Thursday, July 24, 2008

”SERGAPAN KEPALA BENGKAK”

Edisi 163 Februari

BANYAK peternak menamai penyakit yang satu ini dengan ”kepala bengkak”. Oleh karena memang manifestasi yang paling spesifik adalah bagian depan kepala ayam yang membengkak.
Bengkaknya kepala bagian depan terutama di atas moncong dan sekitar mata oleh karena penimbunan cairan encer sampai kental di bagian dalam sinus.
Namun demikian tidak sedikit pula para peternak dan petugas kesehatan lapangan menyebut sebagai Penyakit Pilek Menular (PPM). Disebut demikian oleh karena sifat menularnya penyakit itu ke sesama ayam demikian cepat dan sangat sulit terkontrol.
Informasi dari para petugas kesehatan lapangan yang disampaikan kepada Infovet Jawa Tengah–Yogyakarta bahwa prevalensi penyakit ini memang termasuk tinggi. Hampir tidak ada farm komersial yang bisa menghindar sergapan penyakit ini.
Keluhan dari peternak dan manajer pengelola kandang seolah menjadi indikasi kuat mewabahnya penyakit ini, teruatama ketika musim hujan yang demikian tinggi intensitasnya dan kontrol kesehatan yang melemah. Seperangkat benteng yang berupa vaksinasi belum mampu sepenuhnya memprotek atau melindungi ayam terhadap serangan penyakit yan dikenal sebagai Infectious Coryza itu.
Berikut ini rangkuman pendapat dari peternak, manager farm dan para petugas kesehatan lapangan.

Sobirin
Sobirin, peternak kemitraan yang telah lama menggeluti dunia ayam potong merasa bahwa bila ayam telah terserang penyakit bengkak kepala maka tiada berarti lagi pertolongan obat apapun.
Pensiunan pegawai Dinas Pertanian Magelang yang kini menekuni budidaya ayam potong di Bantul Yogyakarta ini, merasa heran kenapa para pakar tidak bisa dengan segera menemukan obat ampuh penyakit itu.
”Sudah hampir 25 tahun ini,saya merasa seolah tidak ada kemajuan yang berarti dalam penanganan penyakit itu di Indonesia. Terus para pakar yang digaji besar oleh pemerintah itu kerjaannya apa saja,” ujar Sobirin seolah menggugat.
Namun demikian Sobirin mempunyai kiat sendiri dalam menghadapi penyakit itu. Adapun yang ditempuh adalah dengan intensitas semprot kandang dan kebersihan kandang. Menurutnya tidak hanya khusus menghadang penyakit itu, bahwa apa yang selama ini dilakukan adalah juga efektif menangkal penyakit lainnya.
Terbukti ia adalah salah satu peternak yang tetap mampu bertahan sampai 25 tahun, meski dahulu menjadi peternak mandiri dan kini hanya menjadi plasma. Bergesernya Sobirin dari peternak mandiri ke plasma oleh karena beban berat yang harus dipikul jika menjadi peternak mandiri.
Terlebih saat ini, di mana harga sapronak yang melangit sedang harga jual ayam besar yang tidak signifikan dengan beaya produksi.
Kiatnya bertahan menurutnya adalah dengan mengutamakan kebersihan kandang makro dan mikro sebelum, selama dan sesudah pemeliharaan. Hal ini sangat penting mengingat penyakit kepala bengkak itu muncul kapan saja dan sangat merugikan.
Kerugian itu menurutnya bukan oleh karena kematian, akan tetapi oleh karena banyaknya ayam yang sakit dan pertumbuhannya sangat terhambat.
Ketika ditanyakan bagaimana upayanya jika penyakit itu telah merangsek masuk ke kandangnya, ia menuturkan ada beberapa langkah. Langkah yang paling penting adalah tetap melakukan semprot kandang dan jua ayamnya dengan desinfektans.
Selain itu mutlak perlu diberikan multivitamin dalam air minum. Dan secara simultan juga mutlak pemberian antibiotika agar proses penyebaran ataupun penularan penyakit tidak semakin meluas.

