Thursday, August 16, 2007

Infovet 139, Februari 2006 - KETERGANTUNGAN KITA

Kasus formalin begitu menghentak dan nyaris merontokkan usaha rakyat kecil dengan dijauhinya produk-produk tahu, bakso, mi, bahkan merembet pada konsumsi daging ayam akibat kecurigaan diawetkan dengan formalin. Begitu Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) mengumumkan hasil temuannya, dan media massa menggeber besar-besaran seperti kasus Flu Burung tahun 2004, Departemen Kesehatan lantas seperti kebakaran jengggot dan menyalahkan betapa lamban dan makan waktunya Badan POM mengumumkan hasil temuannya itu. Padahal keberadaan formalin pada makanan rakyat itu sudah bertahun-tahun, belasan tahun, bahkan lebih, diketahui dari hasil pantauan. Depkes seperti kata MenKes lantas menginginkan Badan pemerintah yang mandiri itu untuk lebih baik kembali di bawah naungan Depkes, seperti keberadaannya sebelum di’sapih’ pada tahun 1999.

Sementara sebelumnya saat Depkes mengetahui ada formalin di lapangan, merasa tak punya otoritas untuk mengumumkan dan bertindak pencegahan berdasar hasil pantauannya. Alasannya yang punya otoritas soal pengawasan obat dan makanan itu adalah Badan POM, bukan Depkes; sehingga aparat Depkes hanya melakukan penyadaran saja. Dalam hal ini pengamat mengatakan, sebetulnya tak perlu saling menunggu antara keduanya. Yang lebih penting adalah keduanya (Depkes dan Badan POM) saling bekerja sama dan ujung-ujungnya saling menyalahkan antara keduanya. Apalagi mengingat motivasi utama di’pisah’nya Badan POM adalah justru supaya pengawasan tersebut berjalan lebih efektif dan tajam.

Saling bekerjasama adalah salah satu mata rantai perwujudan dari kesadaran bahwa antar pihak-pihak yang saling membutuhkan, terjadi suatu kondisi saling bergantung atau dalam satu kata adalah ketergantungan. Ketergantungan bukanlah satu pihak bergantung pada pihak yang lain tanpa sebaliknya. Setiap pihak yang ada saling bergantung, saling menghargai, saling menolong, saling mengulurkan tangan dan saling bergayutan. Ketergantungan adalah suatu kondisi yang menggambarkan tidak ada pihak yang lebih utama dari pihak yang lain. Semua pihak sama-sama utama, perlu diutamakan, saling bersikap mengutamakan satu sama lain, sehingga muncullah sikap “Tanpa engkau aku tak bisa sukses,” sedang pihak yang lain juga mengatakan hal sama kepada pihak pertama.

Antara POM dan Depkes, mestinya terjadi kondisi ketergantungan. Antara Ditjen Peternakan dengan Badan Karantina Pertanian, Perusahaan Obat Pewan, Perusahaan Pakan Ternak, Perusahaan Sarana Produksi Peternakan lainnya, dan semua pihak. Dan semua piha. Mestinya terjadi sikap ketergantungan. Bukan sekedar bergantung pada pihak lain tanpa mau menjadi tempat bergantung. Termasuk media-media peternakan dengan segenap stake holders-nya. Mengapa demikian, karena pada dasarnya setiap pihak menjalankan perannya masing-masing. Dan dengan peran-peran itu maka terjadilah sikap saling membantu, saling bekerjasama, saling tolong-menolong, dan saling mendukung untuk suatu kebaikan bersama.

Dengan menyadari hal itu, sebenarnya setiap permasalahan yang muncul bisa diatasi dan dicari jalan keluarnya. Masalah ketahanan pangan yang dikoyak-koyak dengan menipisnya persediaan beras hingga memojokkan pemerintah untuk mengambil resiko menelantarkan budidaya pertanian lokal dengan impor beras, menyudutkan pemerintah untuk melirik daging impor ilegal; masalah kesehatan hewan yang masih dikepung dengan siluman flu burung yang sudah menjadi perhatian utama dunia untuk memberantasnya dengan kesepakatan-kesepakatan internasional; belum lagi masalah-masalah di luar sektor peternakan namun berpengaruh secara langsung atau tidak langsung, BBM (Bahan Bakar Minyak) yang menyodok produksi peternakan karena sangat dibutuhkannya energi minyak, Tarif Dasar Listrik yang ikut melambung, Formalin yang ditiupkan pada masa yang begitu sulit.

Sekali lagi kita dituntut untuk memperhatikan kepentingan orang lain, manakala kondisi diri sendiri mungkin lebih baik dari orang lain dan bahkan mungkin tak terpengaruh sama sekali lantaran pondasi bisnis sudah begitu kokoh sehingga malah mampu meningkatkan kinerja berbiaya tinggi. Rasa syukur berhasil mempedulikan kepentingan orang lain ini merupakan salah satu hadiah pula, di mana keberadaan kita ternyata bisa bermanfaat untuk orang lain. Dengan semangat ketergantungan itu, manakala melihat pihak lain sukses, bersyukur pula kita punya rasa ketergantungan untuk belajar dan menjadi sukses. Dampaknya pasti luar biasa, terjadi evaluasi pada diri sendiri, dilanjutkan dengan refleksi dan berujung pada aksi yang lebih baik. Roda perputaran evaluasi, refleksi dan aksi pun terus bergulir, dalam suatu ketergantungan kita. (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template