Thursday, July 24, 2008

LARA PETERNAK KARENA KHOLERA

Edisi 165 April 2008

Di kalangan peternak kholera ayam lebih sering disebut ”berak hijau”. Nama itu berkaitan dengan feses atau kotoran yang dikeluarkan yang sakit berwarna hijau. Namun bagi sebagian peternak yang sudah sering berinteraksi dengan kalangan akademisi, dimana sering mengikuti aneka seminar, lebih sering menyebutnya sebagai kholera. Atau setidaknya kholera ayam.

Berikut ini rangkuman pendapat dari praktisi peternak dan petugas kesehatan lapangan:

”Kholera...? Waah penyakit itu banyak membuat duka lara para pengelola farm dan peternak,” ujar Drh Jon Sumar Temse ketika diminta pendapatnya tentang penyakit itu. Sebab penyakit itu, menurut Jon tidak saja sangat merugikan oleh karena banyaknya ayam yang mati, mesti perjalanan waktu akan jumlah ayam yang mati tidak secepat seperti penyakit ND atau Gumboro. Namun justru lebih banyak menyita pikiran dan tenaga untuk mengatasinya.

Drh Jon Sumar Temse, adalah seorang petugas kesehatan lapangan dari PT Tekad Mandiri Citra di Yogyakarta. Ia mengungkapkan pengalamannya yang sebelumnya pernah selama 2 tahun bergulat langsung dalam pemeliharaan ayam potong. Menurut Jon sebenarnya dalam menghadapi penyakit itu kalau sudah tahu justru sangat simple.

Memang penyakit itu, jika kurang tepat penangannya akan membuat kita terkuras tenaga, pikiran dan juga dana. Sebab begitu ada ayam yang terkena, seolah seperti deret ukur ayam-ayam yang lain cepat tertular. Jika lambat bertindak, maka sudah pasti akan diikuti dengan deretan kematian ayam. Maka ketepatan diagnosa menjadi salah satu hal penting untuk bisa cepat bertindak.

Menurut penuturannya, kasus penyakit itu sebenarnya sangat mudah untuk dikendalikan dan bahkan dienyahkan. Atas dasar pengalamannya secara langsung mengelola ayam potong dengan populasi 40 000 ekor di sebuah Kota di Kalimantan, kasus itu sangat mudah ditekan bahkan diminimalkan.

Kunci pertama dan utama dari segala jenis penyakit bakterial adalah pengelolaan kandang dan lingkungan yang bersih. Pada umumnya, lanjut Jon Sumar para pengelola dan peternak kurang begitu intensif pada aspek itu secara total. Jikalau ada, umumnya hanya parsial, atau tidak menyeluruh.

Banyak yang lebih mengutamakan kebersihan kandang, akan tetapi mengabaikan lingkungan. ”Saya hampir bisa memastikan lebih dari 50% para peternak dan pengelola farm, sangat kurang memperhatikan hal itu secara penuh dan total. Pada umumnya mereka memang sangat perhatian pada kebersihan akan tetapi lebih mengutamakan kandangnya. Sedangkan kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar kandang diabaikan,” ujarnya tegas dengan logat Jawa Timur yang sangat medok.

Padahal, lanjutnya, ”Secara umum penyakit dengan penyebab apapun, hal itu mutlak penting untuk diperhatikan. Dan secara khusus pada penyakit bakterial, menurut pengalaman saya, aspek kebersihan adalah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu mutlak sebagai sebuah persyaratan untuk mendapatkan hasil yang optimal.”

Awalnya ketika Jon Sumar diberi beban tugas untuk mengelola ayam potong dengan populasi sebanyak itu sendirian, maka hal yang pertama kali dilakukan adalah menggencarkan kegiatan membersihkan kandang, karena secara kasat mata ia melihat kondisi kandang yang sangat jauh dari bersih. Ia sangat yakin hal itu dan menjadi penyebab utama bahwa farm ini kurang mampu memberikan hasil yang optimal.