Koesnadi
Koesnadi, pekerja kandang ayam potong dari Kulon Progo Yogyakarta, menuturkan bahwa salah satu penyakit yang termasuk merepotkan adalah Snot atau penyakit pilek menular. Bukan saja ia harus bekerja ekstra keras jika penyakit itu muncul oleh karena harus melakukan pemberian vitamin dan obat secara bergantian, namun juga tambahan pekerjaan melakukan penyemprotan 2-3 kali sehari.
Belum lagi, jika harus memungut bangkai ayam yang menemui ajal. Ketika ditanyakan apakah termasuk banyak jumlah ayam yang mati jika terserang penyakit itu, Kang Koes mengiyakan. Tetapi ketika ditanyakan lebih banyak mana jika ayam yang terserang penyakit tetelo atau gumboro, ia menjawab memang masih jauh sedikit.
”Pokoknya masih mending kena ND atau Gumboro, jika dibanding Snot terutama dalam kaitannya volume pekerjaan. Namun juragan akan lebih rewel, dan banyak perintah jika ayam terkena Snot,” ujarnya polos.
Upaya yang dilakukan Kang Koes sesuai dengan instruksi juragan dan para TS adalah dengan memberikan obat dan vitamin. Selain itu secara rutin selama hampir 10 hari jika ayam masih muda penyemprotan dilakukan minimal 2 kali sehari.

Sutri Sino
Sutri Sino, pedagang ayam potong dari Sleman Yogyakarta, memberi komentar pada penyakit itu merugikan kedua belah pihak. Baik pedagang maupun peternak. Bentuk kerugian itu menurut penuturan Sutri adalah bobot yang biasanya cepat menyusut jika menyerang ayam mendekati panen.
Meski angka kematiannya tidak sebanyak ayam yang terkena ND namun dari hal bobot menjadi masalah serius. Belum lagi jika di pangkalan ada ayam yang sehat, maka dengan cepat akan tertulari, sehingga jelas membuatnya merugi.
Sedangkan kerugian di pihak peternak, sudah jelas yaitu ongkos produksi di atas hasil penjualan produksi. Belum lagi para pedagang yang tidak sedikit menolak untuk membeli ayam saat panen terserang Snot itu.

Drh Sulaeman P Rejo
Drh Sulaeman P Rejo, petugas kesehatan lapangan PT Mitravet Yogyakarta, memandang penyakit Infectious Coryza atau Snot memang menjadi salah satu problema besar di peternakan ayam potong dan petelur.
Pada ayam petelur meski sudah dilakukan vansinasi namun hasil akhir tidak pernah mencapai hasil yang memuaskan. Bahkan lebih cenderung sangat merugikan, terutama ketika sedang dalam masa produksi. Produksi telur bisa melorot sampai 30%.
Sedangkan pada ayam potong, menurut pengalamannya tidak berbeda jauh dengan petelur dalam hal merepotkan dan kerugian yang ditimbulkan. Jika masih dalam usia muda, umumnya pertumbuhan menjadi sangat terhambat sekali, sehingga terkadang menjadikan prasangka munculnya ayam kerdil.
Namun demikian menurut lajang asli Purworejo ini ada kiat bagi peternak yang cermat dan teliti untuk menekan angka kerugian yang ditimbulkannya. Seperti juga yang diungkapkan oleh Sobirin, pemberian aneka vitamin dibarengi dengan pemberian antibiotika dapat menekan jumlah ayam yang sakit.
Selain itu memang langkah biosecurity tidak bisa ditawar lagi. Rekomendasi Sulaeman adalah meningkatkan desinfeksi kandang dan lingkungan dengan preparat yang tepat yaitu golongan Benzalkonium Khloride.
Langkah-langkah itu menurut pengalamannya di beberapa kandang terbukti sangat signifikan hasilnya. Bahkan menurutnya jika pada awal pemeliharan langkah itu secara disiplin dilakukan dapat menangkal terserangnya farm dari penyakit yang merugikan itu.
”Atas dasar pengalaman lapangan saya selama ini di berbagai kandang, jika para peternak dan pengelola kandang disiplin dan cermat memberikan resep saya itu, terbukti mampu menghindar atau setidaknya jika terserang tidak bersifat parah dan kerugian dapat ditekan,” ujar Sulaeman P Rejo

