Wednesday, December 2, 2009

ASOHI Setelah Melewati 3 Dekade

Saat tulisan ini disusun, saya bersama tim penulis baru saja menyelesaikan proses penulisan buku yang berjudul “30 Tahun ASOHI Mengabdi, Maju Bersama Meningkatkan Kesehatan Hewan” Buku ini berisi rangkaian perjalanan ASOHI selama 30 Tahun, yaitu sejak berdiri tanggal 25 Oktober 1979 hingga tahun 2009. Proses penyusunan kurang lebih berjalan satu tahun, melalui proses wawancara dan dialog dengan lebih dari 20 narasumber, penelusuran dokumen organisasi serta pengamatan saya selaku penyusun buku.

Semula saya merancang buku ini disusun berdasarkan catatan hasil Musyawarah Nasional (Munas) ASOHI, yang telah berlangsung 5 kali. Dalam organisasi ASOHI, Munas adalah forum tertinggi organisasi yang berlangsung lima tahun sekali dan mengagendakan penyempurnaan AD/ART Organisasi dan Kode Etik Organisasi, Penyusunan Program Kerja, dan pemilihan pengurus. Namun setelah menelusuri dokumen-dokumen Munas, dokumen rapat, surat-surat penting, catatan kegiatan, serta hasil wawancara narasumber, saya menyimpulkan ada 3 tahapan penting yang dialami ASOHI selama 30 tahun, yang masing-masing tahap berlangsung 10 tahun (satu dekade)

Dekade pertama (1979-1989) saya sebut sebagai Tahap Pemantapan Wadah Tunggal. Tahap ini eksistensi ASOHI mendapat pengakuan penuh dari pemerintah sebagai satu-satunya organisasi di bidang usaha obat hewan. Dengan pengakuan pemerintah bahwa ASOHI adalah”wadah tunggal”, pengurus ASOHI memperkuat jalinan kerjasama dengan pemerintah. ASOHI menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dengan perusahaan obat hewan. Pada tahap ini pula ASOHI mengusulkan ke pemerintah agar ASOHI ikut berperan sebagai filter pertama perusahaan baru melalui bentuk rekomendasi perijinan usaha.

Dekade kedua (1989-1999) saya sebut sebagai Tahap Penguatan Pilar Organisasi. ASOHI sudah memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang sehingga yang dibangun di era ini adalah pilar-pilar organisasi yang kuat. Pilar-pilar ini terdiri dari manajemen kantor sekretariat yang makin tertata, penerbitan majalah Infovet sebagai cikal-bakal badan usaha ASOHI, pembentukan dan pengembangan ASOHI daerah, pengurus pusat dan daerah yang makin mantap dan terkordinasi, serta kegiatan seminar dan pelatihan untuk anggota mulai diselenggarakan rutin. Pada dekade ini pengurus ASOHI tidak lagi harus direpotkan kegiatan harian administrasi sekretariat organisasi seperti penyusunan naskah pidato, nutulen rapat, surat menyurat dan urusan administrasi lainnya, karena sudah ada staf khusus di sekretariat yang bertanggung jawab pada urusan teknis pengelolaan harian organisasi.

Dekade ketiga (1999-2009) merupakan tahap profesionalisme organisasi. Tahap ini ASOHI melakukan kaderisasi kepemimpinan, memperkuat peran ASOHI Daerah, meningkatkan partisipasi anggota dan sistem kerja organisasi dikelola sebagaimana layaknya manajemen modern. Dalam periode ini struktur organisasi ASOHI makin diperkuat, terjadi peralihan kepemimpinan organisasi yang berlangsung demokratis serta pelaksanaan visi dan misi yang lebih terorganisir.

Pada periode ini ASOHI mulai berkiprah di forum Internasional, dimana melalui ASOHI, Indonesia merupakan negara ketiga ASIA setelah Jepang dan Korea Selatan yang diterima sebagai Anggota International Federation For Animal Health (IFAH). ASOHI juga ikut memprakarsai berdirinya ASEAN Federation of Animal Health Industry (AFAH). Periode ini merupakan dimulainya seminar nasional perunggasan secara rutin, sejumlah pelatihan anggota dan Program Temu Anggota ASOHI (Protas).

