Thursday, July 24, 2008

Ketika Ayam Petelur Kegemukan

Fokus Infovet Mei 2008
Oleh: Tony Unandar (SAS Group)

(( Jargon “more eggs less feed” tampaknya sudah lengket dengan karakteristik umum ayam petelur modern (APM). Kecerobohan dalam tata laksana pemeliharaan awal APM, tidak saja menyebabkan keuntungan yang sudah di depan mata melayang, tetapi juga dapat menjadi faktor pencetus masalah baru yang kompleks. Sindroma obesitas yang diikuti oleh “yolk peritonitis” misalnya, adalah suatu contoh yang paling representatif. ))

Perkembangan genetik APM memang sangat spektakuler. Jika diikuti dengan perbaikan tata laksana pemeliharaan yang baik, seekor APM mampu menghasilkan 335 butir telur setahun produksi. Bandingkan dengan sebelumnya, rata-rata hanya 285 butir. Itu saja tidak cukup, bobot telurnya pun lebih besar, yang tadinya berkisar antara 55-60 gram per-butir menjadi 58-65 gram. Perbaikan penampilan fenotip ini tentu saja menuntut perkembangan bobot badan dan keseragaman ayam yang baik selama masa pullet.
Salah satu sifat APM adalah pertumbuhan kerangka dan konformasi tubuh yang sangat dominan sampai dengan ayam berumur 6 minggu. Itulah sebabnya, pada saat APM berumur 6 minggu, maka bobot badan harus mencapai bobot minimal berdasarkan standar strain dan dengan keseragaman ayam yang harus di atas 85%. Gangguan pertumbuhan pada fase ini tentu berarti terhambatnya perkembangan tipe hiperplasia (pertambahan jumlah sel) dari sel tulang (osteoblast) maupun sel-sel sistem tubuh lainnya. Bobot badan yang mencapai bobot standar dan adanya lemak perut (abdomen fat) dengan ketebalan tidak melebihi setengah sentimeter pada umur 14 minggu merupakan suatu indikator yang baik untuk membaca kecukupan nutrisi yang diperoleh APM selama masa pullet.
Pertumbuhan hiperplasia tersebut terus berlanjut sampai ayam berumur 8 sampai 10 minggu, tergantung jenis sistem tubuh. Yang jelas, pertumbuhan hiperplasia kerangka tubuh sudah mendekati jenuh pada saat ayam berumur 8 minggu. Itulah sebabnya, tidak tercapainya bobot badan ayam pada umur 6 minggu akan membawa dampak yang cukup signifikan pada penampilan produksi dan kualitas telur dari flok ayam yang bersangkutan pada fase selanjutnya.
Gangguan pertumbuhan hiperplasia kerangka tubuh akan membatasi pertumbuhan matriks tulang yaitu tempat untuk menyimpan senyawa kalsium yang sangat dibutuhkan pada saat produksi. Kerangka tubuh yang relatif lebih kecil akan mengakibatkan kelebihan nutrisi yang dikonsumsi pada fase-fase selanjutnya dengan mudah dideposit menjadi lemak tubuh, khususnya lemak perut (abdomen). Ini berarti, obesitas alias kegemukan lebih mudah terjadi.

Pola Pemberian Makan yang Ceroboh
Penyebab Obesitas
Di samping itu, strain-strain baru dari APM cenderung mempunyai konversi pakan yang sangat baik pada saat umur 8-12 minggu. Keteledoran dalam mengelola pemberian pakan akan memperbesar peluang untuk terjadinya kegemukan. Dalam fase ini juga sering terjadi menurunnya keseragaman ayam. Terbanyak disebabkan karena pola pemberian pakan yang sangat ceroboh. Oleh sebab itu, monitor bobot badan ayam secara mingguan sangat dianjurkan pada fase ini secara ketat.
Pada kejadian obesitas, tingginya deposit lemak abdomen akan mengakibatkan beberapa hal pada masa produksi seperti (a). Meningkatnya kasus prolaps yang diikuti dengan kanibalisme dan kematian ayam, (b). Tingginya kejadian mati mendadak akibat terjadinya perlemakan hati (fatty liver syndrome), dan (c). Meningkatnya kasus “floating eggs” (ovum terlempar ke dalam rongga perut) yang berlanjut dengan yolk peritonitis. Kondisi terakhir ini biasanya berkembang menjadi lebih parah jika terjadi infeksi sekunder oleh kuman Koli.
APM yang umumnya mempunyai kerangka tubuh (body frame) relatif lebih kecil dibandingkan dengan ayam petelur klasik tentu akan mempunyai kepekaan yang lebih tinggi terhadap efek obesitas. Menyempitnya liang pubis merupakan suatu contoh yang paling representatif. Kondisi ini jelas akan mengakibatkan gangguan fisiologis saat ayam akan bertelur, yaitu dalam bentuk manifestasi prolaps yang terjadi beberapa saat setelah peletakan telur. Prolaps yang ditemukan akibat adanya obesitas biasanya terjadi beberapa minggu sebelum puncak produksi telur dan terus berlanjut sampai 2-4 minggu setelah puncak produksi tercapai. Keadaan inilah yang mengakibatkan penyusutan (deplesi) ayam selama produksi akan meningkat antara 0,2 sampai 0,3% per-minggu atau bahkan lebih dari itu. Padahal, dalam kondisi normal, penyusutan ayam selama produksi adalah 0,1% per-minggu.