Seperti umumnya, aspek fundamental itu memang tidak mudah dan membutuhkan waktu, dana dan tenaga yang ekstra. Akhirnya memang membuahkan hasil yang menggembirakan karena ketika panen, ada perbaikan performans yang sangat signifikan di banding pada periode sebelum dikelola oleh Jon.

Dari hasil itu, Jon Sumar semakin kuat dan yakin bahwa langkah yang ia tempuh itu adalah benar. Keyakinan dan kebenaran atas langkahnya itu semakin diperkuat oleh pendapat pakar yang ia baca di Infovet.

Namun pada periode berikutnya, ternyata hasil itu kembali mengalami penurunan. Dugaan penurunan itu oleh karena adanya serangan kolibasiolis dan ND ringan. Meski muncul dugaan itu, namun ia tetap gelisah dan bersemangat untuk mencari penyebabnya dan juga solusi atas terjadinya penurunan hasil itu. Selain itu Jon, bahkan mulai goyah dengan pendapatnya sendiri.

”Ketika terjadi penurunan hasil panen, meski kebersihan kandang tetap ia utamakan, saya sempat berpikir ulang dan goyah dengan pendapat saya semula. Memang penurunan itu oleh karena diduga adanya sergapan penyakit lain. Namun saya yakin kholera bukanlah menjadi penyebab kali ini,” papar Jon Sumar.

Meski demikian, lanjutnya, ”Dalam kegelisahan saya itu, akhirnya saya tetap yakin dan teguh dengan pendirian saya bahwa kebersihan adalah syarat mutlak. Sampai akhirnya, saya melihat lebih luas lagi, bahwa ada sesuatu yang tidak benar. Ternyata dugaan saya mengarah ke lingkungan sekitar kandang yang harus mendapatkan perhatian juga.”

Langkah itu segera dilakukan yaitu dengan membersihkan lingkungan kandang. Semua pekerja kandang dicurahkan tenaganya untuk membuat lingkungan yang bersih, semak-semak ilalang dipangkas serta yang terpenting adalah Jon membuat lobang khusus sampah yang relatif dalam dan tertutup.

Menurut penuturan Jon, langkah itu memang tidak mudah dan pada awalnya akan banyak menghabiskan waktu, tenaga dan dana. Namun ternyata berbuah juga langkah itu. Panen pada periode berikut sedikit mengalami kenaikan hasil yang lumayan. Dan pada periode berikutnya meningkat lagi, bahkan sergapan dan gangguan penyakit lain relatif semakin jarang.

Menceritakan mengapa ia membuat lobang galian sampah yang dalam dan tertutup, bahwa itu sangat penting untuk melokasir bangkai yang dibakar, aneka sampah lain dari aktifitas kandang dan manusianya. Selain itu kotoran di bawah kandang panggung jika 2 hari sekali dibersihkan akan terasa sekali suasana lingkungan kandang dan sekitarnya yang segar dan nyaman. Kondisi ini, jika manusia bisa merasakan nyaman maka sudah pasti, ayam yang dipelihara juga akan merasakan hal yang sama.

”Tumpukan kotoran ayam di bawah kandang sangat tinggi sekali kandungan amoniaknya, dan menurut saya kholera juga muncul oleh karena kandang amoniak yang tinggi. Penyakit lain pun akan cepat menyerang jika situasi ligkungan yang kurang kondusif,” ujarnya.

Ketika ditanyakan, apakah benar pada ayam yang muda jauh lebih tahan terhadap penyakit ini, dibandingkan ayam yang lebih tua. Jon menggelengkan kepala, sambil berkata kalau itu jujur ia mengakui benar-benar tidak tahu.

