Tuesday, October 16, 2007

Jamur dan Flu Burung

Semua penyakit pada umumnya terkait dengan faktor immunosupresi. Begitu juga dengan infeksi jamur yang bersumber dari pakan. Kondisi musim hujan saat ini meningkatkan kelembaban ruang penyimpanan pakan yang pada gilirannya meningkatkan kadar air dalam pakan ternak. Lingkungan seperti ini yang menjadi media tumbuh suburnya jamur. Jamur yang tumbuh menghasilkan racun (toksin) sebagai sisa hasil metabolismenya.

Jika racun ini masuk dan terakumulasi dalam jumlah banyak dalam saluran pencernaan ayam mengakibatkan kerusakan yang permanen dan bahkan kematian. Racun dari jamur disebut miktoksin dan penyakitnya disebut mikotoksikosis. Terlebih bila dikaitkan dengan sistem kekebalan yang juga menurun, pastinya akan membuka peluang bagi penyakit lain untuk masuk, seperti gagalnya program vaksinasi Avian Influenza, Marek, ND, CRD, dll. Demikian diungkapkan Drh Hadi Wibowo praktis perunggasan di Jakarta saat ditemui Infovet dikediamannya.

Menurut Hadi, Jamur yang terdapat dalam bahan pakan tidak mati dengan antibiotik dan desinfektan, karena letaknya yang jauh didalam pakan, sehingga perlakuan penyemprotan dengan desinfektan dan antibiotik tidak akan mampu menjangkaunya. Nah, yang paling bisa dilakukan adalah dengan menjaga suhu lingkungan penyimpanan agar tetap tinggi dengan kelembaban sedang.

Ia pun mewaspadai akan adanya infeksi penyakit lain akibat infeksi jamur. Sebagai contoh AI, karena Avian Influenza mempunyai gejala klinik dan patologi anatomi yang lengkap, ia kadang bisa mirip dengan ND, Cholera, Coryza, Aspergilosis, dll. Karena sifat virus AI yang menyerang semua sistem.

Waspadai 3 Jenis Jamur

Hadi menjelaskan, penyakit yang disebabkan oleh jamur diklasifikasikan menjadi tiga. Pertama adalah Aspergilosis yang merupakan penyakit pernapasan akibat infeksi jamur Aspergilus sp. (A.fumigatus, A.niger dan A.glaucus). Aspergilosis juga dikenal dengan nama mycotic pneumonia yang ditandai dengan lesi mengkeju pada paru dan kantung hawa, morbiditas dan mortalitas tinggi, penyebab. F

aktor pendukung timbulnya Apergilosis terutama berhubungan dengan aspek lingkungan dan manajemen, misalnya temperatur dan kelembaban yang sesuai untuk pertumbuhan jamur, liter yang basah dan lembab, ventilasi yang kurang memadai, pakan atau bahan baku lembab dan tercemar jamur, kejadian penyakit imunosupresif yang tinggi (terutama Gumboro), dan pencemaran pada inkubator (mesin tetas) di hatchery yang kerapkali sulit diatasi.

Kedua adalah Kandidiasis yang disebabkan jamur Candida albicans. Jamur ini tersebar luas dialam sehingga digolongkan sebagai patogen oportunistis. Kandidiasis biasanya menyerang saluran pencernaan bagian atas terutama tembolok dan sering berperan sebagai penyakit sekunder. Secara normal jamur ini ada pada saluran pencernaan, dan bila kondisi badan turun, maka C. albicans akan tumbuh pada selaput lendir dan menimbulkan lesi yang ditandai dengan penebalan berwarna keputihan pada mukosa tembolok dan kadang-kadang pada rongga mulut, esofagus, dan proventrikulus.

Penyebab Kandidiasis umumnya adalah tingkat higienis dan sanitasi yang tidak memadai, penggunaan antibiotik yang berlebihan, penurunan kondisi tubuh akibat strers. Dan defisiensi nutrisi.

Ketiga adalah Favus yang merupakan infeksi jamur kronis di bagian eksternal yang juga dikenal dengan Jengger Putih. Favus disebabkan oleh infeksi jamutr Trichophyton sp. penyekit ini menyebabkan lesi dan keropeng pada bagian jengger namun tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan dua penyakit yang disebutkan sebelumnya.

Akibat infeksi penyakit diatas menimbulkan dampak ekonomi yang besar terutama pada broiler karena rusaknya saluran pernapasan dan pencernaan menghambat proses penyerapan nutrisi yang berakibat lambatnya pertumbuhan. Pertumbuhan terhambat hingga 40% bahkan terhenti atau mati jika disertai dengan infeksi penyakit lain. Ditemukan kasus hingga umur pemeliharaan 23 hari, broiler yang terinfeksi jamur hanya mencapai bobot 6-7 ons, broiler normal pada umur yang sama mencapai bobot 1 kg.

Mekanisme menekan pembentukan kekebalan akibat infeksi jamur, dijelaskan Hadi, akibat proses penyerapan nutrisi yang tidak sempurna menyebabkan pertumbuhan terhambat. Begitu juga dengan pembentukan sel-sel yang berperan untuk membentuk antibodi dari antigen. Yaitu terganggunya proses pembentukan makrofag, sel T helper dan sel B yang berperan dalam proses pembentukan antibodi. Jika ketiga sel-sel ini jumlahnya kurang maka program vaksinasi yang kita jalankan bisa dipastikan gagal. Oleh karenanya dibutuhkan faktor penunjang seperti penggunaan imunomodulator selain mencegah infeksi jamur.

Pencegahan dan Pengobatan

Menurut Prof Charles Rangga Tabbu dalam bukunya yang berjudul Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Vol 1, sesungguhnya pengobatan untuk infeksi jamur ini hingga saat ini belum ada, namun untuk menekan infeksi bisa digunakan fungistat seperti mikostatin, Na atau Ca propionat bersama pakan dengan/tanpa larutan 0,05% CuSo4 dalam air minum untuk menghambat pertumbuhan jamur. Pemberian multivitamin, terutama vitamin A akan menekan derajat keparahan penyakit tersebut.

Penting untuk menghilangkan sumber infeksi dengan menyemprot litter dengan desinfektan sekaligus menjaga kualitas litter tetap kering sehingga terhindar dari pencemaran jamur. Suhu ruang penyimpanan pakan diusahakan tetap dengan kelembaban tidak tinggi sehingga tidak kondusif untuk tumbuhnya jamur. (wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template