Thursday, August 16, 2007

Infovet 148, November 2006 - PENENTU PERADABAN BISNIS

SEMUA organisasi membutuhkan pengelolaan organisasi yang benar, baik itu organisasi profesional maupun vokasional. Tak peduli itu Lembaga Bisnis atau LSM, Profit Oriented atau Non Profit, yang paling dipentingkan di sini adalah spirit lembaga yang benar. Kalau spiritnya profit, jadilah profit yang beradab, bukan biadab.

Demikian juga kalau non profit, jadilah non profit yang beradab, bukan non profit kurang adab. Sekaligus perenungan terhadap kondisi dunia dan Indonesia secara keseluruhan. Mengapa lingkungan kita rusak begitu hebat padahal selama puluhan tahun kita menerapkan Ekonomi Pancasila yang dikeramatkan dan dijunjung setinggi langit kesaktian, humanisme, dan keberadabannya? Malahan kita kalah sama negara-negara barat, yang secara terang-terangan mengklaim sebagai negara kapitalis murni?

Jawabnya, ternyata dengan ekonomi Pancasila bangsa Indonesia dalam prakteknya justru menjadi KAPITALIS PRIMITIF. Kapitalisme biadab, yang semua nilai-nilai luhur hanya lewat sebatas slogan-slogan normatif yang kosong melompong bak tong kosong berbunyi berglontang. Prakteknya terlalu berat untuk menyangga predikat bangsa luhur, akibatnya terjadi hukum rimba, yang berkuasa membiadabi yang diperintah.

Jangan-jangan, hal ini juga terjadi pada sektor peternakan dan kesehatan hewan yang jadi bidang kerja kita. Kata Government yang semantiknya dari Governness, INANG PENGASUH sudah dikebiri menjadi kata PEMERINTAH yang mengekspoitasi yang diperintah. Manivestasinya merasuk dalam segala sendi kehidupan, rakyat yang seharusnya dilayani (diasuh) justru menjadi diperintah, dikuasai, dikangkangi, dijahati, yang dengan sendirinya berakibat pada lingkungan yang ikut diperkosa keberadaannya.

Boleh dipertimbangkan (benar atau tidak tergantung kacamata sudut pandang tertentu) pada negara-negara maju, sekalipun mereka kapitalis tetap dalam frame Kapitalis Beradab, yang lebih mengedepankan nilai-nilai etika, kemanusiaan, persamaan hak, demokrasi dan hak azasi.

Karena memposisikan rakyat sebagai yang dilayani, dan pemerintah adalah pelayan, maka
suara rakyat adalah SUARA TUHAN, SUARA TUAN. Apapun yang menjadi kebutuhan rakyat, permintaan rakyat, government harus mengakomodir. Efeknya cukup positif bagi lingkungan, karena lingkungan yang baik muncul dari suara-suara rakyat terhadap kebutuhan lingkungan nyaman dan itu didengarkan.

Dalam konsep yang demikian, tidak salah kita tetap berorientasi pada Bisnis, tapi tetaplah Bisnis yang beradab, sekali lagi bukan Biadab. Artinya di mana pun kita berada, sekalipun orientasi utamanya pada bisnis, asal dipagari dengan etika, norma, humanisme, dan susila yang baik, itu tetap PUTIH. Itu lebih baik daripada lembaga yang mengaku sebagi penyelamat lingkungan tapi ternyata cuma berbisnis tak kentara. Juga dalam bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Pertanyaan ini harus terus-menerus didengungkan dalam mata batin kita: apakah kita merasa cukup melakukan terbaik bagi Tuhan kita, Alam kita, Lingkungan kita, dan Sesama kita dalam posisi kita di dunia bisnis, atau dunia yang bukan bisnis? Di manakah kita merasa dapat memberikan yang terbaik untuk pilihan dalam hidup?

Semua ada konsekuensinya. Kalau memilih bisnis, tentu semakin banyak keuangan bisa dipenuhi untuk bisa melakukan banyak hal minimal lewat orang lain. Sang bisnisman cukup menyalurkan perhatiannya. Konsekuensinya, rasa untuk langsung mengabdi pada IDEALISME, berbuat baik kepada sesama dan lingkungan menjadi berkurang. Karena memang tidak tergarap langsung. Walau tentu kebenaran hal ini bisa diperdebatkan. Di sini Kita bisa merasa nyaman jika dalam mencari duit dalam bisnis Kita pun berkata, “Mencari duit itu Ibadah, saya cukup puas bila dapat menyalurkan hasil kerja keras ini pada teman-teman dan sesama yang membutuhkan.”

Maka Kita akan menggenjot diri dan waktukita untuk mencari Al Rupiah atau El Dollar. Sementara untuk mengisi kekosongan jiwa dalam berkemanusiaan, kita akan menyisihkan sebagian waktu kita dalam kegiatan-kegiatan berorganisasi dan berkemanusiaan, termasuk peduli lingkungan dan sosial kemasyarakatan. Contohnya, seperti yang dilakukan banyak perusahaan obat hewan dan peternakan yang ikut memperhatikan dan membantu korban bencana alam Tsunami di Aceh, Gempa Bumi di Yogyakarta dan Tsunami di Pangandaran.

Sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) alias tanggungjawab Sosial Perusahaan, pihak perusahaan tentu sadar sesadar-sadarnya wujud dari kepedulian perusahaan itu tak cukup cuma saat ada bencana semata. Namun dalam keseharian bisnis mesti ada alokasi dana dan program penyeimbang eksplorasi dan pemeliharaan lingkungan dan kepedulian sosial!

Dengan ketrampilan dalam Memanaje, Mengelola, Memanfaatkan sekitar sumber daya yang ada, bentuk bisnis maupun tanggungjawab sosial itu dapat dijalankan secara lateral dan terintegral. Tinggal mengatur komponen-komponen yang diperlukan! Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Pendukung! Dengan memegang dan menjalankan kata-kata kunci: TERPANGGIL, MAU, BATIN NYAMAN, DAN MAMPU, niscaya antara bisnis dan tanggungjawab sosial dan berlingkungan dapat berjalan secara harmonis dan beradab.ž (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template