Berdirinya organisasi ASOHI tidak lepas dari pertumbuhan usaha ayam ras yang mulai populer di Indonesia tahun 1970an. Pada saat yang bersamaan, Indonesia pimpinan Presiden Soeharto saat itu sedang melaksanakan program pembangunan lima-tahunan yang dikenal dengan nama Pelita. Dan tahun 1979 adalah awal Indonesia memasuki Pelita III.

Lima orang tokoh pendiri ASOHI adalah Prof. JH Hutasoit (waktu itu Dirjen Peternakan), Haji Abdul Karim Mahanan (pengusaha obat hewan), Dr drh Soehadji (saat itu Direktur Bina Program), Drh IGN Teken Temadja (saat itu Direktur Kesehatan Hewan), Dr Sofjan Sudardjat MS (saat itu Kepala Seksi Informasi Wabah Dan Pelaksana Harian Kasubdit Wabah di Direktorat Kesehatan Hewan). Dalam proses pendirian ini Abdul Karim Mahanan merupakan wakil dari perusahaan obat hewan dan merupakan tokoh senior obat hewan kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum ASOHI hingga akhir hayatnya di tahun 2004. Selanjutnya Gani Haryanto dikukuhkan dalam Munas V tahun 2005 sebagai Ketua Umum menggantikan A. Karim Mahanan.

Hampir semua narasumber, baik itu pendiri, Pengurus Harian, Dewan Pakar, Dewan Kode Etik, semuanya mengaku bahwa kekuatan ASOHI sejak berdiri hingga sekarang adalah kemitraannya dengan pemerintah benar-benar berjalan, bukan sekedar program di atas kertas saja. Kemitraan ini meliputi diskusi mengenai sistem perijinan obat hewan dan masalah obat hewan lainnya, bersama-sama menyusun rancangan peraturan, bersama-sama melakukan sosialisasi peraturan, bekerjasama menerbitkan buku, menyelenggarakan seminar, training, saling tukar informasi perkembangan iptek dunia dan sebagainya.

Tapi bukan berarti semua proses kerjasama dengan pemerintah berjalan mulus. Pergantian pejabat yang akhir-akhir ini berlangsung lebih sering, menjadi tantangan tersendiri bagi ASOHI. Padahal, sangat dimungkinkan dinamika birokrasi semacam itu akan terus berlangsung di masa mendatang. Itu sebabnya dalam buku ini juga disinggung tantangan utama yang akan dihadapi ASOHI pada dekade berikutnya.

ASOHI merumuskan 3 tantangan utama. Pertama, dinamika birokrasi pemerintah dimana pergantian pejabat yang lebih dinamis. Hal ini menuntut komunikasi yang lebih intens antara ASOHI dengan pemerintah, dengan harapan semua program yang telah dirancang dan disepakati dapat berjalan dengan lancar.

Kedua, adanya otonomi daerah dimana terjadi perubahan struktur organisasi pemerintah daerah dan perubahan pola kerja pemerintah pusat dan daerah. Hal ini menuntut pengurus ASOHI Daerah lebih proaktif menjalin hubungan dengan pemerintah daerah setempat.
Ketiga adalah dampak globalisasi, dimana penyebaran penyakit hewan lebih cepat, menuntut kesiapan ASOHI dalam berperan menanggulangi masalah penyakit hewan dan meningkatkan kesehatan hewan.

Adanya buku ini, setidaknya generasi muda ASOHI dapat melihat perjalanan ASOHI selama 30 tahun dan dapat memetik manfaat untuk mengembangkan ASOHI di masa yang akan datang.
Buku ini diterbitkan oleh Gita Pustaka, salah satu divisi dari PT gallus Indonesia utama (penerbit majalah Infovet). Selain buku 30 tahun ASOHI, Gita Pustaka tahun ini menerbitkan buku Indeks Obat Ikan Indonesia (INOI), buku Memilih Anjing Ras Mini, dan sebentar lagi akan menerbitkan buku Indeks Obat Hewan Indonesia (IOHI).

Selamat Ulang Tahun ASOHI.
Bambang Suharno,
penulis buku “30 Tahun ASOHI”

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template