ini diubah oleh GSH-Px menjadi lemak alkohol, yang berperan dalam memperbaiki lemak.
Pembentukan satu jenis GSH-Px tergantung pada keberadaan Selenium. Ini merupakan alasan mengapa Selenium dan vitamin E dapat bekerja secara sinergi untuk melindungi membran seluler. Ayam yang menderita PHS memiliki berat badan rendah, hematokrit tinggi, konsentrasi GSH (tokoferol dan glutationin) pada hati dan jaringan paru-paru rendah.
Tekanan oksidasi ditandai meningkatnya plasma lemak peroksida dan rendahnya oksidasi GSH di dalam hati dan eritrosit. Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa vitamin E implantasi sangat efektif dalam mengurangi angka kematian karena kasus PHS pada broiler.
Sementara itu, suplemen vitamin E dalam pakan ternak tidak memberikan efek terhadap performan dan kematian. Dosis vitamin E yang digunakan dalam penelitian Ghislaine Roch, Martine Boulianne dan Laszlo De Roth dari Universitas Montreal Kanada ini adalah 87 IU/kg pakan, ini merupakan dosis yang direkomendasikan untuk ayam komersial.
Namun pada studi tersebut menunjukkan bahwa level tersebut terlalu kecil karena tidak berpengaruh secara signifikan dan perlu kiranya untuk melakukan penelitian dengan pemberian dosis vitamin E yang lebih tinggi. (Daman Suska, dari berbagai sumber).

0 komentar:

Post a Comment

Info Lowongan

Info Lowongan
 

Arsip Artikel

Followers

Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template