Friday, August 31, 2007

Manajemen Broiler Moderen

Drh Heri Setiawan

Hari masih terhitung pagi, ketika saya memasuki kandang broiler milik bapak Alim. Bangunan kandangnya sederhana. Tiang-tiang penopangnya dari kayu dan bambu serta beratapkan genteng. Berdasarkan teknis perkandangan, sebenarnya kandang broiler tersebut kurang memenuhi persyaratan. Lebar kandangnya melebihi standar, yaitu sekitar 10 meter. Tidak ada monitor di bagian atapnya. Jarak antara satu kandang dengan kandang lainnya hanya berkisar 4 meter saja. Tinggi alas kandangnya 1,5 m.

Di dalam kandang tersebut berisi 6.000 ekor anak ayam umur 4 hari. Penempatan anak ayam sebanyak itu dibagi dalam 10 kandang indukan. Chick guard (pembatas kandang indukan) menggunakan seng. Pemanasnya dibuat dari tong atau drum bekas tempat minyak tanah. Dinding drum diberi satu lubang berdiameter sekitar 8 cm. Tujuannya sebagai pintu masuk oksigen untuk pembakaran. Bahan bakar pemanas adalah potongan-potongan kayu. Di atas drum, digantungkan seng sebagai penutup.

Saat itu saya perhatikan tirai-tirai plastik masih menutupi semua sisi kandang. Meski pun demikian, penyebaran anak ayam di masing-masing brooder merata. Nampaknya anak-anak ayam tersebut merasakan kenyamanan. Artinya, temperatur lingkungan dalam kandang indukan - ketika itu - memadai dan sesuai kebutuhan anak ayam. Saya ambil beberapa ekor anak ayam, kemudian saya raba tembolok dan telapak kakinya. Kesemua anak ayam yang saya ambil tadi, temboloknya terasa penuh berisi pakan campur air minum. Telapak kaki anak ayam yang saya raba, seluruhnya terasa hangat.

Begitu asyiknya berdiskusi dengan pak Alim, tanpa disadari hari semakin siang. Di dalam kandang itu, saya mulai merasa kegerahan. Anak-anak ayam membuka paruhnya (panting). Mereka sudah kepanasan dan gelisah. Melihat hal itu, saya sampaikan kepada pak Alim bahwa temperatur kandang telah meningkat dan mengakibatkan stres atau cekaman pada anak-anak ayam.

Tanpa menunggu lama, pak Alim memanggil dua operator (anak kandang). Setelah kedua operator tersebut berada di dalam kandang, pak Alim pun bertanya ”Apa yang kamu rasakan ketika berada di dalam kandang ini ?” Spontan keduanya menjawab ”Panas dan gerah, pak”

”Menurut kamu, apakah nyaman berada dalam kandang seperti itu dan dalam waktu lama ?”

”Wah..ya..nggak, pak !”

”Apakah kamu tega bila anak ayam yang kamu pelihara tidak nyaman karena kepanasan ?”

”Mboten, pak,” jawab kedua operator itu dalam bahasa Jawa yang artinya ”Tidak, pak”

”Bagus kalau begitu. Segera lakukan yang terbaik agar anak ayammu merasa nyaman kembali”

Mendengar instruksi ”halus” pak Alim, kedua operator itu pun berpencar. Seorang menuju keluar kandang dan membuka (dengan cara menggulung) bagian atas tirai yang menutupi dinding kandang. Sementara yang satu, dengan menggunakan batu bata menutup sebagian lubang di dinding drum pemanas. Dengan ditutup sebagian, oksigen berkurang dan nyala api pun mengecil sehingga panas yang dipancarkan menurun. Beberapa saat kemudian, temperatur dalam kandang berangsur-angsur normal. Hembusan angin segar masuk ke dalam kandang melalui bagian atas tirai yang terbuka. Anak ayam menyebar rata kembali. Mereka mematuk-matuk pakan dan menghirup air minum dengan nyamannya.

Broiler moderen memang tumbuh lebih cepat dengan konversi pakan yang lebih hemat. Namun, broiler moderen juga mempunyai konsekuensi-konsekuensi tersendiri. Antara lain, sangat peka terhadap pengaruh lingkungan dan mudah nervous. Oleh karenanya broiler moderen membutuhkan manajemen (tatalaksana pemeliharaan) yang spesifik. Harus diperlakukan dengan ekstra hati-hati dan penuh peduli.

