Tuesday, January 20, 2009

3 TAHAP PRODUKSI DAGING EFISIEN

3 TAHAP PRODUKSI DAGING EFISIEN


(( Untuk mempersiapkan DOC untuk memproduksi daging yang efisien dan aman harus melalui tiga tahapan, ketiganya saling berinteraksi satu sama lainnya. Tahapan-tahapan tersebut seperti (1) perbaikan pakan, (2) perbaikan manajemen dan (3) perbaikan pada sistem penyembelihan.))

“Sudah saatnya sistem pemeliharaan broiler negeri ini dikembalikan ke alam,” demikian dikatakan Nanung Danar Dono SPt MP dosen Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hal ini mengingat pada produksi yang dihasilkan broiler berupa daging harus sehat, aman dan tidak membahayakan konsumen.
Di samping itu, menurut Bapak dua putri ini, produksi daging broiler “made In Indonesia” relative lebih alot atau keras, tidak seperti daging broiler di Eropa dan negara lainnya di dunia. Rata-rata peternaknya menghasilkan daging broiler dengan tekstur daging yang empuk disertai cita rasa daging yang renyah dan gurih. Broiler modern dengan mutu genetik terpilih, harus dipelihara dengan sistem manajemen terpilih pula.
Nanung menggarisbawahi bahwa untuk mempersiapkan DOC untuk memproduksi daging yang efisien dan aman harus melalui tiga tahapan, ketiganya saling berinteraksi satu sama lainnya.
Tahapan-tahapan tersebut seperti (1) perbaikan pakan, (2) perbaikan manajemen dan (3) perbaikan pada sistem penyembelihan.
Menyitir pada bagian ketiga dari tiga tahapan yang dikemukakan Nanung, yakni perbaikan pada sistem penyembelihan, perlu diterapkan, hal ini mengingat bahwa sebagian besar konsumen daging broiler di negeri ini adalah komunitas muslim, yang membutuhkan produk akhir broiler yang aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Perbaikan Pakan

Makanan atau pakan broiler terutama pada minggu pertama pemeliharaan perlu diperhatikan. Hal ini berhubungan dengan capaian bobot badan akhir saat panen. Pakan yang baik adalah pakan yang mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan broiler untuk tumbuh dan pembentukan daging.
Nutrisi dimaksud seperti kandungan karbohidrat sebagai sumber energi, protein dan asam-asam amino, mineral dan vitamin, baik yang larut dalam lemak (fat soluble vitamins) maupun yang larut dalam air (water soluble vitamins).
Mengenai nutrisi, pada saat ini sudah tersedia pakan broiler berbagai merek. Pakan-pakan tersebut pada umumnya dapat memenuhi kebutuhan nutrisi brolier. Namun komposisi pakan tersebut pada umumnya hanya ditujukan untuk mencapai target berat badan broiler saja, sedangkan untuk kebutuhan nutrisi lainnya dipenuhi dari vitamin dan premix sintetik.
Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada mutu produk dan cita rasa daging brolier yang dihasilkan nantinya. Demikian disampaikan drh Jananta Kuswandiyah Laboran pada Laboratorium Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu.
“Pertanyaannya, nutrisi seperti apa yang diinginkan, kalau hanya sekedar untuk mencapai target berat badan dan feed konversi mungkin saat ini sudah bagus, tapi kalau mau mencari pakan brolier dengan komposisi komplit dan berimbang tentunya masih sangat langka,” papar Bapak satu putra ini.
Di beberapa negara panas termasuk Indonesia, kandungan nutrisi pakan dimanfaatkan ayam untuk membantu mengurangi pengaruh stres panas pada ayam pedaging maupun ayam petelur.
“Stres secara nyata merupakan faktor yang mempercepat penyebaran penyakit,” papar Prof Charles. Lebih lanjut dikatakannya bahwa sebagian besar organisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri sangat potensial berkembang pada ayam dalam kondisi stres.
Selanjutnya, agen pathogen ini akan menyerang jaringan tubuh ayam yang memiliki resistensi rendah terhadap berbagai faktor stres internal maupun eksternal, sehingga kondisi ini dapat merangsang respon fisiologis dalam tubuh ayam untuk mengembalikan keseimbangan dalam tubuhnya seperti sediakala.
“Hal ini terus berlanjut selagi ayam masih berada dalam cekaman stres,” ujar mantan dekan FKH ini.
Sementara itu, Nanung Danar Dono SPt MP yang dosen Ilmu Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan menyatakan bahwa bahan pakanpun dapat menyebabkan stres pada broiler modern. “Mari kita kilas balik, secara umum ayam merupakan herbivore, pemakan biji-bijian, ini telah dibuktikan sejak ratusan tahun silam.
Nah, kondisi saat ini, pakan ayam disajikan dalam bentuk jadi dengan racikan dari berbagai bahan pakan, mulai dari bijian, tepung darah, tepung ikan, tepung tulang dan berbagai jenis bahan pakan asal hewan yang digodok menjadi satu dengan batasan-batasan kandungan nutrisi yang dibutuhkan,” papar alumni Pasca Sarjana Fapet UGM ini.
Dikatakannya, ayam yang mengkonsumsi pakan berbahan dasar dari berbagai jenis pakan asal hewan secara umum memang tinggi kandungan N-nya, terutama MBM dan DOC yang tidak memenuhi kriteria pasar atau DOC over produksi, digiling kembali untuk dijadikan bahan dasar pakan.
Tingginya kandungan N dalam pakan ini tidak memberi jaminan pertumbuhan optimal pada ayam, karena menurut Sekretaris Eksekutif Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarta ini bahwa pakan asal hewan tersebut kandungan N-nya memang tinggi, tapi yang terukur adalah N yang terikat pada keratin (protein bulu), dan ini secara umum tidak tercerna oleh sistem pencernaan unggas.
Nah inilah secara fisiologis sebagai pemicu stres pada ayam, akibatnya pada ayam yang masih hidup akan rentan dengan berbagai jenis penyakit sedangkan pada ayam yang akan dipotong dapat menyebabkan daging alot atau keras dengan cita rasa beda pada ayam yang dipotong dalam kondisi rileks.
“Hindari stres selama masa pemeliharaan, terutama stres akibat panas,” pinta Nanung. Lalu, apa hubungannya stres panas dengan berbagai kandungan nutrisi pakan?

Manajemen

Manajemen merupakan satu kata yang digunakan banyak kalangan dari berbagai macam disiplin ilmu. Apakah itu dari ilmu sosial, politik, budaya, maupun ilmu alam yang disebut sebagai ilmu statik, yakni keilmuan yang masih menganut pada teori-teori yang baku.
Manajemen dalam sistem pemeliharaan ternak diartikan sebagai pengadministrasian berbagai kegiatan yang ada dan yang sudah disepakati atau mengacu pada kegiatan-kegiatan yang sudah ada sebelumnya, yang secara teoritika kegiatan tersebut dapat memberikan nilai tambah pada usaha tersebut.
Terry (1961) mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pelaksanaan, serta pengawasan dengan memanfaatkan ilmu dan seni agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Berpijak pada statemen ini, untuk mendapatkan nilai lebih (red; laba atau keuntungan) dari suatu usaha maka peternak atau pelaku usaha di bidang peternakan harus mengadaptasikan semua runtutan kegiatan manajemen dalam setiap tingkatan kegiatannya.
Hal dimaksud seperti perencanaan terhadap pemilihan day old chick (DOC) yang akan dipelihara, bila perencanaan-perencanaan lainnya telah diterapkan sebelumnya. “Mengapa harus dimulai dari DOC?” satu pertanyaan yang cukup menarik yang dilontarkan Prof drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Menurutnya seleksi yang baik merupakan awal yang baik pada suatu usaha peternakan, apakah itu usaha peternakan broiler komersial, layer komersial, pembibitan, maupun usaha peternakan lainnya yang berorientasi pada keuntungan. Lalu, apakah hanya sebatas pada seleksi DOC saja?
“Jelas tidak, kegiatan seleksi yang baik harus diikuti dengan manajemen yang baik pula, apalagi untuk usaha ayam broiler yang disebut sebagai usaha ayam pedaging komersial dengan waktu yang sangat singkat” papar Prof Charles.
Ditambahkannya, pada kegiatan tersebut yang bermain peran adalah peternak yang merupakan manajemen puncak, pembuat keputusan dan pengambil segala kebijakan terkait maju mundurnya usaha tersebut.
Untuk ayam broiler modern misalnya, manajemen pemeliharaan selama tujuh hari pertama, terutama selama tiga hari pertama merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian bobot badan. Manajemen pemeliharaan broiler pada tujuh hari pertama ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti deviasi dari kondisi normal selama pengukuran, baik itu suhu, kelembaban, tekanan statis, maupun faktor-faktor lainnya yang juga berperan dalam pencapaian bobot badan pada akhir pemeliharaan.
Faktor-faktor dimaksud seperti kualitas udara yang meliputi kadar amoniak, kualitas udara yang rendah, dan lain-lain, kemudian kualitas litter atau sekam, ini ditujukan pada usaha peternakan broiler dengan sistem kandang panggung, lalu perilaku ayam apakah terlalu aktif atau pasif.
Satu penelitian yang cukup fenomenal di dunia perunggasan dilakukan di Universitas Georgia, dengan hasil yang menunjukkan bahwa ayam-ayam berumur muda yang kekurangan pemanas selama 45 menit pada tujuh hari pertama, dapat menyebabkan kehilangan bobot badan 135 gram pada umur 35 hari.
Jika satu bagian flok mengalami kondisi tersebut maka tingkat keseragaman (uniformity) yang dihasilkan akan rendah. Sebaliknya, pemanasan berlebih pada ayam-ayam muda tersebut, akan menekan laju pertumbuhan dan menurunkan bobot badan pada umur tujuh hari pertama. Dengan perlakuan senada, jika pemanasan berlebih terjadi disatu bagian flok, maka akan dihasilkan tingkat keseragaman (uniformity) yang rendah pula.

Penyembelihan

Menurut Nanung Danar Dono SPt MP Penyembelihan harus dilakukan pada saat ayam benar-benar berada pada kondisi tidak stres, dengan demikian pilihan pangan produk unggas ini dapat dinikmati konsumen dalam berbagai bentuk sajian sesuai dengan selera penikmatnya. (Daman Suska).

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template