Thursday, August 16, 2007

Infovet 144, Juli 2006 - FREE DAN FAIR BISNIS-BISNIS KITA

Bukan berarti ketika perhatian sebagian besar masyarakat dunia dan Indonesia tersedot helat akbar Piala Dunia sepakbola, perhatian terhadap peristiwa-peristiwa lain terabaikan. Malah masing-masing bisa saling belajar. Dunia kesehatan hewan dan peternakan hewan pun dapat belajar dari peristiwa-peristiwa itu.

Bagi profesional sepak bola apalagi tingkat dunia, bola sudah merupakan bisnis dan lahannya sangat menggiurkan. Jalan tol untuk menyedot perhatian salah satunya rupanya itu: bisnis. Di bidang peternakan, lihat saja kasus AI atau Flu Burung, mengapa menyedot perhatian? Bukan sekedar nyawa manusia taruhannya, tapi juga nilai bisnis di balik semua kasus tewasnya berjuta-juta ekor ayam sebelum akhirnya merayap membetot nyawa orang. Bisnis bibit, obat hewan peternakan, dan kini bisnis obat manusia!

Apa istimewanya kalau semua dikaitkan dengan bisnis? Setelah nilai-nilai kebebasan diterapkan dalam bisnis, kini perlu bisnis yang "fair", bisnis yang adil, bisnis yang beradab.

Terkait dengan kesepakatan dengan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia), Indonesia tak bisa lepas dari bisnis yang bebas (free trade, perdagangan bebas). Namun terlebih dari itu dibutuhkan fair trade (perdagangan yang adil).
Itulah masalahnya, tarik ulur yang akan selalu menyeimbangkan dunia bisnis yang senantiasa menarik (bagi pebisnis tentunya). Sepak bola yang menawan butuh keadilan, sehingga berbagai disiplin diterapkan dalam permainan sampai laga pertandingan berakhir. Bisnis peternakan dan kesehatan hewan pun demikian!

Masalah flu burung dikaitkan dengan isu paha ayam impor, menjadi penyeimbang antara bisnis dan keadilan itu. Kaum peternakan pun diketuk hatinya oleh gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang secara menyedihkan memangsa nyawa penduduk tak berdosa, juga menyumbat rejeki termasuk di bidang peternakan dan kesehatan hewan ketika masalah AI masih menyisakan pekerjaan rumah berbagai taktik dan strategi dalam upaya membereskannya.

Apapun tarik ulur antara bisnis yang bebas, bisnis yang adil, dan nilai-nilai kemanusiaan, toh bisnis tetaplah jalan. Dalam konotasi negatif sering disorot upaya-upaya pengerukan kekayaan secara "free" dengan minimal "fair"nya. Namun secara positif, bagaimana pun terbukti bisnis adalah penggerak utama kehidupan masyarakat (setidaknya pada sistem yang sudah terlanjur terbentuk demikian).

Menyikapi secara arif akan memantapkan semangat para pelaku bisnis sendiri. Kita perlu saling belajar tentang kiat dan seluk beluk bisnis yang sehat ini dari sesama pelaku, baik di bidang obat hewan, bibit, pakan, sarana prasarana peternakan, maupun tetek bengek di sekitarnya. Teristimewa belajar dari berbagai bidang kehidupan lain.

Selanjutnya, tetap pada prinsip-prinsip dasar, kita lakukan segala sesuatu yang menjadi komitmen, tugas, kewajiban dan tanggung jawab kita dengan penuh kesetiaan, kesabaran, ketenangan, sampai pertandingan bisnis dan pertandingan kehidupan berakhir. Serta sekali-sekali melakukan perubahan, penyesuaian, pengembangan, setelah dalam menjalani perkembangan membutuhkan tindakan-tindakan taktis diterapkan.

Sebutlah pekerjaan rumah yang sampai kini butuh sentuhan strategis dan taktis "free" dan "fair" itu satu demi satu. Yakinkan diri pada prinsip dasar dan cabang-cabang serta ranting-rantingnya. Niscaya kaum peternakan dan kesehatan hewan akan senantiasa dapat menyikapi perkembangan dan perubahan yang berlaku.ΕΎ (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template