Manajemen broiler moderen tidak selalu identik dengan peralatan dan perlengkapan moderen. Dalam artian harus canggih dan mahal. Teknologi canggih bisa berfungsi maksimal bila didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional serta Sistem-Prosedur yang handal. Apalah artinya pemanas berbahan bakar elpiji, misalnya, bila operator kandang selalu terlambat menyalakannya padahal temperatur kandang sudah dingin dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak ayam pada saat itu. Akibatnya, anak ayam kedinginan, bergerombol dan berdesak-desakan. Anak ayam tersebut didera cekaman (stres).

Dalam kasus di peternakan broiler pak Alim, saya melihat betapa pedulinya beliau kepada ayamnya. Begitu tanggap terhadap apa yang dirasakan ayamnya. Beliau begitu fokus dan penuh kasih memelihara ayamnya. Pak Alim tidak rela bila ayamnya menderita stres/cekaman yang berkepanjangan. Memang, inti manajemen broiler moderen adalah usahakan semaksimal mungkin untuk meminimalkan stres pada ayam. Bila peternak tidak ingin stres, maka janganlah membuat ayam stres ! Mudah, bukan ?

9 komentar:

Aristyo on December 18, 2009 at 4:40 PM said...

Setuju..coba semua plasmaku kyk pak alim..wah bs jd sorga dunia tuh

drh. ganjar said...

betul..betul..betulll.. kaa upin dan ipin. kita seharusnya yang tahu apa kemauan ayam..bukan ayam yang harus menuruti apa kemauan kita. falsafah ini dulu pernak saya lakukan waktu jadi peernak, dan dari 10 periode..saya hanya gagal 1 kali.

Kameisah PW on November 27, 2010 at 11:07 PM said...

zona kenyamanan rata-rata makhluk hidup dapat manusia ukur dengan kondisi kenyamanan manusia di lokasi tersebut. dengan kata lain untuk memulai suatu hal dalam budidaya peternakan kita harus memahami kondisi terbaik untuk ternak tersebut.

kameisah pw on November 27, 2010 at 11:30 PM said...

Manajemen broiler moderen tidak selalu identik dengan peralatan dan perlengkapan modern. dalam kasus ini, pa'Alim membuktikan bahwa dengan peralatan dan perlengkapan yang sederhana, manajemen broiler modern dapat dilakukan dengan baik..
yang paling penting dari manajemen broiler modern ini adalah meminimalkan stress pada ayam tersebut dan ketekunan dalam pemeliharaannya..

kameisah pw on November 28, 2010 at 5:24 AM said...

Manajemen broiler moderen tidak selalu identik dengan peralatan dan perlengkapan modern. dalam kasus ini, pa'Alim membuktikan bahwa dengan peralatan dan perlengkapan yang sederhana, manajemen broiler modern dapat dilakukan dengan baik. yang paling penting dari manajemen broiler modern ini adalah meminimalkan stress pada ayam tersebut dan ketekunan dalam pemeliharaannya.
zona kenyamanan rata-rata makhluk hidup dapat manusia ukur dengan kondisi kenyamanan manusia di lokasi tersebut. dengan kata lain untuk memulai suatu hal dalam budidaya peternakan kita harus memahami kondisi terbaik untuk ternak tersebut.

diana ms on November 28, 2010 at 5:47 AM said...

ventilasi sangat penting dalam sistem perkandangan
mungkin atapnya dibuat monitor saja
dan ventilasinya diperluas..
trimakasih

iwan on April 14, 2011 at 9:44 AM said...

saya sangat setuju dengan pak alim , memang kunci utaman ada pada majikan sebagai maneger yang mampu mengelola kandang... sukses selalu

Himawan on July 16, 2011 at 1:15 PM said...

Manajemen pemeliharaan yang baik juga didukung dengan kualitas SDM yang memadai

Welly Ananto on May 18, 2014 at 11:34 AM said...

Numpang buka lapak, dijual kandang ayam kapasitas 10 rb, plus gudang pakan, gudang sekam, gudang peralatan plus dapur n rumah, jalan udh beton diwilayah sumedang, yg berminat hub 0853206733t7

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template