Wednesday, October 31, 2007

CRD, Kasus Penyakit Pernafasan Yang Tidak Pernah Tuntas

Jika ditanya jenis penyakit apa yang menyerang ayam yang sangat akrab dengan kehidupan peternak sehari-hari, penyakit ngorok mungkin menjadi jawaban yang paling banyak diperoleh. Mengapa harus ngorok?
Berdasarkan data kasus serangan penyakit ayam ditahun 2006, penyakit ngorok atau Chronic Respiratory Disease (CRD) merupakan kasus teratas yang sering diabaikan peternak. Padahal penyakit ini cukup memberikan arti lebih bila dikaitkan dengan faktor ekonomi yakni kegagalan berproduksi pada ayam yang bermuara pada kerugian bagi peternak yang ayamnya terpapar ngorok dimaksud.
Demikian disampaikan drh Sudaryatna Kasubdin Keswan Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Lebih lanjut dikatakannya, ditingkat peternak broiler, kasus CRD merupakan kasus teratas yang sering dijumpai, namun berdasar pada pola pemeliharaan broiler yang terlalu singkat, maka kehadiran ngorok ini kurang diekspos oleh peternak.

CRD Di mata Peternak
Adalah Nursialis, peternak broiler dengan lokasi farm di Lubuk Jambi Kabupaten Kuantan Singingi Riau merupakan figur peternak sukses. Konsep kesuksesan itu sederhana saja yakni dengan selalu menerapkan kebersihan diseluruh areal kandang.
Peternak 6000 ekor broiler ini selalu getol mengintruksikan ke anak kandangnya agar tetap menjaga kebersihan yang dimulai dari kebersihan personal, kebersihan ayam yang dipelihara, kebersihan kandang sampai pada kebersihan lingkungannya.
Tidak berlebihan memang, manakala Nursialis menerapkan prinsip bahwa apapun bentuk agen penyakit tak bisa memasuki arel peternakan bila kondisi peternakan selalu terjaga kebersihannya. Kemudian pengontrolan secara berkala terhadap anak kandang juga perlu diterapkan. Hal ini dilakukan mengingat adakalanya anak kandang yang membandel, yang cuek dengan apa yang diinginkan.
Terkait kasus CRD dan jenis penyakit pernafasan lainnya, Ibu yang sudah berputra ini menegaskan bahwa kehadiran CRD dan penyakit pernafasan sejenis lainnya tetap ada, hal ini bisa saja didukung oleh faktor cuaca seperti pada saat musim hujan dan atau peralihannya, biasanya berbagai kasus-kasus pernafasan sering dijumpai peternak.
Dalam pengendalian CRD, Nursialis biasanya mendapatkan bimbingan langsung dari Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singingi yang meliputi upaya mempertahankan kesehatan ayam dengan memberikan multivitamin.
Disamping itu, penjagaan kebersihan tetap diutamakan agar udara disekitar lokasi kandang tetap bersih dan segar. Selain itu, kepadatan kandang harus selalu diperhatikan, sehingga tidak terjadi penumpukkan DOC yang dipelihara yang bermuara pada meningkatnya angka kematian.

Penyakit Menular Menahun
Chronic Respiratory Disease (CRD) merupakan penyakit menular menahun pada ayam yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum. Penyakit ini ditandai dengan pertumbuhan terhambat, mutu karkas jelek, produksi telur menurun, keseragaman bobot badan yang tidak tercapai dan banyaknya ayam yang harus diafkir. “Inilah yang menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak,” jelas alumnus FKH UGM ini.
Dikatakannya lagi, penyakit ngorok atau Chronic Respiratory Disease (CRD) merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan yang bersifat kronis. Artinya penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, dengan gejala awal ayam yang terpapar akan memperdengarkan suara mencicit seperti ngorok, sehingga sebagian besar peternak sering menyebut kasus ini sebagai penyakit ngorok.
Sementara itu, drh Muhammad Firdaus Kasubdin Kesehatan Hewan dan Kepala Rumah Potong Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan kota Pekanbaru, menyatakan, terhambatnya pertumbuhan pada ayam dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum lebih disebabkan karena terjadinya penurunan nafsu makan. Hal ini dapat diketahui dengan rendahnya angka konversi ransum yang ditunjukkan oleh ayam dalam satu flok pemeliharaan.

Mengenal Lebih Dekat Agen CRD
Mycoplasma gallisepticum berukuran 0,25-0,50 mikron berbentuk pleomorfik, kokoid dan tidak mempunyai dinding sel sejati. Agen ini bersifat gram negatif, dapat dibiakan dalam telur fertil, biakan sel, dan media buatan yang dilengkapi dengan 10-15% serum babi atau serum kuda yang dinon-aktifkan. Media buatan dapat berupa padat, cair, atau zona antara cair dan padat.
Pertumbuhan optimal pada media padat diperoleh pada pH 7,8, suhu 37ºC-38ºC dengan penambahan CO2. Koloninya amat kecil dengan garis tengah 0,20-0,3 mm, halus, bulat jernih dengan daerah yang menebal dan menonjol di tengahnya. Mycoplasma gallisepticum memfermentasi glukosa dan maltosa menjadi asam tanpa pembentukan gas.
Kemudian agen ini mereduksi 2,3,5-triphenyl-tetrazolium chloride serta menghidrolisa eritrosit kuda. Selain itu, Mycoplasma gallisepticum dapat mengaglutinasi eritrosit marmot, ayam dan kalkun, sehingga memudahkannya menginfeksi hewan dari jenis unggas tersebut.

Hindari CRD Komplek
CRD komplek merupakan gabungan penyakit dengan dua komponen yaitu kolaborasi Mycoplasma gallisepticum dengan bakteri Escherichia coli. Kembali ke drh Sudaryatna Kasubdin Keswan Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singingi menyatakan, sebagai faktor predisposisi CRD komplek adalah sistem pemeliharaan dengan suhu lingkungan yang tinggi yaitu panas atau dingin, kelembaban tinggi, kurangnya ventilasi, kepadatan ternak terlalu tinggi dan cara pemeliharaan dengan umur yang tidak seragam.
“Hal inilah yang sering dijadikan dasar sebagai pemicu munculnya CRD komplek di area farm yang dimiliki peternak”, jelas mantan TS Comfeed wilayah Bogor ini. Disamping itu, kebersihan kandang juga didaulat sebagai pemicu munculnya kasus CRD komplek ini.
Sementara itu, Hanggono SPt Technical Service PT Medion Cabang Pekanbaru menyatakan, ngorok ayam atau CRD merupakan penyakit pernafasan yang tidak pernah tuntas kasusnya di lapangan, hal ini disebabkan oleh tatanan manajemen yang diterapkan peternak masih longgar, sehingga memudahkan agen CRD menginfeksi ayam yang bermuara pada munculnya ayam-ayam sakit di areal farm milik peternak. Disamping itu, kebersihan kandang yang sering terabaikan sejak awal pemeliharaan sampai minggu ketiga, disinyalir sebagai faktor pemicu munculnya kasus-kasus pernafasan pada ayam.
“CRD biasanya muncul di farm saat pemeliharaan menginjak minggu ketiga, hal ini terkait dengan penurunan kualitas litter dan kurang trampilnya anak kandang dalam proses open and close tirai kandang,” papar alumnus Fakultas Peternakan Brawijaya ini.

