Wednesday, October 31, 2007

MENYOAL ANTIBIOTIKA UNTUK TERNAK

Merujuk pada batasan antibiotika, Peter Salim dalam The Contemporary Medical Dictionary, antibiotika merupakan zat, misalnya penisilin atau streptomisin yang berasal dari jamur atau bakteri yang merusak dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Dalam dunia kesehatan apakah itu human medic atau veterinary, penggunaan antibiotika sangat diperlukan untuk proses penyembuhan suatu penyakit.
Hanya saja, dalam penggunaan antibiotika perlu banyak pertimbangan, mengingat residu antibiotika itu sendiri pada ternak, dan ini harus dihindari agar tidak merugikan konsumen yang mengkonsumsinya.
Di samping itu, penggunaan antibiotika di usaha peternakan perlu mendapatkan pengawasan dari pihak berwenang dalam hal ini adalah dokter hewan.
Sementara itu, perlu juga dipastikan jenis antibiotika mana yang tepat untuk mikroorganisme penyebab penyakit, artinya agar tepat sasaran dalam pengobatan.
Keberhasilan dalam penggunaan antibiotika juga dapat ditentukan oleh kejelian veterinay dalam menentukan aktifitas dan efektifitas antibiotika yang digunakan serta efisiensi proses farmakokinetik yang mencakup absorbsi, penyampaian ke daerah infeksi, difusi dari plasma ke jaringan, penetrasi ke tempat infeksi dan lamanya obat bertahan dalam tubuh.
Menurut drh Agus SR Konsultan di Business Development CECOM Foundation, penggunaan antibiotika sebagai obat di usaha peternakan harus dibawah pengawasan pihak berwenang yakninya dokter hewan.
Biasanya setiap pabrikan obat hewan telah menyediakan Technical Services untuk selalu memantau aktifitas peternak binaan mereka dalam hal penggunaan obat-obatan, misalkan saja penggunaan antibiotika, ini ditujukan agar tidak terjadi kesalahan dalam indikasi, dosis dan aplikasinya.
Di samping itu, Agus menambahkan, semestinya untuk mendapatkan daya penyembuhan yang optimal dalam penggunaan antibiotika, perlu diperhatikan azas penggunaan antibiotika yang rasional pada ternak. Yakni, antibiotika tersebut harus mempunyai daya selektifitas yang tinggi terhadap mikroorganisme penginfeksi dan antibiotika tersebut harus mempunyai potensi toksisitas kecil atau reaksi alerginya minimal.
“Makanya untuk pencapaian hasil pengobatan yang memuaskan bila dengan antibiotika, diperlukan pemilihan rute yang tepat pula, karena hal ini disinyalir sebagai faktor penentu, pertimbangannya adalah konsentrasi darah yang dicapai, lokasi infeksi dan derajat keparahan infeksi.
Di samping itu, distribusi obat dalam tubuh ternak juga perlu diperhatikan, demikian pendapat drh Syakban Mahmud Feed Coordinator PT. Charoen Pokphan home base Pekanbaru.
Menurutnya, faktor pengendali distribusi obat dalam tubuh ternak adalah (1) konsentrasi darah, (2) ukuran molekul, (3) derajat fiksasi pada protein plasma, (4) daya larut lemak, (5) derajat fiksasi pada jaringan, (6) ada atau tidaknya inflamasi dan (7) rute eksresi.
Terkait dengan rute ekskresi ini, lebih lanjut dijelaskannya yaitu perlunya pemilihan antibiotika yang tepat pada infeksi yang melibatkan organ ekskresi dan insufisiensi organ ekskresi dapat meningkatkan resiko toksisitas antibiotika.
Hanya saja ini membutuhkan dana yang cukup besar bagi kalangan peternak, meskipun hasil dari metode ini cukup menjamin keamanan bahan pangan asal ternak, namun penerapannya ditingkat peternak masih jauh dari harapan apalagi untuk usaha peternakan rakyat.
Terkait resistensi pada penggunaan antibiotika yang tidak berdasarkan aturan penggunaannya, drh Jully Handoko Akademisi Fakultas Peternakan UIN Suska Riau menyatakan, selagi penggunaan antibiotika berdasarkan kelas kasusnya, maka resistensi antibiotika dapat dianulir.
Dilanjutkan Jully, pada ternak kasus resistensi tidak separah pada manusia, malahan seringkali ditemukan manusianya yang resistensi terhadap salah satu antibiotika akibat mengkonsumsi bahan pangan asal ternak yang mengabaikan petunjuk pengobatan dengan antibiotika.
Bila menyoal resistensi obat, sejarah resistensi bakteri terhadap antibiotika pada manusia diawali dari ditemukannya staphylococcus yang resisten terhadap penicillin pada awal 1940-an. Sejak itu resistensi tunggal maupun multiple (multidrug resistance) yang dimediasi oleh plasmid yang dapat dipindahkan dari satu ke lain mikroorganisme di traktus gastrointestinal juga dilaporkan sekitar tahun 1950-an.
Penyebaran bakteri resisten semakin dramatik di medio 1990-an. Dua faktor penting ikut berperan dalam penyebaran resistensi yaitu kemampuan organisme untuk mentransfer, memperoleh dan merekayasa gena resisten, serta penekanan selektif bakteri akibat penggunaan antibiotika spektrum luas (broad spectrum) secara berlebihan.
Interaksi antara dua komponen utama inilah yang lebih dikenal sebagai (drug resistance equation) hingga saat ini menjadi bagian dari masalah resistensi bakteri yang tak pernah terpecahkan secara tuntas. (Daman-Suska)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template