Wednesday, October 31, 2007

PENYAKIT 2007, YANG MUNCUL, LANGKAH-LANGKAH DAN OPTIMISME

(( Terhadap masa depan peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia pada tahun 2007 kita sangat optimis. Di seluruh wilayah Indonesia, petani peternak di pedesaan, menunjukkan adanya keinginan kuat para petani peternak untuk maju dan berdaya. Demikian juga, pihak industri peternakan dan kesehatan hewan jelas-jelas menunjukkan komitmen nyata untuk mendukung usaha-usaha pemerintah dalam pemberdayaan peternakan dan kesehatan hewan. Hanya saja yang masih diperlukan oleh pemerintah adalah tindak nyata di lapangan, pemerintah tidak perlu banyak mengobral janji. ))

Di tahun 2007, prediksi penyakit apa yang akan muncul dan mewabah lagi adalah Silent flu burung pada unggas, IBR dan brucellosis pada ruminansia (terutama, sapi perah selama BVDV imunosupresif tidak segera diidentifikasi dan diberantas seperti yang telah saya sebutkan di atas. Juga anthrax, rabies dan SE). Demikian ilmuwan dari FKH UGM Yogyakarta Prof Drh Wasito MSc PhD.
Gizi buruk akibat kurangnya konsumsi pangan protein hewani juga merupakan ancaman bagi masyarakat Indonesia. Demikian tambah Wasito, seraya memaparkan UPT Karantina Pertanian yang kurang memadai kinerjanya akan memungkinkannya berbagai macam penyakit eksotik masuk ke Indonesia, selain penyakit mulut dan kuku, dan BSE.
“Penyakit-penyakit tersebut akan sangat merugikan pemberdayaan para petani dan peternak, kesehatan manusia dan lingkungan secara keseluruhan. Penanggulangan, apalagi pemberantasannya akan sangat sulit dilakukan,” ungkapnya.
Tentang prediksi penyakit apa yang akan muncul dan memwabah lagi di tahun 2007 itu, Ilmuwan dari FKH IPB, Bogor Dr drh I Wayan Teguh Wibawan MS menyatakan AI mungkin masih mengancam, jika kita kendor melaksanakan tindakan biosekuriti dan tidak cermat dalam melaksanakan vaksinasi. AI masih bisa mengancam peternakan sektor 1, 2 apalagi 3 dan 4.
Di samping AI, lanjutnya, Gumboro masih tetap menjadi ancaman peternak, karena sifat virus Gumboro yang bandel dan tahan terhadap perubahan lingkungan serta kemampuannya untuk mengubah antigen permukaannya (vP-2). IB dan ND subklinis mungkin masih mengancam, terutama jika kita tidak pernah melakukan evaluasi terhadap titer dan sebarannya setelah vaksinasi. “Harus ada evaluasi dan penelitian secara terus-menerus terhadap perubahan antigenik virus IB dan Gumboro di lapangan,” tegasnya.

