Tuesday, January 20, 2009

KIAT PETERNAK MENGAIS UNTUNG DI KANDANG

KIAT PETERNAK MENGAIS UNTUNG DI KANDANG

Sepuluh-dua puluh tahun yang lalu para peternak ayam potong dan petelur banyak menggantungkan kelanjutan usahanya dari fluktuasi harga jual hasil panen. Sangat sedikit yang profesional melakukan pemeliharaan yang sebaik mungkin. Hal itu wajar, karena meski mereka sudah memelihara dengan sangat baik, akan tetapi jika kemudian saat tiba memetik hasil produksi (panen) ternyata harga pasar jeblok. Mereka tetap saja akan merugi.
Jika merugi sekali dua kali, mungkin ketahanan modal masih bisa menutupi dan meneruskan usahanya. Akan tetapi jika, harga pasar yang rendah sampai dalam kurun waktu lama, maka sudah pasti ambruk dan sulit untuk bangkit kembali meneruskan usahanya.
Kini, trend baru muncul. Menurut Ir Yani Rustana dan Drh Joko Surono, praktisi perunggasan, bahwa keuntungan harus dimulai dari dalam kandang. Memungut keuntungan dalam usaha budidaya ayam potong dan petelur pada masa kini dan mendatang tidak dapat lagi hanya menggantungkan dari harga pasar.
Menurut Drh Joko, seorang peternak ayam petelur di Solo ini, bahwa dimasa yang lalu, harga pasar begitu dominan menentukan hidup matinya seorang peternak. Meski kini harus diakui bahwa harga pasar panen masih sedikit mempengaruhi, namun justru perolehan keuntungan yang signifikan dituntut dari mengais-ais di dalam kandang.
Lebih lanjut Joko menjelaskan, bahwa setelah perisitiwa besar menghempaskan perunggasan Indonesia yaitu wabah AI, peternak kembali merangkak bangkit. Namun ternyata kembali dihajar oleh harga jual panen yang rendah. Dan kini ketika harga pasar mulai sedikit membaik, ternyata masih dihantam harga pakan dan DOC yang terus meroket.
Maka bagi para peternak yang ulet dan mampu bertahan, tiada lain kecuali harus melakukan budidaya yang ekstra cermat. Efisiensi dan konversi pakan menjadi sesuatu yang terus dituju. Disamping terus mengejar daya hidup dan produktifitas. Artinya pada pemeliharaan ayam potong, faktor mortalitas harus terus ditekan dan produktiitas digenjot. Sedang pada ayam petelur disamping terus memperbaiki konversi pakan juga meningkatkan produktiftasnya.
Menurut Joko hal itu tidak lain oleh karena, kini faktor internal lebih memberikan jaminan kelangsungan usaha, sedangkan faktor eksternal (harga pasar) tidak begitu lagi dapat diharapkan. Maka lanjut Joko, untuk menggenjot produktifitas para peternak harus cermat memilih bibit, pakan dan secara periodis memantau rekording atau catatan harian produksi. Jika dari catatan itu ada kejanggalan dan kemerosotan produksi, harus secepat mungkin diupayakan solusinya.
Sedangkan Ir Yani Rustana, yang banyak terjun di pelosok farm petelur dan ayam potong mengamati, bahwa ada indikasi positif dunia perunggasan di Indonesia. Menurutnya dahulu, waktu menjadi seorang Manajer Farm Komersial, para pemilik sangat jarang sekali memperhatikan ayam apalagi kandangnya. Umumnya hanya tahu berapa total produksinya dan bagaimana harga pasar. Kini para pemilik, sangat sering terjun ke kandang-kandang untuk memantau dari satu flok ke flok yang lain. Tidak hanya itu, mereka sang pemilik sangat cermat dan teliti melempar pertanyaan ke Manajer farm dan pekerja kandang.
”Hal ini merupakan bukti ada indikator yang sangat baik akan semakin majunya industri perunggasan domestik”. Tuntutan efisiensi dan produktiftas yang dipatok sang pemilik menjadi pemacu semakin profesionalnya para manajer farm dan pekerja kandang. Yani juga sepakat dengan Joko bahwa keuntungan kini harus dikais dari dalam kandang. Kiat dan caranya adalah dengan terus memperbaiki bangunan fisik kandang dan peralatan serta kesejahteraan para pekerja kandang.
Pekerja kandang sudah mendapatkan perhatian yang lebih dari cukup dari pemilik, karena mereka menyadari harus bekerja lebih baik dan tidak bisa serampangan lagi. Pemilik juga menyadari bahwa investasinya akan semakin menguntungkan jika efisiensi dan produktiftas pekerja kandang meningkat.
Memang benar lanjut Yani bahwa masalah harga panen yang pada masa lalu dapat dijadikan dasar meraup untung, kini justru harus ditinggalkan dan keuntungan harus semakin sering dikais dari dalam kandang. Antara lain adalah menekan angka kesakitan dan kematian dan meningkatkan produktiftasnya.
Perunggasan Indonesia memang mengalami metamorfose ke arah yang benar (iyo)

1 komentar:

tukang kotok said...

teory gampang semua peternak dah tahu yang penting bagamana DOC dari indukang terbaik nyampai ke Peternak bukan asala-asalan

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template