EDISI DESEMBER 2017

Jumlah Pengunjung

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drh Abadi Soetisna MSi
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Pemasaran :
Andi Irhandi

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119


Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Infovet 143, Juni 2006 - PRIORITAS DALAM KESEIMBANGAN

On 7:42:00 AM

KITA BERDUKA CITA. Saat akhir proses pracetak, Yogyakarta dan sekitarnya terkena gempa bumi Lautan Selatan memakan korban ratusan orang meninggal dunia. Menyusul Gunung Merapi menunjukkan murka alam. Sekali lagi kita berduka atas bencana di wilayah kerja Perwakilan Infovet Drh Untung Satriyo. Menyusul banyak ranah kehidupan yang penuh bencana satu demi satu.

Kita mesti dapat memilah mana yang sifat alam, mana akibat kesalahan manusia. Gempa bumi adalah kemarahan alam yang mestinya manusia membaca tanda-tanda sebelumnya sehingga ada tindakan penyelamatan pra gempa. Sedangkan tanah longsor dan banjir di mana-mana bukti masyarakat teledor menjaga wilayah peresap air hujan yang makin sempit.

Kita mesti bijak menyikapi suara alam atau suara manusia. Saat muncul gerakan anti peternakan ayam di Depok Jawa Barat akibat flu burung, dalam waktu sama masyarakat tanpa suara terhadap menjamurnya gedung beton memakan berhektar lahan penahan air hujan namun lebih bersifat bisnis merebut konsumerisme masyarakat berdaya beli susah.

Masyarakat diam saja, malah mempersoalkan moral urusan pribadi, mau diatur dalam perangkat hukum, menghabiskan energi untuk gerakan pro-kontra Pornografi-Pornoaksi. Meluputkan perhatian pada hal lebih mendasar. Tak ada gerakan antikorupsi berarti dibanding gerakan APP, bahkan protes dihentikannya penyidikan mantan Presiden Soeharto yang makan mayoritas harta masyarakat tertutupi masalah sepele.

Masyarakat mudah terombang-ambing permainan elit politik yang meniupkan isu tanpa kejernihan berpikir mengambil skala prioritas yang sesungguhnya terkait langsung dengan kehidupan. Penguasa politik punya skala prioritas menghembuskan isu sehingga sederet tragedi kemanusiaan pelanggaran HAM didiamkan. Pada wilayah peternakan dan kesehatan hewan, masyarakat begitu mudah dibelokkan oleh isu tidak jelas. Januari oleh isu formalin, sekarang isu Flu Burung yang konon sudah makan manusia dengan penularan lebih berbahaya.

Pemeriksaan Flu Burung pada manusia penuh tanda tanya. Institusi yang tidak punya otoritas berbicara leluasa. Penularan AI pada sektor 1 dan 2 pada peternakan besar dan biosekuriti terkendali tidak ada korban padahal wilayah ini merupakan mayoritas lahan hidup ternak unggas. Pernyataan membahayakan tentang kematian manusia karena Flu Burung hingga kejadian di Karo menunjukkan pada sektor 3 dan 4 yang bersinggungan dengan masyarakat awam sangat rawan karena penularan makin kompleks.

Tetap tidak bijaksana menyalahkan unggas dan memusnahkan tanpa tebang pilih. Sama halnya tidak bijaksana menyalahkan Sultan Yogya dan Mbah Marijan, atau Gubernur DIY dalam kasus Gunung Merapi. Meski di mana pun pasti ada penyebab utama, yang lebih pasti satu sebab akan terkait dengan sebab lain. Kasus banjir rutin membanjiri Jakarta tak lepas dari menjamurnya pusat perbelanjaan di Depok dan Bogor. Kasus daging dan paha ayam impor tidak lepas dari kasus Flu Burung yang disinyalir merupakan politik internasional untuk menjajah ekonomi negara macam Indonesia.

Masyarakat seolah masih berada di jaman Ramayana, antara kubu berbeda masih saja berperspektif hitam putih. Padahal kita sudah berada pada jaman Mahabarata yang penuh wilayah abu-abu semua saling terkait, untuk membedakan musuh dan kawan sungguhlah sulit. Tidak pada tempatnya saling menyalahkan seperti FBR mengusir Inul dari tanah Betawi karena Inul memperjuangkan hal azasi kebebasan berekspresi. Bukan salah pers jika memberitakan kematian manusia karena Flu Burung secara bebas seperti yang dipersoalkan mahasiswa Fapet IPB dalam seminar Flu Burung di mana Infovet menjadi salah satu pembicara. Memberitakan secara bebas adalah tugas pers yang dilindungi hukum.

Lalu di mana sikap kita pada segala silang sengkarut kehidupan macam ini? Belajar dari sejarah, sejak kejadian dunia sampai sekarang begitu banyak tragedi namun kehidupan tetap berlanjut, tugas kita secara sadar tahu prioritas untuk bersikap bijak. Antar sesama manusia, antar makhluk hidup, antar makhluk dengan alam dan buatan manusia. Itu prioritas kita. Mari kita atasi semua. Bersama menolong yang menderita dan terus membangun yang kita punya. ž (Yonathan Rahardjo)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer