Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati


Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Pemasaran :
Andi Irhandi (0815-9186-707)



Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119


Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

EDISI JULI 2018

Perlu Kiriman Artikel Via Email? Isi email Anda di bawah ini

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

DULU KERDIL SEKARANG MUNGIL

On 10:21:00 AM

Dulu kerdil dan sekarang mungil. Apa perbedaannya? Dari segi bahasa, mungil belum tentu kerdil. Tapi dari segi bentuknya: sama-sama kecil, terutama dibandingkan dengan yang dianggap normal. Standar peternakan ayam tentu yang normal seperti biasa dijumpai. Dan antara yang mungil dan kerdil itu hanya istilah, karena kondisinya sama-sama kecil, baik yang terhambat pertumbuhannya (Runting) maupun yang berhenti pertumbuhannya (Stunting).

Lihatlah yang terjadi pada peternakan, Ahmad (bukan nama sebenarnya) peternak Legok Tangerang Provinsi Banten mendapati sejumlah ayam petelurnya mengalami kekerdilan. Jumlahnya memang tak seberapa dibanding populasi, dari 12.000 ekor misalnya, dijumpai kekerdilan sejumlah 100 ekor.

Dampak kekerdilan pada peternak bermacam-macam. Pertama, kematian pada ayam meningkat, akhirnya menurunkan indeks produksi. Kedua, terjadinya penularan yang diakibatkan oleh apakah itu bakteri atau virus yang dibawa oleh ayam yang terkena penyakit kerdil kepada ayam yang lain. Kemudian mengakibatkan biaya produksi meningkat karena kematian tinggi. Demikian Drh Anas Sudjatmiko Ketua PPUN (Persatuan Peternak Unggas Nusantara).

Sebagai peternak, Drh Anas mengungkap peternakannya mengalami penyakit kekerdilan sejak tahun 1990-an. Sebagai Ketua PPUN ia menceritakan anggota PPUN dalam dua bulan terakhir ini (sampai laporan ini dibuat 16 Pebruari 2006) banyak yang mengalami kekerdilan ayam.

Ambillah contoh satu daerah, munculnya kasus kekerdilan di wilayah Bandung dan Subang setidaknya pada broiler (ayam pedaging) sejumlah 5-7 persen, dan pada ayam layer (petelur) pejantan sampai 30 persen. Demikian Drh Supandi dari PT Sanbe Farma tentang kondisi di wilayah kerjanya.

Di Blitar dan rata-rata peternakan di Jawa Timur, kasus kekerdilan pun bermunculan. Namun persentasenya memang tidak terlalu besar. Demikian H Nur ’Asyikin SH MH Technical Service Senior PT Paeco Agung Cabang Jawa Timur di kantor Cabang Sidoarjo.

Adapun, bila dibandingkan dengan tahun 2004, di tahun 2005 hingga saat ini level dari kasus lambat tumbuh jauh lebih rendah. Demikian Drh Hany Widjaja, Technical Service Manager Alltech Indonesia. “Kondisi ini didukung dengan kualitas pakan yang lebih stabil, dan didukung dengan adanya pengurangan jumlah telur tetas dan DOC secara merata sebanyak 20 persen,” tutur Hany.

Apa yang dilakukan peternak, ada yang tidak langsung mengafkir ayam-ayam yang mengalami kelainan ini. Tetap dipelihara, meski pada saatnya berproduksi mengalami keterlambatan. Baru bila ayam yang terganggu pertumbuhannya ini benar-benar parah gangguannya, ia afkir. Kondisi parah ini, adalah bila ternyata ayam yang mengalami kekerdilan ini tidak bisa menghasilkan telur, pial warna pucat dan tidak berhasil secara normal berubah warna menjadi merah sebagaimana lazimnya ayam sehat. Demikian Drh Yuli Pancawati dari PT Intervet Indonesia yang mendapati kasus kekerdilan pada suatu peternakan.

Kejadian penyakit ayam kerdil yang kali ini dijumpai dimulai sejak Nopember 2005 di beberapa tempat. Saat itu sudah muncul secara sporadis, namun tidak semua daerah terserang. Kejadiannya muncul dan kelihatan sekali pada minggu-minggu afkir. Sedangkan pada umur kecil belum kelihatan. Demikian Drh Prabadasanto Hudyono Manager, Poultry Technical, Consultant dan Poultry Technical & Development PT Multibreeder Adirama Indonesia.

Salah satu perbandingan kasus yang sekarang dengan kasus yang dulu, “Ciri-ciri atau gejalanya hampir sama. Gejala penyakit kekerdilan pada ayam yang sekarang: kaki putih, pertumbuhan terhambat. Kematiannya tak terlalu tinggi,” ungkap Drh Praba. Sementara, “Perbandingan kasus ayam kerdil kali ini dengan kasus RSS (Runting and Stunting Syndrome) yang terjadi pada tahun 1998-an, berbanding sama,” ungkap Drh Supandi dari PT Sanbe Farma. Sama dengan yang diungkap Drh Suhardi Product Manager PT Sanbe Farma. Yaitu, kasus kekerdilan yang terjadi pada ayam pada masa sekarang kondisinya sama dengan kasus kekerdilan yang terjadi pada waktu-waktu sebelumnya.

Dari kesemuanya itu, kasus kekerdilan dulu dan sekarang punya makna sama: Sama-sama kerdil, mungil, dan menggemaskan justru karena merugikan. (AW, YR)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer