Monday, March 4, 2013

Tantangan Bisnis Perunggasan Indonesia Kian Beragam

ASOHI kembali menghadirkan Seminar Perunggasan ke-8 pada 18 Oktober lalu. Inilah seminar yang selalu dinantikan kalangan pebisnis obat hewan dan bisnis unggas tentunya. Mengusung tema “Peran Indonesia Dalam Percaturan Bisnis Perunggasan Dunia”, turut menghadirkan pembicara Mr Gordon Butland, konsultan perunggasan internasional.

Krissantono, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU)  menilai prospek pertumbuhan industri perunggasan di 2013 diprediksi naik 8%, maka setidaknya DOC yang dibutuhkan untuk peternak ayam pedaging akan mengalami penambahan menjadi 2,2 miliar dari tahun sebelumnya 1,9 miliar ekor. “Itu baru untuk ayam pedaging saja, belum untuk ayam petelur,” ujar Krissantono.

Sementara itu FX Sudirman Ketua Umum Asosiasi Produsen Pakan Indonesia, bencana kekeringan di Amerika dan beberapa sentra produksi jagung dan kedelai berpengaruh sangat besar terhadap melambungnya harga bahan pakan. Terhambatnya transportasi di Argentina juga berakibat pada kelanggakaan bungkil kedelai di pasar domestik. “Kenaikan harga bahan baku ini menyebabkan pula naiknya harga pakan,” katanya.
 
Meski demikian, Sudirman optimis tahun 2013 industri perunggasan nasional akan tumbuh. Hal ini ditandai dengan adanya investasi pabrik pakan yang gencar, baik pemain lama sebagai ekspansi, maupun dari investor atau pendatang baru.
 
“Masa depan industri pakan sangat baik, seiring dengan pertumbuhan industri peternakan, khususnya industri perunggasan,” ucapnya. Lanjutnya, produksi jagung nasional tahun 2012 cukup bagus, sehingga volume impor jagung menurun secara signifikan.
 
Berpijak dari tahun 2012, harga broiler sangat tergantung pada suplai. “Perlu diperhitungkan secara cermat, seberapa besar kenaikan produksi untuk memenuhi potensi kenaikan permintaan, sehingga terjadi keseimbangan yang membentuk harga ekonomi bagi seluruh sektor,”jelas Sekjen Pinsar, Ir Eddy Wahyudin. Eddy menambahkan, harga pakan dan bibit yang naik akan mempengaruhi kenaikan HPP sehingga menyebabkan harga broiler dan telur juga mengalami gejolak.
 
Eddy menuturkan, perlu antisipasi untuk mengatasi gangguan cuaca yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi broiler serta telur. Ancaman penyakit masih berpotensi menghambat secara langsung proses produksi broiler dan telur. Hal ini berdampak pada kenaikan harga bibit, karena terjadi gangguan produksi pembibitan.
 
Performa harga telur sepanjang tahun 2012, cukup bagus. Rata-rata harga jualnya yang melebihi HPP yaitu Rp 14.161/kg berbanding Rp 13.273/kg. Kendala yang dihadapi peternak layer tahun ini, salah satunya adalah kenaikan harga DOC layer mencapai Rp 13.000/ekor.
 
Sementara Mr Gordon Butland pada sesi kedua menyampaikan bahwa telah terjadi kekeringan yang melanda AS pada pertengahan 2012, di kawasan bagian mild west yang merupakan penghasil jagung dan kedelai terbesar sangat mempengaruhi harga pakan ternak dunia. Begitu juga dengan kedelai mengalami gagal produksi.
 
Permintaan kedelai dunia terus merangkak naik, sehingga cadangan kedelai menjadi rendah dan mengakibatkan mahalnya harga bungkil kedelai. Harga bungkil kedelai yang semula hanya Rp 4.000/kg pada awal tahun melesat mencapai Rp 7.000/kg saat ini. Kita ketahui, jagung dan bungkil kedelai merupakan bahan baku utama untuk ransum unggas. Penggunaannya berkisar antara 60-80 % dalam total ransum.
Hal penting yang dikemukakan Gordon yaitu negara Brazil dan Thailand saat ini giat mengekspor produk unggasnya. Selain itu akan banyak perusahaan asing menjadikan India, Indonesia, China, dan negara di bagian Asia untuk target pasar ekspor. 

BANGUN KEPERCAYAAN HADAPI TANTANGAN GLOBAL

Di kesempatan lain pada Kongres XI GPPU mengusung tema ‘Membangun Kepercayaan Menuju Efisiensi Produksi untuk Memenuhi Gizi Masyarakat Madani’ dengan sub tema ‘GPPU Siap Menghadapi Tantangan Nasional dan Global’, dihadiri 46 peserta anggota GPPU dan pada saat acara pembukaan dihadiri sekitar 75 peserta termasuk dari FMPI, GAPPI, ASOHI, GPMT, PPUN, GOPAN, PPAB, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali.

Agar para peserta kongres terinspirasi akan keindahan dan kekhusukan Pulau Dewata, oleh Krissantono, Ketua Umum BPP GPPU Indonesia menyatakan, “Dari Kongres XI ini diharapkan bisa menghasilkan putusan-putusan Kongres yang dapat lebih menyatukan para pembibit dengan insan perunggasan lainnya, dan lebih meningkatkan produktivitas kita semua,” ujar Krissantono.

