Wednesday, August 29, 2007

SINDROM ATAU TIDAK TETAP RUGIKAN

Apakah penyakit kekerdilan masih Sindrom? Taukah sudah pasti infeksius? Beberapa kenyataan kembali terkuak. Namun yang lebih penting tetap sikap dalam menghadapi.

Penyakit ayam kerdil yang dulu terkenal dengan nama Runting and Stunting Syndrome (RSS), pada kasus kali ini gejalanya: sama. Seperti yang bisa diduga dengan perkembangan penyakit yang terkenal memakai predikat “Syndrome” sebagai suatu penyakit diketahui gejalanya tidak diketahui dengan pasti, ternyata sampai saat ini, penyebab penyakit ini juga tidak hanya satu sebab. Demikian Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia.

“Penyebab munculnya penyakit ayam kerdil ini bisa dikaitkan dengan perubahan iklim, manajemen, pakan, DOC. Yang mana penyebab secara pasti? Masing-masing berperan,” tegas Dokter hewan alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini. Mungkin saja penyebabnya adalah virus Reo. Namun mungkin juga tidak. Selama lima tahun perkembangan ilmu pengetahuan, masih membuktikan bahwa sejak dulu masalahnya seperti itu. Kalau satu faktor bermasalah, bisa menyebabkan kekerdilan. Demikian Praba.

Secara uji klinis atau laboratorium, peternak belum tahu penyebabnya apa. “Kita serahkan kepada breeding masing-masing,” tutur Drh Anas Sudjatmiko dari PPUN seraya memberi masukan: Seharusnya pemerintah melakukan tindakan guna meneliti penyebab ini, mungkin apakah karena ada virus. “Apakah dampak dari AI, kemungkinan saya juga tidak tahu. Ini harus dibuktikan secara klinis,” tukasnya sendiri.

Perbandingan dengan kasus kekerdilan yang terjadi pada waktu sebelumnya, kasus yang sekarang tergantung kekerdilan oleh karena bibit muda, kasus malabsorbsi, virus Reo, infeksi jamur, bakteri dan lain-lain yang banyak macamnya. Demikian Drh Andi Wijanarko dari PT Pimaimas Citra.

Akibat Malabsorbsi Syndrome penyerapan zat makanan kurang, terganggulah
Pertumbuhan ayam, menyebabkan kasus ini muncul. Demikian H Nur ’Asyikin SH MH dari PT Paeco Agung Cabang Jawa Timur.

Kasus lambat tumbuh ini, merupakan, ”Kasus kompleks yang melibatkan banyak faktor. Umumnya melibatkan unsur pakan, breeder, hatchery dan manajemen farm broiler komersial,” tegas Drh Hany Widjaja dari Alltech Indonesia.

Kasus kekerdilan dapat dikarenakan kasus RSS, karena indukannya, karena lingkungan di mana pada saat seperti ini turun hujan secara terus-menerus yang menyebabkan kadar Oksigen turun drastis, terutama di daerah pegunungan, dan kurangnya pemanas. Demikian Drh Suhardi, dari PT Sanbe Farma.

Infeksi Virus Reo

Dengan demikian perlu dilacak lebih jauh bagaimana sesungguhnya peran Virus Reo dalam menyebabkan kekerdilan di tengah-tengah kepungan berbagai faktor yang saling tumpang tindih itu.

Virus Reo atau dalam bahasa Inggrisnya Reovirus merupakan penyebab kerdil pada ayam ras pada peternakan komersial. Reovirus komensal, ada di mana-mana, ada reovirus yang tidak ganas, ada yang ganas yang bisa menyebabkan arthritis yang penanggulangannya dengan vaksinasi, dan atau menyebabkan malabsorpsi yang penanggulangannya juga dengan vaksinasi. Menyebabkan pula afinitas pada sendi, ayam malas berjalan, malas ambil pakan, maka terjadilah kekerdilan. Demikian Drh Lies Parede Hernomoadi MSc PhD Pakar Peneliti dari Balai Penelitian Veteriner Bogor kepada Infovet di Kantor Balitvet Bogor Jawa Barat.

