Friday, November 14, 2014

DDSN Sangsikan Surplus Daging Kementan

Ketua Dewan Daging Sapi Nasional (DDSN), Soehadji, sangsikan pernyataan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Syukur Iwantoro mengenai surplus 140.000 ton pasokan daging sapi hingga Oktober 2014. Sejumlah pelaku usaha yang tergabung dalam DDSN pun meragukan keakuratan data yang disampaikan oleh Dirjen tersebut.

Soehadji pada jumpa pers di Jakarta, Rabu (12/11) menyatakan, jika memang benar terjadi surplus daging sapi seharusnya harga di dalam negeri sudah turun.

"Meski pasokan daging surplus, harga daging sapi saat ini masih tinggi," kata mantan Dirjen Peternakan itu. "Kami terkejut dengan pernyataan Dirjen, karena bersifat subyektif. Hingga saat ini kami masih menunggu kepastian resmi terhadap program swasembada daging yang dilakukan saat Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid II,” paparnya.

"DDSN menghadapi situasi yang membingungkan dengan adanya pernyataan petinggi kementerian pertanian yang mengakui secara terbuka telah salah hitung program swasembada daging. Padahal data yang digunakan adalah hitungan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) 2011," kata Soehadji.

Sementara Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI), Thomas Sembiring mengatakan persediaan daging sapi dalam negeri diyakini belum berlebih jumlahnya. Hal ini berdasarkan pada perhitungan-perhitungan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Ada pejabat berwenang yang mengatakan daging sapi over supply. dari mana menghitungnya. Menurut saya tidak ada itu persediaan berlebih," katanya.

Menurutnya, persediaan daging yang ada di dalam negeri berasal dari sapi lokal maupun impor dan daging beku dari luar negeri. Populasi sapi hidup di dalam negeri saja,  belum berada pada angka yang memadai.

"Kalau daging impor itu per 3 bulan, dan itu sudah habis dalam waktu berjalan. Sekarang yang masih tersisa itu untuk pemasukan Oktober-Desember. Untuk periode yang terakhir ini sisanya paling tinggal 10 ribu ton," kata Thomas Sembiring.

Data dari BPS sendiri memperlihatkan jika masyarakat Indonesia rata-rata mengonsumsi daging 2 kg/tahun. "Data BPS menyebutkan bahwa masyarakat bawah kita baru konsumsi daging 2 kg/tahun. Bagaimana bisa  over supply jika Malaysia saja sudah 7 kg/tahunnya," imbuhnya.

"Statement tersebut bisa saja ada unsur politis di dalamnya, karena baru pergantian menteri. Jadi terdapat pihak yang sedang mencari simpati kepada menteri yang sekarang, supaya tidak kehilangan jabatan," ungkapnya. (nung)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template