Friday, May 30, 2014

CRD itu penyakit kronis

 CRD itu penyakit kronis, bukan penyakit akut yang timbul secara mendadak. Pemberian obat bukan pada CRD-nya tapi pada kuman lain yang ikut. Dan pengobatan ini sesungguhnya tindakan akhir. Tindakan awal harus ke lingkungan!.
Drh. Gede Aguscaya

 Langsung di kawasan industri Rungkut Industri Brebek Surabaya, Infovet bertemu pelaku bisnis obat hewan dari PT Kalbe Farma Divisi Animal Health. Tujuannya mencari kejelasan bagaimana peta obat CRD (Chronic Respiratory Disease). Adalah Drh Gede Aguscaya,Ketua Daerah ASOHI Jawa Timur sekaligus Special Customer Executive mengungkapkan pendapatnya tentang sifat CRD Komplex atau kronis. Karena sudah kronis maka muncul gejala penyakitnya. Itulah mengapa penyakit CRD tidak muncul pada kondisi ayam yang tidak diperparah adanya penyakit lain.

Banyak cenderung orang melihat kasus dulu. Padahal kasus CRD pada unggas adalah normal. Disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum, bila kondisi ayam stres, CRD akan timbul. “Itu yang harus kita awasi. Bukan obat dulu,” katanya. 
Dengan demikian penekanannya adalah obat alternatif terakhir dalam penanganan.Yang mesti diperhatikan pertama kali menurutnya, soal lingkungan. Perubahan kondisi alam suka kembali menyebabkan perubahan situasi Indonesia, termasuk di  Jatim. Kondisi hujan, panas, dingin, selalu berubah-ubah. Perbedaan suhu yang sangat ekstrim d alam musim pancaroba. Dalam kondisi ini perlu diperhatikan secara serius penanganan dari masa DOC, perlakuan biosecurity dan manajemen keswannak yang ketat, lakukan pengaturan kandang bersih dari kuman. Di sini berlaku pembersihan CRD dan mikroorganime lain dari peternakan.

Drh Gede pun menegaskan, “CRD merupakan penyakit yang bersifat kronis, berarti sudah ada secara lama. Tidak timbul penyakitnya karena kondisinya bagus. Contoh kondisi bagus ini adalah untuk mengatasi stres sedari bibit sampai masuk kandang peternakan diberi air gula, vitamin. Pemberian antibiotik hanyalah bertujuan supaya tidak tumbuh lagi kuman CRD-nya.”

Lain dengan CRD yang sifatnya akut, yang menyerang secara mendadak seperti serangan jantung. Sedangkan penyakit bersifat kronis, seperti flu, yang harus diawasi kondisi lingkungannya dulu. Kondisi lingkungan inilah penyebab panas, stres. Perlakuan ayam datang juga dapat menyebabkan stres. Untuk menjaga ayam sehat, diberi vitamin dulu, bukan obat dulu. Perlakuannya berbarengan dengan manajemen yang baik. Sirkulasi udara mesti diperhatikan.

Kalau ayam stres dapat muncul serangan Mycoplasma gallisepticum diikuti penyakit lainnya. Serangan yang menyebabkan penyakit lain itu menjadi satu kompleks dalam CCRD antara lain Necrotic enteritis, Salmomelosis. Bila ayam terkena NE, saluran pencernaan yang terserang susah diobati. Mengganggu feed intake, serangan Salmonella juga menyebabkan kerugian.

NE juga berjangkit didukung kondisi kelembaban yang tinggi. Pada kandang yang penuh dengan CO2, Clostridium perfringens spora menjadi vegetatif. Yang semula kondisinya normal menjadi ganas menyebabkan penyakit. Terjadilah CCRD, oleh karena kuman yang sebetulnya normal bersarang di tubuh ayam menjadi bertambah jumlahnya dan ganas. Komplikasi penyakit pun menyerang. Salmonella menyerang sebagai Salmonelosis pada ayam umur 1-3 minggu, di daerah tinggi dengan kematian tinggi.Maka perlu diperhatikan serangan-serangan penyakit oportunis non CRD yang menyebabkan CCRD tersebut. “Titik beratnya ke sana. Bukan ke CCRD-nya,” tegas Drh Gede.

Ia memberi contoh, apabila lingkungan peternakan mendukung, memicu dan dapat menyebabkan kompleksnya penyakit menjadi CCRD tersebut. Kandang-kandang ayam di Blitar misalnya. Manajemen kandang di sini terlalu padat. Upaya biosecurity menjadi begitu berlipat, orang keluar masuk kandang secara leluasa menjadi penambah faktor pemicu. Sanitasi menjadi tidak optimal dan mempengaruhi kondisi ayam.

Guna mengatasi penyakit oportunis seperti NE tadi, Drh Gede member langkah. Titik poinnya pada pakan yang diberi obat mengatasi NE. Guna mengatasi NE pada pakan dicampur dengan virginiamisin. Dia menguraikan, dosisnya 20-40 ppm (normal) 40 ppm. Karena 50 persen berat 80 gram per ton pakan, diberikan untuk 5-7 hari. Sedangkan untuk menghindari infeksi sekunder, dengan amoksisilin per oral sesuai dosis, dalam 5-7 hari akan hilang penyakit sekundernya.
Bertujuan feed intake yang bagus, untuk mengatasi Salmonella, pancaroba dan panas tinggi, ada yang memberi obat macam-macam. Ada yang memakai tetrasiklin, neomisin 300-400 ppm, 200-300 ppm, gabung jadi satu 300 ppm.

Niscaya perlakuan perlawanan terhadap NE dan Salmonelosis itu akan membantu peternak mengatasi CCRD. Prinsipnya karena dalam kondisi normal CRD tidak timbul. Munculnya karena adanya penyakit-penyakit ikutan ini. Maka penyakit inilah yang harus diatasi./yonathan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template