Yolk Peritonitis yang Berulang
Obesitas juga akan mengakibatkan gangguan fisiologis bagian infundibulum dari oviduk (saluran reproduksi). Kondisi ini akan mengakibatkan tidak selarasnya pembukaan ujung infundibulum dengan sel telur (ovum) yang dilemparkan dari indung telur pada saat ovulasi terjadi. Tegasnya, pada ayam yang mengalami obesitas, adanya “floating eggs” yang diikuti dengan yolk peritonitis merupakan suatu hal yang paling sering ditemukan. Itulah sebabnya, mengatasi kasus yolk peritonitis di lapangan sering kali membawa rasa frustasi.
Bagaimana tidak, kuman Koli (Escherichia coli) yang sering dituding menjadi penyebabnya seolah tidak bergeming sedikitpun dengan preparat antibiotika. Benarkah kuman Koli sebagai penyebab utama? Atau problem resistensi preparat antibiotika terhadap kuman Koli memang sudah terjadi? Perlu diketahui, ditemukannya kuman Koli pada pemeriksaan di laboratorium merupakan efek lanjutan proses obesitas tersebut di atas. Jadi selama problem obesitas masih ditemukan pada individu-individu ayam dalam suatu flok, maka kejadian yolk peritonitis seolah-olah terjadi berulang-ulang dan tidak memberikan respon yang baik terhadap program pengobatan dengan antibiotika. Infeksi sekunder jelas terjadi beberapa saat setelah terjadinya “floating eggs”.
Di atas telah disebutkan bahwa obesitas juga akan mempermudah terjadinya “fatty liver syndrome” (FLS). Pada kasus yang ringan, adanya FLS jelas akan mengakibatkan terganggunya sintesa albumin di dalam jaringan hati. Dengan demikian, putih telur cenderung akan lebih encer dan atau rasionya dibandingkan dengan kuning telur cenderung akan menurun. Ujung-ujungnya adalah bobot telur akan menjadi lebih ringan dan atau telur akan menjadi lebih kecil dari ukuran standar strain. Manifestasi FLS juga akan mengakibatkan menurunnya respon terhadap vaksin, terutama terhadap kekebalan humoral.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, lakukan beberapa langkah umum seperti yang tercantum di bawah ini:
 Yakinkan konsumsi pakan APM pada awal kehidupannya tercapai. Untuk ini, temperatur indukan buatan (brooder) harus sesuai dengan yang dibutuhkan dan frekuensi pemberian pakan sebanyak 6-9 kali per-hari untuk minggu pertama serta 4-6 kali per-hari untuk minggu kedua. Pakan untuk 4 minggu pertama sebaiknya diberikan ad libitum (secukupnya). Sangat dianjurkan tercapai “cumulative protein intake” sebesar 120 gr/ekor sampai dengan ayam berumur 4 minggu.
 Lakukan pengecekan kebutuhan energi dan protein yang dapat dicerna dari strain ayam yang dipelihara berdasarkan buku penuntun pemeliharaan ayam. Dengan demikian, pengaturan jumlah pakan yang diberikan per hari tidak menyimpang dari yang dibutuhkan ayam.
 Lakukan seleksi yang ketat terhadap APM yang ada, terutama setelah minggu pertama. APM yang relatif kecil harus dipisahkan dan dikumpulkan menjadi satu kelompok tersendiri atau dibuang.
 Lakukan penimbangan bobot secara berkala, dianjurkan dimulai di minggu kedua, segera setelah vaksinasi Gumboro atau ND yang kedua. Pada saat ayam berumur 4 minggu dianjurkan ditimbang 100% dari populasi, sedangkan lebih dari 4 minggu, maka penimbangan sebaiknya dilakukan setiap minggu sebanyak 5-10% dari total populasi, tergantung pada keseragaman ayam pada penimbangan sebelumnya. Pada umur 4 minggu, rata-rata bobot badan ayam paling tidak harus sudah tercapai 290 gram/ekor.
 Monitor bobot badan APM tersebut sebaiknya juga disertai dengan analisa keseragaman ayam. Pada saat ayam berumur 4 minggu, sebaiknya keseragaman tidak boleh kurang dari 85%. Keseragaman ayam ini diharapkan terus meningkat dan pada saat menjelang produksi telur, keseragaman diharapkan tidak kurang dari 90%.
 Petakan dan bandingkan bobot badan serta keseragaman aktual ayam dengan kurva standar yang sesuai dengan standar strain.
 Penambahan pakan untuk ayam yang berumur 8-12 minggu harus dengan kehati-hatian yang tinggi. Yang jelas, efek penambahan pakan akan mengakibatkan penambahan bobot badan dalam tempo 7-14 hari. Oleh sebab itu, penambahan pakan yang terlalu agresif tentu saja akan mempermudah terjadinya obesitas.∆

1 komentar:

Rina on March 5, 2012 at 1:23 PM said...

bagus kok artikelnya... cuma aku lg pengen yyang hubungannya antara pembatasan pakan dan pemberian pakan yang addlibitum

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template