SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI SEPTEMBER 2018

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

BIOSECURITY, INVESTASI, ASURANSI DAN DESINFEKSI

On 4:38:00 AM

Pencegahan penyakit jauh lebih murah dan efektif daripada pengobatan. Untuk melakukan pencegahan, mencakup biosecurity serta vaksinasi baik cara vaksinasi, maupun waktu yang tepat.
Demikian Drh Desianto Budi Utomo PhD dari PT Charoend Pokpand Indonesia dalam suatu kesempatan seraya melanjutkan, untuk penyakit spesifik seperti ND, IB, dan Gumboro, vaksinasinya harus sesuai. Demikian juga dengan penyakit spesifik seperti Koksidiosis. Apakah diperlukan vaksin Koksi, bagaimana bila menjumpai vaksin tidak efektif dan pemakaian tidak benar.

Biosecurity = Investasi
Dengan demikian, kata Dr Desianto, sangat dibutuhkan standar prosedur operasionalnya, seraya menambahkan sebab-musabab mortalitas ayam dapat ditelisik karena penyakit atau manajemen.
Kematian karena penyakit misalnya karena kasus Spiking Mortality Syndrome (SMS/ Sehari Mati Seribu) dapat diketahui kondisi panas tinggi, beda temperatur tinggi, sementara ayam pedaging tumbuh cepat.
Adapun kematian karena kepadatan ternak dapat dicegah dengan pembatasan jumlah ayam. Dapat disiasati dengan membatasi jumlah ayam per meter persegi, atau berat badan sekian kilogram per meter persegi.
Mengurangi kematian ayam karena maldrainase karena stres, stres panas pada jam-jam panas terbukti tidak efektif. Cara menekan mortalitas yang lain adalah bila asupan pakan lebih tinggi. Sehingga, penguasaan teknis menjadi sangat penting.
Bagi Dr Desianto, untuk mendukung tindakan-tindakan mencegah penyakit dan pengelolaan manajemen itu, biosecurity menjadi sangat penting artinya.
Baginya, biosecurity untuk dukungan penting itu jangan dianggap sebagai biaya yang harus dikeluarkan, tapi anggaplah sebagai investasi! Sama seperti dengan modal untuk investasi ayam dan pakan yang acam dihitung untuk menghitung kerugian saat ayam mengalami kematian.

Biosecurity = Asuransi
Biosecurity itu ibarat asuransi. Bilamana sekarang dilakukan, hasilnya baru dapat dirasakan belakangan.
“Kalau kita ke kandang, dan disemprot, bisa jadi kita menjadi bertanya-tanya mana makhluk yang dibasmi. Sebab, makhluk mikroorganisme yang kita lawan itu wujudnya tidak terlihat mata,” kata Drh Andi Wijanarko dari PT Pimaimas Citra
Peternak pun sepertinya harus punya iman ada atau tidak ada mikroorganisme yang penting sekarang kandang harus disemprot. Sedangkan manfaatnya baru dapat dirasakan di akhir nanti. Seperti halnya masuk rumah sakit harus didesinfektan, peternakan pun harus disemprot. Lebih-lebih kalau ada kasus, kandang yang disemprot jauh lebih baik daripada yang tidak disemprot.
Drh Andi menegaskan, menurut ilmuwan, biosecurity itu perlu dan hukumnya wajib dan harus. Tidak boleh kita tinggalkan biosecurity. Sebetulnya menghadapi mikroorganisme itu paling gampang, yang sulit adalah mengamankan dan membasmi sampaihabis belumtentu bisa total. Lain halnya kalau bisa dilihat maka mati bahwa mikroorganisme itu mati. Contoh otentiknya bila kandang disemprot, hasilnya tidak langsung tampak.

