Friday, August 31, 2007

FAKTA LAPANGAN: AYAM POTONG PUN KINI RENTAN DENGAN AI


Adalah Dr Drh Fedik Abdul Rantam, tenaga pengajar pada Laboratorium Virologi dan Immunologi Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya menguatkan tulisan pada Infovet Edisi Mei 2007 yang memuat serangan Avian Influenza (AI) pada ayam potong. Hal itu diungkapkan Fedik ketika tampil dalam Seminar Terbatas untuk peternak ayam potong dan petelur Se-Jogjakarta dan Magelang, pertengahan Mei 2007 di Jogjakarta. Sedangkan Ir Danang Purwantoro dari PT Biotek Jogja yang bertindak sebagai Ketua Penyelenggara mengungkapkan bahwa topik yang diangkat memang masih seputar penyakit AI oleh karena penyakit itu kini sudah menyebar ke ayam potong dan bukan lagi monopoli pada ayam petelur.

“Topik penyakit AI kami pilih karena penyakit itu tidak saja sudah merambah ke ayam potong akan tetapi juga oleh karena penyakit itu sangat strategis bagi para peternak. Mengenai pembicara yang kami tampilkan memang pakar yang juga sangat kompeten dan dedikasinya sangat tinggi dalam ikut mengendalikan penyakit AI di Indonesia selama ini,” ujar Danang.

Lebih lanjut, Danang menjelaskan, masalah pembicara yang dipilihnya merupakan Anggota Komnas Flu Burung dan Anggota Komisi Obat Hewan Deptan, tentunya diharapkan sangat banyak informasi baru yang bisa bermanfaat bagi para peternak di Jogja dan Magelang. Dan ternyata Dr Fedik sangat komunikatif dan dalam penyampaiannya juga sangat sistematis serta mudah dipahami para hadirin yang sebagian besar para peternak.

Perkembangan penyakit Avian Influenza dijelaskan dengan gamblang oleh Fedik secara runut, sistematis dan didukung ilustrasi gambar yang menarik sehingga sangat mudah dicerna oleh hadirin yang sebagian besar adalah peternak dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang heterogen.

Menurut Fedik hasil Tim Pemantau Penyakit AI dari FKH Unair bahwa di Jawa Timur kasus AI pada ayam potong sudah sedemikian mengkhawatirkan, karena dari populasi yang ada termasuk banyak. Tanpa menyebut angka, berapa banyak farm komersial dan breeding yang diamati, Fedik menyimpulkan bahwa kini peternak ayam potong tidak bisa meremehkan kasus penyakit AI yang sementara ini diasumsikan hanya menyergap pada ayam petelur.

Selanjutnya ditekankan oleh Doktor muda lulusan Jerman yang murah senyum itu, bahwa tidak ada jalan lain bagi peternak ayam komersial di Indonesia saat ini selain hanya ada langkah utama yang harus ditempuh yaitu biosekuriti termasuk vaksinasi. Langkah itu sebenarnya merupakan sebuah kebutuhan baku bagi industri peternakan unggas, namun selama ini di Indonesia hal itu sering dilalaikan dan dianggap pemborosan.

Meski harus diakui bahwa langkah itu telah dilakukan oleh pihak breeding alias pembibit, namun hasil pengamatan Fedik aspek kontrol pasca vaksinasi belum begitu baik. Kontrol yang dimaksud adalah melihat hasil vaksinasi melalui titer antibodi, banyak pihak yang belum melaksanakan secara optimal dan baik.

Dalam seminar yang bertajuk “Strategi Budidaya Layer dan Broiler di era Flu Burung” itu, Fedik kembali menjelaskan kepada para peternak tentang sifat dasar virus AI. Bahwa itu sebuah kenyataan bahwa virus AI adalah tipe yang mudah mengalami mutasi atau setidaknya mampu memodifikasi genetiknya. Meski sebenarnya virus yang bersangkutan sangat “ringkih” gampang mati saat berada di luar tubuh hospes dan juga mudah mati oleh berbagai jenis desinfektan. Selain itu di dalam tubuh ayam virus ternyata mampu mengaglutinasi sel darah merah ayam dan mempunyai sifat mudah menular ke manusia. Saat ini menurutnya hampir tidak ada daerah di Indonesia yang benar-benar dapat terbebas dari sergapan penyakit yang menghebohkan tahun 2003 itu sampai saat ini.

Vaksinasi Diperkuat Multivitamin dan Imunostimulator

Dijelaskan juga bahwa penyakit AI pada unggas adalah menyerang sistem pernafasan yang bersifat mudah menular dengan angka kematian (mortalitas) mencapai 100%. Bahwa sementara ini banyak para peternak dibuat kalang kabut oleh penyakit ini tetapi sangatr sedikit yang mengetahui bahwa sebenarnya ada kelompok yang patogen yang biasa disebut High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan kurang patogen atau Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Asumsi para peternak sebagian besar menyamaratakan hal itu. Atas kondisi seperti ini menjadi tidak seragamnya aksi atau langkah dalam menghadapi penyakit itu. Ada peternak yang nekat tidak mau melakukan vaksinasi AI kecuali hanya melakukan penyemprotan yang berlebih. Akan tetapi, syukurlah kini nampaknya meski terlambat, persepsi para peternak dan praktisi di lapangan sudah nyaris sama.

