Friday, September 28, 2007

Gonjang ganjing Perususan Nasional (2) Salah Kaprah Pakan Sapi Perah

oleh Ir Tatang E P

Tingginya biaya produksi susu di Indonesia salah satu sebab utamanya karena penggunaan pakan yang tidak tepat. Basis pemberian pakan sapi perah kita masih menggunakan biji-bijian sedangkan hijauan hanya sebagai pelengkap.

Ini sebenarnya kurang tepat mengingat sapi perah mempunyai sistem pencernaan berbasis mikroba yang lebih cocok menggunakan pakan berserat alias hijauan. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Dr Ir Marsetyo, dosen fakultas peternakan Universitas Tadulako, Palu.

Menurut Marsetyo, di negara sedang berkembang seperti Indonesia, biji-bijian disamping harganya mahal, juga kurang pas diberikan kepada ternak sapi karena manusia juga membutuhkan biji-bijian.

Selain itu juga ternak sapi perah harus bersaing dengan unggas yang pasokan makanannya berbasis biji-bijian. Oleh karena itu penggunaan hijauan merupakan pilihan yang menarik untuk ternak ruminansia di Indonesia, walaupun porsinya bisa diatur.

Memang menurut Ir Mulyoto Pangestu PhD, dalam konsep nutrisi ruminansia : pakan berserat tetap dibutuhkan, namun bila ingin berproduksi tinggi ya harus ada pakan penguat tambahan.

Artinya menurut peneliti dari Monash University ini pengembangan sapi perah di Indonesia tak perlu ngotot untuk memperoleh produksi susu yang tinggi, namun yang menguntungkan.

Sebab iklim tropis membuat ternak memang lebih mungil dari ternak-ternak sapi sub tropis. Namun yang terpenting adalah bagaimana mendapatkan keuntungan yang memadai.

“Mungkin kita perlu melihat munculnya trend baru pada sapi potong dengan LowLine Breed yang tubuhnya mini dan beratnya hanya 200 kg,” tegasnya. Jadi apa salahnya kalau Indonesia mulai mencoba menikmati mungilnya sapi tropis supaya bisa memberikan rejeki sebesar Limousine atau Angus.

Ternak yang kecil bukan berarti akan kecil keuntungannya. Namun dengan ternak yang kemampuannya hidup di daerah tropis maka daya cerna terhadap hijauan akan lebih baik.

Hijauan di Indonesia sebenarnya cukup melimpah dan beragam. Sayangnya ini kurang dipahami oleh para peternak. Hal ini diperparah dengan tidak adanya penelitian yang intensif mengenai hijauan. Akibatnya peternak hanya tahu untuk meningkatkan produksi susu adalah dengan mempertinggi pakan yang berasal dari biji-bijian.

Peternak sapi perah lebih kenal dengan jagung, dedak, kedele, tepung daging dan tulang ketimbang rumput kolonjono, cetaria lampung atau bahkan jenis legume yang biasa menjadi penutup tanah di perkebunan.

Padahal penggunaan biji-bijian seperti jagung, dedak dan kedele akan berbenturan dengan industri unggas yang jauh lebih besar kebutuhannya.

Kebanyakan peternak sapi perah kita hanya memberikan rumput gajah atau rumput raja sebagai makanan hiajauan. Kedua rumput tersebut kandungan nutrisi tidak begitu bagus dan lebih banyak serat kasarnya saja.

Namun memang rumput gajah atau rumput raja dari segi ketersediaan memang memadai karena rumput ini besar sehingga mampu mengenyangkan sapi. Tapi sayang kandungan nutrisinya tidak begitu bagus.

Penggunaan hijauan sebagai salah satu alternatif untuk mendapatakan nutrisi yang murah harusnya menjadi prioritas bagi peternak untuk menekan harga susu sehingga memperoleh margin yang lebih tinggi.

Sayangnya pemerintah yang harusnya membantu mencarikan alternatif nutrisi dari hijauan tak banyak membantu. Riset tentang hijauan makanan ternak sangatlah minim. Apalagi berbicara tentang sistem pengawetan hijauan atau pemanfaatkan hijauan kering.

Dengan satuan ternak yang rendah memang peternak tak mungkin menggembalakan ternaknya pada padang penggembalaan atau mempunyai lahan yang memadai untuk makanan hijauan ternaknya.

Namun bukan tidak mungkin bila peternak yang mempunyai kepemilikan sapi perah sedikit dikumpulkan menjadi satu koperasi dan koperasilah yang mensupport untuk menyediakan lahan atau padang penggembalaan dengan hijauan pilihan dan kandungan nutrisi yang baik.

Di Negara-negara maju peternakan sapi baik perah maupun potong mengandalkan makanan hijauan yang diperoleh dari padang penggembalaan. Namun bukan berarti pakan yang berasal dari biji-bijian ditinggalkan hanya saja porsinya lebih kecil.

Penataan padang penggembalaan dengan berbagai macam tanaman baik rumput maupun legume terasa asing ditelinga kita. Padahal padang penggembalaan merupakan salah satu kunci sukses

Negara-negara pengekspor susu dan sapi terbesar di dunia macam Australia dan Selandia Baru. Karena biaya rumput dan legume jelas lebih murah ketimbang biji-bijian.


Kajian Yang Komprehensip

Sapi perah sebagai salah satu potensi besar di Negara ini harusnya pemerintah mampu memfasilitasi sebuah riset yang terpadu dan berkesinambungan.

Menurut Ir Budi Rustomo PhD, pakar sapi perah asal Fapet Unsoed melihat, pendekatan atau teknologi tanpa melihat karakteristik atau sifat-sifat dasar aslinya, akan menghasilkan sesuatu yang tidak optimal.

