Tuesday, January 20, 2009

DI MASA KRISIS:BERUNTUNGLAH PETERNAK!

DI MASA KRISIS:
BERUNTUNGLAH PETERNAK!

(( Beruntung bagi mereka yang bergerak di bidang peternakan terutama di bidang perunggasan. Peternak ayam komersial apakah itu layer atau broiler tetap meraih untung pada saat krisis global melanda sebagian Negara di belahan bumi ini. ))

Dalam hitungan jam, menit ataupun detik perjalanan bangsa ini di tahun 2008 akan berakhir. Problematika kehidupan mewarnai perjalanan panjang dalam kurun waktu satu tahun ini.
Banyak hal yang sudah diraih namun tidak sedikit pula permasalahan negeri ini yang masih membutuhkan kearifan dan kebijaksanaan dalam menanganinya. Semisal kasus korupsi yang masih menjadi onak duri dalam pelaksanaan kegiatan kepemerintahan. Korupsi harus dibumihanguskan dari negeri ini, kalau tidak maka tunggu saja kehancurannya. Korupsi merupakan manifestasi dari krisis moral yang memerlukan pendekatan personal untuk menanganinya.
Di samping itu, krisis ekonomi yang melanda dunia juga berimbas pada tatanan perekonomian negeri ini. Beberapa barang kebutuhan pokok merangkak naik pasca lumpuhnya perekonomian Negara adidaya Amerika Serikat. Lalu apa hubungannya dengan subsektor peternakan kita?
Krisis global secara tidak langsung berdampak pada menurunnya harga produk pertanian. Petani karet mengalami shock berat akibat melemahnya harga karet ditingkat pedagang pengumpul, demikian juga dengan petani kelapa sawit.
Informasi terakhir menyatakan bahwa harga sawit jatuh ke level paling rendah, yakni Rp 100 per kilogram, sungguh sangat tidak menguntungkan bagi petani sawit, demikian juga bagi pabrik pengelola tandan buah segar (TBS) untuk memproduksi minyak sawit mentah, mereka banyak yang menghentikan operasionalnya untuk sementara waktu.

Beruntunglah Peternakan!

Beruntung bagi mereka yang bergerak di bidang peternakan terutama di bidang perunggasan. Peternak ayam komersial apakah itu layer atau broiler tetap meraih untung pada saat krisis global melanda sebagian Negara di belahan bumi ini.
Perkembangan perunggasan tahun 2008 mengalami sedikit penurunan bila dibandingkan dengan capaian populasi di tahun 2007, hal ini bukan saja karena adanya dampak penyakit Avian Influenza namun faktor-faktor lainnya seperti kondisi ekonomi masyarakat yang tidak stabil juga mempengaruhi daya beli produk peternakan, sehingga secara kuantiti produksi daging broiler dan telur kurang namun menurunnya daya beli masyarakat mampu menstabilkan pasokan daging broiler dan telur dipasaran.
Demikian dikatakan Pakar kesehatan unggas Prof drh Chales Rangga Tabbu MSc PhD di ruang kerjanya Departeman Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Menurutnya secara nasional untuk produksi DOC broiler per minggu di tahun 2008 hanya berkisar 16-18 juta ekor jauh dari produksi DOC broiler untuk tahun 2007.
Bila dihubungkan dengan kebutuhan pasar maka secara teoritis, disaat populasi menurun maka akan terjadi peningkatan harga. “Nah disini peternak diuntungkan,” ujarnya. Kemudian untuk bulan-bulan tertentu banyak ayam sakit terutama sakit pernafasan ataupun sakit pencernaan, sehingga untuk mendapatkan ayam dengan ukuran besar sangat sulit, pada kondisi ini harga akan mengalami kenaikan dan keuntungan tersebut akan menjadi milik peternak seutuhnya.
“Seyogyanya usaha peternakan ayam broiler masih sangat menjanjikan, hanya saja yang memprihatinkan adalah daya beli masyarakat yang kurang terutama pada kondisi krisis keuangan global yang menyebabkan banyak PHK dan kenaikan harga BBM tapi tetap tidak mempengaruhi daya beli masyarakat,” papar peraih gelar Master of Science (MSc) dari Washington State University ini.
Dikatakannya bahwa untuk Indonesia konsumen terbanyak daging broiler dan telur adalah konsumen menengah ke bawah, sementara untuk konsumen di bawah menengah ke bawah ini daya belinya terbatas, padahal konsumen terbesar untuk produk unggas ini ada pada level tersebut.
“Jadi ini tetap akan mempengaruhi kalau kita konversikan antara produksi dengan jumlah penduduk tetap masih jauh berkurang ditambah lagi dengan daya beli masyarakat yang rendah,” ujar Prof Charles.
Kemudian, kalau dilihat perkembangan di layer, kasus yang sama juga dirasakan, data populasi layer terakhir untuk tahun 2008 hanya berkisar pada angka 60-65 juta ekor, bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya jelas jauh berkurang. Produksi telur pun juga berkurang.
Namun yang cukup menggembirakan adalah harga telur di tahun 2008 cukup tinggi, mungkin rekor tertinggi. Ini mungkin sebagai gambaran bahwa popuasi dan produksi layer memang rendah. Namun perlu disyukuri bahwa harga telur dan daging broiler cukup murah bila dibandingkan dengan harga tempe ataupun harga sebatang rokok.
Menariknya bahwa masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa dengan makan daging dan telur, jadi kalau tidak beli itu artinya memang mereka tidak punya uang. Ketakutan makan telur menurut Prof Charles biasanya terjadi pada konsumen level atas, yakni konsumen dengan resiko kolesterol tinggi, pada hal ini sama sekali tidak berbahaya, kolesterol pada telur tetap aman untuk penderita jantung koroner. (Daman Suska)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template