Waspadai Litter Yang Lembab
Alas kandang atau litter sudah sejak lama dianggap sebagai pemicu munculnya berbagai kasus penyakit pernafasan pada ayam. Penggunaan litter pada peternakan broiler dimulai sejak pemeliharaan DOC sampai minggu ketiga pemeliharaan. Litter difungsikan sebagai penghangat bagi pitik (red, anak ayam).
Dalam menjalankan budidaya broiler agar mendapatkan hasil yang baik harus memerlukan seni tersendiri. Masalah pakan, strain yang baik dan manajemen sangat perlu diperhatikan diantaranya manajemen litter. Dalam kondisi apapun dengan bentuk kandang yang bagaimanapun, peternak harus menjaga agar litter selalu kering.
Anggapan yang sering keliru adalah litter sebaiknya selalu berada dalam keadaa basah, hal ini bertujuan agar tidak susah untuk menguangkan (red, menjual) litter tersebut yang difungsikan untuk pupuk nantinya, jadi sebagian besar peternak menginginkan kondisi litter yang lembab atau basah. Padahal ini merupakan tindakan yang salah karena litter yang basah atau lembab dapat mengundang berbagai agen penyakit untuk hadir di lokasi peternakan ayam.
Menurut Hj Ir Elfawati MSi dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau, litter basah atau lembab tidak baik untuk DOC karena dapat meningkatkan kadar amoniak yang tinggi akibatnya performance ayam menjadi menurun. Disamping itu, kondisi litter yang basah dan lembab dapat pula menyebabkan ayam terpapar berbagai macam agen penyakit khususnya penyakit pernafasan seperti CRD, Coryza atau Snot dan penyakit sejenis lainnya.
Adapun jenis bahan yang sering digunakan sebagai alas kandang (litter) untuk budidaya broiler adalah (1) sekam padi, material ini tidak terlalu menyerap air dan dapat dicampur dengan bahan lain, (2) jerami yang telah dipotong kecil, (3) serbuk gergaji, biasanya berdebu tidak terlalu disarankan, (4) pasir, ini biasanya untuk daerah kering dan (5) serutan kayu atau wood shavings.
Litter atau alas kandang sebaiknya sudah dipersiapkan sebelum anak ayam masuk agar semua kebutuhan anak ayam bisa terpenuhi. Prosedur pemasukan sekam ke dalam kandang yang biasa dilakukan peternak adalah sebagai berikut:
(1) kandang dicuci dan didesinfeksi, (2) sekam yang sudah didesinfeksi dimasukan ke dalam kandang, (3) sekam disebar merata dengan ketebalan 5-10 cm, (4) sekam didesinfeksi lagi dan (5) tutup kandang beberapa hari dan kemudian calon DOC siap di masukan ke dalam kandang. Biasanya untuk 1,000 ekor ayam membutuhkan sekam sebanyak 40–50 karung sekam.
“Tidaklah susah menjaga kondisi litter di dalam kandang agar tetap kering dan tidak menggumpal bila saja faktor pencetus di atas dapat dihindari,” jelas Ketua Program Studi Pertanian Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau ini.
Terlepas dari itu semua peran anak kandang atau care taker sangat menentukan, terutama dalam hal ketelitiannya mengontrol permasalahan di dalam kandang. Anak kandang yang cukat trengginas akan mengganti litter yang menggumpal dengan yang baru agar kesegaran udara yang ada di dalam kandang tetap terjaga. Atau bila sudah lembab usaha yang dapat dilakukan adalah menaburi litter dengan kapur agar cepat kering, setelah itu baru ditambahkan sekam yang baru.

Pemerintah Harus Memperhatikan
Adanya keterlibatan pemerintah dalam memberikan masukan berupa bimbingan untuk berusaha ternak yang lebih baik diperlukan untuk meningkatkan kualitas peternak. Demikian dikatakan Ir Lizdarti Rosa Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singingi saat pembukaan Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan Provinsi Riau di Desa Makmur Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan baru-baru ini.
Menurutnya, untuk percepatan pengentasan kemiskinan dimasyarakat, yang diperlukan bukanlah bermacam-macam program namun cukup satu program tapi memberikan nilai tambah bagi kelangsungan hidup masyarakat.
Dikatakannya lagi, yang diperlukan saat ini adalah alih teknologi, dalam hal ini adalah bagaimana usaha pemerintah mencerdaskan peternak agar peternak tidak lagi sebagai obyek namun mampu bertindak sebagai subyek di lokasi peternakannya.
Hal inilah yang mendasari alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor ini memberikan berbagai jenis pelatihan pada daerah binaannya. Kemudian untuk sinergisme kerja, kunjungan rutin petugasnya di lapangan pada lokasi-lokasi kantong ternak diintensifkan. Materi kunjungan diset up sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan peternak.
Untuk membekali petugas lapangannya mahasiswa pasca sarjana di Universitas Riau ini mempercayakan up date ilmu pengetahuan dan teknologi bidang peternakan dan kesehatan hewan melalui majlah Infovet yang dimulai sejak akhir tahun 2006 lalu.
Tak ayal bila kinerja yang dimilikinya telah mengantarkan subsektor peternakan sebagai penyumbang Pendapatan Asli Daerah sejajar dengan subsektor lain yang dihasilkan oleh Kabupaten Kuantan Singingi.
Demikian juga dengan daerah-daerah lain bukan? (Daman Suska).

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template