Desinfeksi
Jelas, biosecurity merupakan hal yang penting, terdapat beberapa jenis, dan sifatnya sama dengan asuransi. Drh Andi melanjutkan, Tindakannya sudah lazim dikenal seperti semprot-semprot musuh imajiner dan hasilnya baru diketahui belakangan. Hal itu sifatnya perlu, hukumnya wajib, dan sifatnya tidak pandang bulu baik itu terhadap orang, mobil, karyawan yang masuk lokasi peternakan dan kandang harus disemprot, tidak hanya saat kasus terjadi.
Sayangnya kondisi biosecurity sekarang, sudah ada yang kendor. Kalau ada orang masuk peternakan, mereka boleh langsung masuk tanpa disemprot. Yang ketat contohnya sanitasi di peternakan pembibitan. Perlakuan pembersihan sanitasi disini 1-2 kali seminggu dengan desinfektan, misalnya glutaraldehid dan cocobenzil. Desinfektan-desinfektan ini kerjanya mudah, baik untuk menghadapi virus, bakteri, maupun jamur.
Cara penggunaan desinfektan itu dengan formalin untuk kandang kosong, Sayangnya formaldehid (formalin) bersifat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker). Kalau ada ayam pun, semua desinfektan harus berdosis ringan.
Adapun menurut Drh Suhardi, Manajer Produk PT Sanbe Farma, jenis desinfektan ada macam-macam sesuai target dan fungsi.
Bila kandang kosong menggunakan formaldehid. Untuk desinfeksi harian pada orang dengan heksalponium klorida, diterapkan pada orang maupun mobil. Untuk desinfeksi harian pada ayam, mencegah virus dan peternakan tetangga yang terserang penyakit, dengan desinfektan glutaraldehid.
Adapun desinfeksi pada air minum mencegah penyebaran penyakit dengan iodine dan heksalponium klorida.
Yang pasti, lanjut Drh Andi, minimal sanitasi dan kebersihan terjaga, ditingkatkan dengan desinfeksi dan fumigasi. Penyemprotan pun harus aman. Desinfektan yang aman diantaranya Kalium permanganat. Namun saya setelah tragedi bom Bali penjualan kalium permanganat diawasi, sehingga untuk mencarinya sulit. Ada perusahaan obat hewan yang memasarkan pengganti Kalium Permanganat.
Terkait dengan hal ini, Drh Setiadjit D Santoso Kepala Pabrik PT Romindo Primavetcom Cikarang Jawa Barat dalam suatu kesempatan mengungkapkan merebaknya kejadian flu burung menyebabkan meningkatnya pemakaian glutaraldehid sebagai desinfektan di lapangan. Meski sama derivat formaldehid, formalin nampaknya lebih ditakuti oleh aparat dan bahkan sempat dilakukan razia besar-besaran terhadap penimbunan formalin;
Menurutnya, glutaraldehid nampaknya lolos dari jerat aparat keamanan dan bahkan badan pom sehingga tidak mustahil glutaraldehid juga digunakan sebagai bahan pengawet makanan sebagai substitusi formalin.
“Bagaimana dampak glutaraldehid bagi kesehatan manusia, penggunaannya mungkin patut menjadi pemikiran,” kata Drh Adjit.
Kembali oleh Drh Andi, fumigasi dan pengasapan dengan formalin dan Kalium Permanganat yang lain harus dilakukan dalam ruang tertutup. Pengasapan pun harusnya tidak masalah. Misalnya dengan sediaan 50.000 per liter, 400 liter air untuk 12 meter persegi sampai 15 meter persegi.
Untuk perhitungan ongkos desinfektan, diambil produksi peternakan (100 persen), alokasi 8 persen untuk pengobatan, (obat, antibiotik, vaksin dan vitamin), pakan 75 persen, dan 20 persen untuk operasional dan karyawan; desinfeksi cuma 1/2 persen.
Biasanya peternak lebih memikirkan patokan harga lebih dulu. Uji cobanya mudah, daging dipotong dimasukkan dalam cairan desinfektan. Daging mana yang membusuk lebih lama (misalnya setelah 3 hari daging baru membusuk) menjadi pertanda kualitas desinfektan makin baik, sehingga desinfektan ini dipilih untuk dipakai.

Mencegah yang Dari Luar Masuk
Berbeda dengan vaksinasi, menurut Drh Suhardi, biosecurity pada dasarnya adalah tindakan mencegah masuknya penyakit dari luar. Vaksinasi pada ayam yang telah diprogramkan, bukan masuk satu paket pengendalian penyakit dari luar ini, namun vaksinasi merupakan paket pengendalian penyakit dari dalam.
Kecuali mencegah penyakit sedini mungkin, juga mencegah penyebarannya. Menghadapi masa inkubasi satu minggu, tambah lagi perlakuannya beberapa minggu. Perlu diidentifikasi penyakit apa yang ada, sedangkan lokasi kandang dan bangunan jangan dekat dengan pemukiman.
Supaya tidak sia-sia, tindakannya disesuaikan dengan pola-pola pemilihan kandangnya. Untuk panggung litter, berbeda dengan kandang baterai yang bawahnya lebih mudah mengundang lalat. Pada kandang litter perlu diperhatikan kelembaban lokasi yang menumbuhsuburkan virus lain. Juga perhatikan alat kandang, pakan dan lain-lain. Secara rutin, bersihkan tempat pakan dan gudang, cuci secara rutin jangan menjadi penyebaran penyakit, bersihkan sanitasi dari sawang dan kotoran,
Cegah kandang layer menjadi basah, kalau masih kering lakukan penyemprotan untuk mencegah lalat. Cegah kontaminasi karyawan, orang dan kendaraan. Kontrol tikus dan binatang-binatang lain. Airpun harus dideteksi setiap saat.
Apapun yang terjadi, biosecurity sangat dibutuhkan. Kalaupun mungkin skalanya kecil-kecilan di peternakan kecil, siapapun yang masuk di lokasi peternakan dankandang, kaki dan tangan mesti dicelup untuk desinfeksi. (YR)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer