Friday, June 13, 2008

Problem Imunosupresi Melawan Mikotoksin

Fokus Infovet edisi 164 Maret 2008

Oleh: Tony Unandar (SAS Group)

(( Selain berbekal kemampuan teknis yang memadai, seorang praktisi lapangan kadang kala membutuhkan suatu instuisi yang tajam dalam mencari penyebab utama kasus-kasus yang sedang dihadapinya. Perpaduan antara kedua hal tersebut di atas akan menjadi lebih baik lagi jika disertai dengan pengalaman lapang yang cukup. ))

Gangguan pada sistem pertahanan tubuh yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang bersifat imunosupresif (faktor yang menekan/mendepresi respon pertahanan tubuh) mungkin menjadi suatu contoh yang paling representatif dewasa ini.
Akibat jeleknya sistem pertahanan tubuh, maka akan muncul kasus-kasus infeksius yang sangat bervariasi baik dalam jenis maupun dalam derajat keparahannya, bahkan cenderung dalam bentuk infeksi kompleks yang berulang-ulang.
Akibat tubuh hanya mengandalkan kekuatan dari potensi suatu antibiotika dalam suatu program pengobatan, maka program antibiotika tersebut seolah-olah tidak “cespleng” atau bahkan gagal sama sekali. Antibiotika seolah sudah tidak berdaya sama sekali.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran sepintas kepada kolega praktisi lapang mengenai faktor-faktor imunosupresi itu sendiri, termasuk bagaimana mendeteksinya di lapangan secara sistematik.

Pengertian Imunosupresi

Kemungkinan adanya faktor-faktor yang bersifat imunosupresif sudah diketahui pada awal tahun 1900-an (Adair, 1996).
Dr. Denise K. Thorton (Central Veterinary Lab. – UK) dalam “16th Poultry Science Symposium” (1980), sedikit membahas beberapa laporan mengenai peranan faktor-faktor yang bersifat imunosupresif dalam menentukan keberhasilan suatu program vaksinasi pada unggas (Olson, 1967; Payne, 1970; Cunningham, 1975; Koyama et. al., 1975).
Baru dalam “Poultry Immunology Symposium” terakhir yang diadakan di Universitas Reading – Inggris (18-24 September 1995), hal-hal yang berkaitan erat dengan faktor-faktor imunosupresi pada unggas dibahas secara rinci dan khusus.
Secara harafiah, imunosupresi dapat diartikan “menekan respon imun”. Pengertian yang lebih luas lagi adalah suatu kondisi di mana tubuh tidak memberikan respon yang optimal terhadap adanya induksi ataupun stimulasi sesuatu yang bersifat imunogenik (sesuatu yang mampu membangkitkan respon kekebalan/imun).
Tegasnya, imunosupresi membuat tubuh host alias induk semang menjadi semakin ringkih.

Kejadian dan Faktor Penyebab Imunosupresi:

Sebenarnya ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian imunosupresi, yaitu:
a. Rusaknya jaringan-jaringan tubuh yang berfungsi untuk membentuk/mendewasakan sel-sel yang berperanan dalam respon kekebalan, misalnya timus (thymus), bursa Fabricius, sumsum tulang, limpa dan jaringan limfoit lainnya (misalnya daun Peyer).
Kerusakan jaringan ini bisa disebabkan oleh virus (misalnya: Reovirus, Mareks Disease Virus, Chicken Anaemia Virus, Raussarcoma Viruses, IBD Virus) atau oleh toksin-toksin tertentu seperti Aflatoksin dan Toksin-T2.
Efek dari rusaknya jaringan limfoit selain dari mengecilnya jaringan limfoit itu sendiri, juga menyebabkan menurunnya jumlah sel-sel darah putih secara ke seluruhan, termasuk sel-sel limfosit dewasa yang beredar di dalam sistem sirkulasi tubuh, baik itu sistem peredaran darah maupun sistem peredaran limfe (system getah bening atau limfatik).
Kondisi ini tentu saja akan mengakibatkan reaksi tubuh dalam menghadapi tantangan bibit penyakit yang masuk akan menjadi lebih lama atau tidak optimal.
Selanjutnya, Labro (1990) melaporkan bahwa penggunaan antibiotika jenis Tetrasiklin dalam waktu yang relatif lamapun akan menekan jumlah populasi sel-sel limfosit, walaupun pada penelitian selanjutnya diketahui efek tersebut hanyalah bersifat sementara dan mekanismenyapun belum diketahui secara pasti.
b. Rusaknya struktur dan fungsi fisiologis sel-sel darah putih (termasuk sel-sel limfosit). Kondisi ini dapat disebabkan juga oleh virus-virus dan toksin yang disebutkan di atas, tergantung dari derajat keparahan infeksi ataupun level dan lamanya induk semang terinduksi oleh Aflatoksin ataupun Toksin-T2.
c. Walaupun struktur sel-sel darah putih (termasuk sel-sel limfosit) tidak terganggu, namun ada kalanya hanya fungsi fisiologisnya saja yang terganggu.
Hal ini bisa terjadi akibat stres yang luar biasa ataupun pengaruh dari Aflatoksin dosis rendah (lazy leucocyte syndrome). Pada kondisi seperti ini sel-sel limfosit yang normal secara anatomis tidak memberikan respon tanggap kebal yang optimal secara fisiologis terhadap adanya induksi secara imunologik.
Adair (1995) menyatakan bahwa kondisi imunosupresi juga dapat terjadi akibat terjadinya infeksi-infeksi pada jaringan-jaringan non-limfoit seperti kelenjar tiroid (thyroid). Pada kondisi seperti ini berarti agen penyebabnya secara tidak langsung mengganggu reaksi imunologis.
Hal ini mirip sekali dengan laporan Klasing (1997) tentang peranan Interleukin-1 (sejenis sitokin) yang terbentuk pada respon kekebalan dan pengaruhnya pada penampilan pertumbuhan pada ayam potong.
Jadi … secara umum dapat disimpulkan bahwa kondisi imunosupresi dapat terjadi akibat terganggunya respon kekebalan secara normal yang disebabkan oleh faktor-faktor infeksius atau pun non-infeksius, baik secara langsung ataupun secara tidak langsung.

Tanda-tanda Kondisi Imunosupresi

Di lapangan sangatlah sulit untuk mendeteksi kejadian imunosupresi secara cepat dan pasti. Yang jelas, adanya kasus yang sangat bervariasi serta berulang-ulang dan juga jeleknya penampilan ayam yang dipelihara secara keseluruhan merupakan gambaran yang sering ditemukan secara konsisten.
Dalam laporannya, Adair (1995) menyebutkan tanda-tanda kondisi imunosupresi pada ayam adalah sebagai berikut:
a. Meningkatnya kejadian infeksi sekunder.
b. Respon terhadap vaksin sangat lemah.
c. Penyusutan atau degenerasi jaringan limfoit.
d. Menurunnya jumlah butir darah putih yang bersirkulasi (dalam darah/limfe).
e. Menurunnya respon limfosit.
f. Menurunnya produksi sitokin oleh butir-butir darah putih.
Akan tetapi … berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, maka gejala-gejala kondisi imunosupresi dalam suatu flok ayam dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