Secara pemeriksaan kelainan penyakit pada jaringan atau histopatologi, pada saluran cerna dapat ditemukan ciri enteritis (radang usus kecil) yang khas, membuat dilatasi kripta menyebabkan kriptitis. Bila dibuka ususnya terdapat cairan menggembung, lebih banyak cairannya daripada gembungnya, yang berarti cairan zat makanan ini tidak bisa terserap oleh tubuh. Terjadilah malabsorpsi. Demikian Drh Hernomoadi Huminto MS pakar Patologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Dengan demikian terjadi kerusakan usus dan pankreas sehingga absorpsi atau penyerapan zat makanan menjasi sulit, dan banyak yang terbuang ke feses. Sementara enterovirus (virus-virus saluran pencernaan) yang lain juga berperan bila diketahui dari pemeriksaan Reovirus bukan penyebab gangguan pertumbuhan ini. Hal ini mengacu dari pengalaman beberapa negara lain, bukan hanya Reovirus yang mampu menyebabkan gangguan, tapi juga enterovirus yang lain. Demikian Drh Hernomoadi.

Di samping itu Reovirus merupakan pemicu timbulnya sifat imonosupresi yang menekan kekebalan. Hal ini menyebabkan pertumbuhan sel kekebalan terganggu karena suplemen gizi tidak terserap dengan baik, karena getah pankreas berkurang, karena ada pankreatitis. Juga karena kerusakan sel-sel kekebalan yang bisa dilihat pada bursa, thymus dan limfa mengalami kerusakan. Demikian Dr Lies.

Untuk respon imun sendiri sangat dibutuhkan protein, dan dalam kasus malabsorpsi protein ini pun terbuang. Sifat imunosupresif yang merusak thymus, bursa, folikel limfoid, limfa jelas sangat terkait dengan hilangnya protein karena malabsorpsi akibat infeksi virus Reo. Demikian Hernomoadi.

Sementara itu adanya kandida, jamur, khamir, pada tembolok jarang ditemukan. Namun kalau ada pun bisa menyebabkan malaborpsi. Dulu terjadi pada broiler, kini pun terjadi pada layer pada masa pemeliharaan dara. Pertumbuhan terhambat, masa produksi lambat umur. Secara patologi anatomi ada, terjadi malabsorpsi, rusaknya usus, pakreas, terjadinya proventrikulus. Demikian Lies dan Hernomoadi.

Pada layer dara, tidak mencapai berat yang seharusnya. Alat reproduksi pun tidak berkembang, menjadi kecil dan atau belum besar seperti normalnya. Yang mestinya sudah belajar bertelur pada umur 16-17 minggu, mundur sampai umur 19-20 minggu baru belajar bertelur. Terjadi kerusakan digesti yang menganggu asupan pakan. Demikian Lies dan Hernomo.

Periksa Lebih Teliti

Untuk mengungkapkan kasus yang terjadi di lapangan sebetulnya yang sangat diperlukan adalah data laboratorium. Perlu diperiksa tentang virus Reo-nya. Tanyakan bibit muda yang kecil-kecil itu. Apakah itu karena ayam kecil, Reo, atau Malabsorbsi Sindrom. Demikian Andi Wijanarko.

Menghadapi kasus kekerdilan, perlu ada pemeriksaan yang lebih teliti, yang lazim dibutuhkan adalah pemeriksaan ELISA untuk mengetahui antibodi virusnya. Demikian Prabadasanto Hudyono.

Hal-hal ini perlu dilakukan dengan cermat. Evaluasi vaksinasi yang telah dilakukan, termasuk dengan pemeriksaan titer Antibodinya, perhatikan vaksinasi yang akan dilakukan selanjutnya, dan lakukan diagnosa yang tepat serta perhatikan pakannya. Demikian Nur ’Asyikin.

Penelitian Membuktikan

Tentang peran Reovirus sebagai faktor utama kekerdilan, ada 2 faktor yang sudah pernah dibuktikan yang terlihat signifikan atau berbeda nyata. Dalam suatu penelitian, ada pembedaan model kandang yang susun, di mana kotoran langsung turun, amoniak turun, remultiplikasi virus pun berkurang, infeksi berkurang, jumlah ayam sakit pun lebih sedikit. Demikian Dr Lies Parede seraya memberikan tawaran solusi dengan perbaikan kandang.

Ras ayam, ada yang lebih peka terhadap infeksi Reovirus. Artinya bila terinfeksi, terjadi diare hebat, maka pertumbuhan pada broiler terlihat berbeda nyata tidak tercapai. Pada ayam petelur (layer) merusak saluran ternak atam dara lamban tumbuh, kurus, terlambat produksi. Demikian Lies.

