Tuesday, October 16, 2007

MINYAK ATSIRI SEBAGAI SUPLEMEN DAN ALTERNATIF ANTIBIOTIK

(( Minyak esensial telah digunakan manusia sejak zaman purbakala, baik untuk meningkatkan cita rasa makanan maupun sebagai obat tradisional akibat antibakteri, antioksidatif, dan fungisida yang dihasilkannya. ))

Ditemukannya resistensi mikroba dan residu pada produk ternak akibat penggunaan antibiotik telah mengilhami pencarian produk alternatif pengganti antibiotika.
Demikian Maria Ulfah Dosen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang seraya melanjutkan, resistensi mikroba dapat ditransfer dari ternak ke tubuh manusia, melalui kontak langsung manusia dengan ternak maupun secara tidak langsung melalui konsumsi produk hewani (termasuk hewan laut) dan bahan-bahan makanan yang diawetkan dengan antibiotika.
Menurut Maria Ulfah, di dalam tubuh manusia, bakteri akan berkoloni dan dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan, bahkan dapat menimbulkan kematian.
Minyak esensial disebut juga minyak atsiri (essential oils) atau minyak yang menguap (volatile oils) yang terbentuk di dalam retikulum endoplasma sel tanaman dan diperoleh dengan penyulingan dengan uap atau ekstraksi bagian buah, bunga, kayu, akar, daun, dan biji tanaman. Umumnya minyak esensial dianalisa dengan gas-chromatography.
Dituturkan, minyak esensial merupakan campuran kompleks dari komponen aktif yang berbeda yang masing-masing mempunyai ciri khas sendiri, misalnya, rasa pedas (pungent taste) dan berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya. Spesies tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae yang pada umumnya tumbuh di daerah tropis, diketahui sebagai penghasil minyak esensial.
Minyak esensial telah digunakan manusia sejak zaman purbakala, baik untuk meningkatkan cita rasa makanan maupun sebagai obat tradisional akibat antibakteri, antioksidatif, dan fungisida yang dihasilkannya.
Saat ini minyak esensial secara luas telah digunakan di dunia kecantikan dan untuk tujuan medis. Teh hijau dapat mengurangi berat badan, mengatasi kolesterol, kanker, mutasi sel, bakteri, memperlancar peredaran darah, mengurangi kadar gula, dan memperbaiki fungsi lever.
Allicin dari bawang putih dapat menurunkan kolesterol, tekanan darah dan antitrombosit. Clary sage, Geranium, Lavender, dan bunga mawar dapat mengatasi gejala menopause. Minyak esensial dari Spike lavender (Lavandula latifolia), California lemon (Citrus limonum), Tea tree (Melaleuca alternifolia), Helichrysum (Helichrysum italicum) dan Oregano (Origanum vulgare) telah sukses digunakan dalam terapi AIDS dan HIV.

Minyak esensial sebagai "feed additive"
Sesuatu yang baik untuk manusia tidak akan berakibat buruk jika diberikan pada hewan ternak. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan minyak esensial pada hewan ternak. Pada ternak, pentingnya penggunaan komponen aktif minyak esensial, baru diketahui dan diteliti beberapa tahun terakhir ini. Terlalu banyak waktu dikonsentrasikan pada antibiotik untuk meningkatkan penampilan ternak.
Saat ini minyak esensial lebih dari hanya sekadar alternatif pengganti antibiotika. Mereka tidak hanya mempengaruhi populasi mikroba, tetapi pada saat yang sama berpengaruh positif terhadap aktivitas enzim pencernaan dan intermediate metabolisme. Produksi ternak tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan penampilan ternak, tetapi juga nutrisi dan kesehatan ternak dan manusia. Saat ini minyak esensial menjadi populer dalam dunia pertanian dan peternakan sebagai pemacu metabolisme dan pencernaan (digestion and metabolism promoters).
Minyak esensial dapat digunakan sebagai pakan tambahan (feed additive) di setiap jenis ransum ternak tanpa merubah sistem pemakanan yang digunakan pada suatu peternakan, baik peternakan tradisional maupun industri peternakan besar. Kombinasi beberapa jenis minyak esensial meningkatkan keefektifan kerja minyak tersebut (bekerja secara sinergis).
Walaupun diberikan dalam dosis rendah (g/ton pakan basal), mereka menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda, baik segi fisiologi ternak maupun sosial ekonomi.
Minyak esensial secara luas telah digunakan di negara-negara maju dan sebagian negara berkembang, terutama di negara-negara di mana terdapat undang-undang yang melarang penggunaan antibiotik tertentu, misalnya, larangan penggunaan avoparcin pertama kali di Denmark pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 di Jerman.
Kemudian pada tahun 1997, avoparcin dilarang sama sekali penggunaannya di Eropa. Antibiotik seperti streptogramin, virginiamycin, tylosin dan Zn-bacitracin juga diketahui sebagai antibiotik, yang menimbulkan masalah kesehatan manusia dan dilarang penggunaannya.

Cara kerja minyak esensial
Karena bau dan rasa yang dihasilkannya, konsumsi per oral minyak esensial yang dicampurkan dalam pakan basal ternak menstimulasi sistem saraf pusat, yang akhirnya menghasilkan peningkatan nafsu makan dan konsumsi zat-zat makanan. Keberadaan minyak esensial menstimulasi produksi cairan pencernaan yang menghasilkan pH yang sesuai untuk enzim pencernaan, seperti peptinase.
Pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan aktivitas enzim pencernaan dan pengaturan aktivitas mikroba. Kestabilan mikroflora di dalam saluran pencernaan menurunkan kasus diare dan penyakit pencernaan lain. Pengaruh nyata dari mekanisme ini adalah perbaikan konversi energi dan pencernaan zat-zat makanan dan pengaruh positif terhadap metabolisme nitrogen, asam amino, dan glukosa.
Aplikasi lapang campuran minyak esensial dari Oregano (Oreganum vulgare), Cinnanom (Cinnamon annum), Thyme (Thymus vulgaris) dan Eucalyptus pada ayam pedaging di daerah Jawa Timur, telah terbukti memperbaiki konversi pakan, meningkatkan pertambahan berat badan, menurunkan angka kematian, dan meningkatkan keuntungan usaha peternakan.
Pengaruh positif penggunaan minyak esensial juga terlihat di negara Eropa, Ameriak Serikat, dan sebagian negara Asia seperti Thailand, Israel, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan India baik pada ayam pedaging, ayam petelur, babi, maupun ternak ruminansia.
Kemampuan minyak esensial untuk menstimulasi sistem saraf pusat mengakibatkan ternak lebih toleran terhadap stres (meningkatkan kekebalan), baik stres akibat pemisahan dengan induknya (terutama pada babi) maupun stres akibat kondisi lingkungan.
Penelitian in vitro menunjukkan bahwa minyak esensial dari berbagai macam tanaman mempunyai antimicroba dan antifungisida yang dapat menghambat dan membunuh bakteri, virus, dan jamur, maupun bakteri patogen lain di dalam saluran pencernaan.
Zat aktif carvacrol dan thymol dari oregano dan thyme dapat menurunkan kejadian Proline proliferative enteropathy (PE) pada babi yang disebabkan Lawsonia intracellulari dan coccidiosis pada ayam. Kedua jenis penyakit ini dikenal di seluruh dunia sebagai penyebab kerugian ekonomi.
Ekstrak teh hijau tidak hanya dapat memperbaiki kondisi mikroflora dalam saluran pencernaan manusia, tetapi juga menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen pada sapi, babi, dan ayam. Minyak esensial dari kayu manis, cengkeh, pala, bawang putih, rosemary, teh, adas, jinten hitam, blackberry, peppermint, kemiri, bunga turi, dan daun salam juga diketahui dapat menurunkan kejadian diare pada babi dan ayam dan menurunkan angka kematian pada ayam.
Lebih lanjut oregano meningkatkan warna kulit telur ayam dan memperbaiki kondisi kotoran ayam (kotoran tidak basah). Aplikasi thymol dan carvacrol dapat menghentikan fermentasi pada kotoran ternak, menghambat pembentukan rantai pendek lemak terbang, dan menurunkan bau kotoran.
Analisa laboratorium menunjukkan, tidak ada residu yang tersisa akibat penggunaan minyak esensial dan terjadi peningkatan kualitas karkas. Dari segi ekonomi, minyak esensial dapat menurunkan biaya produksi peternakan dan diyakini dapat menstimulasi penurunan harga daging, sehingga lebih banyak masyarakat miskin di Indonesia yang mampu membeli dan dapat mengonsumsi daging. Dan tanpa adanya pengaruh politik tertentu, peningkatan konsumsi protein dapat menurunkan kasus malnutrition.
Konsep produksi ternak tanpa menggunakan antibiotik adalah hal yang baru dan dapat diterapkan di negara tropis, seperti Indonesia, meskipun pada kondisi stres lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan penyakit. Penggunaan minyak esensial di Indonesia menjadi penting artinya dalam peningkatan kualitas produk asal ternak yang semakin dituntut untuk bisa bersaing dengan produk dari luar.
Apalagi, persyaratan negara-negara pengimpor produk asal ternak semakin ketat, seperti bebas dari berbagai penyakit dan persyaratan standar residu antibiotik.
Akhirnya peneliti dari Universitas Brawijaya Malang itu mengungkapkan, hal tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya perusahaan peternakan dan juga industri pakan ternak dalam penyediaan bahan pakan yang berkualitas, aman dikonsumsi, dan tidak menimbulkan dampak negatif lain terhadap manusia.
Maka, mari terus meneliti dan membandingkan dengan bantuan ahlinya, soal minyak atsiri dan fungsi sebagai antibiotik ini. Tak ada salahnya mencoba dan berusaha.
(Kps)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template