Friday, May 11, 2012

Mikoplasma: Sang Perampok

Oleh: Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI - Jakarta)

Di Indonesia, frekuensi kasus Mikoplasmosis pada peternakan ayam moderen, baik itu yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum (Mg) ataupun Mycoplasma synoviae (Ms), dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir tampaknya terus meningkat.  Lalu, benarkah ayam moderen memang ditakdirkan lebih sensitif terhadap infeksi mikroba yang tergolong mikroorganisme prokariotik ini?  Atau, apakah progres efisiensi pemeliharaan ayam moderen yang notabene “kebablasan” yang menjadi faktor pencetus utama kasus ini dilapangan?  Artikel singkat ini mencoba mengulasnya dari “kaca mata” seorang praktisi lapang yang tengah mencermati alternatif-alternatif tindakan yang jitu untuk mengurangi kerugian peternak akibat kinerja “sang perampok” yang berdarah dingin ini.

Latar Belakang
Perbaikan genetika ayam ras moderen ternyata menuntut kondisi tatalaksana dan lingkungan pemeliharaan yang prima, agar ayam moderen tersebut dapat menunjukkan potensi genetiknya secara optimal.  Namun di sisi lain, tingkat keuntungan peternak yang semakin marginal jelas menuntut pelaku perunggasan harus melakukan efisiensi proses pemeliharaan secara terus menerus.  Secara tidak sadar, kondisi ini pasti mengakibatkan suatu keadaan kontra-produktif yang ujung-ujungnya dapat menciptakan suatu gangguan signifikan pada dinamika interaksi antara ayam dengan mikroorganisme disekitarnya yang notabene berada dalam mileu yang sama.

Pada industri perunggasan moderen, aspek efisiensi yang telah diterapkan secara luas dengan mudah dapat diamati pada:
  1. Adanya kepadatan ayam yang sangat tinggi per-satuan luas kandang, sehingga produktifitas per-satuan luas ruang­an meningkat.  Hal ini tampak dengan jelas pada sistem perkandangan baik yang terbuka (konvensional) maupun yang tertutup (closed house system). 
  2. Adanya penerapan sistem operasional yang bertingkat alias “multi-age system”, sehingga produk akhir akan dihasilkan secara kontinyu, sesuai dengan tuntutan pasar produk pertanian yang sangat sensitif terhadap “supply – demand” yang berkesinambungan.
  3. Adanya waktu istirahat kandang yang semakin singkat (pada peternakan rakyat bahkan sering diabaikan), sehingga produktifitas kandang dan tenaga kerja dalam satu tahun dipercaya akan meningkat. 
Kepadatan ayam yang tinggi per-satuan luas kandang jelas mengakibatkan beberapa efek “domino” lanjut, salah satunya adalah meningkatnya prevalensi kasus-kasus “man-made disease” seperti Mikoplasmosis, karena dalam kepadatan ayam yang tinggi, suasana anaerob dengan mudah akan tercapai dan replikasi (perkembangbiakan) Mikoplasma pada permukaan sistem pernafasan akan berlangsung lebih cepat. Kepadatan yang tinggi juga mempermudah penularan agen penyebab penyakit (Mikoplasma) secara horizontal lebih efektif, dari ayam yang satu ke ayam yang lain.  Manifestasinya adalah morbiditas yang seolah-olah lebih cepat. Kondisi tersebut juga jelas akan mengakibatkan konsentrasi bibit penyakit per-satuan volume udara atau bahan litter akan meningkat.

Kepadatan ayam yang tinggi juga akan mengakibatkan ayam mengalami stres sosial (social stress). Kondisi stres yang berkesinambungan jelas akan mengakibatkan gangguan pada mekanisme pertahanan tubuh ayam.  Dalam situasi seperti ini, maka jelaslah bahwa tatalaksana pemeliharaan ayam dengan mengandalkan kekuatan reaksi imunitas dari vaksin jelas kurang bijaksana, apalagi reaksi imunitas yang terbentuk adalah marginal.

Sekilas tentang Mikoplasma
Secara umum, mikroba Mikoplasma pada ayam Mg maupun Ms dikategorikan sebagai mikroorganisme yang sangat rapuh, karena tidak dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama diluar tubuh induk semang (ayam).  Namun manusia, burung atau hewan liar lainnya yang ada disekitar peternakan ayam (ferret animals) serta peralatan peternakan dapat bertindak sebagai sumber kontaminan dan atau vektor mekanis penyebaran Mikoplasma dalam suatu populasi ayam dari satu kandang ke kandang lainnya, atau bahkan dari suatu flok ke flok ayam lainnya (Kleven, 1990).

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah data penelitian yang dilaporkan oleh Yamamoto (1989) yang mengindikasikan bahwa baik Mg atau Ms dapat bertahan hidup pada komponen bulu ayam ataupun bahan organik yang berasal dari ayam sampai dengan 2 hari.  Itulah sebabnya, dalam kondisi lapangan yang kurang ideal (misalnya tanpa istirahat kandang, kepadatan ayam yang tinggi, pengaturan ventilasi dan sanitasi peternakan yang buruk) serta sistem pemeliharaan ayam yang “multi age” (banyak umur dalam satu lokasi farm), maka kasus Mikoplasmosis yang disebabkan oleh Mg atau Ms seolah-olah selalu berulang dengan derajat keparahan yang semakin lama semakin hebat.

Salah satu keunikan partikel sel Mikoplasma adalah tidak mempunyai dinding sel.  Itulah sebabnya preparat antibiotika kelompok Beta-laktam (Penisilin dan derivatnya) serta kelompok Sefalosporin tidak efektif digunakan untuk mengatasi kasus-kasus yang disebabkan oleh infeksi Mikoplasma.

Keunikan lainnya dari Mikoplasma, baik itu Mg atau Ms, adalah mempunyai variasi yang sangat besar antar strain-strain yang ada (Yoder, 1989), terutama dari karakter virulensi (keganasan), antigenisitas, maupun jaringan target infeksi (tissue tropism).  Variasi yang besar dalam beberapa aspek tersebut diatas mengakibatkan bervariasinya derajat keparahan kasus dan atau bervariasinya manifestasi gejala klinis yang tampil dilapangan. Ujung-ujungnya adalah kesulitan yang besar dalam menegakkan diagnosa yang akurat dan cepat bagi praktisi lapangan.   

Pola Penularan Mikoplasma, Gambaran Sekilas Kasus Mikoplasmosis Lapangan, Bagaimana Uji Serologis Mikoplasmosis, Bagaimana Kasus Mikoplasma Pada Breeder serta Rekomendasi Praktis Lapangan yang dapat dijadikan panduan bagi peternak dalam menghadapi kasus Mikoplasmosis disajikan secara khusus dan lengkap oleh Drs Tony Unandar, Baca selengkapnya  di majalah Infovet edisi 213/April 2012.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template