Friday, September 28, 2007

NAMBAH MODAL atau NAMBAH AKAL

Oleh: Drh Agus Wahyudi B

Diera tahun 80-an peternak layer memelihara ayam sangat sederhana. Kandang Pullet model postall begitu juga diperiode layer ayam dipelihara didalam batery bambu dengan tempat pakan berupa kotak terbuat dari kayu. Permasalahan yang muncul sangat komplek dari pakan berjamur dalam kotak pakan, Coccidiosis, Kolera, telur kotor, puncak produksi hanya 82 %, dan dicapai pada umur 28 minggu.

Diera tahun 90-an peternakan ayam petelur terhitung maju pesat. Kandang pullet sudah model slate, tempat minum beel-drinker. Pemeliharaan di layer sudah menggunakan batery kawat, tempat pakan pakai pralon PVC. Strain ayam sudah banyak pilihan dan performance produksinya lumayan dengan puncak produksi 87 %, dicapai umur 26 minggu.

Diera milenium peternakan layer dipuncak kemajuan. Kandang pullet sudah dibagi menjadi dua fase. Fase pertama biasa disebut fase starter (umur 1 minggu s/d umur 5 minggu) dan fase grower ( umur 6 minggu s/d umur 17 minggu). Kandang grower sudah menggunakan batery kawat sehingga waktu pindah ke kandang layer faktor stressingnya bisa minimal. Kandang layer sudah banyak ditawarkan kandang closed house dengan dalih lebih efisien dan sebagainya. Puncak produksi dicapai umur 23 minggu lama puncak 16 s/d 20 minggu dengan rate 93%.

Bagi peternak yang berduit perkembangan teknologi yang ujungnya nambah modal tidak akan menjadi masalah namun bagaimana bagi peternak dengan modal serba mepet. Kemajuan teknologi tidak berarti tidak membawa dampak negatif apabila tidak dipahami dan dimengerti dengan baik dan dijalankan oleh tenaga yang potensial. Begitu juga dengan peternak yang ketinggalan teknologi yang selalu mempertahankan pola manajemen kuno yang selalu cukup dan dihitung sudah untung paradigma ini juga mesti berubah.

Dalam mengambil suatu pilihan dan untuk memutuskan memang faktor modal menjadi pertimbangan utama. Misalkan pilihan untuk memutuskan perlunya pembuatan kandang grower di budidaya Pullet. Kandang grower akan menghasilkan pullet yang seragam, status kesehatan yang homogen, deplesi rendah, perlakuan baik di bidang budidaya maupun kesehatan lebih mudah di tangani dan dimonitoring, pencapaian berat badan dan uniformity lebih mudah dicapai dan periode layer tidak late produksi. Namun biaya untuk pengadaan kandang tersebut tidak murah barang kali secara global non tanah membutuhkan biaya Rp18.500/ekor.

Kandang grower bisa menghasilkan produksi pullet dan performa produksi lebih baik karena :

 Kepadatan ayam per m2 lebih longgar
 Feeder dan drinker space lebih panjang
 Stres ayam waktu perlakuan baik program budidaya maupun kesehatan bisa diminimal.

Kelebihan lainnya :
 Tenaga kerja menangani populasi ayam lebih banyak
 Akurasi penghitungan populasi sangat tepat.
 Replacement dan hasilan jumlah produksi pullet bisa optimal

Kelebihan-kelebihan yang dihasilkan kandang grower bisa disiasati dengan tanpa harus menambah modal banyak. Ikhtiar yang bisa dilakukan adalah :
 Kurangi kepadatan ayam misalkan 1m2 untuk 12 ekor menjadi 10 ekor/m2
 Standarisasi jumlah tempat pakan dan minum ditambah. Misalkan satu bell drinker/galon untuk 80 ekor diubah menjadi 60 ekor, satu tempat pakan kapasitas 10 kg untuk 50 ekor diubah menjadi 40 ekor
 Pelatihan untuk tenaga kusus/tim khusus yang menangani program budidaya dan kesehatan. Materi pelatihan dititikberatkan tentang cara handling ayam yang baik. Misalkan program seleksi, program potong paruh dan lain sebagainya. Pelatihan ini bisa dikerjakan sendiri atau kerja sama dengan suplier obat atau pakan (contoh Medion).
 Penghitungan populasi real bisa dilakukan 3 (tiga) kali yaitu pada saat potong paruh, vaksin coriza, dan vaksin triple ( ND, IB dan IBD kill).
 Jumlah produksi pullet yang dihasilkan relatif lebih sedikit. Hal ini bisa diakali dengan penambahan lokasi kandang.

Sekarang mulai kita berhitung perlukah mengeluarkan modal untuk pembuatan kandang grower atau cukup dengan akal merekayasa budidaya yang telah dibahas diatas. Ada hal yang sangat penting yang tidak didapat dikandang grower yaitu exercise. Ayam petelur membutuhkan tulang yang kuat. Kekuatan tulang tidak hanya terletak pada faktor nutrisi namun juga harus dilatih dengan exercise.

Dan perlu diingat ayam petelur berada di cages selama 70-an minggu dengan posisi menahan tubuh (karena tatakan telur mempunyai kemiringan kurang lebih 20o) sehingga faktor tulang sangat penting agar culling ayam karena lumpuh tidak terjadi.

Tips penanganan lalat yang mujarab (Buat Box sendiri dalam artikel ini)

Dipergantian musim biasa akan terjadi peningkatan populasi lalat. Hal ini bisa disadari karena setiap makhluk hidup mempunyai siklus hidup dalam perkembangannya, dan salah satu faktor yang menentukan perkembangannya adalah kelembapan dan suhu yang cocok. Ada beberapa cara menangani lalat yaitu :

a. Lewat pakan, dengan memberi Cyromazine. Pilih produk yang baik, karena bisa berefek kepenurunan %HD. Penggunaan cyromazine tergantung kebutuhan, sebaiknya tidak digunakan terus.
b. Spray manure, dengan menggunakan Dichlorvos. Agar lebih tahan efek dari dichlorvos bisa ditambahkan detergen sebagai surftaktan. Waktu menyemprot jangan sampai kena ayam, pakan, dan tempat minum.
c. Pasang bambu yang telah dibelah menjadi 8 (delapan) bagian, dengan panjang 1 meter dan tancapkan di daerah antar kandang. Bambu diolesi kecap untuk merangsang lalat hinggap dimalam hari. Semprot lalat pada malam hari dengan Cyperkiller, Nuvantop atau Butox.

Semoga cara tersebut diatas bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan lalat dari fase larva hingga lalat dewasa.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template