Tuesday, October 16, 2007

Hujan, Jamur, Amoniak dan Pakan Ternak

(( Dua musim yang dimiliki Indonesia yakni musim hujan dan musim panas dengan suhu dan kelembaban nisbi yang optimal memberikan kesempatan yang baik untuk jamur dapat tumbuh hidup dan berkembangbiak. ))

Musim hujan datang menggantikan musim kemarau yang hampir sembilan bulanan menyapa peternak di seantero bumi pertiwi ini. Kemarau panjang di beberapa belahan bumi khatulistiwa ini telah pula memberikan warna baru di percaturan dunia peternakan kita.

Berbagai kendala dan hambatan ditemui peternak, yang bermuara pada penemuan-penemuan baru yang seyogyanya harus dicarikan solusi pemecahannya. Kini, musim kemarau itu telah berlalu.

Seperti biasa, bumi pertiwi diguyur hujan, tak ayal hujan yang berkepanjangan telah pula menyebabkan banjir yang bermuara pada memburuknya kondisi perekonomian rakyat.
Betapa tidak, sejak musim hujan dengan banjirnya yang telah menyerang beberapa kota di Indonesia, beberapa kebutuhan pokok melonjak tinggi harganya, tak terkecuali itu, bahan pangan asal ternakpun harganya melonjak tajam.

Hujan dan Bisnis Perunggasan

Di bisnis peternakan unggas, sebut saja peternakan ayam potong atau ayam petelur, kedatangan musim hujan bukanlah sesuatu hal yang dinanti, malahan ini sedikit menimbulkan kekuatiran apa yang akan terjadi saat musim hujan itu datang.
Namun, bila dilihat dari sisi lain, hujan merupakan anugerah terindah alam. Semestinyalah kita mensyukuri “hujan” bukan untuk ditakuti. Bila bicara banjir sebagai manifestasi hujan, itu merupakan keserakahan manusia.

Lihat saja, bumi yang indah dan subur ini dibuat gundul oleh manusia, sehingga saat hujan datang tanah permukaan tak lagi mampu menahan air, maka terjadilah banjir yang dapat menyengsarakan jutaan nyawa bangsa ini.

Di samping itu, hujan yang berkepanjangan juga meningkatkan kelembaban udara, ini disinyalir sebagai kondisi yang mumpuni berbagai bibit penyakit untuk tumbuh dan berkembang biak. Jamur misalnya, yang sudah sejak lama dikenal peternak sebagai agent penyakit yang dapat menimbulkan kerugian pada usahanya.

Mempedomani apa yang dikatakan Darnetty (2005), jamur yang lebih mendekati kebenaran adalah sebagai organisme eukaryotik, mempunyai inti sejati, tidak mempunyai khlorofil, mempunyai spora struktur somatik atau thalus berupa sel tunggal (uniseluler), dan umumnya berupa filamen atau benang-benang bercabang (multiseluler), berkembangbiak secara aseksual dan seksual.

Sedang dinding sel umumnya terdiri dari khitin dan selulosa atau gabungan keduanya. Kajian jamur yang juga dikenal dengan istilah cendawan ini dikupas tuntas dalam ilmu hayat atau biologi dan diaplikasikan didunia kedokteran umum termasuk dunia kedokteran hewan.

Sejauh ini, jamur masih saja dikelompokan menjadi dua golongan besar yaitu kapang dan ragi atau khamir. Berdasar pada sifatnya, ada yang safrofit, toksik, patogen dan alergen, yang dapat menyerang manusia, hewan dan tanaman maka penyakit yang ditimbulkannya ini disebut mikosis.


Jamur pada Dua Musim

Adalah Drs Zulfikar MSi akademisi Fakultas Peternakan UIN Suska Riau menyatakan, kondisi iklim Indonesia sebagai negara tropis sangat cocok untuk pertumbuhan jamur.
Dikatakannya, dua musim yang dimiliki Indonesia yakni musim hujan dan musim panas dengan suhu dan kelembaban nisbi yang optimal memberikan kesempatan yang baik untuk jamur dapat tumbuh hidup dan berkembangbiak.