Pengetahuan tentang habitat asal, sifat asli dan behaviour mutlak diperlukan dalam menentukan pendekatan-pendekatan teknologi. Apalagi teknologi yang dibuat untuk memanipulasi atau menyiasati kinerja makhluk hidup seperti hewan ternak.

Dalam pengembangan teknologi peternakan, tiga pendekatan yang lazim dilakukan oleh pakar-pakar peternakan di negara barat.

1.Mengetahui sifat dasar (karakteristik) ternak. Termasuk mengerti benar “what is the purpose of God creating the creatures/species?”.
2. Mengetahui bagaimana ternak bisa hidup (how do they survive in the original habitat or in the junggle, before being domesticated)
3. Mengetahui how do they reproduce their offspring.

Ketiga pendekatan tersebut di atas yang seharusnya mendasari bagaimana ilmuwan peternakan mengembangkan teknologi. Baik teknologi di bidang pemuliaan, pakan, perkandangan, reproduksi, kesehatan dan banyak lagi faktor lainnya.

Budi yang pernah lama tinggal di Kanada dan Australia ini mencontohkan, Di Kanada, pada saat musim panas suhunya bisa mencapai 40 oC. Tapi, konsumsi pakan dan produksi susu tidak menurun.

Sebab, meskipun panas, kelembaban udaranya masih relatif rendah. Itupun masih dibantu dengan pemasangan blower dikandang-kandang pada saat musim panas.

“Namun Bila pendekatan itu kita tiru, peternak Indonesia dengan modal yang terbatas

akan bangkrut karena bengkaknya biaya listrik,” ujarnya memberi contoh.

Untuk itulah riset yang dilakukan haruslah terpadu dan berujung pada sosial ekonomi artinya peternak sapi perah Indonesia mampu menggunakan teknologi tersebut.


Penulis adalah Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI)

5 komentar:

dairy pro on January 3, 2009 at 11:56 PM said...

saya setuju. sistem peternakan di indonesia tergolong yang tidak agresif dan euforia. sapi adalah herbifora, sehingga sebenarnya yang lebih utama adalah hijauan. sapi perah di amerika dan kanada terkenal mampu memproduksi banyak liter susu, namun bermasalah dalam hal reproduksi dan longetivity dan durability. Sistem sapi perah yang sangat efisien adalah yang dilakukan di New zealand. 90% ada;ah hijauan, suplemen hanya diberikan jika dibutuhkan. 3 tahun terakhir ini baru mereka menggunakan palm kernel dari indonesia. hasilnya, sapi new zealand terkenal memiliki produksi rata2 sekitar 21-23 liter/hari (tidak sebesar amerika), namun kualitas reproduksinya sangat bagus dan berumur lama (lebih baik jika dibandingkan sapi amerika yang lama hidupnya hanya 4-5 tahun). tertarik? www.indodairypro.blogspot.com

banyumentah on January 26, 2011 at 10:06 AM said...

Yup..emang ada benarnya banyak problem di per sapi perahan indonesia mulai dari tersentralnya sapi perah hanya di jawa sehingga lahan hijauan juga masih kurang memadai sehingga peternak akan menggunakan konsentrat dengan kandungan biji-bijian yang harganya relatif mahal, harga susu yang murah dan kualitas yang kurang bersaing dengan luar negeri dan juga masalah reproduksi calving interval lama dan penyakit hewan..perlu penanganan yang lebih serius dan tersusun dari pusat ke daerah..Mengenai pemakaian konsentrat yang berlebih akan memicu terjadinya kasus displasia abomasum yang penangananya sulit walaupun bisa dioperasi juga...tapi buat peternak indonesia tetap semnagat!!!!

drh. budi purnomo on September 30, 2011 at 9:20 AM said...

Tulisannya menarik sekali dan sama dengan cara berfikir saya dan kelihatannya konsep tersebut belum mengena di kalangan peternak sapi perah kita. Kita perlu juga mengidentifikasi dairy issue secara komprehensif salah satunya tentang hijauan. bahwa problem di Indonesia, sapi perah hanya terkonsentrasi di pulau jawa sedangkan kompetisi hijauan sangatlah tinggi...perlu dievaluasi lagi apakah dengan menekan jumlah konsentrat dan meningkatkan komposisi hijauan dalam rangsum pakannya akan betul-betul menekan feed cost-nya...akna sangat berbeda jika kita bandingkan dengan ketersediaan hijauan di luar pulau jawa (sumatra, sulawesi atau papua, dsb.).... drh budi purnomo ..... pt elders indonesia

drh. budi purnomo on September 30, 2011 at 9:21 AM said...

Tulisannya menarik sekali dan sama dengan cara berfikir saya...hanya kita perlu lebih tahu bahwa problem di Indonesia, sapi perah hanya terkonsentrasi di pulau jawa sedangkan kompetisi hijauan sangatlah tinggi...perlu dievaluasi lagi apakah dengan menekan jumlah konsentrat dan meningkatkan komposisi hijauan dalam rangsum pakannya akan betul-betul menekan feed cost-nya...akna sangat berbeda jika kita bandingkan dengan ketersediaan hijauan di luar pulau jawa (sumatra, sulawesi atau papua, dsb.)

drh Joko Susilo said...

drh. Joko Susilo
Isi dari artikel ini Tidaklah Pas. Bukan karena tingginya harga pakan..tapi masih rendahnya harga susu di peternak. contoh di Koperasi susu sekitar garut, harga susu 2.600-2.900 / liter. Yang jadi masalah berikutnya adalah ketidak seimbangan nutrisi pakan dari ampas tahu, Konsentrat, Hijauan yang tidak mempertimbangkan keseimbangan PH Rumen, kebutuhan energi, suplai Calsium dan lainnya. Ini realitanya...

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template