Tuesday, October 16, 2007

WASPADAI PENYAKIT PENCERNAAN DAN PERNAFASAN

Bulan Januari sampai Februari 2007 ini, menurut prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Departemen Perhubungan, kawasan sebagian besar pulau Jawa; sebagian pulau Sumatera bagian barat dan pulau Sulawesi bagian Tengah serta Selatan dan juga pulau Kalimantan sisi Selatan akan memasuki puncak musim hujan. Intensitas dan frekuensi hujan di daerah itu akan berada di atas normal.

Jika demikian adanya, maka peternak ayam harus siap mengantisipasi agar tingginya kelembaban dan kurangnya intensitas sinar matahari tidak membawa dampak negatif bagi produktifitas dan kesehatan ternak itu. Mewaspadai dan bersiaga adalah cara terbaik dan seharusnya dilakukan agar tidak melahirkan problema serius yang semestinya bisa dicegah.

Atas dasar pengalaman para peternak, maka selama ini jika musim yang demikian itu tidak lain mesti akan diikuti out break penyakit-penyakit yang selalu berkaitan dengan gangguajn sistema pencernaan dan pernafasan. Memang pengalaman para peternak itu relatif tidak jauh berbeda dengan prediksi para pakar kesehatan ternak unggas. Para peternak mengungkapkan atas dasar pengalaman empirisnyaj, sedangkan pakar atas dasar sifat dan karakterisitik agen penyakit dan kondisi kesehatan umum unggas pada situasi musim yang demikian itu.

Menurut Ir. Danang Purwantoro, dari PT Biotek Industri salah satu gangguan kesehatan yang nyaris sulit dihindarkan ketika musim hujan adalah Kolibasilosis dan Koksidiosis. Atas dasar pengalaman lapangannya selama ini jika kelembaban udara yang relatif tinggi maka sudah dapat dipastikan akan muncul gangguan kesehatan dari kedua jenis penyakit itu khususnya pada ayam potong.

”Pengalaman empiris saya tentang gangguan kesehatan yang umum sulit dihindarkan pada peternakan ayam potong adalah Kolibasilosis dan Koksidiosis. Sedangkan pada peternakan petelur selain Kolibasilosis adalah CRD dan ND,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Danang sebaiknya para peternak menyiapkan dengan cermat agar kasus penyakit-penyakit itu dapat ditekan sekecil mungkin untuk muncul dan mengganggu kesehatan maupun produktifitasnya.

Tidak lain, menurutnya hanya meningkatkan biosecurity dan sanitasi. Sebab hanya dengan langkah itu dapat ditekan bahkan dicegah mewabahnya penyakit-penyakit itu yang pasti akan menambah masalah. Kebersihan dalam kandang dan lingkungan, menurut pengamatannya di lapangan masih menjadi persoalaan serius di petrnakan ayam Indonesia.

Penyadaran dan edukasi harus terus diberikan akan pentingnya kebersihan itu. Namun jika sebuah farm yang telah menerapkan hal itu,ternyata memang relatif aman dan bebas dari ancaman penyakit itu. Dan biasanya justru permasalahan yang muncul adalah produktifitas yang belum sesuai dengan ukuran ideal. Untuk masalah ini memang termasuk kompleks, maka sedikit demi sedikit proses penyadaran masalah yang lain ini terus digencarkan.

Hasil pengamatannya di lapangan bahwa fenomena tiingkat kebersihan dan tingkat kesadaran relatif lebih baik di peternakan ayam petelur. Menurutnya hal itu erat kaitannya masa pemeliharaan ternak itu yang lebih panjang dan besarnya dana yang diinvestasikan. Oleh karena itu memang wajar jika kondisi seperti itu terjadi.

Sedangkan menurut pengamatan dan pengalaman Drh Zahrul Anam dari PT Sanbe Farma selain apa yang diungkapkan oleh Danang, ia mencermati bahwa pada musim basah, maka kasus gangguan kesehatan yang cukup serius di peternakan ayam petelur adalah karena agen penyakit dari fungi atau jamur.

Gangguan kesehatan dari agen penyakit itu, ternyata dari waktu ke waktu bukan berkurang namun semakin layak untuk diperhatikan oleh para peternak ayam petelur. Hal itu bisa terjadi, menurutnya oleh karena gudang penyimpanan pakan yang kurang baik.

Namun juga bisa terjadi, oleh karena sistem alat pengangkutan yang masih menyamaratakan pengangkutan pakan dengan barang lainnya. Mestinya alat angkut pakan memang harus sudah diperbaiki dan ditingkatkan keamanan dari air hujan. Hal itu terutama jika alat angkut yang ada belum berupaalat angkut khusus.

Dengan alat angkut yang masih konvensional itu, maka potensi pakan menjadi rusak dan tercemar air hujan tidak bisa dihindarkan. Lebih diperparah jika kemudian gudang penyimpanan pakan di pihak peternak yang buruk, tiris bocor atau kurang ventilasi dan sirkulasi udaranya.

Maka potensi besar untuk tumbuh suburnya jamur tidak bisa lagi dihindarkan. Untuk itu, memasuki musim hujan yang secara rutin akan tejadia tidak salah jika kontrol kondisi pergudangan harus dilakukan.

Menurutnya, gangguan kesehatan oleh karena jamur, relatif sangat sulit untuk diatasi. Bahkan yang paling buruk pada ayam petelur, akan menyebabkan merosotnya produktifitas. Jika kondisi yang demikian terjadi bukan saja peternak menderita kerugian ganda, yaitu munculnya penyakit dan anjlognya produksi, akan tetapi juga ongkos untuk pengobatan yang tidak sedikit.

Selain penyakit karena agen penyakit dari jamur, menurutnya pada musim basah seperti ini adalah agen penyakit viral, contohnya adalah ND. Meski biasanya tidak bersifat tunggal alias kompleks dengan dipicu penyakit lain, akan tetapi ND adalah salah satu penyakit yang sering muncul juga pada kondisi musim basah alias musim hujan.

Umumnya munculnya penyakit itu pada situasi yang demikian oleh karena kondisi kesehatan ayam yang terganggu. Untuk itu ,ia menyarankan agar peternak meningkatkan status kesehatan ayamnya dengan meningkatkan pemberian multivitamin.

Dengan pemberian multivitamin yang baik kualitasnya maka akan mempertahankan ayam dalam kondisi yang cukup baik. Selain itu program vaksinasi harus tetap diperhatikan secara cermat sesuai program yang telah dibuat. (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template