Langkah-Langkah

Menjawab langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah penyakit itu, Prof Wasito menyatakan mengingat bahwa penyakit hewan sangat erat kaitannya dengan ketersediaan pakan dan pangan, kesehatan manusia dan lingkungan, juga pemberdayaan masyarakat petani peternak, peningkatan pendapatan atau ekonomi kerakyatan dengan lahan yang dan sumber daya manusia yang memadai.
Dan ditambah lagi, kataya, Indonesia merupakan negara nomer 2 terbanyak mengenai sumber keanekaragaman hayati indigenous yang harus dilestarikan dan jika memungkinkan dibudi-dayakan, begitu banyaknya penyakit pada manusia yang sumber utamanya dari hewan ternak, gizi buruk akibat defisiensi protein (kwashiorkor) dan bahkan defisiensi protein dan kalori (marasmus) yang boleh dikatakan sudah endemik (mewabah) di Indonesia akibat terutama kurangnya konsumsi pangan protein hewani, maka tidaklah mengada-ada atau aneh.
Dan, tutur Wasito, sudah saatnya, jika perlu segera dibentuk oleh pemerintah, yaitu:
a) Badan Karantina Nasional mandiri yang merupakan satu kesatuan dari Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan dan bertanggung jawab langsung kepada presiden.
b) Departemen Kesehatan Hewan dengan Menteri Kesehatan Hewan (Seperti halnya, antara lain:Departemen Kesehatan dengan Menteri Kesehatan (Manusia), dan Departemen Kelautan dan Perikanan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan.
Menurut mantan Dirjen Peternakan ini, era perdagangan global yang sangat memungkinkan lajunya arus keluar masuk penyakit hewan ternak, baik yang membahayakan hewan ternak itu sendiri dan bahkan mungkin juga membahayakan manusia antar negara, ancaman bioterrorism dan/atau kemungkinan membanjir masuknya produk-produk mikroorganisme/hewan ternak, termasuk unggas hasil rekayasa genetika perlu diantisipasi sejak awal secara optimal berteknologi canggih. “Sedia payung sebelum hujan..demikian pepatah orang bijak,” sitir Wasito.
Adapun menurut Dr drh I Wayan Teguh Wibawan MS, Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah penyakit itu: tugas pemerintah dalam hal ini terbatas pada pembuatan perangkat hukum atau aturan serta penegakannya Misalnya tentang hal yang berkaitan dengan kebijakan import DOC, peredaran obat, vaksin dan bahan biologis lain yang berpotensi sebagai pembawa penyakit. “Perangkat dan lembaganya sudah ada, perlu dukungan yang serius saja dari pemerintah dan pelaksana teknis peternakan di lapangan,” katanya.
Kewajiban pemerintah, lanjut Dr I Wayan Teguh, juga melakukan surveilance terhadap penyakit-penyakit penting ini, sehingga masyarakat peternak akan memperoleh informasi yang akurat tentang hal-hal yang bisa digunakan untuk penentuan strategi pengendalian di farmnya masing-masing. Apakah adanya balai-balai penelitian dan diagnostik termasuk juga perguruan tinggi secara signifikan dirasakan oleh masyarakt peternak? Atau sebaliknya, sering penyakit-penyakit baru terlebih dahulu duketahui oleh masyarakat. Kita perlu banyak introspeksi dan memperbaiki pelayanan kita.
Sedangkan Guru Besar FKH IPB Prof drh Roostita berpendapat:
a) Perlu kerja sama yang konkrit dalam pelaksanaan di lapang antara bidang kesehatan hewan dan kesehatan manusia sehingga secara proposional dapat saling bahu membahu dalam memberantas penyakit ini. Tidak saling menjatuhkan satu sama lain.
b) Harus dibuat kajian secara rinci pada masing masing penyakit terutama Flu Burung baik dari sifat penyakitnya, mutasinya, Epidemiology surveillance harus tuntas dan menyeluruh di l;aksanakan.
c) Harus punya peta penyakit (digital mapping) dengan menggunakan GIS (geographical Informatiom System) mungkin Direktorat Jendral Peternakan sudah ada, dimana peta penyakit yang selalu diisi dengan data yang up to date, sehingga penyakit bisa dilacak dan diprediksi keberadaannya yang akan datang. Dimana pada wilayah desa, kecamatan yang sama kondisinya dengan desa yang pernah ada kasus baik dari segi populasi hewan, orang, lingkungan, geografisnya dengan wilayah yang ada kasus di tahun tahun sebelumnya. Maka akan bisa diantisipasi pada desa atau wilayah baru.

Optimis

Menjawab pertanyaan Infovet, “Apakah bapak optimis terhadap masa depan peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia pada tahun 2007?” mantan orang nomor satu di sub sektor peternakan di negeri ini Prof Drh Wasito MSc PhD merespon, “Sangat optimis. Mengingat bahwa selama kunjungan saya ke seluruh wilayah Indonesia selama ini yang berinteraksi langsung dengan petani peternak di pedesaan, menunjukkan adanya keinginan kuat para petani peternak untuk maju dan berdaya.”
Demikian juga, lanjutnya, pihak industri peternakan dan kesehatan hewan jelas-jelas menunjukkan komitmen nyata untuk mendukung usaha-usaha pemerintah dalam pemberdayaan peternakan dan kesehatan hewan. Hanya saja yang masih diperlukan oleh pemerintah adalah tindak nyata di lapangan, pemerintah tidak perlu banyak mengobral janji.
Tampaknya, ujarnya, di tahun 2006 masih ada beberapa peternak yang merasa adanya komitmen pemerintah yang belum dilaksanakan. Jangan dibiarkan masyarakat kecewa berkelanjutan. Kerjasama harmonis dengan masyarakat harus lebih ditingkatkan dengan cara lebih mau mendengar dan menerapkan apa-apa yang memang benar menurut versi masyarakat.
Adapun Wakil Dekan FKH IPB Dr drh I Wayan Teguh Wibawan juga menyatakan optimis, karena masyarakat peternak semakin mudah untuk kita ajak belajar. Saya sering keliling Indonesia untuk tugas ini, baik yang diminta pemerintah maupun oleh pihak swasta. “Saya optimis,” tegasnya. (Ardi W)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template