A. RESPON TERHADAP VAKSIN:

Jika terdapat faktor imunosupresi di dalam suatu populasi ayam, maka ayam-ayam yang berada di dalam populasi tersebut akan memberikan reaksi pasca vaksinasi yang berlebihan, baik dari segi jumlah ayam yang menunjukkan gejala-gejala pasca vaksinasi maupun derajat keparahannya.
Gejala-gejala pasca vaksinasi tersebut biasanya sangat tergantung pada jenis vaksin yang diberikan. Gangguan-gangguan pernafasan biasanya merupakan reaksi pasca vaksinasi dari pemberian vaksin aktif ND maupun IB.
Secara normal, jika kondisi tubuh ayam yang divaksinasi cukup baik dan tidak ditemukan adanya faktor imunosupresi, maka reaksi pasca vaksinasi akan muncul antara hari kedua sampai hari kelima sesudah vaksin diberikan dan tampak pada tidak lebih dari 10% dari ayam yang divaksinasi.
Tiga sampai lima hari berikutnya ayam akan sembuh sendiri. Dan tentu saja, hal ini tidak akan terjadi pada kondisi imunosupresi, di mana kejadiannya biasanya berlarut-larut dan cenderung makin parah.
Pada pengamatan hasil-hasil uji serologis, jika terdapat faktor imunosupresi di dalam suatu populasi ayam, biasanya peternak akan mendapatkan hasil titer zat kebal yang relatif lebih rendah dibanding biasanya dan juga mempunyai variasi hasil titer yang relatif cukup besar.
Ini berarti, secara rata-rata titer zat kebal yang ada pada populasi ayam yang diamati adalah lebih rendah dari biasanya (tentu saja kondisi ini mempunyai resiko kegagalan yang lebih besar akibat adanya peluang untuk masuknya bibit penyakit melalui ayam yang mempunyai titer antibodi yang rendah) dan mempunyai titer terendah dan tertinggi dengan interval yang sangat jauh.
Kondisi seperti ini tentu saja lebih mudah diamati pada ayam-ayam yang sedang produksi.
Karena hal-hal tersebut di atas, maka pada saat kita melakukan anamnese (pengumpulan data sejarah penyakit/kasus) peternak sering mengeluh akan tingginya kegagalan-kegagalan program vaksinasi, munculnya kasus penyakit yang berulang-ulang, meningkatnya jumlah pengulangan-pengulangan (booster) vaksin, serta jeleknya hasil pemeriksaan titer zat kebal yang diperoleh.
Jadi, pada kondisi imunosupresi, respon terhadap vaksin adalah sbb.:
• Terhadap vaksin aktif, reaksi pasca vaksinasi akan lebih hebat
• Titer zat kebal yang diperoleh dari vaksinasi akan lebih rendah dari biasanya
• Variasi titer zat kebal yang diperoleh sangat tinggi (tidak seragam)
• Tingginya pengulangan program booster

B. RESPON TERHADAP MIKROORGANISME LINGKUNGAN

Karena respon tubuh terhadap adanya serangan bibit penyakit menurun, termasuk dalam menghadapi aktifitas mikroorganisme lingkungan, maka suatu populasi ayam yang mengalami kondisi imunosupresi akan memperlihatkan angka kematian (mortalitas) dan juga angka penularan (morbiditas) yang biasanya lebih tinggi dari pada normal, tergantung dari jenis bibit penyakit yang menyerang dan juga derajat imunosupresi itu sendiri.
Hal ini sangat mudah dideteksi di lapangan. Peternak akan bingung dengan adanya kasus-kasus kematian ayam yang tidak biasanya terjadi.
Di lain pihak, karena mikroorganisme lingkungan sering terlibat pada setiap kasus yang terjadi, maka pada kondisi imunosupresi, manifestasi kasus infeksius yang terjadi biasanya dalam bentuk infeksi kompleks dan tanda-tanda klinis maupun kelainan-kelainan pada bedah bangkai sangatlah bervariasi, tergantung pada mikroorganisme mana yang dominan pada saat itu.
Karena kejadian kompleks inilah yang kadang kala menyesatkan diagnosa dan menyulitkan program pengobatan yang akan dianjurkan pada peternak.
Dalam keadaan seperti ini, para praktisi lapang yang kurang teliti sering kali memberikan rekomendasi yang sifatnya superfisial, bukan pada faktor penyebab sesungguhnya.
Secara umum, pada kondisi imunosupresi, respon terhadap mikroorganisme lingkungan adalah sbb:
• Kalau terjadi kasus penyakit, angka kematian dan penularan biasanya lebih tinggi dibanding biasanya. Penularan penyakit dalam satu kandang/farm biasanya juga jauh lebih cepat.
• Kasus-kasus infeksius yang terjadi biasanya kompleks dan sangat bervariasi, tergantung pada mikroorganisme yang dominan pada saat itu.
• Kasus infeksius yang sama sering terjadi berulang-ulang.
• Atau … muncul kasus-kasus infeksius yang biasanya tidak terjadi di lingkungan peternakan tersebut.

