Saturday, September 5, 2015

Berhenti Mengajar Demi Berjuang (Refleksi Bambang Suharno)

Alkisah, dua lelaki tegap memasuki sebuah kelas di Sekolah Rakyat Kepatihan, Cilacap, Jawa Tengah. Pelajaran Aljabar di dalam kelas langsung berhenti. Kalender saat itu menunjuk akhir 1943. Bersama wali kelas Sukarno, keduanya berdiri di depan 30-an murid kelas lima.

Seorang di antaranya maju mendekati meja paling depan. Sosok itu kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas, mengucap salam.

 “Saya mau pamit akan berjuang bersama Dai Nipon,” ujar pria itu di depan kelas. Pria berpeci hitam, berkemeja putih kusam, dan celana krem panjang sedikit di bawah lutut itu bernama Soedirman, yang selama ini dikenal sebagai guru kelas yang ramah dan pintar mengajar, sedangkan di sampingnya adalah Isdiman. Soedirman melanjutkan kalimatnya. “Saya minta pangestu (restu),  mudah-mudahan berhasil. Anak-anak kalau sudah besar nanti juga harus berjuang. Membela negara.”

Serentak murid-murid menjawab, “Nggih, Pak!”. Sejenak kemudian kelas menjadi gaduh, anak-anak berteriak-teriak. “Selamat berjuang, Pak! Selamat berjuang, Pak! Semoga berhasil!”. Anak-anak itu merasa sedang kehilangan seorang guru kesayangannya. Soedirman menyalami para murid sebelum meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan. Isdiman, yang tak berujar sepatah kata pun, mengikuti di belakangnya.

Beberapa tahun setelah kejadian itu, nama kedua pria yang berpamitan tadi muncul sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang dikenal di berbagai negara. Soedirman menjadi seorang Jenderal, Panglima Besar TNI, diangkat pada Juni 1947. Adapun Letnan Kolonel Isdiman gugur sebagai Komandan Resimen 16/II Purwokerto, dua tahun sebelumnya, dalam pertempuran melawan tentara sekutu di Ambarawa, Jawa Tengah.

Soedirman mendapatkan pendidikan militer pertamanya dari Jepang. Ia direkrut pemerintah negeri matahari terbit itu pada usia 25 tahun.  Soedirman kemudian masuk Peta angkatan kedua sebagai calon daidancho yang dimulai pada April 1944.  (diolah dari majalah Tempo

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pemerintah Belanda tidak terima. Mereka kembali menyerang Indonesia dengan  dukungan tentara sekutu. Namun kekuatan dan kecerdasan sekutu mampu dikalahkan oleh gerilya tentara rakyat indonesia di bawah pimpinan Jenderal Soedirman. Soedirman tidak mengeluh soal minimnya persenjataan TNI.  Seandainya ia mengeluh, mungkin riwayat Negara  Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah tamat.

Dalam perundingan pemerintah Belanda dengan para diplomat Indonesia, Belanda menawarkan negara serikat di bawah kordinasi kerajaan Belanda. Untunglah Soedirman menyatakan dengan tegas; kemerdekaan haruslah 100 %, tidak setengah-setengah.

Singkat cerita, perang gerilya sanggup mengalahkan Belanda, dengan moto “maju terus, pantang mundur”.  Tentara Indonesia berhasil menduduki Jogjakarta selama  6 jam , yang membuat dunia terperangah dan percaya bahwa negara Indonesia itu nyata, dan kuat. Maka pada tahun 1949 Kerajaan Belanda mengakui  kedaulatan NKRI.  Inilah sejarah perang kemerdekaan yang menginspirasi banyak negara Asia dan Afrika menjadi berani memerdekakan diri .

Mumpung bulan Agustus, yang merupakan bulan Kemerdekaan, saya coba menyelami kisah  seorang Jenderal Soedirman ini .  Pelajaran dari kisah ini adalah, jika indonesia sanggup mengalahkan sekutu dengan gerilya, kenapa kini mental kita kerap merasa sudah kalah oleh dominasi ekonomi negara maju? Bisa jadi kekuatan Indonesia bukan pada korporasi melainkan pada ekonomi skala UKM yang dikelola secara baik dan tak perlu banyak bicara, seperti kekuatan perang gerilya. Di Eropa saja, koperasi peternak sapi perah dapat berkembang hingga memiliki industri es krim Campina yg sangat mendunia. Kenapa kita selalu berpikir, kalah karena skalanya kecil, modalnya terbatas?  Bukankah Soedirman bergerilnya tanpa mengeluh kekurangan senjata?

Soedirman telah membuktikan perubahan besar pada dirinya, dari seorang guru menjadi prajurit. Keputusan besar telah diambil di usianya yang muda. Dan dipilih melalui pemungutan suara menjadi Panglima Perang sebelum usia 30 tahun dan bisa diangkat menjadi Jenderal TNI di usia 30 tahun. “Jika mau perubahan besar, perlu mengambil keputusan besar”.

Keunggulan Soerdirman adalah jujur, soleh, dan teguh pada prinsip. Ketika para rakyat terombang-ambing oleh perang mempertahankan kemerdekaan, mental para pemimpin diuji. Soedirman menegaskan, maju terus pantang mundur. “Merdeka harusnya tidak setengah-setengah,” begitu pesannya.

Kita, di bulan Agustus ini kita sedang merayakan Proklamasi Kemerdekaan ke-70. Sayangnya saat ini peringatan HUT RI ini semakin hambar dan jauh dari pesan-pesan  semangat proklamasi, yang sejatinya sangat penting untuk motivasi meraih sukses di dunia nyata. Seandainya Soedirman masih hidup, mungkin ia berbicara keras kepada  orang-orang yang mengeluh karena persaingan yang makin keras, pertumbuhan ekonomi melambat, usaha merugi, piutang tidak tertagih atau mungkin mengeluh karena merasa sial.

“Maju terus pantang mundur, jangan setengah-setengah !” pesan Soedirman, guru SD yang menjadi panglima perang. ***

(dimuat di rubrik refleksi majalah Infovet edisi Agustus 2015)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template