Dengan demikian, sudah tepat Bali dijadikan sebagai tuan rumah kali ini, walaupun Bali belum memiliki Komda yang mensyaratkan telah memiliki minimal dua breeding dan/atau hatchery. Krissantono berprihatin, bahwa konsumsi per kapita penduduk Indonesia masih rendah dibanding Negara-Negara tetangga, kita masih sekitar 7 kg/orang/tahun atau konsumsi per orang 1 ekor ayam untuk setiap 3 bulan, sementara di Malaysia per orang 3 ekor ayam untuk setiap bulan. Dan, konsumsi telor ayam per orang 1,6 butir telor setiap minggu, sementara di Malaysia 1 butir telor setiap hari.
 
Inilah tantangan untuk kita para pembibit dan tantangan untuk seluruh pelaku bisnis perunggasan. Andaikata kita bisa meningkatkan menjadi 15 kg/orang/tahun, perlu penjabaran detail berapa DOC harus kita produksi, GPS yang diimpor, PS dan FS yang diproduksi, kandang yang harus dibangun, ton pakan yang harus diproduksi, obat yang tersedia, peternak yang handal harus kita siapkan dan lain-lain permasalahan.
Tantangan ini baru dari sisi konsumsi perkapita. Secara jujur harus kita akui bahwa daya saing perunggsan kita masih masih rendah. Produktivitas masih relatif rendah, hampir 90 % bahan baku pakan tergantung dari luar, supply bibit masih impor dan struktur pasar masih belum efisien.
 
Dengan demikian tentang adanya panggung industri yang belum kuat, dapat membuat kita kecut dan kecil hati. Tetapi, sebaliknya suasana itu harus dapat memicu dan memacu seluruh unsur yang terlibat supaya dapat lebih merapatkan barisan bergandengan tangan dan sama-sama merancang policy bersama antara pebisnis,  Pemerintah dan  Akademisi, dengan koordinator FMPI.
 
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir. Syukur Iwantoro, MS dalam sambutannya yang dibacakan oleh Ir. H. Abubakar, SE, MM, menyatakan bahwa industri perunggasan saat ini tumbuh cukup pesat mulai dari hulu sampai hilir. Produksi DOC broiler final stock tahun 2012 diprediksi mencapai 1,9 milyar atau setara dengan produksi daging ayam ras sekitar dua juta ton.
 
Indonesia dapat dikatakan sudah berswasembada ayam dan telur, dari segi produksi jauh lebih banyak ketimbang angka konsumsi yang masih rendah. Kontribusi terbesar yang memasok daging di dalam negeri adalah ayam ras 51,4 % disusul sapi 18,9 %. Di balik keberhasilan itu, masih dirasakan berbagai permasalahan yang masih dihadapi industri perunggasan yaitu penyediaan bibit ayam ras Grand Parent Stock (GPS) yang sepenuhnya 100 % masih impor dan sebagian Parent Stock (PS) impor. Dengan adanya ketidakseimbangan supply and demand, Dirjen berharap GPPU dapat mengatasi lewat Kongres XI kali ini.
 
Tantangan Nasional perunggasan yang turun naik, diharapkan GPPU siap bersatu untuk menyelesaikan persoalan bisnis perunggasan di Indonesia. Diharapkan perusahaan breeding dan hatchery yang belum bergabung bisa masuk menjadi anggota GPPU. Dan, menurut informasi yang didapat Infovet dari pengurus, ada dua perusahaan besar dan sekitar 15 perusahaan menengah yang belum menggabungkan diri ke organisasi GPPU.
 
Yang menjadi permasalahan saat ini adalah low trust society, yaitu suatu kondisi yang sangat kronis yang tidak ada kepercayaan masyarakat terhadap komponen yang satu dengan lainnya. Ada lingkaran setan antar pembibit dengan peternak, peternak dengan pabrik pakan, dan seterusnya sehingga akan muncul energi negatif. Nah, kalau terjadi energi negatif akan terjadi hukum alam dan kita tinggal menunggu kehancuran. Jika energi habis, kita akan tepar dan tamu akan datang masuk ke Indonesia untuk mengincar peluang. Indonesia lelah, asing akan masuk.
 
Ingat, Indonesia merupakan pasar yang sangat seksi. Chicken Leg Quarter (CLQ), Chicken Wing (CW) dari AS, bahkan kalkun dan bebek dari Brazilia sudah mengintip Indonesia. Kini tinggal sisi akademisi perlu diberdayakan. Banyak Profesor dan Doktor dilahirkan dari Perguruan Tinggi yang mumpuni. Koleksi dan berdayakan potensi mereka. Mengapa Pemerintah kurang memberdayakan mereka untuk diajak kerja bareng dari sisi scientific, kalau Pemerintah pernah berkata cara menangkal sudah habis karena keterbatasan.
Di era globalisasi, penolakan produk hanya bisa ditujukan dari sisi ilmiah, bukan dengan alasan lainnya. 

Thailand saat ini sudah bebas dari AI karena kerja bareng dari berbagai pihak, sehingga bisa masuk pasar global Eropa dan Indonesia. Ini merupakan proses pembelajaran bagi kita semua dan merupakan pekerjaan rumah utama yang harus diselesaikan secepatnya.
 
Sementara itu, Don Utoyo dari Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI), mengingatkan, Indonesia jangan ekspor dulu, tetapi memperbesar pasar dalam negeri. Pemerintah membuat regulasi yang baik dan kondusif untuk menghadapi tantangan importasi peternakan. Beda pendapat boleh saja yang penting dapat memperbaiki kondisi peternakan. Faktor pendukung berupa pengadaan lahan serta bahan baku pakan perlu diperhatikan dan Pemerintah sebaiknya tidak hanya bicara target saja.

Akhir dari acara Kongres XI GPPU, Dirjen melantik pengurus GPPU periode 2012-2016, yang masih tetap dikomandani oleh Krissantono. (Mas Djoko R/Bali )/Infovet nov 12

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template