Thursday, July 24, 2008

BERSAMA KITA BISA MELAWAN CACING

Edisi 167 Juni 2008

Salah satu gangguan kesehatan yang sangat potensial mengganggu produktifitas ternak adalah adanya infestasi cacing. Adanya cacing beserta telur dan bahkan larva di dalam tubuh ternak bisa menimbulkan manifestasi gangguan kesehatan. Mulai dari tahapan lesu, lemah sampai munculnya indikator terganggunya kesehatan bahkan mencapai tahap terganggunya produktivitas ternak.
Berikut ini rangkuman pendapat para praktisi Dokter Hewan dan peternak berkaitan dengan infestasi cacing pada ternak.

Drh Leonardo Bisana Nugraha, praktisi Dokter Hewan yang berpraktek di Kretek Bantul menyatakan bahwa umumnya para peternak kambing dan sapi sudah sangat sadar dan mengerti arti pentingnya kesehatan. Terutama sekali jika kesehatan itu dikaitkan dengan serangan penyakit cacing.
Kesadaran itu, menurut Nugraha sungguh luar biasa, mengingat begitu tingginya perhatian peternak untuk secara rutin memberikan pengobatan secara rutin. Selain itu, juga diperlihatkan dengan aktifitas peternak dalam menjaga hijauan akan ternak tetap bersih dan sehat. Umumnya mereka melakukan pencucian pakan ternak itu sebelum diberikan kepada ternaknya. Langkah membersihkan dan mencuci hijauan itu merupakan salah satu upaya para peternak untuk mencegah penularan cacing dari segala stadium atau phase kehidupan parasit cacing itu
Hal yang hampir mirip diungkapkan oleh Drh Sri Rahayu Kepala Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan) Kecamatan Jetis Yogyakarta. Menurut Sri Rahayu jika membicarakan penyakit cacing pad hewan besar (sapi, kerbau ataupun kambing domba) yang dikelola oleh para peternak sebenarnya merupakan hal yang sangat menarik. Mengapa demikian? Oleh karena menurut ibu dari 4 anak ini bahwa umumnya para peternak, sangat perhatian sekali dengan program pemberantasan penyakit kecacingan atau penyakit cacing.
Tingginya kesadaran itu oleh karena pada 10 terakhir ini, peternak tidak lagi memandang ternak sebagai usaha sampingan akan tetapi sudah menjadi usaha yang dikelola dengan baik. Bahkan menjadi salah satu tiang penyangga utama kegiatan ekonomi keluarga. Sehingga khusus terhadap penyakit ini, mereka secara rutin meminta kepada para praktisi dokter hewan di sekitarnya untuk memberikan obat cacing.
Umumnya pengobatan cacing pada ternaknya dilakukan 2-3 bulan sekali. Jarang para peternak terlambat memberikan obat cacing itu. ”Pengobatan cacing pada ternak sapi, kambing, kerbau dan domba relatif sangat rutin, terjadwal dan sangat jarang yang melewatkan atau terlambat memberikannya. Indikasi yang positif itu sangat membantu kita (dokter hewan) dalam ikut menjaga kesehatan secara umum”ujar Rahayu.
Hal itu dikuatkan oleh Drh Leonardo BN bahwa tingkat partisipasi peternak dan perhatian atas kesehatan ternaknya menjadikannya sangat jarang masalah penyakit cacing yang masuk katagori berat. ”Bukti dan fakta jika dilakukan pemotongan hewan massal pada saat perayaan hari raya iedhul qurban, sangat sedikit sekali dijumpai ternak yang terkena penyakit kecacingan. Dari karkas dan organ dalam relatif sedikti dijumpai ternak yang terinfestasi cacing. Ini khan fakta yang menggembirakan” tegas Leonardo
Menurut Nugraha kesadaran kesehatan para peternak yang begitu tinggi itu, sangat perlu diapresiasi dan terus didukung oleh semua pihak. Terutama dukungan itu agar para peternak menjadi lebih peduli lagi pada semua aspek kesehatan ternak, tidak hanya pada penyakit kecacingan. Program bulanan dari Dinas Peternakan, yang dikenal dengan YANDUAN, pelayanan terpadu bulanan melalui aparat poskeswan harus terus ditingkatkan frekeunsi dan kualitas layanan. Dengan demikian kesehatan dan produktifitas ternak akan selalu terjaga.
Jenis cacing menurut Nugraha yang paling potensial mengganggu kesehatan ternak kambing, domba dan sapi umumnya adalah berurutan atas dasar angka prevalensinya mulai dari cacing gilig, cacing daun dan terakhir pita.Cacing gilig menempati urutan teratas, oleh karena wilayah geografis berupa dataran rendah, lembah berair, merupakan lokasi sangat kondusif bagi hidup dan berkembangnya parasit itu.
Edukasi atau pencerahan dan pembelajaran masyarakat peternak, hampir selalu dilakukan oleh para petugas kesehatan lapangan dalam rangka meningkatkan kemampuan peternak dalam budidaya ternaknya. Harapannya agar mereka menjadikan hal itu menjadi titik tolak kewaspadaan akan kesehatan lain secara umum.
Ketika kedua praktisi itu ditanyakan, bagaimana upaya memelihara kesadaran para peternak itu agar menjadi sebuah gerakan bersama yang mampu menularkan kepada para peternak di luar wilayah. Maka keduanya, berpendapat bahwa kontribusi dari para stake holderlah kunci utamanya. Dinas terkait yang mempuyai kompetensi dengan usaha peternakan harus aktif menggerakkan potensi sumber daya manusia secara terprogram dan sistematis. Kemudian para praktisi dokter hewan yang berada di luar struktur pemerintah dituntut peran besarnya dalam membangun kesadaran para peternak. Sedangkan pihak produsen obat hewan khususnya obat anti cacing diminta peran sertanya untuk menyediakan obat yang murah akan tetapi berkualitas dan spektrumnya luas. Artinya sekali pemberian obat cacing itu akan mampu membasmi dan memberantas aneka jenis cacing dari segala stadium.
Kedua praktisi itu juga merasakan bahwa obat anti cacing yang berbentuk cairan atau suspensi paling banyak diminati oleh para praktisi dokter hewan. Alasan pemilihan obat jenis cairan untuk diminumkan oleh karena aspek kebiasaan dan mudah mengukur dosis dalam pemberian. Sehingga aspek ketepatan dosis pengobatan akan sangat terjaga dan efektif hasilnya. Namun keduanya juga dapat memahami bahwa obat anti cacing yang berbentuk kaplet, serbuk maupun bolus di beberapa daerah justru paling banyak digunakan. Mungkin perilaku pemakaian obat itu oleh karena kebiasaan dan juga lebih cenderung pada aspek ketersediaan yang lebih mudah diperoleh di pasaran.(iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template