C. RESPON TERHADAP ANTIBIOTIKA

Cepat pulihnya individu ayam yang sakit selain akibat kerja dari suatu senyawa antibiotika, juga disebabkan oleh membaiknya kondisi tubuh ayam secara keseluruhan, dalam hal ini bisa diartikan bahwa tubuh mulai memberikan respon kekebalan yang cukup.
Jika respon pembentukan zat kebal terganggu oleh adanya faktor imunosupresi, maka sangatlah jelas bahwa tingkat ketergantungan pada potensi antibiotika yang digunakan begitu besar.
Ini berarti, respon pada penggunaan preparat antibiotika mungkin akan jauh lebih lambat, atau bahkan seolah-olah memberikan efek yang sangat minim. Jika kondisi ini terjadi, peternak dengan mudah akan mengatakan bahwa telah terjadi problem resistensi.
Kadang kala, karena begitu banyaknya mikroorganisme yang terlibat dalam suatu kasus, maka antibiotika yang berspektrum luaspun tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Begitu program antibiotika dihentikan, dengan cepat kasus akan muncul kembali, bahkan dengan derajat keparahan yang lebih hebat. Atau … seolah-olah kasus yang terjadi tidak berespon sama sekali terhadap antibiotika yang dipakai.
Dalam kondisi seperti ini, peternak sering kali mengalami frustasi, karena rotasi penggunaan antibiotika juga tidak memberikan hasil yang signifikan.
Jadi … ada beberapa poin penting dalam hal respon terhadap antibiotika pada kondisi di mana terdapat faktor imunosupresi, yaitu:
• Sering terjadi kegagalan penggunaan program antibiotika, baik itu sebagai program pencegahan maupun program pengobatan.
• Frekuensi penggunaan preparat antibiotika menjadi lebih sering, akibat kasus yang terjadi sering berulang-ulang.

Penanganan Kasus Imunosupresi

Yang jelas … jika pada suatu populasi ayam ditemukan kasus-kasus yang mengarah kepada adanya kondisi imunosupresi, maka tentu saja langkah utama yang harus dilakukan adalah meniadakan faktor imunosupresi tersebut. Tergantung pada jenisnya, apakah itu virus, toksin ataukah kondisi stres tertentu. Oleh sebab itu, hasilnya pun sangat bervariasi.
Dari pengalaman penulis, pemberian “supportive treatments” seperti pemberian tambahan vitamin C (15-25 mg asam askorbat/kg BB/hari) dan vitamin E (100 IU/kg BB/hari) sangat membantu pemulihan kondisi ayam.
Pemberian preparat yang dapat memperbaiki fungsi hati seperti inositol dan sorbitol, juga sangat dianjurkan. Di samping itu juga perlu ditingkatkan pelaksananaan program-program “biosecurity” di lingkungan peternakan yang bersangkutan, agar kontaminasi mikroba lapangan tidak mudah terjadi.



Efek Aflatoksin-B1 terhadap respon pertahanan tubuh:

Mikotoksin (Aflatoksin-B1)



Sel Bursa Fabricius Sel Jaringan Limfoid Fungsi Fisiologis Sel Darah Putih
Sel Thymus

Populasi Sel-B/Sel-T Lazy Leucocyte Syndrome



Kondisi Imunosupresi

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template