Memberikan pemahaman akan pentingnya sebuah vaksinasi memang butuh waktu, karena hal itu terkait dengan sifat dasar sebuah usaha yang mencoba menekan ongkos produksi. Dan ketika semakin banyak peternak yang terantuk batu karena ayamnya terinfeksi maka akhirnya langkah itu harus dilakukan.

“Vaksinasi adalah sangat perlu karena langkah itu merupakan cara memberikan perisai dan memberikan pelindung bagi ayam. Dan yang perlu diperhatikan saat vaksinasi adalah hendaknya pemberian multivitamin dan immunostimulator. Baik itu immunostiimulator ataupun multivitamin tidak lain dalam rangka merangsang tubuh ayam agar memproduksi secara optimal zat kebal atau antibodi,” ujarnya yang seolah ingin menegaskan arti pentingnya kedua hal itu.

Sebenarnya ada jenis tumbuhan yang bersifat mendorong dan merangsang produksi zat kebal saat vaksinasi dilakukan. Contohnya adalah tanaman Putrimalu dan Daun Dewa, dimana kedua tanaman itu sudah diteliti mengandung zat immunomodulator.

Tanda Infeksi pada Ayam Potong

Hasil Tim Fedik di lapangan menemukan fakta bahwa tanda-tanda infeksi AI pada ayam potong, memang tidak sejelas dibanding pada ayam petelur. Namun demikian sebenarnya sangat mudah dan para peternak kini sangat paham benar tanda-tanda penyakit AI pada ayam potong. Jika sergapan dari virus LPAI biasanya mortalitas relatif rendah dan umumnya pertumbuhan terhambat atau muncul sindroma kerdil. Selain itu perlu diwaspadai adanya penularan melalu air minum yang tercemar feses. Jika dilakukan bedah bangkai akan dijumpai degenerasi hati dan pembengkakan limpa dan ginjal. Selain itu kantung udara menjadi agak gelap dan keruh. Sangat sering dijumpai adanya perdarahan yang berat (haemorragic) pada usus.

Sedangkan pada jenis HPAI umumnya mortalitas akan sangat tinggi bahkan sering 100% dan umumnya saluran pernafasan yang terganggu sehingga sering disalah dugakan dengan penyakit pernafasan oleh karena penyebab virus. Jika demikian maka, harus diwaspadai karena penularan sering sangat terjadi, hal ini oleh karena tingkat penularan sangat tinggi dengan bantuan angin.

Vaksinasi AI Tetap Penting untuk Ayam Umur Pendek

Umumnya muncul asumsi bahwa ayam potong tidak perlu divaksin, karena lebih banyak menyerang pada ayam usia tua, ayam petelur contohnya . Namun kini harus direvisi pendapat dan asumsi itu. Di daratan benua Eropa pada saat ini juga sudah hampir semua negara merekomendasikan vaksinasi AI pada semua bangsa unggas, termasuk unggas untuk tujuan komersial. “Vaksinasi AI kini menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan pada ayam komersial agar terhindar dari kerugian yang lebih besar. Hampir sebagian besar negara di benua Eropa sudah merekomendasikan hal itu,” tegas Fedik.

Selain itu, menurut Fedik, biosekuriti harus semakin ditingkatkan. Aspek pemilihan bibit yang berkualitas, terutama nilai atau angka titer antibodi maternal yang tinggi. Dijelaskan bahwa kini sudah ada banyak pihak breeding yang menekankan arti penting DOC yang mempunyai maternal antibodi yang tinggi terhadap virus AI. Langkah lain untuk menekan kasus AI di farm komersial adalah memberikan multivitamin dan immunostimulator agar produksi antibodi mencapai tingkat yang optimal.

Menjawab pertanyaan seorang peternak tentang kapan sebaiknya ayam potong divaksin AI. Menurut Fedik harus diperhatikan jadwal dan program vaksinasi terhadap penyakit yang lain, seperti vaksin ND dan Gumboro. Sebab pada ayam potong umumnya diusia awal demikian ketat atau banyaknya program vaksinasi. Namun demikian sebaiknya vaksinasi AI harus dilakukan sedikitnya dua kali agar tercapai tingkat kekebalan yang optimal. Tidak ada dan belum pernah terjadi vaksinasi AI yang hanya sekali mampu menghasilkan keberhasilan vaksinasi.

Untuk itu menurutnya sebaiknya pada ayam potong divaksin pada umur 5-7 hari dengan aplikasi sub kutan/dibawah kulit (s.c) atau intra muskuler/didalam daging (i.m). Hasil penelitiian Tim FKH Unair bahwa baik aplikasi s.c maupun i.m tidak ada perbedaan hasil yang signifikan. Yang paling penting dan patut diperhatikan adalah ulangan (revaksinasi) atau booster. Tanpa booster tidak akan bisa mencapai hasil vaksinasi yang optimal.

Sedangkan Drh Carolina dari PT Biotek mencoba membagi pengalaman bahwa hasil penerapan di lapangan di kawasan Jabodetabek vaksinasi AI telah mampu mencapai tingkat keberhasilan yang menggembirakan. Di beberapa farm komersial yang menjadi mitra PT Biotek, terbukti program vaksinasi AI membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Oleh karena itu pilihan atas vaksin menjadi salah satu aspek yang terpenting. Selain itu ketatnya biosekuriti akan ikut membantu tingkat keberhasilan itu (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template