Friday, March 9, 2012

ND-Genotipe 7, SIAPA TAKUT?

Oleh: Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI - Jakarta)

Di Indonesia, peristiwa ledakan kasus AI (Avian Influenza) yang dimulai pada paruh akhir tahun 2003 ternyata membawa hembusan “angin” perubahan yang signifikan pada industri perunggasan di tanah air. Cobalah cermati dengan seksama, para peternak yang tadinya tidak mengenal uji-uji laboratoris di tingkat kimiawi molekuler patogen (bibit penyebab penyakit), sekarang seolah sudah akrab dengan terminologi “gene sequencing atau gene mapping”, pohon filogenetik (phylogenetic tree) ataupun diagram kartografi (cartography chart). Lalu, seberapa besar euforia hasil uji-uji laboratoris di tingkat molekuler memberikan sumbangan atau “makna” bagi seorang praktisi lapangan untuk menyikapi ledakan kasus penyakit infeksius, khususnya tetelo alias ND (Newcastle Disease) yang terus berkecamuk? Lewat kacamata seorang praktisi lapangan, tulisan singkat ini mencoba “numpang lewat” untuk menyapa dan menebar “kelegaan” ditengah ranah kebingungan serta frustasi para pelaku industri perunggasan Indonesia dimanapun berada.

Sekilas tentang Virus ND

Karena dapat memberikan dampak kerugian yang sangat signifikan secara ekonomis, maka Badan Kesehatan Hewan se-Dunia (OIE = Office Internationale des Epizooties) menggolongkan penyakit tetelo (ND) kedalam daftar A (OIE, 2009), yaitu penyakit hewan yang berbahaya bagi manusia dan atau yang sangat merugikan secara ekonomis.

Agen penyebabnya adalah virus Newcastle Disease yang ganas (vvNDV) yang tergolong dalam Avian Paramyxovirus serotipe-1 (PMV-1), anggota dari familia Paramyxoviridae (Mayo, 2002). Dengan demikian, walaupun mempunyai banyak genotipe dan patotipe, namun secara ilmiah DAN sampai saat ini, virus ND pada unggas tetap saja hanya mempunyai SATU buah serotipe (PMV-1), baik itu yang berasal dari strain lentogenik, mesogenik ataupun velogenik (Gu dkk, 2011).

Seiring dengan perkembangan pengetahuan biologi molekuler, para peneliti dalam bidang virologi selanjutnya dapat mendeteksi struktur material genetik (genom) vvNDV tersebut, memetakan genotipenya kedalam pohon filogenetik atau diagram kartografi serta mempelajari hubungannya dengan manifestasi karakteristik biologisnya.

Selanjutnya, menurut Miller dkk (2009), material genetik alias rantai genom NDV mempunyai panjang kira-kira 15,2 kb yang menyimpan kode-kode genetik (codon) 6 buah protein penting dari partikel virus ND yaitu Nucleocapsid protein (NP), Phosphoprotein (P), Matrix protein (M), Fusion protein (F), Hemagglutinin-neuraminidase (HN) dan Large RNA-directed RNA polymerase (L).

Pada penelitian karakteristik biologis virus ND, ternyata protein F0 (yang merupakan prekursor F glycoprotein) dapat terpecah menjadi “trypsin-like enzymes” yang dapat memediasi fusi antara virus dengan membran sel induk semang target dan membantu virus masuk kedalam sel induk semang tersebut (Rott, 1979). Itulah sebabnya mengapa protein F mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan keganasan atau patogenisitas vvNDV saat proses infeksi terjadi.

Dengan demikian, ketika mencermati data penelitian yang membandingkan susunan asam amino protein F dan atau mencermati hasil data perbandingan material genetik via “DNA-sequencing” ANTARA virus La-Sota (strain lentogenik) dari vaksin ND yang selama ini dipakai DENGAN virus ND isolat lapangan (strain velogenik) yang notabene ganas, JELAS ada perbedaan yang signifikan, karena sudah sejak lama diketahui berbeda dalam hal keganasannya. Virus ND La-Sota yang tergolong dalam genotipe 2 sudah lama diketahui berbeda dengan vvNDV yang termasuk dalam genotipe 7.

Data ini jelas tidak perlu diperdebatkan lagi, tidak ada hal yang baru, namun yang menjadi pertanyaan adalah apa hubungan antara tingginya ledakan kasus ND yang ada belakangan ini (kalau memang virusnya sudah lebih ganas) dengan efektifitas penggunaan vaksin ND yang beredar di lapangan? Tegasnya, apakah memang ada korelasi yang sangat positif antara pergeseran susunan protein F dengan ketidakberdayaan antibodi yang terbentuk dari vaksin ND yang beredar dilapangan sekarang? Atau ada hal lain yang lebih penting dalam menyikapi situasi seperti ini?

Paparan dari para peneliti secara lengkap disajikan oleh drh Tony Unandar dalam artikel ini, begitu juga Prevalensi Kasus ND, faktor-faktor status umum di lapangan, serta Rekomendasi Praktis Lapangan yang dapat dibaca secara lengkap di majalah Infovet edisi Januari 2012.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template