Monday, June 8, 2015

PB ISPI Berikan Solusi Atas Masalah Perunggasan Terkini

Foto bersama para pembicara FGD dan pengurus PB ISPI
Bertempat di Aula Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Bogor, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Menata Industri Perunggasan Nasional yang membahas tentang daya saing industri unggas nasional dan ancaman produk hasil unggas dari luar negeri.

Pertemuan yang dilakukan pada Selasa, 12 Mei 2015 ini diikuti oleh segenap perwakilan peternak Bogor yang bernaung dibawah PPUN dan GOPAN, Ketua Umum PB PDHI Dr drh Heru Setijanto, Ketua ARPHUIN Ir Ahmad Dawami, Ketua AINI Prof Nachrowi, Ketua Pintar Lampung Ir Agus Wahyudi, dan perwakilan dari PB Ismapeti dan ASOHI. 

Menurut Ketua ISPI Prof Ali Agus, industri perunggasan memiliki peran sangat penting dalam perekonomian. Hal ini dimungkinkan karena industri perunggasan mampu menghasilkan swasembada daging unggas maupun telur. Selain itu, sektor ini ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kecerdasan masyarakat. Produk unggas berupa daging ayam dan telur adalah sumber protein yang berkualitas dengan harga terjangkau. Saat ini, 65% daging yang dikonsumsi masyarakat Indonesia berasal dari daging ayam.

Potensi industri perunggasan di Indonesia masih akan terus tumbuh lebih tinggi. Membandingkan dengan negara-negara Asean lainnya, angka konsumsi per kapita daging ayam Indonesia baru mencapai 8 kg/tahun masih di bawah Thailand 16 kg/tahun, dan Filipina 9 kg/tahun. Padahal angka pendapatan per kapita Indonesia tergolong masih lebih tinggi dari Filipina. Untuk meningkatkan konsumsi, sejumlah upaya kampanye gizi dilakukan oleh masyarakat perunggasan.

Dari sisi ekonomi, perunggasan telah menyerap 2,5 juta tenaga kerja langsung dengan total omzet berkisar Rp 120 triliun per tahun. Lapangan kerja di perdesaan dapat berkembang dengan adanya usaha peternakan unggas. Di samping itu, perunggasan juga merupakan faktor penggerak industri terkait lainnya di bidang pertanian, antara lain usaha budidaya jagung, dedak padi dan sebagainya.

Permasalahan dalam industri perunggasan adalah adanya kelebihan pasokan ayam sehingga harga ayam di pasar lokal menjadi tertekan. Pada sisi lain, kenaikan harga pakan dan biaya produksi terus melambung. Kondisi ini menyebabkan peternak rakyat semakin terjepit. Selain itu feedmill di Indoensia mampu menghasilkan 18,5 juta ton, sedangkan kebutuhan hanya 13 juta ton. Masih ada 5 juta yang belum terpakai.

Pertumbuhan DOC mencapai 20%, sedangkan permintaan kurang dari 15%. Artinya ada kelebihan produksi yang menyebabkan harga ayam potong mudah jatuh. Peternakan ayam broiler dan petelur penghasil DOC sebagian besar merupakan perusahaan besar yang sudah menggunakan teknologi modern. Sebagian besar industri peternakan ayam komersial di Indonesia merupakan penanaman modal asing (PMA) yang mendominasi pasar, dengan menguasai sekitar 70%-80% pasar.

Standarisasi kualitas DOC dan pengaturan suplainya untuk menjaga tingkat harga yang lebih stabil dan bisa menguntungkan berbagai pihak. Langkah ini sudah mulai dikerjakan oleh Pemerintah akibat membanjirnya suplai DOC sejak beberapa bulan lalu yang mengakibatkan banjir ayam broiler di pasaran menyebabkan kerugian berkepanangan tidak hanya di kalangan peternak tetapi juga menghampiri usaha pembibitan dan pabrik pakan. Kualitas DOC bisa bervariasi di antaranya tergantung umur induk. DOC yang kualitasnya jelek membutuhkan pemeliharaan ekstra. (wan)


Untuk selengkapnya baca Majalah Infovet Edisi 251 Juni 2015

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template