Mekanisme infeksi virus Reo, menyebabkan enteritis dan pankreatitis, menyebabkan malabsorpsi, adapun alat reproduksi lamban berkembang, merugikan produksi telur. Alat imunitas atau kekebalan tertekan, mudah terjadi infeksi sekunder misalnya Kolibasilosis, mudah tumbuh kandida (khamir). Di tembolok dan proventrikulus mengganggu pencernaan. Demikian Lies.

Yang paling buruk, infeksi Reovirus ini terjadi secara horizontal dan vertikal atau penularan melalui telur. Penularan ini perlu diperhatikan penanggulangannya. Induk perlu menghasilkan antibodi yang tinggi supaya tidak terjadi sekresi virus. Breeding harus melakukan vaksinasi walaupun biayanya mahal. Vaksinasinya live-live-killed (booster) atau dua kali live, baru sekali killed, yang selanjutnya perlu diperhatikan titer antibodinya. Demikian Lies.

Dan sesungguhnya, boleh diyakini kebenarannya, diragukan atau diteliti lebih lanjut, penelitian pada tahun 1996 sudah membuktikan bahwa virus Reo ganas atau patogen-lah sesungguhnya biang dari segala permasalahan tentang kekerdilan itu. Dengan penelitian memakai Postulat Koch, hal itu sangat jelas. Demikian Dr Lies.

Yang berarti, bisa dinilai sendiri atau diperdebatkan untuk dicari kebenarannya lagi, kasus kerdil ini dimulai dari induk-induk bibit yang dicipta pada peternakan-peternakan pembibitan yang selanjutnya diturunkan pada bibit-bibit yang bisa muncul pada hari-hari awal pemeliharaan setelah kedatangannya pada peternakan komersial. Keganasan virus Reo tadi didukung dengan kondisi-kondisi di pembibitan dan lapangan yang begitu kompleks termasuk diterapkan tidaknya vaksinasi secara disiplin. Namun tetap akarnya pada virus Reo-ganas dan kepekaan genetik ayamnya. Karena ada genetik yang peka dan ada genetik yang tidak.

Sehingga sebetulnya istilah yang tepat bukan lagi Runting and Stunting Syndrome tapi sudah merupakan Infeksi Reovirus Patogen plus Malabsorpsi-lah yang menyebabkan runting dan stunting itu. Seperti halnya dulu dikenal CAA (Chicken Anemia Agent) tapi kini namanya sudah berubah menjadi CAV (Chicken Anemia Virus). Demikian Drh Lies.

Ayam Kerdil dan AI

Uraian tentang peran Reovirus pada kasus kerdil ini setidaknya menjadi masukan bagi peternak yang sejauh ini berpendapat deteksi ayam kerdil ini belum jelas. Peternak beranggapan hal ini bisa diraba ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kasus kekerdilan kali ini. Antara lain, soal pemanas yang berarti terkait masalah ekonomi, lingkungan, pakan teristimewa dalam hal mutu, juga soal genetik, lantas fluktuasi harga di mana induknya terpengaruh kasus Avian Influenza. Demikian Drh Anas.

Hubungan kasus kerdil dengan AI ini, “Karena Reovirus menyebabkan Imunosupresi, maka vaksinasi ND dan AI tidak menghasilkan kekebalan yang optimal. Vaksinasi AI sendiri menggunakan vaksin mati dan tidak homolog, sehingga dibutuhkan beberapa kali vaksinasi AI untuk mencapai antibodi yang tinggi,” tutur Dr Lies Parede, yang bila diberlakukan sebaliknya ada vaksinasi AI dan menurunkan perhatian vaksinasi Reo, akan terjadi hal yang bisa dibayangkan.

“Sebenarnya ini masalahnya pada pertumbuhan, kalau AI kan baru-baru saja sementara kekerdilan sudah terjadi sejak lama tapi sempat hilang kemudian muncul lagi namun tidak merugikan dalam jumlah yang besar dibanding AI. Kalau AI kerugiannya kan sangat besar,” tutur Drh Anas.

Memang tidak sebesar kerugian karena kasus AI, namun kasus Ayam Kerdil jelas merugikan. Sindrom ataupun bukan Sindrom. (AW, YR)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template