Misal saja jamur Aspergilus dengan dua spesiesnya Aspergilus flavus dan Aspergilus paraciticus dengan highly toxinitynya dapat tumbuh subur pada lingkungan kandang dengan kelembaban tinggi dibarengi temperatur yang relatif tinggi pula dengan kisaran diatas 25 ÂșC.

Sementara itu, tumbuhnya cendawan pada bahan pakan ternak misalnya, bersifat kontaminasi dengan peran aktif jamur dari golongan safrofit.
Masih menurut alumnus pasca sarjana Unpad Bandung ini menyatakan, jenis kontaminan yang tidak kalah pentingnya untuk mendapatkan perhatian peternak karena sebagian besar dapat menghasilkan zat-zat metabolit yang bersifat racun atau toksin yang
disebut mikotoksin.

Sedang akumulasi mikotoksin dalam tubuh ternak sampai ternak itu memperlihatkan gejala sakit disebut mikotoksikosis.


Jamur dan Pakan Ternak

Di dunia peternakan, keberadaan jamur sering dikaitkan dengan kondisi pakan ternak apakah itu berhubungan langsung dengan pakannya ataupun terkait pada manajemen penyimpanan pakan itu sendiri.

Seperti diketahui bahwa pakan merupakan campuran berbagai macam bahan organik dan anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukannya untuk pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi.

Artinya hanya pakan yang memenuhi persyaratanlah yang bisa memenuhi tuntutan dimaksud agar ternak dapat menjalankan tugas fungsionalnya sebagai penghasil produk pangan berupa daging dan telur yang notabenenya dibutuhkan oleh manusia untuk asupan protein hewaninya.

Perlakuan terhadap pakan sangat diperlukan, mulai dari pemilihan bahan penyusun pakan, perhitungan nilai nutrisi yang dikandung pakan sampai pada proses penyimpanan perlu diperhatikan dengan baik, hal ini bertujuan agar tidak terjadi kemungkinan buruk yang akan menimpa ternak pasca mengkonsumsi pakan dimaksud.

Sementara itu, dalam dunia kedokteran hewan, jamur patogen dengan toksigeniknya disinyalir dapat pula menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar.

Debu dan Amoniak

Dalam sebuah kajian, debu dan amoniak dapat menurunkan performance broiler sampai 25 ppm. Di samping itu debu dan amoniak disinyalir juga dapat mengganggu kehidupan tetangga di sekitar areal peternakan.

Level debu di kandang dapat mencapai lebih dari 10 mg / m2, ini sudah diambang batas
pada level yang bisa diterima manusia. Kelembaban yang tinggi di udara dapat menyebabkan penyerapan amoniak ke dalam partikel debu, sehingga strategi kontrol debu perlu dilakukan untuk mengurangi konsentrasi amoniak.

Namun, pada usaha peternakan dengan permodalan yang pas-pasan, kondisi seperti ini jarang dijumpai, maka pada saat peternak lengah, jamur akan beraksi menggerogoti benteng pertahanan ayam yang diawali dengan mengkontaminasi pakan dengan toksinnya.
Sementara itu, kondisi Indonesia dengan iklim tropisnya, tetap disinyalir sebagai faktor pendukung berjangkitnya aspergilosis di usaha peternakan, terutama yang berhubungan dengan aspek lingkungan dan manajemen, kejadian penyakit immunosupresif yang tinggi terutama penyakit gumboro dan pencemaran pada inkubator yang sulit diatasi.

Kemudian dari segi penularannya, aspergilosis bisa berpindah pada ayam lainnya bila menghisap spora dalam jumlah yang banyak. Disamping itu, aspergilosis juga dapat ditularkan melalui telur saat dalam inkubator.

Penyakit dengan masa inkubasi 4-10 hari ini menunjukan gejala klinik dalam bentuk akut seperti adanya kesulitan bernafas atau dyspnoea, bernafas melalui mulut dengan leher yang dijulurkan ke atas, frekwensi nafas yang meningkat tajam, anoreksia, paralisa namun jarang dilaporkan, kejang-kejang oleh karena toksin Aspergillus sp menginfeksi otak penderita.

Sedang untuk gejala dalam kronis selalu dicirikan anoreksia, bernafas dengan mulut, emasiasi, sianosis yakni perubahan warna kulit di daerah kepala dan jengger menjadi kebiruan, dan berakhir dengan kematian. (Daman Suska)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template