Ir Agus Sari PS
Ir Agus Sari PS, menuturkan bahwa selama ini jika para peternak binaannya mengalami masalah dengan penyakit Snot, maka memang seolah kerugian besar di depan mata.
Sebagai pembina peternak mandiri dalam skala kecil di daerah Gunung Kidul Yogyakarta merasa sudah berusaha semaksimal mungkin memberi pengertian dan pengetahuan tentang beternak ayam potong yang baik.
Namun demikian, jika kemudian muncul serangan penyakit kepala bengkak, ia secara terus terang mengakui kebingungan juga untuk memberi saran yang paling baik. Selama ini sarannya memang sangat normatif sebagaimana para petugas kesehatan lapangan yang memasok obat kepadanya.
Meski begitu, menurut Agus saran yang selama ini diberikan dan diikuti para peternak binaannya memang sedikit membuahkan hasil. Adapun sarannya selama ini adalah menekankan pada aspek kebersihan kandang dan lingkungan.
Selain itu, memilih kualitas pakan yang baik. Prinsipnya selama asupan nilai gizi ke dalam tubuh ayam baik dan tercukupi, maka meski ada serangan penyakit setidaknya akan menekan jumlah ayam yang terkena.
Atau jika terkena, maka akan lebih mudah pulih sembuh. Untuk meningkatkan aspek kebersihan, maka Agus tidak segan-segan mengingatkan peternak binaannya agar rajin menyemprot kandang dan lingkungan.

Prof Drh HR Wasito MSc PhD
Prof Drh HR Wasito MSc PhD, mantan Dirjen Produksi Peternakan Departemen Pertanian yang dihubungi secara khusus Infovet menuturkan bahwa penyakit itu adalah jenis penyakit konvensional.
Jika dalam farm komersial di suatu negara masih sering muncul penyakit itu, maka hal itu merupakan representasi belum majunya budidaya ayam di kawasan atau negara itu.
Seharusnya untuk jenis penyakit itu sudah bisa ditekan menjadi paling minimal, jika memang tidak bisa sama sekali dibebaskan. Lebih lanjut Wasito yang sekarang masih giat meneliti korelasi serangga lalat dengan penularan Avian Influenza pada unggas menjelaskan bahwa memang tingkat kematian tidak sebanyak ND atau Gumboro. Namun justru, dengan cepatnya penyakit itu menjalar ke flok yang lain dan juga kemerosotan produksi secara pelahan, maka secara ekonomi jauh lebih merugikan.
Proses recovery atau pemulihan pada ayam petelur yang sedang berproduksi menjadi lebih lama dibanding jangka waktu sakitnya sang ayam. Oleh karena itu, memang salah satu yang terpenting untuk mempercepat pemulihan dengan pemberian nutrisi yang sempurna dan mudah dicerna oleh ayam.
Sedangkan pengobatan memang tidak akan pernah mencapai hasil efektif, namun tidak boleh dan bisa ditinggalkan begitu saja. Sebab biasanya ada infeksi sekunder yang akan semakin memperburuk status dan kondisi kesehatan ayam.
Memang benar rekomendasi kebersihan dan biosecurity. ”Hal itu mutlak dan tidak bisa ditawar jika memang ingin disebut dan sejajar sebagai peternakan unggas yang maju,” ujarnya.
Mengomentari masih minimnya hasil penelitian modern dalam menangani kasus penyak itu, Guru Besar yang sibuk dengan penelitian dan presentasi di luar negeri itu, tidak benar.
Sebab justru, rekomendasi dan saran yang ada selama ini adalah manifestasi dan wujud dari hasil yang dilakukan oleh para ahli di bidang penyakit unggas.(iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template