Akan tetapi menurut pengalamannya, barangkali ketika masih muda sudah terlalu banyak penyakit yang siap menerkam, maka tentu saja penyakit viral akan jauh lebih terlihat gejala klinisnya dibanding penyakit bakterial, seperti kholera. Sedangkan kholera bisa saja muncul ketika ayam masih muda, akan tetapi oleh karena penyakit kholera berjalan relatif lamban, maka ayam mungkin lebih dahulu mati sebelum muncul gejala klinis kholera.

Drh Fauzi Ahmad, seorang praktisi peternakan di Solo mengungkapkan pendapatnya bahwa Kholera sebenarnya termasuk salah satu penyakit yang sangat penting pada usaha peternakan ayam. Menurutnya penyakit yang bersifat infeksius, alias mudah menular itu juga sulit dikendalikan. Bukan saja hanya karena aspek kebersihan yang kurang. Akan tetapi lebih cenderung adanya banyak burung-burung liar yang menjadi pembawa penyakit dan sering berada disekitar kandang, sehingga itu akan terus menjadi sumber penular paling potensial.

Menurut pengalamannya selama ini pada ayam petelur akan cepat menyebabkan anjlognya produksi telur dan relatif lama untuk memulihkannya atau proses recoverynya. Biasanya pada ayam, saat awal terjadi infeksi, belum terlihat gejala klinis yang menciri. Hanya umumnya seperti penyakit lainnya yaitu nafsu makan melorot turun, bahkan terkadang sama sekali tidak mau makan. Nafsu minum memang masih ada akan tetapi juga mengalami penurunan.

Pada musim peralihan, dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya angka kejadiannya akan meningkat. Akan tetapi umumnya kasus penyakit itu banyak dialami para peternak dan juga diakui oleh para peternak sendiri oleh karena kualitas ransum yang jelek. Baik itu pakan dari pabrikan ataupun bahan pakan lain yang digunakan untuk pencampuran.

Pada musim penghujan meski dari pakan yang berasal dari pabrik pakan berkualitas baik, akan tetapi dalam perjalanan pengangkutan dan penyimpanan, maka potensi untuk munculnya penyakit itu sangat besar. Juga harus mendapatkan perhatian jika melakukan pencampuran sendiri dengan bahan-bahan pakan seperti jagung, katul hendaknya bahan-bahan itu harus yang bebas dari jamur dan kontaminan lainya.

”Pengalaman saya memang paling sering kholera itu muncul ketika musim peralihan. Akan tetapi pada saat musim hujan prevalensi penyakit ini juga sangat tinggi. Oleh karena itu memang sebaiknya pengawasan penyimpanan pakan di gudang harus sangat diperhatikan,” ujarnya Selain itu ketika musim hujan, umumnya tumpukan kotoran semakin meninggi dan kandungan amoniak melonjak, maka hal itu semakin mendukung munculnya penyakit itu.

Jumlah ayam yang sakit dalam suatu populasi,menurut Fauzi memang tergolong banyak, juga ayam yang mati. Namun sebenarnya jumlah ayam yang mati dapat ditekan apabila upaya terapi segera dilakukan. Keterlambatan penanganan, umumnya karena akibat keterlambatan diagnosa. Oleh karena itu, memang dibutuhkan tenaga lapangan yang handal untuk meneguhkan sebuah diagnosa. Sehingga kerugian karena kematian dapat diitekan.

Sampai sekarang upaya pencegahan memang harus menciptakan situasi kandang yang nyaman bagi ayam. Sebab kondisi seperti itu akan menekan munculnya penyakit itu dan penyakit lainnya. Benar adanya pendapat Jon Sumar, bahwa kebersihan itu penting, akan tetapi jika tidak diikuti dengan kualitas pakan yang baik, tetap saja akan muncul penyakit itu.

Menurut sepengetahuan Fauzi, tidak seperti pada penyakit coryza yang sudah tersedia bacterin alias vaksin bakteri, pada kholera sampai saat ini belum tersedia vaksinnya. Mungkin hal itu, lanjut Fauzi bakteri Pasteurella sp itu amat banyak strain atau serotype. (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template